Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 177


__ADS_3

Lexi berjalan keluar dari ruangan Philip. Matanya awas mencari sosok yang mungkin saja akan bertemu lagi dengan dirinya, tetapi sepanjang ruangan Philip hingga pintu keluar Lexi tidak bertemu dengan siapa pun, selain asisten rumah tangga yang bekerja dengan kegiatanya. Padahal ia ingin melihat Elin, sebelum ia meninggalkan rumah mewah itu. Namun, anganya tidak terkabul.


"Kira-kira kamar Elin yang mana yah," batin Lexi sembari mengedarkan pandanganya. Rumah ini terlalu luas untuk sekedar menebak-nebak.


Kantor polisi adalah tujuan selanjutnya dari Lexi. Ia sudah tidak sabar ingin memberi tahu Lucas tentang kebenaran ini. Philip sendiri sudah memberikan kebebasan atas fakta ini.


*******


Di tempat yang berbeda...


"Bunda pelginya jangan lama yah, nanti Kia kangen," celoten anak kecil itu. Padahal bundanya saja belum berangkat, tetapi ia sudah takut kalau kangen.


"Iya Sayang, Bunda janji perginya hanya sebentar saja. Kia mau di belikan apa?" tanya Jiara  dengan lembut. Anak usia tiga tahun itu seolah berpikir dengan keras. Namun, beberapa menit kemudian dia menggelengkan kepalanya dengan kuat.


"Kia tidak mau apa-apa. Kia mau ketemu Papah," lirih Zakia dengan menundukan wajahnya. Siapa pun yang melihatnya langsung tahu berapa besar kangenya itu.


"Ok, kalau Kia kangen. Om rekam Kia, bilang sama Papah biar cepat pulang dan Kia bilang juga kalau Kia sudah sembuh. Biar Papah cepat pulang," lirih Arya yang siap-siap mengambil ponselnya untuk merekam bocah kecil itu, agar Lucas tahu kalau putrinya sangat-sangat menggemasakan.


"Apa nanti Papah akan cepat pulang kalau lihat vidio Kia?" celotehnya dengan semangat.


"Kia harus tetap berdoa yah. Karena kan yang bisa mengabulkan doa hanya Allah," ucap Jiara sembari mengusap rambut putrinya.


Zakia pun mengangguk dan dia siap-siap untuk direkam oleh Arya. "Hai... Papah, kapan Papah akan pulang? Kia sudah sembuh dan Kia akan cepat pulang, tapi kenapa Papah belum juga pulang? (Suara Kia sudah bergetar dengan hebat) Papah, bukanya Papah sudah janji sama Kia kalau Papah akan ajak jalan-jalan Kia, tapi kenapa Papah tidak pulang juga. Kia kangen Papah."

__ADS_1


Itu adalah ungkapan hati Kia, dengan mata yang merah dan juga suara yang bergetar, anak usia tiga tahun itu bisa merasakan gimana ia sangat kangen dengan papahnya.


"Kia tidak boleh sedih yah, Om akan sampaikan vidio ini sama Papah dan semoga Tuhan mengabulkan doa Kia, dan Papah cepat pulang," ucap Arya dengan suara yang tak kalah bergetar.


Zakia hanya membalas dengan anggukan kepalanya. Setelah menitipkan pada Marni, Jiara dan Arya pun mulai meninggalkan ruangan Zakia dan menuju rumah tahanan di mana Lucas di penjara.


"Kenapa kelihatanya kamu tegang sekali," ucap Arya yang menatap Jiara dari tadi hanya diam menatap jalanan yang ramai.


"Aku bingung mau ngomong apa nanti," balas Jiara tanpa mengalihkan pandanganya, dari jalanan ibukota. Arya yang mendengar pun terkekeh dengan renyah.


"Kamu bisa menceritakan perkembangan Zakia, dan juga cita-citanya yang sangat ingin papahnya pulang. Mungkin itu akan membuat Lucas bahagia," jawab Arya, memang mencari kasus pembunuhan yang rapi itu akan sangat membutuhkan waktu yang cukup lama, terutama Lucas adalah orang yang mungkin saja banyak memiliki musuh dalam selimut.


"Aku akan coba," lirih Jiara pasrah, meskipun dirinya sendiri entah bisa berbicara atau tidak ketika berhadapan langsung dengan Lucas. Tidak lama Zakia dan Arya pun sampai di kantor polisi, dan tidak menunggu waktu lama Lucas pun datang dengan penampilan yang sama seperti terakhir Lexi datang. Yaitu dengan baju tahanan, tetapi tangan yang tidak ada borgol.


Padahal kasus yang ia perbuat adalah kasus pembunuhan rasanya tidak mungkin ketika di biarkan begitu saja oleh polisi tanpa adanya borgol. Lucas yang sudah tahu kalau Jiara akan datang pun terlihat biasa saja. Bahkan ia langsung memberikan senyum terbaiknya. Berbeda dengan Jiara yang nampak datar.


"Lexi mengatakan udah ada titik terang, tetapi tidak bisa langsung tebak tanpa bukti yang kuat," balas Lucas, pandangan matanya masih menatap Jiara yang menunduk dan sudah bisa ia tebak tanganya di bawah sana sedang bermain ujung hijabnya yang pnjang.


"Apa dugaan kita kemarin benar kalau orang yang kita curigai itu salah satunya?" tanya Arya kepo.


"Yah, salah satunya, sedangkan Lexi bilang bahwa tidak hanya ada satu orang, jadi ada orang lain di belakangnya," Jelas Lucas meskipun itu baru tebakan Lexi, tetapi Lucas tahu kalau Lexi itu orang yang teliti.


"Rumit juga yah," balas Arya sembari melirik Jiara. "Oh iya nih titipan dari princes kamu." Arya mengambil ponselnya di mana tadi ada rekaman Kia.

__ADS_1


"Kalau gitu aku keluar dulu, kalian bicaralah." Arya pun memberikan waktunya untuk Jiara dan Lucas bercerita.


Ingin Jiara menahan Arya agar tetap di sini, tetapi ia sudah telat laki-laki itu sudah pergi lebih dulu, sehingga kini mau tidak mau Jiara harus kembali diposisikan berdua dengan Lucas.


"Maaf, aku lagi-lagi membuat kamu terpikirkan dengan masalah ini." Lucas yang melihat kalau Jiara canggung pun lebih dulu memulai obrolan.


"Zakia lusa kalau hasilnya pemeriksaan keseluruhan bagus, sudah bisa pulang, dan dia selalu bertanya kapan papahnya akan pulang. Ia masih ingat janji Mas yang ingin mengajak jalan-jalan untuk melihat binatang," ucap Jiara, membahas anak adalah cara yang paling bagus.


Terlihat perubahan di wajah Lucas. "Maaf, pasti Zakia sangat sedih karena aku lagi-lagi tidak bisa menepati janji. Aku selalu membuat masalah," lirih Lucas, ia tidak pernah berpikir kalau ternyata mengecewakan anak akan lebih sakit.


Ia baru sadar bahwa harga sebuah kepercayaan dari anak adalah segalahnya.


"Ada salam juga dari Mamih Darya, beliau sudah bahagia, sudah sembuh, dan ingin Mas cepat pulang," lirih Jiara, ia bingung mau membahas apa lagi. Sehingga ia menceritakan mamih mertuanya.


Lucas langsung mengangkat wajahnya dan menatap dengan tatapan tidak percaya.


"Mamih sembuh?" tanya Lucas, kaget. Namun semenit kemudian ia tersenyum dengan masam. Jiara menjawabnya dengan anggukan.


"Aku sudah banyak sekali meninggalkan momen-momen ini, bahkan perkembangan anak dan ibu sendiri tidak tahu, apa ada yang lebih buruk lagi dari pada aku yang selalu sibuk dengan dunianya, tetapi selalu membuat masalah." Suara yang berat dan bergetar menandakan bawa Lucas memang benar-benar menyesal. Mungkin kalau ada mesin waktu ia akan kembali ke masa lalunya dan memperbaiki kesalahnya.


"Perbaikilah sikap kamu, agar tidak kembali berbuat salah, kasihan Zakia dan keluarga kamu, karena kesalahan kamu, banyak yang kamu sakiti teruta orang tua kamu dan adik kamu."


Deggg...!! Lucas semakin tidak mengerti dengan ucapan Jiara.

__ADS_1


"Adik? Keluarga? Maksud kamu siapa?" tanya Lucas semakin tidak tahu, dan wajah Jiara pun salah tingkah, dia benar-benar salah ucap.


"Ya Tuhan apa yang aku takutkan malah benar-benar terjadi."


__ADS_2