
Elin menatap Lucas dengan tajam, dia ingin marah dan membalas semua yang pernah laki-laki itu lakukan. "Andai aku bisa menghukum kamu, mungkin sudah aku lakukan, dan andai aku bisa melakukan itu aku sudah dari lama melakukanya, tapi kalau aku melakukanya akan banyak orang yang tersakiti karena perbutanku, terutama Mamah dan Papah, karena kamu juga anak mereka dan aku anak mereka. Mereka ingin kita akur, jadi aku pun harus mengabulkan apa keinginanya," jawab Elin dengan bijak, hal itu semakin membuat Lucas merasa bersalah. Dia merasa dihantui dengan perasaanya yang dulu, dia sendiri justru dulu tidak pernah mau mendengarkan ucapan orang lain.
Laki-laki itu tidak pernah mau mendengarkan apa ucapan orang lain dan terus percaya bahwa Elin adalah alat untuk jadikan dia balas dendam. Lucas pun menghambur memeluk tubuh Elin yang jauh lebih kecil dari dirinya.
"Maafkan aku..." Lucas langsung mersimpuh di kaki Elin, hingga Elin untuk sesaat bergeming tidak percaya pastinya kenapa laki-laki yang dulu sangatlah garang kini sangat berbeda.
"Bangunlah Lucas. Kamu tidak perlu melakukan itu karena aku sendiri tidak akan memaafkan kamu kalau kamu seperti ini. Aku tidak suka dengan laki-laki yang lembek aku ingin kamu buktikan kalau kamu itu sudah menyesali ini semua dengan perbuatan kamu, aku ingin kamu buktikan kalau kamu adalah laki-laki yang bertanggung jawab, dan menyayangi selayaknya sodara yang pernah tinggal satu rahim dan juga kita dari masih jadi embrio juga sudah berbagi makanan dan tempat tidak layak kalau kita tetap dalam perdebatan yang tidak ada habisnya." Elin meminta Lucas untuk duduk kembali.
Lucas menatap Elin benar-benar setiap ucapan Elin bukan menghakimi, tetapi terasa sangat sakit untuk mengingatnya bahwa mereka memang pernah berbagi makanan dan satu tempat yang sama.
"Katakan aku harus apa agar kamu memaafkan aku?" tanya Lucas lagi, kali ini dengan suara yang lebih tenang lagi.
Elin hanya bisa membalas dengan senyum terbaiknya. "Kamu cukup buktikan kalau kamu adalah laki-laki yang sudah berubah, sayangi orang-orang yang menyayangimu, jangan berbuat yang memikirkan keegoisaanmu sendiri ingat masih ada orang tua yang sangat berharap kalau anak-anaknya akur kembali." Elin terus menasihati Lucas yang kali ini terlihat sangat manis.
Lucas sendiri pun hanya cukup diam dengan mendengarkan apa yang Elin katakan, ia benar-benar menjadi laki-laki yang sangat manis dengan mendengarkan apa itu ucapan adik kembarnya.
__ADS_1
Cukup lama Elin dan Lucas saling berbicara terutama Lucas yang terus dinasihati oleh Elin. Hingga mereka saling berpelukan dan Lucas meraih telapak tangan Elin yang kecil itu.
"Kenapa tangan kamu kecil sekali, dan tubuh kamu juga terlalu kecil untuk aku peluk," kelakar Lucas sembari memainkan tangan Elin yang mungkin setengah dari telapak tanganya.
"Hist, kamu tidak akan tahu bagaimana beratnya kehidupan kami dulu. Papah nasibnya tidak sebeluntung Mamah yang bisa menghidupi kamu dengan layak, memberikan makan yang enak dan juga bergisi, sedangkan kami bisa makan dengan kenyang dan sehari sampai tiga kali itu sudah sangat istimewa. Aku tahu betapa berat perjuangan Papah untuk terus menghidupiku dan juga memberikan pendidikan yang terbaik untukku. Tidak kelaparan dan hidup penuh dengan cinta dan kasih sayang sudah membuat aku sangat bahagia, sampai malam kelam itu datang, dan merubah semuanya, tetapi ada yang wajib aku syukuri dari malam kejadian itu." Elin menjeda ucapanya untuk sesaat.
"Katakan apa yang kamu syukuri dari malam kejadian itu?" tanya Lucas dengan tidak sabar, dan tentunya hati yang tersayat nyeri ketika tahu perjuangan papah dan sodara kembarnya susah.
"Arya, aku bisa bertemu dengan Arya, yang mungkin bisa aku sebut sebagai dewa penolongku. Andai tidak ada dia mungkin aku sudah tidak ada di dunia ini, mungkin aku sudah mati, dan juga kalau tidak ada Arya mungkin aku tidak akan pernah tahu kalau aku masih punya Mamah yang kondisinya sangat mepihatinkan, mungkin kalau bukan karena Arya, aku tidak tahu kalau punya Kakek yang sangat jahat, kalau tidak ada Arya mungki wajahku akan tetap cacat seumur hidup, kalau tidak ada Arya aku tidak akan pernah tahu bahwa yang hampir membunuhku, dan membuatku hina serta cacat fisik adalah sodara kembarku. Arya adalah kunci dari ini semua. Aku sangat bersyukur ketika dipertemukan dengan Arya. Andai aku boleh memilik, aku ingin Arya adalah sodara kembarku. tetapi rencana-Nya memang tidak bisa di tebak. Orang yang aku benci justru dialah sodara kembarku. Apa yang bisa aku perbuat? Kecuali menerima takdir ini."
"Yah, padahal Arya dan Lexi beberapa kali mengatakan kalau sebaiknya aku selidiki dulu, tapi entahlah sifatku yang selalu ingin menang sendiri dan juga aku yang selalu menganggap benar tidak pernah mau tahu akan masukan dari orang lain. Bagi aku, tidak ada yang benar selain kakek yang tahu semua cerita masa lalu Mamih. Aku saat itu tidak bisa berbuat banyak karena Mamih sendiri tidak bisa aku mintai penjelasan dengan masa lalunya karena kondisi Mamih yang cukup parah saat itu," aku Lucas. Yah, andai ada mesin pemutar waktu pasti laki-laki itu akan meminta maktu itu diulang kembali dan dia bisa perbaiki perbuatanya. Namun, apa daya tidak ada yang bisa ia perbuat selain pasrah, dan meperbaiki kesalaahanya seperti yang papahnya katakan.
Elin menatap kesal pada Lucas. "Aku heran kenapa Papah yang maha baik bisa-bisanya punya anak seperti kamu. Kamu seharusnya malu punya papah yang sangat baik seperti papah Eric, tetapi punya anak yang sangat menyebalkan seperti kamu. Atau jangan-jangan Arya itu waktu tes DnA punya kamu ada kesalahan," balas Elin dengan setengah berkelakar.
Lucas pun sempat tertama masam. "Aku pun heran kenapa bisa papah aku sangat baik seperti itu. Yang kamu katakan benar Elin aku sempat malu untuk bertemu dengan papah karena ternyata Papah sangat baik dan juga sangat perhatian. Aku bahkan sangat malu ketika Papah bukan marah padaku, tetapi justru memberikan nasihat yang sangat bermanfaat untuk aku. Baru kali ini aku di tegor dengan cara yang sangat soapn, sedangkan kesalahan aku sangat besar."
__ADS_1
"Itulah baiknya Papah, aku sangat bersyukur karena saat itu yang merawat aku adalah Papah sehingga aku tidak kekurangan kasih sayang. Aku benar-benar mendapatkan kasih sayang yang berlimpah. Meskipun aku-akui Papah tidak beruntung dalam segi materi, tetapi aku beruntung dari segi kasih sayang aku tidak peranh kekurangan barang sedikit pun," ucap Elin dengan bangga karena telah memiliki papah sebaik Eric.
"Yah, pantaskah aku iri dengan kamu?" tanya Lucas, hatinya sangat sakit ketika Elin bercerita akan kasih sayang sedangkan dirinya adalah orang yang tubuh tanpa kasih sayang. Kakek subuk dengan bisnisnya dan juga yang ibu kandung depresi. Dia hanya dibesarkan oleh pembantunya.
"Apa yang kamu irikan dari kami yang tidak punya apa-apa," balas Elin dengan santai.
"Kasih sayang, aku tidak menadapkan kasih sayang. Hidup aku memang sangat berkecukupan akan tetapi dalam hal kasih sayang dan perhatian aku sangat jauh dari kata cukup, aku kekurangan perhatian, dan juga kasih sayang. Sehingga aku berbuat selalu sesuka hatiku, mencari duniaku di luar sana aku menikmatinya memang tetapi membuat hatiku kosong dan sulit disentuh," balas Lucas dengan mata kembali mengembun.
Hatinya nyeri ketika ia mengenag masa-masa yang sudah dia lalui dengan keras. Materi membuangnya dia bisa berpikir dengan mudah, dan tidak mau berproses dalam kesulitan karena memang yang dia dapatkan adalah dirinya yang selalu menggampangkan masalah-masalahnya dengan uang. Uang mampu menutup semua kesalah yang Lucas perbuat.
"Aku pikir hidup kamu sudah sangat sempurna, hingga aku juga merasakan iri sama kamu, karena harta yang berlimpah," balas Elin, ada rasa kasihan mendengar sepenggal cerita Lucas yang menjalani hidup dengan jalan yang salah.
"Kamu tidak tahu Elin betapa kotornya tubuh kini kalau aku mengingat betapa kejamnya aku saat itu, dan Jiara adalah salah satu kebejadan aku. Aku selalu mencari sasaran wanita-wanita yang malang belum pekerjaan yang kotor. Aku sangat menyesal setelah begitu banyak kesalahan yang aku telah perbuat."
Elin menatap tajam pada Lucas dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Aku tidak menyangka kalau aku memiliki saudara kembar sejahat ini."
__ADS_1