Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 170


__ADS_3

Di taman rumah sakit, Elin meskipun sudah menangis lama, tetapi tidak juga hatinya tenang. Entah apa yang ia sedihkan sedangkan kemarin ia sendiri yang menginginkan ajal menjemputnya, apalagi ketika papah dan mamahnya sudah bahagia. Saat b ini Elin merasakan hatinya kosong.


"Sudah jangan nangis lagi, jelek. Lagian malu dengan orang-orang yang dari tadi lihatin kamu." Satu kotak tisu ada di hadapan Elin. Wanita itu buru-buru melihat ke arah orang yang menyodorkan tisu itu. Namun, sedetik kemudian wajahnya berubah menjadi pucat ketika melihat siapa sosok yang memberikan sekotak tisu, dan....


Brukkkk...


Pandangan mata Elin tiba-tiba gelap seketika. Lexi yang menyodorkan tisu itu pun langsung memanggil perawat. Dia tidak kuat mengangkat tubuh Elin, karena luka di perutnya masih belum sembuh total, dan kondisi dia pun masih sakit.


Lexi cukup panik ketika melihat Elin yang jatuh pingsan, tetapi sedetik kemudian hatinya justru lega.


'Ternyata apa yang dikatakan oleh Lucas tidak benar, Elin bukan meninggal, tetapi dia sedang sakit. Tapi siapa yang menyebarkan fitnah itu,' batin Lexi geram dengan orang yang dengan tega mengatakan kalau Elin itu meninggal.


#Aku bisikin mau ga Bang? Siapa yang nyebarin fitnah itu....


"Tuan, apa Anda mau pulang sekarang," ucap Mario yang sudah hampir tiga jam menunggu Lexi di tempat parkir, tetapi bosnya tidak kunjung datang, dan karena cemas Mario pun memutuskan menyusul Lexi yang ternyata sedang duduk di depan ruang tunggu IGD.


"Nanti saja, gue ada urusan yang lebih penting," ucap Lexi, dan Mario pun tidak berani potres lagi lebih baik menunggu dari pada kena semprot.


Cukup lama Lexi menunggu di ruang tunggu. Ini bukan kebiasanya, tetapi justru Lexi melakukanya dengan ikhlas, bahkan hatinya tenang, dan tidak sedikit pun laki-laki itu merasakan bosan.


Hampir satu jam menunggu akhirnya dokter memanggil Lexi di mana Elin sudah di pindahkan ke ruang rawat. Tanpa menunggu lama Lexi pun masuk ke ruangan di mana Elin di rawat.


Begitu pintu di buka Elin dengan ketakutan yang luar biasa langsung bangun dan berusaha untuk beringsut agar laki-laki yang paling Elin benci, dan takuti tidak mendekat.


"Jangan mendekat," lirih Elin dengan mengacungkan bantal menutupi bagian dadanya.


"Elin, aku datang ke sini bukan untuk menyakiti kamu, tetapi untuk meminta maaf pada kamu, aku menyesal telah membuat kamu hancur aku meminta maaf." Lexi berusaha mendekat, tetapi lagi-lagi Elin teriak histeris.


"Jangan mendekat, atau aku akan bangun dan pulang," ancam Elin dengan suara yang bergetar ketakutan.


"Baiklah aku tidak akan mendekat." Lexi mundur kembali berdiri bersandar di dinding samping pintu. "Apa yang harus aku lakukan agar kamu memaafkan aku?" tanya Lexi, dengan suara yang lembut, sangat berbeda dengan Lexi yang dulu.

__ADS_1


"Pergi!!!" usir Elin, entah berapa kali wanita itu mengatakan kata pergi, tetapi Lexi tidak memperdulikanya.


"Aku tidak akan pergi, karena aku tahu kamu membutuhkan aku," lirih Lexi dengan suara yang tegas.


"Jangan sok tahu, aku tidak pernah membutuhkan kamu, justru kedatangan kamu hanya membuat aku susah," dengus Elin tanpa mau melihat laki-laki yang telah memperkosanya.


"Kalau kamu tidak membutuhkan aku, gimana kalau anak kamu yang membutuhkan papahnya?" Pertanyaan Lexi berhasil membungkam mulut Elin, dan tubuhnya lagi-lagi terasa pusing.


Elin memejamkan matanya, yang terasa sangat berat. Lexi yang memperhatikan Elin sebenarnya cukup panik dengan kondisi Elin saat ini. Yah, Lexi tahu semua yang tejadi dengan Elin.


Namun setiap Lexi akan melangkah untuk membantu Elin. Wanita itu akan menjerit menolaknya.


"Anak ini bukan anak kamu," isak Elin dengan mata memejam dan menunduk, tidak ingin melihat Lexi.


"Sekeras apapun kamu mengelak, dia tetap anakku, darah dagingku. Semakin kamu menyembunyikannya aku justru semakin yakin kalau anak itu adalah hasil dari benihku," balas Lexi dengan suara yang sangat menjijihkan.


"Pergi, tolong! Aku ingin sendiri," lirih Elin semakin pusing, karena bayangan kelam malam itu melintas kembali dengan jelas di ingatanya. Bahkan dokter yang berkata bahwa Elin agar jangan setres sepertinya akan benar-benar setres dengan datangnya Lexi.


Lagi, Elin terkejut mendengar ucapan Lexi. "Apa yang kamu ketahui dari aku?" lirih Elin dia berpura-pura baik-baik saja, tetapi padahal kepalanya sudah kembali pusing, bahkan rasanya benda-benda di dalam ruangannya berterbangan seolah akan menabrak dirinya.


"Semuanya, kehamilan kamu yang kalau di hitung usianya sama dengan aku menanam benih malam itu, kondisi bayi kamu yang sehat, itu karena dia senang akan bertemu dengan papahnya. dan sakit kamu yang hari ini kamu lakukan check up." Lexi menjabarkanya tanpa terlewat satu pun dari yang dokter katakan padanya tentang kondisi Elin.


"Tolong rahasiakan sakitku pada keluargaku," lirih Elin dengan tubuh lemahnya, dia sudah tidak bisa mengelak dari Lexi, karena Lexi memegang rahasianya.


Laki-laki yang masih berdiri menyender di dinding pun cukup terkejut dengan ucapan Elin.


"Kenapa kamu rahasiakan sakit separah ini?" tanya Lexi, ia pikir kalau keluarganya sudah tahu kondisi Wanita yang sedang hamil anaknya.


"Aku tidak ingin keluargaku sampai sedih dengan sakit aku," jawab Elin, pelan.


"Tapi mereka akan tetap sedih ketika suatu saat nanti tahu kenyataanya. Mereka akan semakin marah, kecewa dan pasti sedih, karena seolah kamu tidak menganggapnya," balas Lexi dengan pandangan yang mengamati Elin dari ujung rambut hingga ujung kakinya yang sedang duduk meringkuk karena takut dengan Lexi.

__ADS_1


Elin tidak menjawab apapun dari ucapan Lexi dia tetap bermain dengan ujung selimut yang menutupi kakinya.


"Baiklah aku mengalah, aku tidak akan berbicara apapun tentang kondisi kamu pada keluargamu tetapi dengan satu syarat," ucap Lexi.


Dalam pikiranya masih bertanya kenapa bisa Elin menyembunyikan sakit yang bukan sakit biasa, bahkan resiko dari sakit yang Elin derita adalah kematian.


"Aku tidak mau menikah dengan kamu," jawab Elin dengan jelas, seolah ia bisa tahu apa yang ada di dalam pikiran Lexi.


"Aku tidak akan memaksa kamu untuk menikah denganku, tetapi biarkan aku merawat kamu sampai kamu sembuh," ucap Lexi dengan suara yang terdengar lembut.


Bahkan Elin sempat kaget ketika melihat perubahan dan cara bicara Lexi sangat berbeda dengan Lexi yang dulu ia ketahui.


Wajah Elin yang sejak tadi menunduk pun diangkatnya dengan senyum yang sinis. "Kamu tidak usah melakukan itu, karena aku tidak akan pernah sembuh."


"Apa yang tidak mungkin kalau Tuhan sudah berkehendak? Apapun pikiran kamu, aku tetap akan merawat kamu, aku akan buat kamu untuk sembuh," ucap Lexi dengan tegas.


"Terserah karena kalau kamu sudah cape juga kamu akan pergi dengan sendirinya, " balas Elin dengan ketus dan pasrah.


"Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi, cukup sekali aku meninggalkan kamu dengan derita yang aku buat, sekarang aku akan buktikan pada kamu, bahwa aku telah menyesal," ucap Lexi.


"Aku cape."


"Tidurlah dan nanti bangun dengan hari yang lebih indah dan kondisi yang lebih membaik," balas Lexi, sembari menatap Elin yang tidur dengan meringkuk.


"Siapa yang harus aku kabari kalau kamu ada di sini?" tanya Lexi lagi.


"Aku akan pulang setelah aku bangun nanti."


"Dokter tidak mengizinkan, karena kondisi kamu sedang tidak baik-baik saja," balas Lexi mengikuti apa kata dokter.


"Aku akan tetap pulang!" jawab Elin dengan yakin.

__ADS_1


Lexi pun membuat nafas kasar. "Ternyata dia keras kepala juga. Sangat mirip dengan Lucas."


__ADS_2