Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 225


__ADS_3

Setelah drama yang cukup panjang, dokter Handoko pun mengatakan kalau Lucas akan segera dipindahkan ke ruang rawat, dan dalam waktu tiga hari kalau kondisinya semakin membaik itu tandanya Lucas akan bisa pulang, sedangkan Elin besok apabila pemeriksaan semuanya bagus sudah boleh pulang.


Tidak henti-hentinya Eric bersyukur terlebih setelah badai besar yang membuatnya hampir putus asa, bukan hanya Eric Darya pun sangat bahagia dengan kabar ini semua meskipun tidak dipungkiri wanita itu masih merasakan dalam tahap cemas itu semua karena kondisi Philip yang justru belum ada perubahanya. Kini Darya hanya tinggal fokus dengan kesembuhan papahnya agar mereka bisa berkumpul bersama.


"Elin kamu kembali ke kamar yah, istirahat bahkan selang infus kamu sampai tertinggal, ingat besok kamu ada check up untuk memastikan bisa pulang atau tidak," ucap dokter Eka, bukan marah hanya saja bercanda dengan kelakuan Elin. Tentu dokter Eka tahu bagaimana bahagianya Elin hingga selang infus nya terlepas.


Sementara Elin hanya cengengesan. Saking bahagianya dia sampai lupa besok adalah hari penentu dia akan pulang atau tidak. Sedangkan dia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Eril. Bayinya yang sangat baik tidak rewel meskipun hanya tinggal bersama dengan susternya. Orang tuanya sedang berjuang untuk kesembuhan, kakek dan neneknya juga sedang sibuk berjaga keluarga yang sedang sakit.


"Baik Dok, aku malam ini akan tidur dengan nyenyak biar besok aku bisa pulang," balas Elin setelah berpamitan dengan semuanya Elin pun kembali ke kamarnya. Ingin dia dirawat bersama dengan Lucas, tetapi pasti nanti Lucas besar kepala dan tidak mau datang menemuinya untuk minta maaf, sedangkan Elin sendiri tetap ingin Lucas datang menemuinya dan meminta maaf dan berjanji untuk menebus kesalahan dia serta memperbaiki hubungan sodara yang sempat rusak.


Setelah semuanya membaik dan untuk beberapa saat saling mengobrol Arya dan Marni pun pamit pulang duluan.


"Loh ngapain pulang apa nggak mau ketemu dengan Lucas dulu?" ucap Eric, bagaimana pun Arya sudah sangat dekat dengan keluarganya. Eric tidak akan lupa jasa-jasa Arya.


"Mungkin lain waktu Om, Tante, sekarang ini keluarga Arya akan berkunjung ke rumah Marni, tadi sempat takut kalau semua rencana akan gagal, tetapi ternyata alhamdulillah semuanya terlewati meskipun sempat tegang," ucap Arya dengan malu-malu. Marni pun sama terlihat tersipu malu.


"Tunggu-tunggu! Apa kamu mau lamaran?" tanya Darya dengan wajah yang terlihat marah.


"Hehehe, iya Tante, sudah nggak tahan, masa Lucas ada Jiara, Elin juga meskipun belum menikah dengan Lexi tapi tiap malam ada yang nemanin tidurnya ada yang jaga, dan yakin sebentar lagi juga SAH. Arya berasa paling ngenes makanya buru-buru juga pengin di sahkan," balas Arya meskipun itu semua tidak sepenuhnya benar, melainkan ibu angkat Marni yang sudah sakit-sakitan dan menginginkan kalau Marni secepatnya ada yang menjaga yaitu suaminya, sehingga ibu dari Marni bisa tenang.


"Wah gimana kalau Elin dan Arya nikahnya bareng aja," usul Eric, sedangkan Lexi sediri sudah mengantar Elin kembali ke kamarnya, dan kembali menjaga ibu dari anaknya.


"Wah sepertinya ide yang bagus itu," balas Arya tentu setuju dengan usul Eric.

__ADS_1


"Baiklah kalau gitu nanti Om bicarakan dengan orang tua kalian."


Setelah menemukan kesepakatan kini Arya dan Marni pun pulang.


"Jia kamu kalau mau ke kamar Lucas ke sana duluan saja. Papah dan Mamah mau lihat kakek kamu, bagaimana kondisinya saat ini." Eric ingin memberikan waktu untuk Jiara dan Lucas yang pasti Jiara ingin menikmati momen bersama ini.


"Baik hati-hati Pah, Mah, dan salam untuk Kakek," ucap Jiara.


"Bunda, Oma dan Opa ke mana?" tanya Zakia yang saat ini sedang di gendong Jiara.


"Oma, dan Opa akan jenguk Eyang. Kita ketemu Papah yah, katanya Kia kangen sama Papah," ujar Jiara, sembari terus mengusap pucuk kepala buah hatinya.


"Holleh... Kia mau ketemu Papah, Bunda kalau Kia malam ini bobo sama Papah boleh tidak?" tanya bocah kecil itu.


"Baik Bunda, Kia tahu, nanti Kia akan nurut sama sustel Lini dan Bunda sama Sutel Silpi," jawab Zakia dengan melihat kearah suster Rini dan bundanya, mungkin gadis kecil itu tahu dan menyesal tadi dia sempat marah-marah dan kesal dengan susternya.


"Nah, kaya gitu dong itu baru anak Bunda dan Papah, nanti Kia minta maaf sama Suster Rini dan Sivi yah, karena tadi sudah jadi anak yang cengeng."


"Baik Bunda, Kia akan minta maaf sama suster Silpi, tapi sama Suster Lini sudah loh Bun," ucap Zakia dengan wajah yang bahagia.


"Wah, hebat. Kalau sudah minta maaf itu namanya anak hebat," puji Jiara dengan mengacungkan jarinya.


"Benar Nyah, Zakia memang sudah minta maaf tadi, saya sampai terharu karena dia pintar sekali," imbuh suster Rini dan hal itu membuat Zakia senang.

__ADS_1


Tubuh Jiara seketika bergetar ketika akan membuka pintu ruangan suaminya, seperti ABG yang sedang jatuh cinta dan akan ketemu pujaan hati, gerogi dan bingung mau membahas apa, itu yang saat ini Jiara rasakan.


"Bunda, kenapa diam saja. Ayok buka pintu kamalnya. Kia pengin ketemu dengan Papah." Zakia yang sudah tidak sabar pun mengerak-gerakan kakinya ingin buru-buru turun dan menyapa Papahnya.


Ceklek... Zakia pun mulai membuka pintu ruangan di mana di dalam sana Lucas sudah langsung menatap ke arah pintu dengan senyum yang sangat manis.


"Papah...Kia kangen sama Papah." Zakia langsung berlari setelah Jiara menurunkanya. Lagi-lagi Jiara bersyukur untung ada Zakia yang menolong dari kegugupanya. Mungkin kalau tidak ada Zakia dia akan sangat bingung bagaimana cara meemulai obrolan dengan Lucas.


Jiara pun mengikuti langkah Zakia yang langsung berlari ke ranjang papahnya dan berdiri di samping ranjang yang tinggi ranjangnya sedagu anak kecil itu.


"Hay anak papah yang cantik, papah justru lebih kangen dengan Kia," balas Lucas dengan suara yang masih lemah dan tangan yang ingin membelai rambut putrinya.


"Bunda, apa Kia boleh naik sini." Bocah kecil itu menepuk-nepuk sisi Lucas yang bisa dia duduki.


Jiara menatap Lucas seolah tengah bertanya.


"Tidak apa-apa luka aku sudah kering," balas Lucas yang tahu arti tatapan Jiara.


"Baiklah Kia boleh naik, tapi hati-hati yah perut Papah masih sakit," ucap Jiara sembari membohongi putrinya meletakkan dengan hati-hati di samping Lucas.


"Terima kasih," ucap Lucas sembari menatap penuh damba pada Jiara yang biasa dia lihat kalau wanita yang berstatus istrinya itu sangat sedih.


Jiara hanya tersipu malu, senang campur haru.

__ADS_1


#Cie-cie ada yang sedang kasmaran. Bang buruan sehat biar bisa main ciat ciatan....


__ADS_2