
Siapa sih ganggu istirahat aja," rutuk Elin, tetapi ibu satu anak itu pun memaksakan diri untuk bangun dan membuka pintunya. Meskipun dalam hatinya sangat gondok sebab baru kali ini ada yang berani ketuk pintu dengan tidak sopan.
"Tunggu bentar!" pekik Elin ketika pintunya terus diketuk, apalagi karena ulah orang yang iseng itu membuat Eril bangun dan menangis. Empsi wanita itu pun semakin menjadi. Kalian bayangin sendiri untuk membuat tidur bayi itu kadang-kadang sulit sekali dan ini dengan tidak sopannya mengetuk pintu tidak ada hentinya.
"Sial, siapa sih yang iseng, bikin darah tinggi aja." umpat Eli dan bersiap akan memaki orang itu, baru kali ini ada yang kurang ajar pada dirinya seperti ini, biasanya boro-boro ada yang jahil seperti ini pasti asisten rumah tangga juga sopan sopan.
Elin yang mengira kalau orang yang mengetuk pintu adalah orang iseng sehingga wanita beranak satu pun mencak-mencak bersiap akan marah, sedangkan Lucas didepan dia terlalu bingung sehingga tanpa sadar mengetuk pintu terus menerus
Brakkkk... pintu Elin buka dengan kasar. Di tambah wajah Elin yang siap untuk memaki.
"Ngapain kamu ketuk pintu kamar berkali-kali, anak aku bangun tau nggak," oceh Elin, bodo amat yang ada di hadapannya adalah Lucas orang yang dulu paling ia takuti, tetapi kali ini malah kena marah oleh Elin. Dunia itu adil Bro....
"Elin, maaf aku tidak sengaja," balas Lucas dengan menujukan wajah yang bersalah, dan tentunya wajah yang berdosa sekali, dia tidak sadar mengetuk pintu berulang-ulang dan itu karena dia yang terlalu gerogi akan bertemu dengan Elin.
"Lupakan, anak aku udah bangun percuma minta maaf juga," jawab Elin dengan ketus, benar-benar watak Elin sangat mirip dengan Lucas, kalau marah dan lain sebagainya sangat mirip dengan Lucas. Seperti saat ini Elin terlihat sangat serius dengan kemarahanya, sehingga kata-kata yang sudah Lucas siapkan hilang begitu saja, karena gerogi dengan apa yang dia katakan tadi.
__ADS_1
"Lin, aku pengin bicara dengan kamu," ucap Lucas dengan lirih ketika Eril sudah kembali tidur di ayunanya.
"Tunggu di ruang keluarga, aku akan menidurkan Eril dulu." Lagi Elin berbicara dengan sangat ketus sehingga membuat Lucas semakin panas dingin. Karena dia tidak menyangka kalau sodara kembarnya memiliki watak yang sangat dingin.
Elin pun tanpa menunggu ucapan dari Lucas langsung meninggalkan Lucas yang masih mematung di depan kamarnya.
"Ya Tuhan ternyata sodara kembarku sangat galak sekali. Aku pikir dia itu benar kucing kampung, ternyata dia hariamau sumatra," gumam Lucas dengan berjalan meninggalkan kamar Elin.
Sedangkan Eril pun di titipkan pada pengasuhnya agar Elin bisa berbicara empat mata dengan sodara kembarnya.
"Baru saja, aku pulang langsung ke kamar kamu," balas Lucas dengan ramah berbeda dengan Elin yang berbicara nampak dingin. Entahlah padahal Elin tidak pernah berniat berbicara ketus seperti itu tetapi entahlah dengan sendirinya suaranya jutek seperti itu.
"Elin, aku mau minta maaf secara langsung karena perbuatan aku yang dulu. Elin tolong maafin aku. Aku sangat menyesal, bahkan tidurku sangat tidak nyenyak sebelum kamu memaafkan aku," ucap Lucas sembari memegang tangan Elin dan menggenggamnya Erat.
Elin pun entah mengapa air mata itu kembali luluh ketika membayangkan akan peristiwa dulu lagi. "Aku sudah berjanji kalau aku akan memaafkan kamu jadi tidak ada alasan aku untuk tidak memaafkan kamu," ucap Elin dengan suara serak dan terlihat sangat sedih.
__ADS_1
"Elin hukum aku untuk membuat kamu lebih bisa memaafkan aku, hukum aku apapun itu hingga aku merasakan kalau aku sudah mendapatkan hukuman yang setimpal." Lucas terus memohon pada Elin agar menghukumnya, tetapi Elin justru bergeming dengan tatapan yang kosong.
"Andai aku bisa menghukum kamu, mungkin sudah aku lakukan, dan andai aku bisa melakukan itu aku sudah dari lama melakukanya, tapi kalau aku melakukanya akan banyak orang yang tersakiti, terutama Mamah dan Papah, karen kamu juga anak mereka dan aku anak mereka. Mereka ingin kita akur, jadi aku pun harus mengabulkan apa keinginanya," jawab Elin dengan bijak, hal itu semakin membuat Lucas merasa bersalah. Dia merasa dihantui dengan perasaanya yang dulu, dia justru tidak pernah mau mendengarkan ucapan orang lain.
Di mana dia tidak mau mendengarkan apa ucapan orang lain dan terus percaya bahwa Elin adalah alat untuk jadikan dia balas dendam. Lucas pun menghambur memeluk tubuh Elin yang jauh lebih kecil dari dirinya.
"Maafkan aku, aku sungguh menyesal. Padahal Lexi dan Arya saat itu selalu menasihati aku, tetapi aku yang keraskepala ini membuat semuanya berantakan. Aku adalah manusia yang bodoh, tidak mau mendengarkan saran dari siapapun," racau Lucas dengan sauara yang berat menunjukan kalau laki-laki itu sangat menyesali perbuatanya.
"Apa kamu saat berdekataan dengan aku tidak ada perasaan yang aneh. Karena menurut seseorang kalau kita memang sodara akan ada getaran yang aneh. Apalagi kita pernah tinggal satu rahim dan dalam waktu yang bersamaan meskipun hanya sembilan bulan." Elin menatap kosong. Ingin mengetahui bagaimana perasaan Lucas pada saat itu.
Untuk sesaat Lucas pun terdiam dan seolah tengah mencari jawaban yang tepat.
"Jujur aku saat pertama kali melihat kamu ada hal yang aneh, kasihan dan lain sebagainya. Apalagi dari informasi yang aku dapatkan kamu dan papah sangat dekat. Aku juga mendapatkan info kalau kamu adalah anak yang baik. Namun, rasa itu hilang berganti kembali dengan dendam saat aku kembali teringat bagaimana nasib mamah dengan puluhan tahun depresi dan bahkan sudah dikatakan gila. Sehingga aku mengabaikan rasa kasihan dan iba. Justru aku ingin kalau kamu bisa merasakan yang sama seperti yang mamah rasakan. Aku ingin papah merasakan hal yang sama dengan mamah. Namun, betapa bodohnya aku ternyata informasi yang aku dapatkan adalah hanya kebohongan belaka.: Lucas menceritakan apa yang menjadi bagaimana perasaanya.
Elin kembali terisak. Memainkan jari-jarinya untuk mengurangi kemarahanya. "Aku tidak tahu harus berbicara apa lagi sama kamu." Karena hanya kamu yang tahu bagimana perasaan kamu saat itu. Aku disini hanya diwajibkan memaafkan kamu dan melupakan kejadian itu bukan?" tanya Elin dengan setengah terkekeh.
__ADS_1
"Elin... maafkan aku, aku benar benar menyesal."