
Lucas meninggalkan ruangan kakeknya dengan perasaan senang. Sebelum memasuki ruangan Zakian, Lucas lebih dulu mengambil mainan yang sebelumnya sudah di belikan oleh Alfi, asistennya. Lucas yang sudah memesannya jauh-jauh hari untuk sang putri. Sedangkan Jiara sendiri di dalam ruangan putrinya sudah deg-degan akan bertemu dengan Lucas.
"Apa kamu takut akan bertemu Lucas, Jiara?" tanya Arya yang bisa melihat kalau wanita yang sedang bermain dengan anaknya, tetapi gelisah dan terlihat dengan jelas kalau dia tidak tenang.
Jiara hanya menatap Arya dengan memberikan senyum getirnya. Lalu kembali bermain dengan Zakia. Tidak lama pintu di buka dan meskipun tidak melihatnya Jiara sudah tahu kalau yang datang ada Lucas laki-laki yang pernah meninggalkannya dengan segudang masalah.
"Papah..." Zakia memanggil Lucas dengan gembira. Sedangkan Jiara hanya menunduk menahan hatinya yang sakit, hancur berkeping-keping, ketika mendengar putrinya sangat merindukan papahnya. Yah, Jiara bisa mengerti dan merasakan dari suara Zakia kalau putrinya itu sangat merindukan papahnya.
Padahal Zakia bertemu dengan Lucas hanya dua hari, tetapi anak itu seperti sudah mengenal Lucas lama. Laki-laki yang membawa mainan di tangannya mengembangkan senyum bahagia serta sedihnya, terutama melihat ekspresi Zakia yang terlihat sangat sedih, dan juga Jiara yang tidak menyambutnya sama sekali, bahkan ia tidak menatap Lucas barang sedetik pun. Pandanganya tetap menunduk seolah Lucas tidak terlihat olehnya.
Meskipun Lucas sakit menatap Zakia dan Jiara, tetapi ia tetap menunjukkan senyum terbaiknya. Ini adalah hukuman yang harus di terimanya, ia masih bersyukur ketika Jiara mau memberikan kesempatannya untuk bertemu dengan Zakia.
"Kia, apa kabar?" tanya Lucas sembari berjalan mendekat kearah putrinya.
"Pa... Papah... Papah..." Zakia terisak lirih memanggil papahnya dan hati Lucas semakin teriris. Jiara sediri menunduk matanya sudah berkaca-kaca mendengar suara putrinya yang tengah menahan tangisnya.
"Papahhhh..." Akhirnya Zakia menangis di pelukan laki-laki yang disebutnya papah. Jiara pun beranjak ke kamar mandi, di dalam sana tangisnya pecah. Wanita itu diam menumpahkan sesaknya dengan menyalakan air keran, agar tangisnya tidak terdengar. Pandangan Lucas mengekor menatap kepergian istrinya yang ia tahu kalau Jiara juga sedang menangis. Kesalahannya sudah terlalu banyak, hingga Lucas sendiri bingung untuk mengawali obrolan dengan Jiara. Ia bingung mau meminta maaf dari yang mana, dia sudah terlalu banyak menanam kesedihan di kehidupan Jiara.
"Heyyyy cantiknya Papah, kenapa menangis. Ini Papah ada di samping Zakia. Papah udah pulang Nak," lirih Lucas dengan membelai rambut ikal sang putri.
"Papah, jangan pelgi lagi yah, Papah bobo sama Kia yah," isak anak yang usianya belum genap tiga tahun itu. Bahkan suaranya masih tersengal dengan sisa tangisnya.
__ADS_1
"Kia lihat deh Papah bawa mainan untuk Kia, apa Kia mau lihat mainannya?" tanya Lucas yang mengalihkan ocehan si kecil. Laki-laki itu juga bingung mau menjawab dengan apa. Siapa yang tidak ingin tetap bersama sang putri menunggu hingga ia sembuh, menemani bermain dan tidur bersama, tetapi keadaanya berbeda tidak seperti orang lain. Dan keadaan seperti ini adalah kesalahannya.
"Tidak, Kia nggak mau mainan itu, Kia maunya Papah. Papah bobo sini! Papah jangan kelja lagi!" tangis Zakia kembali pecah seolah ia benar-benar tidak mau ditinggal oleh papahnya kerja.
Lucas menatap Arya yang juga dari tadi memperhatikan sepupu dan keponakannya itu. Mesipun Arya belum tahu rasanya memiliki anak, tetapi Arya bisa tahu perasaan Lucas seperti apa. Senakal-nakalnya laki-laki setelah mendengar tangis buah hatinya pasti sakit, sama seperti yang dirasakan Lucas saat ini.
Arya hanya membalas tatapan Lucas lalu memberikan kode dengan anggukan ringan. Mungkin nanti ia akan bantu untuk berbicara dengan Jiara. Jangan sampai karena masalah orang tuanya anak-anaknya sampai jadi korban. Itu yang ada dalam pikiran Arya. Yah, laki-laki itu merasakan kalau Zakia saat ini sedang menjadi korban keegoisan orang tuanya.
"Kia, kita main yuk, Papah kangen main dengan Kia. Papah janji malam ini Papah bobo sama Kia, tapi besok Papah harus pergi kerja lagi soalnya Papah banyak kerjaan nanti Papah malah di marahin masa bos papah," ucap Lucas merayu putrinya yang sangat mirip dengan mamihnya yang sedang sakit itu. Sampai-sampai Lucas terlintas mamihnya yang sudah beberapa lama ia tidak kunjungi. Meskipun dulu ia bisa berbulan-bulan tidak mengunjungi mamihnya, bahkan pernah bertahun-tahun, tetapi kali ini rasanya baru beberapa minggu sudah kangen berat.
Padahal Diki dan perawat di sana sering mengirimkan vidio Darya yang mengalami kesembuhan yang drastis. Diki juga sering mengajak Darya melakukan panggilan video pada Lucas, meskipun hanya untuk menyapa dengan vidio. Tidak seperti dulu yang cuek dan tidak pernah perduli dengan kondisi mamihnya.
"Tapi nanti Papah bobo sini, dan besok Papah juga bobo sini lagi, Besok ada Opa yang bobo sini dan sekalang Opa tidak bobo sini, makanya Papah bobo sini," adu Zakia dengan sosok opanya yang biasa menemaninya.
Arya kali ini diam saja tidak merespon tatapan Lucas, mungkin memang ini sudah saatnya Lucas tahu mengenai Eric dan Elin. Tapi Arya juga akan melihat kondisinya kira-kira memungkinkan tidak untuk dia bercerita dengan kebenaran ini. Semua pasti akan terungkap juga.
Tidak lama Jiara keluar dar kamar mandi dengan mata yang terlihat merah dan sembab itu semua karena ia yang telah menangis di dalam kamat mandi sama.
"Kia, Sayang minum obat dulu yah. Setelah itu bobo," ujar Jiara suara yang serak dan berat menambah keyakinan bahwa wanita itu memang telah menangisi nasibnya yang berbeda dengan orang-orang, tanganya menyiapkan obat-obatan milik Zakia yang harus di minum malam hari sebelum tidur.
Anak kecil itu hanya diam saja tidak merespon bundanya. Bahkan ia baru merasakan bermain dengan papahnya sebentar sekali, tetapi bundanya sudah meminta tidur.
__ADS_1
"Bunda, Kia minta waktu sebentar lagi yah. Kia ingin belmain dengan Papah, sebental saja," lirih Zakia pada akhirnya berani meminta izin dengan sang bunda.
Jiara pun menatap jam yang ada di layar ponselnya yang mana masih belum jam tidurnya. "Baiklah tapi hanya tiga puluh menit yah," lirih Jiara kembali meletakan obat-obatan milik putrinya. Dan ia memilih duduk di kursi yang tidak jauh dengan putri dan Lucas.
"Bunda... Bunda sini!! Kita main baleng," lirih Zakia meminta Jiara bermain dengan dirinya dan Lucas. Sedangkan Arya diam-diam menyelinap keluar ruangan itu. Membiarkan mereka mengontrol perasaannya masing-masing, jujur Arya tidak tega dengan mereka. Arya merasakan hatinya Zakia yang meskipun masih kecil, tetapi anak itu seolah tahu bahwa hubungan antara orang tuanya sedang tidak baik-baik saja.
Anak kecil itu seolah tahu papah dan bundanya tidak akur, dan ini adalah caranya membuat mereka berhubungan baik lagi.
Jiara diam membisu. Namun, dalam hatinya masih teringat dengan kebaikan keluarga Lucas. Eric, Elin, Arya dan Marni semuanya memberikan kekuatan untuk Jiara.
Mungkin yang menjadi sesak dan sakit di dada Jiara adalah ketika Lucas ternyata adalah orang yang gemar mempermainkan wanita. Salah satunya adalah dirinya. Dan yang bikin sakit lagi laki-laki itu saat ini sudah menjadi suaminya.
"Bunda ayo!!" Zakia dengan wajah memohon dan polosnya menatap Jiara.
Wanita itu mengusap pipinya yang basah.
Bibirnya dipaksa melengkung memberikan senyuman yang terpaksa.
"Bunda harus main apa Sayang," lirih Jiara akhirnya mau bergabung dengan putri dan suaminya duduk di karpet yang banyak terdapat mainan.
Berbeda dengan Jiara yang memberikan senyum terpaksa. Zakia justru tersenyum dengan tulus, dan sesekali tawa lepas ia berikan untuk mewarnai permainan ular tangga yang saat ini tengah mereka mainkan.
__ADS_1
"Maaf." lirih Lucas. Ketika matanya menangkap Jiara yang sesekali mengusap pipinya di tengah-tengah permainan ular tangga. Meskipun bibir tersenyum dan senang mendengar tawa renyah putrinya, tapi air mata tetap sesekali keluar dari sudut mata wanita itu.