
"Pah, Mah, ayo dong buruan kasihan nanti Zakia nungguin," pekik Elin setelah tiga hari dirinya tidak bertemu dengan ponakanya, karena acara mamah dan papahnya yang menikah. Hari ini adalah hari petama mereka akan bertemu kembali.
Sementara itu Zakia juga di rumah sakit sudah nampak sangat antusias dengan kedatangan opa dan tante-nya terlebih ia akan bertemu oma-nya untuk pertama kalinya.
Bahkan entah sudah berapa kali Elin dan Jiara berkomunikasi, hanya karena Zakia yang tidak sabar akan kedatangan para keluarganya.
"Ayok Sayang," ucap Darya dengan membawa rantang makanan seperti dulu dirinya selalu dibawakan oleh Eric, kali ini dia sendiri yang melakukanya untuk cucunya. Yah Darya sudah tahu akan cerita Lucas dan Jiara hingga memiliki putri kecil bernama Zakia, bahkan Darya sendiri sudah tahu apa sakit cucunya. Eric yang menceritakannya secara perlahan-lahan terutama setiap menjelang tidur maka Eric akan bercerita panjang kali lebar.
"Aduh Pah, Mamah serasa deg-degan mau ketemu cucu Mamah," lirih Darya bahkan entah ia mengatakan seperti itu untuk keberapa kali intinya Darya sangat bahagia saat ini dengan keluarga kecilnya.
Sementara Elin hanya memperhatikan mamah dan papahnya dengan bahagia. Hiburanya selama ini adalah kedua orang tuanya yang Elin melihatnya seperti ABG yang baru berpacaran, sangat menggemaskan, dan dirinya selalu menjadi obat nyamuk untuk kedua orang tuanya yang bahagia, dan tentunya selalu romantis.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup memakan waktu, kini mereka pun sampai di rumah sakit tempat Zakia di rawat. Ketiga anggota itu pun langsung melangkahkan kakinya menuju ruangan Zakia. Di mana Zakia sendiri sudah tidak sabar menunggu kedatangan mereka.
"Bunda-bunda, Opa, dan Oma sama Tante belum sampe yah?" tanya bocah usia tiga tahun itu. Jiara hanya membalasnya dengan senyum yang sangat teduh.
"Belum Sayang, paling sebentar lagi mereka akan sampai. Apa Kia sudah berdoa memohon pada Allah agar Opa dan Tante segera datang?' tanya Jiara, nadanya yang lembut membuat Zakia nyaman dengan bundanya.
"Belum Bun, Kia lupa," kekeh bocah itu sembari tangan kirinya menepuk kepalanya sangat mirip seperti orang dewasa, sampai-sampai Jiara terkekeh dengan kelakuan putrinya yang sangat gampang meniru kebiasaan orang dewasa.
"Kalu gitu berdoa dulu sama Allah, agar mereka cepat sampai," titah Jiara, sembari wanita itu menggajarkan tanganya menengadah ke atas.
"Ya Allah, semoga Opa, Oma dan Tante Elin cepat sampai. Kia ingin bermain dengan meleka," ucap Zakia, dengan suara yang sudah cukup fasih dalam berbicara.
"Amin." Jiara menjawab sembari mengusapkan tanganya ke wajahnya, dan Zakia pun melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"Bunda apa nanti Allah akan kabulkan doa Kia?" cecar Zakia penasaran.
"Pasti Sayang, Allah pasti akan kabulkan doa Kia, tapi Kia juga harus sabar," balas Jiara sembari mengusap rambut putrinya yang sudah cantik, bahkan lagi-lagi bocah itu sudah berdan-dan dengan cantik untuk menyambut keluarga yang akan datang.
"Iya Bunda, Kia akan sabal nunggu Opa datang," oceh bocah kecil itu.
"Surprise...." Elin membawa balon yang banyak berwarna-warni dengan mainan baru untuk ponakanya. Zakia pun nampak berbinar sekali ketika melihat ada orang yang sejak tadi ia tunggu bahkan tidak menunggu waktu lama dari dirinya melantunkan doanya.
"Bunda, Allah baik langsung kabulkan doa Kia," pekik Zakia, menatap Bundanya dengan wajah yang berseri bahagia.
"Iya makanya Kia juga berdoa terus yah, agar Kia cepat sembuh dan kita juga cepat pulang dan bermain denga Opa, Oma dan Tante Elinya di rumah." Jiara memang selalu mengajarkan putrinya agar apapun itu meminta pada Tuhan sehingga ia akan percaya bahwa Tuhan itu memang ada.
"Siap Bunda, nanti Kia akan berdoa telus sama Tuhan, bial Kia pulang ke Lumah, nanti ada Papah yah Bun?" oceh Zakia, dan di balas anggukan oleh Jiara, dan wajah yang dipaksa tersenyum.
Elin pun berjalan menghampiri Zakia. "Apa Kia suka kalau Tante bawa balon untuk Kia?" tanya Elin dengan menyodorkan balon berwarna warni untuk ponakaanya yang sudah berdan-dan dengan cantik untuk menyambut mereka.
"Opa..." pekik Zakia lagi, ketiak Opa dan Oma-nya baru masuk ke ruangannya. Jiara pun langsung bangkit dan menyalami mertuanya.
"Mamih, Jia sangat senang melihat Mamih sudah sembuh," isak Jiara di dalam pelukan Darya.
Jiara sangat sedih ketika papahnya tidak ada kemajuan, tetapi justru mamih mertuanya sangat cepat sekali untuk sembuh. Wanita itu justru merasakan kalau takdir sangat tidar adil dengan kehidupanya, yang selalu teragis.
"Jia??" Darya nampak bingung, kenapa wanita yang mengaku menantunya sangat akrab dengan dirinya, sedangkan ia sendiri seperti baru mengenal wanita yang benama Jiara itu.
"Iya Mah, ini namanya Jiara, Kakak adalah menantu Mamah, dan ini (Elin menujuk Zakia, yang langsung bermain dengan Opa-nya. Yang kecil dan cantik ini namanya Zakia, dia anak kakak Jiara, cucu Mamah," jelas Elin dengan sangat sabar.
__ADS_1
"Mamih seperti pernah bertemu dengan Jiara, tapi kira-kira di mana yah?" tanya Darya, yang nampak berpikir dengan keras.
"Jiara sering menemani Lucas, anak Mamih dulu kalau mengunjungi Mamih," jelas Jiara yang merasa memang mamih mertuanya wajib tahu kalau dirinya sering mendatangi dirinya untuk menemani bos yang saat ini sudah menyandang setatus suaminya.
"Ah, Mamih ingat, Lucas mana Jia? Kenapa anak itu tidak pernah temui Mamih lagi, apa di tidak ingin tahu kalau Mamih-nya sudah sembuh?" tanya Darya, ada raut wajah yang sedih.
"Lucas, dia sedang sibuk Mih, Zakia pun sudah kangen ingin ketemu Papah-nya, tetapi belum ada waktu untuk menjenguk Kia," balas Jiara, setelah mendapatkan kode dari Elin, dan pastinya tanpa sepengetahuan Darya kalau Elin memberikan kode agar Jiara tidak menceritakan masalahnya dengan sodara kandungnya.
"Yah dia memang sangat senang bekerja sampai tidak ingat waktu. Semoga saja pekerjaanya cepat selesai sehingga kita semua bisa berkumpul bersama lagi," cicit Darya, dan Elin yang mendengarnya hanya menggigit bibirnya dan menunduk dengan tatapan yang sedih.
Namun sedetik kemudian dia mengayunkan kakinya untuk menemui Zakia, dan hanya bocah kecil itu yang bisa melupakan dirinya dari semua masalah yang menimpanya. Ia membiarkan kakak iparnya bercerita dengan mamah-nya.
"Tante, Papah kenapa belum datang lagi?" tanya Zakia, dan lagi-lagi wajah Elin menunduk menyembunyikan wajahnya yang nampak sedih.
"Papah sedang bekerja Sayang, nanti pasti akan datang kalau Papah sudah tidak sibuk." Eric yang tahu kalau Elin tidak akan mau membahas Lucas pun mengambil alih pertanyaan Zakia.
"Kemalin Kia foto sama Papah, Opa." Tangan Zakia merain ponsel yang tidak jauh dari tempatnya duduk, dan menunjukan pada Opa-nya. Eric pun meraih ponsel yang di ulurkan oleh cucunya dan menatap foto yang di jadikan layar walpappernya. Mata Eric menghangat ketika melihat foto bahagia itu. Ingin ia melihat foto yang lain tetapi ia sadar diri belum pamit dan izin pada menantunya.
"Jia, apa Papah boleh lihat foto-foto kalian bersama Lucas?" tanya Eric yang sangat rindu dengan putranya itu. Sementara Zakia yang masih bercengkrama dengan mamih mertunya memalingkan wajah kearah Eric dan membalasnya dengan anggukan samar. Tanga Eric pun membuka laman galeri, dan jari jempolnya membuka hasil jepretan di mana keluarga kecil itu nampak sangat bahagia.
Elin sendiri kembali menyingkir, bahkan wanita itu tidak ingin melihat walaupun itu hanya gambar semata. Ia sangat tidak sudi apabila matanya ternoda oleh foto-foto sodara kembarnya.
"Tante mau ke mana?" tanya Zakia, yang melihat kalau Elin hendak keluar dari kamarnya, sementara bocah kecil itu yang awalnya berniat menujukkan foto-foto papahnya yang bagi dia sangat sempurna, tetapi malah tantenya pergi.
"Tante mau ke kantin Sayang, apa Kia mau titip sesuatu?" tanya Elin, mencari alasan agar ia bisa meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
Zakia pun membalasnya dengan gelengan kepala samar. Eric pun menatap punggung putrinya, yah ia sangat tahu perasaan Elin.
"Maafkan Papah Sayang. Papah hanya ingin lihat anak lain Papah."