Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 248


__ADS_3

Acara ulang tahun yang berbentuk syukuran pun diadakan untuk Zakia yang di hari ini tengah berulang tahunya nampak sangat bahagia sekali tidak ada alasan untuk Zakia untuk tidak bahagia, karena apa yang dia inginkan semuanya dipenuhi dengan sangat baik.


Setelah empat hari Lucas menghabiskan hari kebersamaanya di pesantren Abah dan Ambu, mereka besok sudah pulang lagi dan akan dilanjutkan untuk mengunjungi kebun binatang dan melihat lumba-lumba. Kembali mewujudkan nazar dari Lucas yang ingin mengajak putrinya melihat binatang dan lumba-lumba.


Anak usia baru tiga tahun itu pun tidak ada henti-hentinya berjingkrak bahagia. Dan tidak ada henti-hentinya juga mengucapkan terima kasih karena terlalu bahagia dengan kehidupannya yang saat ini.


"Bunda, Papah telima kasih Kia, sangat senang sekalang. Apa yang Kia inginkan semuanya terkabulkan," ucap Zakia, sembari berganti-ganti mengucapkan rasa syukurnya.


"Sama-sama Sayang Papah dan Bunda juga mengucapkan rasa terima kasihnya karena ternyata Kia sudah jadi anak yang pintar dan juga pandai." Lucas tidak ada henti-hentinya mencium putri kecilnya.


"Terima kasih yah Sayang, kamu sudah menjadi ibu yang baik untuk Kia. Mungkin kalau bukan kamu ibunya Kia tidak akan sebahagia ini. Entah apa lagi yang harus aku ucapkan dan aku katakan pada kamu, untuk kamu yang telah menjadi istri dan juga ibi yang baik untuk Zakia, hingga sekarang Kia tumbuh jadi anak yang pandai seperti ini," ucap Lucas sembari memeluk anak dan istrinya.


Jiara pun memeluk Lucas, dan membenamkan wajahnya di dada bidangnya. "Aku juga mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga karena kamu mau berubah dan juga kamu mau memperbaiki semua kesalahan kamu. Aku berharap saat ini dan selamanya hanya ada anak-anak kita nanti," balas Jiara dan kembali Lucas mengucapkan janjinya yang tidak akan meninggalkan anak dan istrinya.


Setelah menempun perjalanan dari pondok Abah dan Umi kini Lucas dan rombongan udah kembali pulang ke rumah mereka. Tanpa terasa dua minggu sudah mereka pergi dari rumah mewah Philip dan dari dua minggu ini banyak pelajaran yang mereka dapatkan terutama dari orang-orang yang mereka temuai. Dengan perjalanan dua minggu ini juga mereka tahu kalau hidup mereka itu sangat beruntung sekali.


Kini mereka pun sudah istirahat bersama dan juga makan bersama. Hingga rasa lelah mereka sedikit berkurang.


"Maaf besan kayaknya kalian sudah sangat cape yah, kalau mau besok istirahat saja di rumah tidak harus ikut ke kebun binatang. Biarkan anak-anak saja yang ikut," ucap Eric pada dua besan mereka, yaitu Mamih Sifa dan Papih Rajaya.


"Sepertinya itu ide bagus juga. Biar kami di rumah mengurus anak-anak kami, dan kalian bersenang-senang lag," balas Sifa, dan juga Rajaya. Sebelum Elin dan pasangannya pulang ke rumah orang tua Lexi mereka pun mengadakan acara makan bersama.

__ADS_1


Sepanjang makan pun mereka terlihat sangat bahagia bahkan canda tawa terus terlempar dari bibir mereka saling bersahutan membagi pengalaman cerita bersama.


"Kalau suasananya hangat seperti ini kenapa jadi tidak tega untuk ninggalin anak-anak nanti pulang ke negara tempat tinggal yah," ucap Sifa ditengah-tengah obrolan.


"Benar apalagi ninggalin Cucu rasanya tidak tega banget. Apalagi Eril sangat dekat dengan kita. Bagaimana kalau kalian ikut Papih dan Mamih ke Jerman." Rajaya menimpali ucapan sang istri.


"Apaan, enggak-enggak biarkan Lexi mengurus  keluarga Lexi di sini kalau ikut ke Jerman baka banyak masalah baru," balas Lexi, yang cemas kalau nanti Mily mencari-cari masalah dengan Elin yang sudah jelas-jelas mereka bahagia.


"Yah, berati mamih dan papih akan berjauhan dengan Eril?" Sifa memberikan tatapan memohon nya.


'Kalau tidak papih dan mamih yang pindah sini," usul Elin.


"Pengin sih Sayang, tetapi bagaimana lagi, mamih dan papih di Jerman banyak kerjaan kalau tidak kami langsung yang turun tangan bakal kacau nanti perusahaan," balas Rajaya.


"Kayaknya lebih baik kalian yang datang ke tempat mamih dan papih biar tahu bagaimana luar negri itu." Sifa menaik turunkan alisnya agar Lexi mau mengunjungi orang tuanya.


"Bukan kami tidak mau berkunjung ke rumah kalian Mih, Pih, tapi kalian kan tahu betul. Lexi pergi dari negara itu karena masalah apa? Lexi belum mau ketemu dengan wanita itu," balas Lexi dengan suara yang lirih. Ini memang bukan waktu yang tepat untuk membicarakan Mily tetapi Lexi juga ingin kalau di antara dirinya dan Elin ada rahasia saja.


Benar saja wajah Elin seolah semakin penasaran ketika mendengar kata wanita itu.


"Kenapa tidak Mily juga sudah ada kehidupan baru, dan dia juga tidak pernah mempermasalahkan perceraian kalian." Rajaya ikut turun tangan ketika membahas menatu pilihannya.

__ADS_1


"Yah dia memang tidak mempermasalahkan perceraian kita ketika dengan kalian, tapi beda cerita ketika nanti dia bertemu dengan kami. Aku tidak mau membahas hal-hal yang tidak penting. Apalagi kalau tahu Elin adalah sodara kembar Lucas. Bakal makin panjang urusanya. Biar kami di sini saja dengan ketenangan kami. Rasanya sangat sulit kalau harus bedamai dengan Mily, kalau bukan keluarga Lexi yang hancur bisa jadi malah keluarga Lucas," balas Lexi dengan yakin. Sembari matanya menangkap tingkah laku yang berbeda.


Lexi dan keluarganya pun terus berdebat soal wanita yang bernama Mily yang Elin yakini dia adalah mantan istri Lexi, yang Elin sendiri tidak tahu kebenaranya.


"Pih, Mih, Elin masuk ke kamar dulu yah. Eril kayaknya cape ingin segera istirahat," ucap Elin, memotong obrolan mereka ketika ia sudah tidak kuat untuk mendengarkan obrolan Lexi dan juga ke dua orang tuanya.


"Nanti malam Eril tidur sama kita lagi yah Sayang," ucap Sifa seperti kebiasaan selama ini.


"Boleh dong Mih," jawab Elin, meskipun wanita itu sebenarnya kurang setuju karena dia juga sedang marah dengan Lexi, rasanya dia ingin mengasingkan diri, tapi Elin juga tidak ingin kalau mertuanya tahu dirinya sedang kesal dengan anaknya.


Setelah Elin pergi tidak lama Lexi pun menyusul sang istri. Di mana saat ini Elin sedang menyiapkan pakaian untuk Eril yang baru selesai mandi.


"Biar aku yang pakaikan baju untuk Eril," ucap Lexi yang tahu kalau sang istri sedang merajuk. Tanpa berbicara Elin pun langsung meletakan pakan Eril, dan meninggalkan Lexi dan sang putra, dia menuju kamar mandi untuk mendinginkan badan dan pikirannya.


"Hushhh... Sayang Momy kamu kenapa?" tanya Lexi pada Eril yang sedang bermain jari-jarinya.


Mungkin Lexi lupa kalau anaknya belum bisa berbicara.


Cukup lama Elin di kamar mandi tidak seperti biasanya yang tidak mau lama-lama di dalam kamar mandi karena takut Eril yang nangis, tetapi kali ini justru kebiasaanya itu di patahkan. Satu jam lebih Eril menghabiskan waktunya di dalam kamar mandi.


"Lin, apa ada yang ingin kamu tahu dari masa laluku?" tanya Lexi begitu Elin keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Seharusnya kamu yang mengatakannya, tanpa harus bertanya. Karena aku saja tidak ada rahasia di masa laluku,bukan seperti kamu yang penuh rahasia. Bahkan aku sampai bingung dengan kehidupan kamu dulu seperti apa." Elin terus mengeringkan rambutnya, tanpa ingin menatap Lexi yang hari ini membuat dia kesal, dengan kisahnya yang bernama Mily.


"Duduklah! Aku akan menceritakan semuanya, terutama Mily yang menjadi mantan istriku." Lexi menepuk sisi ranjangnya. Di mana saat ini Eril sudah kembali diambil oleh orang tua Lexi. Sehingga saat ini mereka kembali berdua saja.


__ADS_2