
Berkat dukungan dari papahnya dan juga dari Marni, meskipun Marni adalah dokter yang baru di kenal dalam waktu dekat ini, tetapi mampu memberikan dukungan pada Elin dan selalu ada di saat Elin membutuhkan. Sedangkan Eric, sang papah jangan di tanya lagi, orang paling perhatian yang dikirimkan oleh Tuhan untuk menemani Elin melewati segala terjadinya jalan hidupnya.
Setelah Elin cukup tenang, Eric melepaskan pelukan putrinya. "Jangan takut, Elin tidak akan melewati ujian ini sendirian. Papah akan selalu ada di samping Elin untuk menemani Elin melewati apapun ujian yang Tuhan kirimkan, percayalah bahwa seberat apapun cobaan yang Tuhan kirimkan pada kita, pasti kita akan tetap bisa melewatinya. Akan ada jalan yang indah setiap kita bisa menaiki ujian ini. Ada orang yang berkata setiap kita diberi ujian dan itu tandanya Allah sedang memberikan kita cara untuk naik ke tangga yang lebih tinggi dan ketika kita bisa melewati ujian itu berati kita sudah naik satu tangga. Kita di uji bukan karena Allah benci pada kita tetapi karena Allah terlalu sayang dengan kita, sehingga Allah ingin kita naik kelevel yang lebih tinggi lagi," Eric dengan sabar menasihati putrinya agar jangan berkecil hati meskipun ia tahu bahwa mungkin saja nasihat dia tidak begitu di dengarkan oleh Elin yang sedang tidak baik perasaanya.
"Papah tidak akan malu karena putri Papah hamil diluar nikah, bahkan ayah bayi ini saja entah berada di mana?" lirih Elin, membuat sayatan kecil di hati Eric, sakit rasanya membayangkan ini semua, tetapi Eric harus ingat bahwa ia jangan sampai terlihat sedih dihadapan Elin. Eric harus terus memberikan dukunga pada Elin meskipun hatinya hancur mengetahui nasib putrinya yang sangat malang itu. Pertanyaan yang sama seperti musibah penculikan kemarin, kenapa mesti Elin, anak yang baik yang menerima ujian berat ini?
Eric menggeleng. "Papah tidak akan pernah malu, Papah akan rawat anak kamu, seperti Papah merawat kamu dulu, dia cucu Papah jadi kasih sayang Papah tidak akan berbeda," jawab Eric dengan yakin dan tegas.
Elin tersenyum samar mendengar ucapan papahnya. "Kalau gitu Elin juga tidak akan mendengarkan apa gunjingan orang-orang tentang anak ini, biarkan Elin hidup sendiri untuk membesarkan anak ini. Seperti Papah yang membesarkan Elin." Meskipun Elin belum sepenuhnya menerima kehamilanya, tetapi setelah di pikir ucapan Pahnya banyak benarnya. Untuk apa menyesali dan menyiksa tubuhnya yang justru ia semakin menderita dan tentu Lucas dan Lexi akan semakin senang apabila melihat Elin sedih. Tekad Elin sama akan terus kuat dan tidak akan membiarkan mereka senang melihatnya sedih.
"Elin harus bangkit, dan harus tunjukan pada mereka kalau Elin kuat. Elin bukan anak yang lemah dan menyerah dengan kondisi yang telah mereka hancukan," batin Elin.
Sementara itu Marni yang melihat pemandangan romantis antara orang tua dan anak semakin mengidolakan Eric dan Elin. Cara Erit merawat Elin sudah sangat terlihat bahwa ia adalah orang tua yang baik. Tidak meninggalkan putrinya setiap ada masalah, tetapi justru ia datang untuk merangkulnya, dan berjalan beriringan untuk melewati ujian itu.
*******
Arya sampai di rumah sakit di mana Darya di rawat, tetapi kedua matanya belum melihat Lucas di mana biasanya laki-laki itu sudah ada di halaman rumah sakit untuk menunggu makanan yang papahnya masakan untuk dirinya, Darya dan juga Jiara, serta yang dua tempat lagi untuk dirinya sendiri dan calon istrinya.
"Tumben Lucas belum sampai, apa semalam dia tidak bisa tidur lagi kembali kekebiasaanya yang dulu bermain perempuan hingga pagi sehingga jam segini dia belum sampai," batin Arya, kaki Arya terus menuju kamar tantenya. Palingan juga kalau Lucas datang nanti dia akan melihat mobilnya dan akan menyusul dia keruangan mamihnya.
"Erlan..." sapa Darya begitu pintu ruangan terbuka. Seolah wanita dengan gangguan kejiwaan itu sudah hafal apabila yang datang di pagi hari dan datang membawa kotak makanan adalah Erlan nama yang ia kenal sebagai putranya.
__ADS_1
"Tante, Erlan belum datang? Kalau belum Arya yang suapin Tante yah, Arya juga kangen dengan Tante. Tante apa kabar?" tanya Arya dengan berondongan pertanyaan pada tantenya.
Darya yang belum mengenal Arya pun nampak berpikir keras dan menatap Arya dengan heran. Arya tetap bersikap santai meskipun sepertinya kalau Darya menunjukan ketidak tertarikan Darya. Wanita paruh baya itu ingin Lucas yang datang untuk menemani dirinya.
"Erlan mana?" lirih Darya, ketika Arya menyodorkan sendok nasi dan lauk yang di masak oleh mantan suaminya.
Sebenarnya Darya sudah sangat tergoda dengan makanan yang di sodorkan oleh Arya tetapi karena penasaran dengan putrinya, sehingga Darya lebih menayakan putranya terlebih dahulu.
"Erlan sedang banyak kerjaan dan dia tadi meminta Arya, ponakan Tante untuk menggantikan Erlan menyuapi Tante. Tante makan yah biar Erlan tidak sedih." Suara Arya yang lembut mampu membuat Darya mau menuruti apa yang ia ucapkan. Pagi ini Darya pun makan dengan sangat lahap dengan makanan yang suaminya masak.
Tidak ada obrolan dari mereka, hal itu karena Darya yang terlalu fokus dengan makananya dan sekali dua kali Arya tanya pun Darya seolah tidak meresponya.
Setelah tugasnya selesai menyuapi tantenya Arya pun pamit dan langsung melanjutkan kegiatan pagi ini ke rumah sakit. Rasanya Arya tidak sabar untuk menunggu jam dua siang di mana di jam itu hasil tes DNA yang ia lakukan untuk sepupunya akan keluar.
"Gimana kalau ternyata mereka adalah keluarga sesuai yang aku duga? Lalu aku harus mulai dari siapa dulu yang harus aku beri tahu tentang fakta ini.
"Lexi... di mana laki-laki itu. Kenapa aku baru tahu kalau dia sudah hampir dua bulan ini tidak menunjukan batang hidungnya. Atau mungkin laki-laki itu sudah di telan samudra bermuda sehingga hilang dari pusaran kegaduhan ini," gumam Arya, saking sibuknya ia hinga tidak menyadari bahwa Lexi sudah hampir dua bulan ini menghilang.
"Elin, apa Elin benar-benar hamil, lalu apabila Elin hamil, apa aku harus memberitahukan Lexi kalau wanita yang di nikmati tubuhnya di malam itu saat ini tengah hamil. Ah... tapi percuma yang ada nanti Elin justru akan semakin menderita apabila Lexi mengetahuinya. Rasanya sangat mustahil apabila baji-ngan seperti Lucas dan Lexi akan mengakui kesalahanya dan berusaha menebusnya," batin Arya lagi-lagi ia menepis segala kemungkinan apabila Lexi tahu Elin hamil atas perbuatanya.
Pandangan Arya kembali menangkap amplop yang berwarna putih di hadapanya, rasanya ia tidak memiliki keberanian untuk membuka amplop itu. padahal sudah hampir satu bulan dirinya menunggu hasil itu, tetapi ketika hasilnya sudah ada dihadapan, justru Arya untuk membukanya tidak ada keberanian.
__ADS_1
Setelah mengumpulkan keberanian, akhirnya tangan Arya membuka satu per satu amplop tersebut. Sekujur tubuhnya memanas ketika laki-laki itu mengetahui hasilnya. Untuk beberapa saat Arya tidak bisa berfikir. Yang dihadapanya kenyataankah atau justru dia saat ini sedang bermimpi.
Arya mencubit lenganya sendiri hingga di bagian kulitnya terasa panas. "Ini bukan mimpi, ini kenyataan berati hasil ini benar adanya," lirih Arya. Matanya kembali menyamakan empat lembar hasil tes DnA yang menyatakan bahwa dugaanya selama ini benar.
Bertepatan dengan itu Marni masuk keruangan Arya. Pandangan Arya menatap Marni dengan bingung.
"Ada apa ini, kenapa sepertinya aku masuk di situasi yang kurang tepat," lirih Marni dengan berjalan masuk dan duduk dihadapan kekasihnya.
Arya tanpa suara memeberikan amplop tadi, dan Marni yang penasaran pun langsung mengambil dan membacanya.
Sama dengan Arya Marni juga terkejut, sedikit banyak Marni mengetahui permasalahan Elin, hal itu tentu Arya yang bercerita.
"Apa ini hasilnya akurat?" lirih Marni masih setengah syok.
Arya mengangguk dengan yakin.
...****************...
Teman-teman mampir yuk ke karya teman othor, di jamin seru dan bikin baper...
kuy ramaikan
__ADS_1