Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Permintaan Elin


__ADS_3

Ruangan yang hampir keseluruhanya berwarna putih, di mana Elin tengah tertidur, karena efek obat penenang yang dokter suntikan kedalam tubuhnya masih menguasai alam bawah sadarnya. 


"Kenapa kamu masih ada di sini?" tanya Arya, bukanya dari tadi Arya sudah memerintahkan Lexi untuk  menemui Lucas, bagaimanapun mereka harus ada omongan, andai ada yang jaga Elin di rumah sakit ini juga sebenarnya Arya ingin ikut menemui Lucas. Namun, Elin di sini tidak ada siapa-siapa yang akan menjaganya. Sehingga Lucas memutuskan untuk menungguinya di rumah sakit ini dan biarkan Lexi yang menemui Lucas itu.


"Gue akan pergi kalau sudah memastikan Elin sadar," balas Lexi tatapanya masih menujuk layar monitor yang memperlihatkan detak jantung Elin, yang ada di hadapanya.


"Apa dengan perhatian seperti ini itu tandanya kamu itu sudah cinta dengan Elin?" tanya Arya, sebab biarpun dia bukan teman yang dekat dengan Lexi tetapi kalau yang dia tahu Lexi dan Lucas memiliki kebiasaan yang sama di mana mereka itu tidak pernah terlibat perasan. Namun apabila perhatianya sangat berlebih bukanya itu menandakan bahwa Lexi bisa saja melanggar peraturanya, yang tidak akan jatuh cinta


"Gue enggak pernah kenal cinta, dan gue juga tidak pernah kenal yang namanya kasihan. Gue hanya ingin memastikan apakan kucing kampung ini masih hidup, atau tidak setidaknya agar bisa memberikan laporan untuk Lucas," kelakar Lexi dengan santai. Bahkan suasana lagi gawat seperti ini, tetapi Lexi masih sempat-sempatnya  bercanda dengan kematian gadis yang belum tahu nasibnya akan bagaimana.


Arya pun enggan menanggapi kelakuan Lexi lagi, sebab dia memang bikin gondok terus, dia juga aneh kenapa dunianya di pertemuakan dengan mereka berdua. Ruangan itu kembali sunyi ketika Arya memutuskan untuk diam dan tidak lagi mengikut campuri urusan Lexi, karena dia memang sedang malas berdebat, dan hanya ingin fokus dengan kesembuhan sepupunya.


" Papah... hikkk... hikkk... Papah," ringik dari bibir Elin yang samar-samar itu, dan Arya langsung berlari ke arah ranjang pasien, hatinya teriris pilu ketika menyaksikan sepupunya seperti ini. Namun kenapa yang katanya kakak yang masih memiliki hubungan dara bisa tega melakukan  penganiyayan sampai seperti ini. Arya melihat sosok Elin seperti adiknya yang meninggal sebelas tahun lalu karena kecelakaan, sehingga hatinya ikut merasakan sakit ketika Elin juga sakit seperti ini. 


Arya menggenggam tangan Elin dengan kuat. "Elin, ini gue Arya, mungkin loe enggak kenal sama  gue tapi gue tahu loe itu sepupu gue. Bertahan yah Lin, ayo kita cari tahu kebenaran yang sesungguhnya, jangan biarkan fitnah ini membuat kamu semakin menderita," bisik Arya di samping telinga Elin yang entah Elin dengar dengan jelas atau tidak apa yang Arya katakan, terlebih mata Elin masih terpejam.

__ADS_1


"Papah... Elin pengin sama papah,"ringik Elin, suaranya cukup jelas mustahil kalau Lexi dan Arya tidak mendengarnya.


"Elin pengin ketemu papah?" tanya Arya dengan lembut.


"Mau, Elin  mau sama papah," jawab nya dengan isakan tetapi tidak ada air matanya.


"Baiklah, akan gue bicarakan ini sama Lexi, semoga saja Lexi mengabulkaan keinginanan loe untuk bertemu dengan papah loe yah," ucap Arya, dia akan mengupayakan lagi Elin untuk sembuh, karena dia yakin Elin hanya korban saja, lagian bodohnya Lucas, kalau Elin itu anak pelakor dan papahnya yang bersalah, karena menduakan ibunya kenapa malah menganiyaya adiknya yang tidak tahu apa-apa kan dia adalah makhluk paling bodoh yang pernah Arya kenal.


Emosinya yang menggebu-gebu sangat merugikan orang lain. "Mungkin memang nasih anak yang di besarkan oleh sosok seorang ibu membuatnya memiliki watak yang keras.


Arya pun langsung menarik tangan Lexi yang sejak tadi tanganya di lipat ditaro di depan dadanya, dan memperhatikan Elin dengan mata elangnya. 


"Kenapa sih loe?" tanya Lexi terhadap Arya yang tiba-tiba menarik tanganya dengan kuat dan menariknya ke luar ruangan agar Elin tidak tahu dengan apa yang dia lihatnya.


"Perasaan loe gimana, setelah melihat Lin seperti itu sekarang kondisinya?" tanya Arya sebelum dia meminta Elin di pertemukan dengan papahnya.

__ADS_1


"Perasaan gue biasa saja, setiap orang pernah sakit dan yang dialami Elin aku rasa biasa saja, toh memang semua orang juga pasti merasakan sakit dan itu beda-beda jenis sakitnya. Gue ajah pernah sakit bahkan tertebak sekalipun loe tahu kan gue pernah mengalaminya," ucap Lex dengan wajah datarnya seolah tidak ada hati nurani yang mengatakan iba sedikit pun.


Arya membuang nafas kasarnya, berbicara dengan Lexi memang sangat tidak berfaedah dan hanya akan membuang-buang waktu saja. 


"Iya gue tahu namanya sakit pasti semuanya pernah merasakanya, tetapi sakit yang Elin rasakan itu dari perbuatan kalian juga, apa kalian tidak menyesal?" tanya ulang Arya dengan kesal, sebab  sepertinya Lexi sudah merencanakan ini semua sehingga semuanya akan tertutup rapi dari media dan polisi. 


"Aku rasa aku tidak menyesal, karena aku juga melakukan itu semua karena di bayar oleh Lucas," jawab Lexi dengan santai dan seolah laki-laki itu benar-benar mati rasa. Laki-laki yang berhadapan dengan Lexi memejamkan matanya memikikan bagaimana dia harus berkata lagi dengan Lexi.


"Dia ingin bertemu dengan papahnya, kamu izinkan tidak?" tanya Arya langsung dengan tujuan ia memanggil Lexi. Berlama-lama berbicara juga tidak ada gunanya buat Arya toh Lexi tetap keras kepala dan sok berkuasan.


"Jaminanya apa kalo aku pertemukan mereka. Apa mereka akan mau tutup mulut dengan kasus ini?" tanya Lexi, mungkin dia juga takut kalau Elin akan mengangkat kasusnya ke publik dan firal atau bahkan melapor pada polisi alhasil dua-duanya adalah hukuman yang ditakuti Lexi meskipun Lexi lebih takut di hukuman yang pertama.


"Aku akan mencoba berunding dengan Elin, aku pastikan gadis itu tidak akan mudah mengungkap semua yang mwnimpanya karena dia tahu kamu itu orang yang berkuasa sehingga sangat besar kemungkinan kamu tidak akan terendus hukum." Arya mencoba menyadatarkan Lexi bahwa dia tidak akan gagal dalam persembungianya.


"Pastikan gadis itu dulu agar tidak bocor, dan kalau bocor maka akibatnya akan fatal," ujar Lexi dengan nada yang santai tetapi penuh ancaman.

__ADS_1


"Kamu boleh pegang omongan aku, kalau gadis itu bocor, aku yang akan membela kamu," jawab Arya memberikan badanya untuk tameng di masalah Elin, karena dia yang memang peduli dengan wanita berwajah manis itu.


__ADS_2