
Eric menatap wajah Elin dengan tajam, dan seolah tanpa kedip, dengan tatapan yang memancarkan kesedihan. "Pap, Papah kenapa? Apa yang tadi dokter Marni katakan?" tanya Elin dengan raut wajah yang berusaha untuk tegar.
Sejak malam kejadian penculikan yang menimpa pada putrinya. Elin merasa bahwa Papahnya itu menjadi pendiam dan banyak melamun. Sangat berbeda dengan papahnya yang dulu yang selalu mengisi hari-harinya dengan kegiatan yang bermanfaat, sehingga bisa melupakan semua masalah yang dia hadapi. Eric yang sekarang adalah Eric yang pendiam dan sering melamun.
Papahnya bahkan untuk melaksanakan sholat dan keagamaan lainya, Elin yang harus mengingatkan. Padahal dulu Elin lah yang selalu di ingatkan oleh Eric. Sampai-sampai tidak jarang Eric akan memarahi Elin apabila tidak sholat.
Eric mengerjapkan matanya dan menggeser kursi yang ada di sampingnya dan duduk di samping Elin tangan Ayah dan anak itu masih saling tertaut. Laki-laki paruh baya itu bingung mau memulai dari mana, bingung harus bercerita dari yang mana karena pasti kabar yang dia bawa akan mempengaruhi pikiran Elin.
"Tadi dokter Marni membahas tentang wajah kamu, yang kemungkinan akan rusak, tetapi kamu tenang saja karena kata dokter Marni ada donatur yang mau menawarkan kamu untuk melakukan operasi pelastik kira-kira kamu mau tidak? Papah belum memberikan jawaban pada dokter Marni, karena Papah belum bercerita dan Papah juga belum merundingkan ini dengan kamu. Bukanya yang lebih berhak menentukan semuanya adalah kamu. Kamu yang berhak memilih pilihan ini." Eric hanya bisa menceritakan pembahasan wajah Elin, dia tidak bisa menceritakan kemungkinan kalau Elin akan hamil dari kejadian malam itu. Eric tidak sanggup untuk menceritakanya, biarlah ini di simpan oleh Eric, dan laki-laki paruh baya itu akan semakin rajin untuk berdoa agar putrinya tidak hamil. Bukan karena ia takut putrinya mencoreng namanya dan membuat aib bagi dia. Hanya Eric takut kalau putrinya akan semakin tertekan batinya.
"Siapa pun kamu, laki-laki yang sudah menghancurkan masa depan putriku. Aku akan selalu berdoa pada Penguasa alam agar kamu mendapatkan balasan yang setimpal. Bukan hanya penyesalan yang menghantuimu tetapi juga derita batin yang akan selalu mengikuti kamu wahai laki-laki terkutuk," batin Eric, baru kali ini sepanjang hidupnya mendoakan orang lain dengan doa yang buruk.
"Wajah Elin akan rusak yah Pah?" tanya Elin raut wajahnya sudah berubah murung. Meskipun wanita itu sudah tahu dan juga sudah mempersiapkan hatinya, tetapi tetap saja Elin hatinya seperti tidak menerimanya wajahnya yang akan rusak seketika hilang semangat.
__ADS_1
"Tapi kata dokter Marni ada donatur yang akan membantu kamu untuk melakukan oprasi plastik, kalau kamu mau nanti dokter Marni yang akan membantu kamu untuk pempersiapkan semuanya, kamu tinggal menyanggupinya atau tidak." Eric mengelus rambut putrinya yang sedikit ikal dan itu sangat cantik, terlebih rambut Elin memiliki warna coklat menambah kecantikanya.
"Kalau menurut Papah gimana?" tanya Elin dia takut salah mengambil keputusan.
"Papah ingin kamu menerima tawaran itu, karena masa depan kamu masih panjang, bukan tidak mungkin laki-laki akan menerima kamu di lihat dari fisik dan wajah, belum apabila lingkungan ada yang meperolok wajah kamu, Papah akan ikut sedih," jawab Eric, mencoba memposisikan diri berada diposisi Elin.
"Apa nanti kalau Elin melakukan oprasi plastik bukanya malah akan banyak yang memperolok Elin, karena wajah hasil oplas terus juga nanti akan dosa?" tanya Elin lagi.
"Jadi Elin harus terima tawaran ini?" tanya Elin lagi, untuk memastikan bahwa apa yang Elin ambil keputusanya tidak salah.
"Harus, kamu harus terima!"
"Tapi kalau Elin tanya sama dokter Arya dulu gimana Pah, biar semakin yakin," tanya Elin, nasihat Arya juga sudah sangat penting buat Elin. Dan mampu membuat hatinya selama ini nyaman setelah mendengar nasihat dari Arya.
__ADS_1
"Boleh, tapi menurut pikiran Papah, dokter Arya juga akan menyarankan hal yang sama dengan jawaban yang Papah berikan, yaitu menerima tawaran itu. Kapan lagi coba kamu dapatkan kesempatan itu. Apalagi oprasi plastik itu biayanya mahal, jadi kalau ada donatur yang mau membantu kita itu tandanya Tuhan sangat sayang dengan kamu," ujar Eric dengan memberikan seulas senyuman.
Elin pun membenarkan apa yang di katakan papahnya. "Tapi ngomong-ngomong siapa yang mau memberikan uangnya secara cuma-cuma untuk membatu Elin yah Pah? Padahal pasti itu bukan uang yang sedikit," balas Elin, tetapi selanjutnya gadis itu mengikuti jejak papahnya tertawa dan ikut bersyukur karena Tuhan selama ini selalu memudahkan semua urusanya.
*****
Catatan ada yang kelewat:
Untuk warga yang membantu Eric mencari Elin mereka sudah tahu dengan kabar Elin di ketemukan, tetapi warga belum ada yang datang untuk mengunjungi dan melihat kondisi Elin. Hal itu karena Elin yang melarang dan belum siap bertemu dengan warga sekitar tempat tinggalnya.
Elin juga masih takut apabila Lucas dan Lexi masih mengintai dia dan warga sekitar tempatnya tinggal juga nantinya mendapat ancaman dari Lucas dan Lexi. Elin tahu mereka adalah dua laki-laki yang sudah gila, dan takutnya yang di benci siapa yang jadi sasaran siapa. Elin tidak mau orang yang tidak tahu apa-apa malah jadi ikut terbawa masalah mereka. Di mana masalah yang Lucas katakan sampai saat ini belum bisa Elin terima. Pendirian Elin tetap sama papahnya tidak akan pernah selingkuh. Cintanya hanya satu yaitu mamahnya. Kalau Lucas mengatakan seperti itu, mungkin malah mamihnya Lucas yang sudah mencoba masuk ke dalam rumah tangga papahnya. Sehingga dicampakan oleh papahnya dan gila.
Tidak hanya Elin yang melarang hal itu. Arya juga tidak mengizinkan orang lain menemui Elin. Hanya Eric dan dirinya yang boleh mengunjungi Elin. Selain untuk melindungi Elin yang masih sakit dan Lucas masih tidak percaya dengan apa yang Arya katakan, maka dari itu Arya membatasi orang-orang agar tidak mengunjungi Elin terlebih dahulu.
__ADS_1