Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
PTW #Episode 78


__ADS_3

Elin tidak bisa memejamkan matanya dengan sempurna, ini adalah kali pertamanya ia harus berjauhan dengan Papahnya, rasanya ia takut kalau-lalau nanti dua laki-laki itu datang kerumahnya dan mencelakai papahnya, meskipun Arya sudah berkata dan juga berjanji, akan selalu memastikan bahwa papahnya tidak akan kenapa-napa. Tidak hanya itu Arya juga akan sering-sering datang kerumah Elin untuk menemani papahnya, agar Eric tidak merasa kesepian.


"Lin, kamu kenapa kok kayaknya gelisah banget gitu?" tanya Marni, kedua matanya masih tertutup dengan rapat, tetapi wanita yang berprofesi sebagai dokter sepesialis kulit masih bisa mendengar dan bisa merasakan kalau Elin belum bisa tidur.


"Maaf Dok kalau saya membuat kegaduhan, dan mengganggu Anda tidur. Saya sedang kefikiran Papah," jawab Elin dengan suara lirih.


"Kamu telpon saja Papah kamu, dan tanyakan kabarnya, biar kamu bisa tenang dan bisa tidur, ingat loh, besok kamu akan menjalani serangkaian pemeriksaan awal hingga nanti dokter memberikan jadwal untuk operasi wajah kamu." Marni pun memberikan ponselnya, agar Elin menelepon papahnya.


"Terima kasih sekali lagi dokter, Anda selalu baik dengan saya," balas Elin tanganya meraih ponsel yang di julurkan oleh Mirna.


"Iya, karena kalau aku jadi menikah dengan Arya bukanya kamu juga akan jadi sepupu saya," jawab Marni, dengan bibir tersungging dengan sempurna.


Wanita itu mengingat di mana Arya berjanji pada dia, apabila dia mau membantu untuk menjadi dokter pembimbing untuk Elin menjalani pengobatan di luar negeri, maka laki-laki itu akan menikahinya, dan itu tandanya cinta Marni tidak bertepuk sebelah tangan lagi. Dimana sebenarnya Marni sudah lama menyimpan perasaan cinta pada Arya, bahkan mungkin sejak sekolah Marni sudah terlibat cinta monyet dengan laki-laki itu, tetapi Marni tidak berani untuk mengungkapkanya, sehingga Marni hanya memendam cintanya. Hampir lima tahun Marni dan Arya berpisah karena tempat tinggal Marni yang pindah dan tentu sekolah pun ikut pindah, tetapi lima tahu lalu di pertemukan kembali di kampus yang sama, dari kampus itu Marni kembali menaruh hati pada Arya.


Namun, semuanya tidak berjalan mulus selain Arya yang sudah punya kekasih tidak bisa Marni deketin, selama menjadi teman Marni memang terus memberikan perhatian lebih terhadap Arya, tentu tujuanya agar Arya menyadari cintanya, dan meskipun Arya selalu bersikap biasa saja, tetap laki-laki itu tahu gimana kira-kira perasaan Marni. Hanya saja Arya menganggap kalau Marni itu hanya teman dia tidak ada yang lebih.

__ADS_1


Meskipun Marni mencoba menjalin cinta dengan beberapa laki-laki nyatanya tidak berhasil juga  menghilangkan Arya dari hatinya. Cintanya masih sama dan bahkan Mirna juga masih menginginkan Arya menjadi kekasihnya. Hinga Arya yang di kabarkan putus dan tidak jadi melanjutkan pertunanganya dengan kekasih yang sudah lama di pacarinya. Bermodalkan informasi itu, di mana  Arya sudah berpisah dengan kekasihnya, alias saat itu Arya jomblo. Marni yang masih menginginkan menjadi kekasih Arya pun sama meminta putus dengan kekasihnya, sehingga ia pun setatusnya sama jomblo. Tiga tahun dekat, Arya tahu sekali kalau Marni ada rasa dengan dirinya, tetapi Arya lagi-lagi tidak meresponya, tetap bersikap dingin.


Namun, Marni bukanya kapok dan menyerah malah semakin penasaran, hingga perempuan itu akhirnya memberanikan diri untuk menyatakan cintanya, tetapi Marni harus menelan kekecewaanya karena Arya tidak bisa membalas cintanya. Hingga Marni kembali bersikap biasa dan hanya menganggap Arya adalah teman biasanya.


Namun, kemarin tiba-tiba Arya datang untuk menawarkan sebuah pernikahan yang sudah diimpikan oleh Marni, dengan syarat dirinya mau membantu Elin, bak berjalan di gurun pasir yang tandus dan tiba-tiba ia mendapatkan oase, itulah yang dirasakan oleh Marni segar dan tentunya bahagia luar biasa.


Elin menata kaget pada wanita yang berada di sampingnya"Jadi dokter Mirna akan menikah dengan dokter Arya?" tanya Elin dengan antusias, meskipun sebenarnya Elin juga merasakan nyaman ketika bersama dengan Arya.


"Berati mulai saat ini aku harus menjaga jarak antara dokter Arya dan aku, karena aku harus menjaga perasaan dokter Marni," lirih Elin dalam batinya. Tidak enak kan nanti kalau malah dokter Marni cemburu sama Elin. Padahal dokter Marni sudah sangat baik sekali.


Marni mengangguk dengan semangat, terlihat sekali wajah bahagianya. Elin juga membalas senyum Mirna, lalu tanganya menekan nomor ponsel papahnya.


Cukup lama Elin menunggu hingga akhirnya suara yang sangat Elin rindukan terdengar di balik teleponnya.


"Halloh, Assalamualaimum." Suara yang lembut dan sangat damai pun terdengar dari balik telepon. Rasanya seketika Elin merasakan kebahagiaan yang luar biasa melebihi ia diberikan uang dengan jumlah yang fantastis banyak.

__ADS_1


"Papah, ini Elin. Papah lagi ngapain? Elin belum bisa tidur, kalau belum dengar suara Papah," tanya Elin dengan  antusias, sangat senang sekali begitu mendengar suara orang tua satu-satunya.


"Ya Allah Ndok, Papah  kira ini tadi siapa. Papah habis makan mie dan sekarang lagi ngobrol ringan sama tetangga dan juga ada dokter Arya juga, katanya betah di sini, jadi dari tadi belum pulang," jawab Eric, sembari menunjukan layar ponselnya pada orang-orang yang ada di depan rumah mereka.


Alhamdulillah kalau Papah di sana banyak temanya. Elin hanya takut kalau Papah sendirian dan ada orang yang jahat." Elin pun kembali menutup ponselnya ketika sudah mengetahui kabar Papahnya.


"Gimana, Papah kamu baik-baik saja kan?" tanya Marni, sembari mengambil ponsel yang di julurkan oleh Elin.


"Baik Dok, bahkan sangat baik. Oh iya tadi juga ada dokter Arya di rumah, kata Papah habis pada makan mie instan, dan sekarang sedang mengobrol dengan para tetangga." Elin memberitahukan pada Marni yang mana mungkin saja Marni menunggu kabar dari dirinya.


"Wah nanti juga kalau sudah pulang ke Indonesia aku mau nginep kerumah kamu deh kayaknya tempatnya enak banget,"  celoteh Marni, di mana tadi ia juga lihat dari tangkapan layar kalau tempat Elin nyaman dan asri.


"Wah, boleh banget Dok, dan juga Elin dan Papah pasti akan senang, tapi nanti jangan di hina yah, soalnya rumah Elin itu kecil beda pastinya kaya rumah dokter." Elin bukanya merendah, tetapi memang begitu adanya rumahnya kecil, dan mungkin kalau kata orang pengap tetapi kalau buat Elin dan papahnya rumah itu sangat besar.


"Ya ampun Elin, bahkan aku saja tidak pernah membedakan kaya atau miskin, aku sendiri juga bukan orang yang terlahir dari keluarga yang kaya raya. Papah dan Mamah aku hanya pekerja biasa yang mana mereka sering berpindah-pindah ke tempat lain karena mereka di pindahkan tugas kerjanya. Jadi aku biasa hidup susah, bahkan tinggal dikosan saja aku biasa," lirih Marni, agar Elin tidak mencapnya gadis yang beruntung karena terlahir oleh keluarga kaya rasa.

__ADS_1


"Hehehe kita sama dong Dok." Elin dan Marni pun saling berbagi cerita, dan dua wanita itu sekarang mejadi lebih dekat, karena ternyata nasib Marni juga tidak jauh berbeda dengan nasib Elin, bukan dari golongan sultan. Itu sebabnya Elin dan Marni cepat akrab, mungkin bedanya hanya Marni yang terlihat lebih beruntung sediikit soal materi dan keluarga.


Orang tua dokter Marni masih lengkap, berbeda dengan orang tua Elin yang sudah berpisah. Elin hanya tinggal berdua dengan Papahnya, tetap caranya Allah memberi bahagia sama dengan anak yang memiliki orang tua lengkap.


__ADS_2