Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna 110


__ADS_3

Seperti yang Arya katakan, pagi harinya Eric masak menu kesukaan mantan istrinya, dengan rasa cinta. TIdak lupa juga Eric menitipkan sepucuk surat cinta, yang Eric titipkan pada Arya. Mungkin semua ini di mulai dari ini.


"Papah, kayaknya Papah hari ini bahagia sekali ada apa?" tanya Elin, yang merasakan cukup heran dengan perubahan papahnya  yang sejak tadi memasak, tetapi sangat jelas kalau laki-laki paruh baya itu sedang bahagia.


"Iya dong sayang, sebentar lagi dokter Arya akan datang dan makanan ini akan dia antarkan pada tantenya yang sedang sakit itu tandanya  sebentar lagi akan..." Suara Eric terhenti ketika ia sadar bahwa semua ini adalah rahasia yang harus di jaga lebih dulu. Elin belum boleh tahu sebenarnya apa yang terjadi.


"Sebentar lagi akan apa Pah...?" tanya Elin justru semakin penasaran dengan jawaban papahnya.


"Ah tidak, tadi Papah hanya ingin bilang kalau sebentar lagi kita akan gajihan. Papah pengin beliin calon cucu papah martabak dan makanan yang kamu inginkan," elak Eric mencari ide agar Elin percaya bahwa ia memang tidak ada masalah apapun..


"Ya Tuhan Papah, Papah jangan repot-repot seperti itu Elin tidak ingin apa-apa kok, calon anak Elin itu baik, malahan Elin tidak merasakan mual dan lain sebagainya. Elin seperti orang sehat. Makanya aneh kenapa Elin sehat tapi bisa hamil.


"Hahaha... itu tandanya Allah sayang sama Elin, sehingga memberikan Elin hamil dimudahkan oleh Allah, dan Elin tidak merasakan mabok dan lain sebagainya, dan tentunya anak Elin juga pastinya tahu, dan sayang sama Bundanya." Eric mengusap punggung putrinya.


Eric yakin kalau Elin akan tegar dan kuat menghadapi ujian ini semuanya dan benar apa yang dia katakan kalau memang Elin itu kuat dan  sampai detik ini ia tidak terlihat murung.


Eric hanya ingin tahu bagaimana ayah si bayi di  tempat yang berbeda apakah ia bisa hidup tenang atau tidak. Karena Eric yakin kalau anak itu membawa rezeki masing-,masing dan tidak akan salah datangnya. Begitupun calon anak Elin yang meskipun ayahnya pergi meninggalkannya dan justru memilih menikah dengan wanita lain.


Namun Eric yakin, cucunya tidak akan kekurangan satu apapun dari kasih sayang dan juga materi.


*****

__ADS_1


Di tempat lain....


Lexi hari ini memang melangsungkan pernikahan, tetapi di tengah-tengah acara laki-laki yang seharusnya berbahagia pun jatuh pingsan. Sehingga menimbulkan kepanikan yang melanda semuanya.


Acara yang di gelar dengan meriah pun seketika menjadi kepanikan. Rumah sakit adalah tujuan utamanya mobil yang membawa pengantin pria. Mily, istri baru Lexi dan keluarga inti langsung menyusul Lexi ke rumah sakit.


"Mily apa Lexi dalam keadaan sakit siang ini?" tanya ibu mertuanya.


"Tidak Mam, Lexi dalam keadaan sehat, bahkan sangat sehat sekali," jawab Mily Wanita yang baru beberapa jam yang lalu  menyandang nyonyah Lexi. Hampir semua yang menghadiri acara pernikahan Lexi dan Mily tidak ada yang tahu kalau Lexi dalam keadaan yang sakit sama sekali tidak ada tanda-tanda kalau Lexi itu sakit. Lexi hari ini terlihat sangat bahagia dan juga wajahnya pun cerah tampak gembira. Tidak ada sedikit pun terlihat kalau laki-laki itu sedang menyembunyikan atau menahan sakit.


Setelah melewati serangkaian pemeriksaan yang cukup rumit dan pastinya melelahkan dan menyakitkan, karena beberapa kali Lexi harus di masukan alat-alat medis pada tubuhnya untuk mengetahui kondisi tubuhnya.


Setelah hampir dua jam melewati pemeriksaan yang melelahkan, Lexi kini sudah berada di ruang rawat inap. Laki-laki yang baru saja menyandang setatus suami itu hanya di temani oleh Mily istrinya sementara keluarga yang lain setelah memastikan Lexi sudah sadar dan sudah mendapatkan penanganan yang terbaik mereka pulang untuk membereskan kekacauan yang dibuat oleh Lexi.


Lexi hanya menggeleng. "Entahlah tiba-tiba kepalaku berdenyut pusing, dan perut aku mual sekali," jawab Lexi yang sebenarnya laki-laki itu masih merasakan perut yang mual, itu karena aroma parfum yang di gunakan oleh Mily terlalu mencolok, tetapi Lexi tidak mau membuat Mily bersedih dan berkecil hati sehingga ia pura-pura baik-baik saja.


Dokter mengataakan untuk beberapa hari kamu harus di rawat di rumah sakit ini," jawab Mily dengan wajah sedih tentu wanita itu tidak pernah menyangka sedikit pun kalau di malam pertamanya harus bermalam di rumah sakit.


"Kamu pulang saja Mily biar nanti Marco yang akan menemani aku di sini," ucap Lexi sebenarnya Lexi tidak nyaman ketika yang menemaninya adalah Mily wanita yang belum begitu dikenalnya.


"Baiklah kalau begitu aku pulang," balas Mily yang ia sendiri lebih  nyaman tinggal di rumah dari pada tinggal di rumah sakit. Itu yang Mily rasakan.

__ADS_1


Namun, sebaliknya sebenarnya Lexi ingin di temani oleh istrinya, tetapi justru Mily seolah enggan untuk merawatnya selama tinggal di rumah sakit, atau wanita itu tidak bisa memiliki suami yang pesakitan.


"Malam ini pun Lexi akhirnya di rumah sakit bersama Marco, dan Mily istri barunya pulang.


Hue... Hue... Entah berapa kali Lexi sudah bolak-balik ke kamar mandi tetapi tidak juga laki-laki itu memuntahkan sesuatu, hanya cairan berwarna kuning yang rasanya sangat pahit.


"Marco coba kamu tanya dokter dan minta dia suntikan aku obat yang menghilangkan rasa mual ini. Aku sangat tersiksa," lirih Lex tubuhnya disandarkan di atas Sofa dan seolah tubuhnya yang biasanya kekar dan kuat serta tidak pernah dalam sejarahnya kalau Lexi itu sakit, apalagi sampai lemah seperti ini.


"Baik Tuan, akan saya temui dokter penanggung jawab Anda dan Anda akan mendapatkan penanganan secepatnya," balas Marco sang asisten yang dengan cekatan ia langsung meninggalkan Lexi seorang diri dan kini Lexi seperti orang yang tidak berdaya. Berharap kalau dokter akan memberikan ia obat dan dia bisa tertidur dengan pulas tanpa merasakan lagu mual.


Pikiran Lexi pun terbang ke siang tadi, laki-laki itu mengingat ingat kembali yang mungkin ia makan. Dan Lexi tidak menemukan makanan sedikit pun yang  dia rasa aneh, karena seingat dia makanan yang normal, dan bisa di terima oleh perut.


'Apa mungkin ada yang tidak suka dengan rencanaku menikah? Tetapi siapa, Lucas sendiri pun tidak aku beri tahu kalau aku menikah, terlebih menikah dengan Mily. Mily adalah teman mereka dan dulu Lucas menyimpan hati dengan wanita itu, dan beberapa kali tidur bersama, bagi mereka hal yang sangat biasa mereka akan tinggal dan tidur bersama hingga beberapa tahun, dan itu yang dilakukan oleh Mily dan Lucas, selain sebagai kedudukan harta Lucas juga mendekati Mily karena Mily adalah seorang yang cantik dan tentunya duitnya dia yang tidak akan habis, meskipun Lucas memanfaatkan terus menerus.


Kini Mily harus menikah dengan Lexi untuk membayangkan penyatuan dengan Mily saja Lexi sangat enggan. Bagi Lexi adalah paling tidak akan terjadi kalau satu lubang di pakai bersama dengan Lucas dan justru sekarang Lexi kebagian bekasnya Lucas. Lagi, semua yang Lexi lakukan hampir sama dengan Lucas dulu yaitu demi uang


*****


Teman-teman sembari menunggu kisah kelanjutan Elin yuk mampir ke kisah teman othor, di jamin bikin baper...


Kuy ramaikan, jangan kasih kendor yah Bestie...

__ADS_1



__ADS_2