
"Kok sepi sih," ujar Arya begitu masuk ke ruangan Elin yang sepi bak tidak ada penghuninya.
Elin membalikan bandanya menghadap Arya, padahal tadi ia sudah setengah terpejam akan menggapai mimpi di sore hari. "Iya Papah sudah pulang tadi dari jam satu," jawab Elin sembari tanganya menutup mulutnya yang menguap, karena rasakantuk yang menyerang. Namun justru ia tidak jadi memejamkan matanya.
"Dokter udah selesai kerjaannya?" tanya Elin badanya diangkat untuk duduk bersandar di sandaran tempat tidur.
"Udah, kamu mau tidur atau habis tidur mukanya kusut amat?" goda Arya, padahal dia sudah tahu bahwa Elin baru mau tidur.
"Enggak jadi tidur, ngantuknya udah hilang. Dok tadi teman dokter yang namanya Jiara kesini, dokter yang minta Jiara kesini?" pertanyaan yang sejak tadi ingin ditanyakan pada Arya, apabila Arya datang.
"Oh, ngomong apa dia? Enggak sih, aku nggak minta dia buat kesini, cuma kata dia suka bosan di kamar jadi aku saranin ajah buat kenalan sama kamu, lumayankan jadi ada teman ngobrol. Menurut kamu orangnya gimana?" tanya Aya apakan ia dan Elin memiliki penilaian yana sama terhadap Jiara atau malah Elin merasa bahwa Jiara adalah orang yang memiliki karakter sifat yang buruk, berbeda dengan penilaian Arya, yang menilai bahwa Jiara baik.
__ADS_1
"Cantik udah pasti, baik, seru dan kelihatan penyabar banget, tapi ngobrolnya belum lama udah harus balik ke kamar bosnya, katanya bosnya udah bangun. Tapi tadi sempat save nomor Elin, katanya nanti bakal sering komunikasi kalau dia bosan pas jagain bosnya yang sedang sakit. Dia teman atau kekasih dokter Arya?" tanya Balik Elin dengan menaik turunkan alisnya.
"Pengin di gantung aku pacarin dia. Dia itu lagi coba di dekatin sama bosnya makanya bosnya posesif banget pergi sebentar dari jangkauan matanya udah di telponin, udah gitu bosnya galak, takut kalau harus bersaing sama macan," cicit Arya, sembari badanya di buat bergidig dengan membayangkan bosnya Juara yang galak itu.
"Oh kirain tadi calon istri dokter Arya. Pantesan tadi begitu di telpon udah langsung buru-buru ke dalam kamar ajah. taunya memang di incar sama bosnya, tapi dokter Arya tahu bosnya atau memang sama-sama teman dokter Arya?" Elin semakin kepo dengan siapa Jiara itu.
"Bosnya teman aku sebenarnya, dan aku justru ketemu dan kenal Jiara baru, tapi sejauh ini asik sih ngomong sama dia, dan dia juga bisa diajak kerja sama. Enak lah orangnya, enggak bosenin. Kamu kalau lagi jenuh curhat sama dia saja siapa tahu nanti dia bisa bantu, karena dia pengalaman hidupnya juga perih loh, hampir mirip sama kamu lah sulit perjalanan hidupnya." Padahal Arya belum tahu dengan detail kisah hidup Jiara, tetapi ia memancing biar Elin dan Jiara saling curhat.
"Lexi? Tidak, aku bahkan lupa kalau ada orang yang bernama Lexi. Mungkin dia saat ini sedang berenang memyebrangi samudra hindia buat pulang ke negara asalnya, Kamu kalau suatu saat bertemu dengan Lexi pura-pura tidak tahu ajah Lin, karena Lexi itu anak yang tidak baik, dan dia juga banyak sekali musuh-musuhnya nanti malah kamu bisa terbawa-bawa dengan masalah mereka, dan nyawa kamu jadi terancam." Arya mengingatkan Elin, bukan hanya Lexi sih tetapi Lucas juga, sebenarnya Arya tidak begitu percaya bahwa Jiara akan baik-baik saja di samping Lucas, yang banyak musuhnya, dan juga transaksi ilegal yang dilakukan Lucas bisa menyeret nama Jiara untuk terbawa dalam kasus Lucas apabila jaringan ilegal laki-laki itu tercium oleh polisi. Hukumanya tidak main-main bisa penjara seumur hidup atau malah hukuman mati.
"Saya justru senang dok apabila Lexi sekalian di makan ikan paus waktu berenang di samudra. Lagian saya bertanya Lexi bukan karena saya peduli Dok, tetapi perasaan saya lega karena setidaknya saya akan bebas dari laki-laki itu. Mudah-mudahan saya tidak di temukan lagi dengan Lexi biar saya tenang hidup dengan papah tanpa ada dua laki-laki jahat itu." Elin tahu kecemasan Arya yang takut kalau Lexi maupun Lucas menyelakainya. Makanya Arya berbicara seperti itu.
__ADS_1
"Oh iya Lin, aku sebenarnya sama Jiara sedang melakukan rencana sesuatu, dan semoga kamu dan Om Eric bisa memerankan dengan baik sehingga kalau rencana ini berhasil maka Kamu dan Om Eric akan tenang tidak ada lagi kecemasan dari kamu maupun Om Eruc.
Elin menatap tajam pada Arya. "Rencana apa Dok, apa ini ada hubunganya dengan Elin dan Papah?" tanya Elin, mungkinkah ini adalah rencana yang akan berhasil, dan ia akan benar-benar bebas dari dua laki-laki durjana itu.
"Sebenarnya rencananya agak serem sih, soalnya membicarakan kematian dan juga berbohong, mungkin harus butuh perjuangan untuk meyakinkan Om Eric di mana hanya beliau yang tidak tahu permasalahan kamu sesungguhnya, jadi apabila kita mengajak berbohong harus dengan alasan yang kuat sehingga brliau tidak bertanya terus menerus dan pada akhirnya om Eric curiga dengan penculikan kamu, dan tahu rahasia Lucas dan Lexi, makanya harus super hati-hati untuk meyakinkan Om Eric nanti kamu bantu untuk meyakinkan papah kamu, yah, mungkin apabila yang ngomong kamu Om Eric akan percaya dan tidak protes banyak hal."
"Aku jadi penasaran Dok, rencana apa? Jangan yang sulit dan berbahaya yah Dok, jujur Elin masih rada takut biarpun hanya melihat wajah dua laki-laki itu," beo Elin, meskipun tahu bahwa Arya tidak akan menumbalkan dia hanya untuk memuluskan rencana yang belum tuntu berhasil.
"Tenang ajah rencananya gampang, kok tidak butuh tenaga ekstra dan juga petak umpet yang berbahaya. Hanya perlu berbohong. Aku kemarin mengatakan pada Arya bahwa kamu dan Papah kamu sudah meninggal. Mohon maaf kalau aku harus berbohong seperti itu, tetapi itu yang ada di pikiran aku untuk menyelamatkan kamu dari dendam Lucas. Kalu Lucas tahunya kamu dan papah kamu sudah tidak ada di dunia ini, tentu Lucas tidak akan lagi memiliki rencana untuk membuat kamu hancur, karena kamu sendiri sudah tidak ada di dunia ini kan. Tujuan kedua aku hanya ingin melihat reaksi Lucas ketika mendengar kabar kematian kamu dan Papah kamu, tetapi lagi-lagi dugaanku meleset jauh." Arya tanpak menghentikan ceritanya.
"Reaksi dia gimana? Pasti senang kan ketika melihat aku dikabarkan sudah meninggal?" Senyum kecut terlihat dari wajah Elin. Sebenarnya bukan kabar yang mengagetkan lagi sih kalau soal itu, tetapi rasanya tetap sakit ketika seorang anak membenci papah kandungnya sendiri.
__ADS_1