
"Kamu serius sayang tidak masalah kalau kita akan tinggal bersama Kakek?" tanya Eric yang datang menghampiri putrinya yang sedang merapihkan pakaianya.
Elin menyandarkan kepalanya ke pundak Eric dan memejamkan kedua matanya. "Elin pernah bilang bahwa, satu yang paling Elin takuti di dunia ini yaitu kehilangan Papah. Jadi kemanapun Papah pergi Elin akan ikut. Elin akan tetap jadi bayangan Papah. Kalau Papah bahagia Elin juga bahagia." Tanpa terasa kedua matanya memanas, dan butiran bening menetes di pipi wanita itu.
Eric pun mengusap rambut putrinya dengan lembut. "Andai Papah tidak egois Papah selalu ingin kalau kamu jadi anak kecil Papah jangan dewasa, rasanya Papah tidak ikhlas apabila kamu pergi mejalani kehidupan dengan suami kamu nanti. Papah akan terus jadi pelindung kamu, jangan sungkan kamu bercerita ke Papah kalau ada apa-apa," ucap Eric, bukan tanpa alasan Eric berbicara seperti itu, tetapi karena Eric merasa akhir-akhir ini Elin sangat berubah, sangat berbeda dengan dulu yang ceria dan selalu terbuka dengan dirinya, sekarang Eric merasa kalau Elin itu jadi lebih pendiam dan tertutup.
"Papah jangan khawatir Elin akan tetap menjadi Elin yang seperti dulu," balas Elin dengan senyum di wajahnya.
"Kalau gitu ayo kita sudah di tunggu oleh Kakek. Elin pun mengikuti apa kata Papahnya dengan segera ia merapihkan keperluanya, dan mengikuti langkah papahnya berjalan menemui kakeknya.
"Pah, apa Elin boleh satu mobil dengan Dokter Arya." Elin menatap dokter Arya, padahal laki-laki itu awalnya akan langsung ke rumah sakit, tetapi karena Elin yang ingin satu mobil denganya, ia pun harus membatalkan niatanya. Yah, Arya tahu betul bahwa Elin pasti sangat tidak nyaman dengan Philip.
Eric menatap Arya, dan Arya yang tahu arti tatapan Eric pun mengangguk dengan lembut.
"Ya sudah. Nitip yah Dok," ucap Eric, laki-laki paruh baya itu tahu bahwa Elin sekarang sudah bukan Elin yang dulu, yang terbuka denganya, Eric merasa semakin jauh dengan putrinya, tetapi dia juga menjadi serba salah karena Elin yang selalu berkata baik-baik saja. Sementara pandangan mata Eric berbicara sebaliknya.
"Apa ada yang ingin kamu tanyakan?" tanya Arya begitu Elin naik ke mobil Arya.
"Tidak, Elin hanya kurang nyaman apabila satu mobil dengan Kakek, Elin takut mengganggu mereka berkangen-kangenan," balas Elin mencoba bersikap biasa saja.
"Apa kamu sedang sakit, Elin?" tanya Arya lagi yang melihat kalau wajah Elin semakin pucat. Elin menggeleng.
"Dok kalau aku ke rumah sakit ketemu Kak Jiara boleh tidak yah?" tanya Elin, Arya pun mengernyitkan dahinya.
"Kamu tadi nggak tanya Om Eric?" tanya Arya, heran.
"Belum. Elin baru kepikiran sekarang pengin bermain dengan Zakia," elak Elin dengan senyum tipisnya.
__ADS_1
Arya pun menepikan mobilnya dan menelepon Eric. Laki-laki itu paham betul kalau sebebarnya Elin sedang meminta bantuanya, tentu kalau tidak ia bisa gunakan ponselnya untuk menghubungi Eric.
"Kata Om Eric boleh dan nanti pulang aku yang antar, tapi paling kamu nunggu sampai jam tugas aku selesai gimana?"
"Jam tugas selesai Dokter Arya sampai jam berapa?" tanya Elin memastikan.
"Paling malam jam sembilan. Tapi kalau kelamaan aku bisa telponkan supir untuk jemput kamu," usul Arya.
"Ah tidak, malah Elin suka, makin lama Elin bermain dengan Zakia," balas Elin dengan senyum yang lebar. Arya pun sama membalas senyum Elin.
Arya dan Eric pun tadi sepakat membiarkan Elin asal Elin bahagia, mungkin memang lebih nyaman dia bermain dengan Zakia dari pada di rumah Kakeknya yang pasti Elin akan merasakan kesepian.
Tidak lama Elin dan Arya pun sampai di rumah sakit. "Lin, aku langsung ke ruangan yah, pasien udah ngantri," ucap Arya dengan menepuk pundak Elin.
"Iya terima kasih Dok," balas Elin. Wanita itu pun memastikan Arya masuk ke ruanganya. Kakinya buru-buru kembali ke arah pintu keluar.
'Akhirnya aku bisa lepas dari mereka,' batin Elin dengan mengendap-endap ia menyetop taxi.
Elin tidak pernah merasakan sakit seperti ini, ini adalah sakit pertamanya, tetapi entah mengapa justru langsung terasa sangat menyiksa. Sengaja Elin melakukan pemeriksaan dengan rumah sakit yang berbeda dengan rumah sakit Arya bekerja. Karena Elin tidak ingin melihat keluarganya cemas.
Setelah melewati perjalanan hampir satu jam Elin pun sampai di rumah sakit yang tidak kalah lengkap dari rumah sakit Arya bekerja. Setelah melakukan pendaftaran Elin pun mulai melakukan pemeriksaan, dari pemeriksaan awal dokter belum menemukan apa penyebab dirinya mengalami sakit yang teramat, dan dokter pun menyarankan melakukan USG, dan kalau belum ketahuan maka akan dilakuakan rontgen atau kalau diperlukan lagi akan di lakukan pemeriksaan MRI.
Perasaan Elin pun sudah tidak menentu setelah ia melakukan pemeriksaan satu per satu tetapi dokter juga belum bisa menyimpulkan sakit apa. Satu jam Elin lewati, tetapi belum juga selesai, hingga di dua jam dia baru selesai melakukan pemeriksaan, dengan alat-alat yang mengerikan bahkan seumur hidupnya ia baru bertemu dengan alat-alat medis yang horor itu.
Tanpa Elin sadari. Lexi yang baru selesai melakukan pemeriksaan pun diam-diam mengikutinya. Laki-laki itu sangat penasaran ketika akan keluar, tetapi bertepatan dengan itu ia melihat wanita yang Lucas katakan sudah meninggal.
Bahkan untuk memastikan bahwa yang lihat adalah kenyataan Lexi sampai beberapa kali mengusap kedua matanya.
__ADS_1
Yah, setelah ia yakin bahwa wanita itu adalah adik tiri Lucas, laki-laki itu pun diam-diam mengamati apa yang Elin lakukan.
"Gimana Dok hasilnya?" tanya Elin dengan perasaan yang tidak menentu. Untuk hasil MRI Anda harus menunggu beberapa hari tetapi dari hasil rontgen, untuk sementara diagnoganya adalah ada kerusakan hati yang diderita oleh Anda," jelas dokter dengan menunjukan hasil Rontgen yang Elin lakukan.
Jeduueerrr...
Elin pun merasa dunianya hancur seketika. 'Ujian apa lagi ini?' batin Elin tanpa terasa kelopak matanya memanas dan air matanya lagi-lagi jatuh.
"Tapi Anda jangan cemas dulu Nona, semoga ini adalah saya yang salah baca hasilnya, dan untuk hasil pastinya nanti akan menunggu hasil MRI agar lebih pasti," ucap dokter untuk menenangkan Elin yang masih terisak dalam tangisnya.
"Dok, apa yang terjadi apabila saya benar-benar terkena sakit kerusakan hati, sedangkan meroko dan minuman beralkohol pun tidak pernah saya sentuh, apalagi meminumnya. Dan soal sakit saya baru merasakan beberapa hari ini, dan baru hari ini saya merasakan sakit yang teramat," lirih Elin dengan suara bergetar.
"Sedangkan saya tidak pernah merokok, bahkan minuman beralkohol pun tidak pernah saya sentuh apalagi meminumnya," imbuh Elin, mengulang pengakuannya, agar dokter mempercayainya.
Dokter pun menjelaskan bahwa sakit gagal hati itu banyak penyebabnya. Bisa sirosis di mana sirosis adalah kondisi ketika organ hati telah dipenuhi oleh jaringan parut itulah alasan hati tidak berfungsi dengan normal.
Sementara jaringan parut sendiri terbentuk akibat penyakit liver yang tak kunjung sembu, bisa jadi karena virus hepatitis atau kecanduan al-kohol.
Bisa juga karena penggunaan parasetamol yang kecanduan, paparan racun, gangguan metabolik, infleksi atau terjadinya penyumbatan pembuluh darah. Dokter menjelaskan bahwa banyak kemungkinan yang bisa mengakibatkan kerusakan hati.
Setelah cukup berkonsultasi, Elin pun pamit dan mengantri obat di apotik. Lexi pun semakin penasaran dengan wanita yang nampak sedih itu. Dia diam-diam masuk ke dalam ruangan yang tadi wanita itu keluar.
Elin berjalan tertatih setelah mendengarkan jawaban dari dokter, dan dia lagi-lagi tidak langsung pulang ia ingin menenagkan dirinya. Melihat taman yang ada di rumah sakit, itu hingga hatinya tenang.
Elin sedih bukan takut kematian, tetapi dia takut kalau ia hanya akan menjadi beban kesedihan buat keluarga.
Tangan Elin mengusap air mata yang menetes terus menerus.
__ADS_1
"Jangan menangis Elin, kalau memang kematian adalah akhir dari perjalanan hidup kamu, setidaknya kamu tidak membuat orang lain susah." Elin memberikan semangat untuk dirinya sendiri.
Dari kejauhan sepasang mata mengawasi Elin, hingga tidak berkedip. "Tunggu!! Kalau dulu aku pernah salah sama kamu maka sekarang saatnya aku memperbaiki kesalahan itu."