
Hari ini Lucas kembali datang menemui Mamihnya. Hampir semalaman justru ia juga tidak bisa tidur, entah perasaan dari mana dan kenapa tiba-tiba Lucas teringat perlakuanya dengan Elin. "Kenapa Mamih panggil aku Erlan, kenapa nama itu seperti nama Elin? Apa ada hubungan Erlan dan Elin?" Lucas terus merancau tidak karuan di mana pikiran dia terpenuhi dengan kondisi mamihnya, dan juga memikirkan ucapan Arya serta dokter yang menangani mamihnya. Agar Lucas memindahkan mamihnya kerumah sakit jiwa.
"Pagi Tuan," sapa pekerja di rumah mewah yang dikhususkan untuk merawat Darya. Lucas menjawab dengan anggukan kepala, mungkin dia tidak sadar melakukan itu semua, di mana untuk biasanya Lucas akan cuek meskipun banyaknya orang yang menyapa dirinya dengan ramah. Sikap dinginya membuat dia banyak di takuti oleh para pekerjanya.
Lagi-lagi pemandangan yang sama seperti beberapa tahun lalu terlihat dihadapan Lucas, tetapi untuk kali ini Lucas merasakan rasa yang sangat sedih menyayat hati dengan apa yang dia lihat, hatinya teriris ketika menyaksikan pemandangan ini. "Mih, apa setiap hari yang mamih lakukan hanya seperti ini, menunggu seseorang yang entah di mana keberadaanya, memikirkan apa yang tidak bisa mamih mengerti?" lirih Lucas. Tanganya membuka pintu berwarna putih.
Lagi, Darya segera menoleh kearah pintu, persis seperti tengah menunggu seseorang yang sangat dia nantikan. Senyum manis terlihat di wajah kusam dan lelahnya. "Erlan, kamu datang?" lirihnya dengan terus menatap Lucas yang tengah berjalan ke arah Darya, dan duduk di samping tubuh mamihnya yang sangat kurus itu.
"Mamih sekarang ikut Lucas pindah, kita tidak tinggal di sini lagi yah," ujar Lucas sembari memegang tangan Darya yang diikat. Sakit rasanya Lucas menyaksikan pemandangan yang seperti ini. Ibu yang melahirkanya. Namun, kenapa dia baru merasakan sakit seperti ini, dari dulu kemana rasa perhatian Lucas pada mamihnya, hingga dendam memuncah, tanpa mau tahu kondisi ibunya seperti itu.
Darya nampak diam saja tidak tahu apa yang dibicarakan oleh Lucas. Sementara Lucas meminta semua dokter, perawat maupun pekerja di rumah mewah ini untuk mempersiapkan semua kebutuhan perpindahan Mamihnya yang sudah dia pikirkan secara matang semalaman. Lucas sudah yakin bahwa ia akan mengikuti saran dokter yang menangani Mamihnya. Untuk saat ini Lucas ingin mengfokuskan diri untuk mengobati perempuan yang telah melahirkanya, sampai dengan sembuh jadi dia akan mencari tahu dengan apa yang terjadi di masa lalunya. Dan apabila memang benar suaminya berselingkuh dan tega meninggalkan ibu kandungnya demi pelakor. Maka siap-siap dia akan membalaskan dendamnya yang lebih mengerikan dari saat ini. Lucas akan pastikan satu hari pun baik Elin maupun papahnya tidak akan dia biarkan ada senyum. Awan gelap akan terus mengiringi Eric dan Elin.
__ADS_1
"Kalian saat ini boleh bernafas lega sebab, aku akan fokus dengan kesembuhan mamih, tetapi andai semua terbukti siap-siap kalian. Dari tanganku sendiri yang akan menghukum kalian," lirih Lucas sembari mengusap rambut mamih, yang nampak kurang terurus.
Lucas heran dengan banyaknya pekerja di rumah ini tetapi kenapa seolah tidak ada yang memperhatikan perawatan untuk mamihnya, kenapa bisa badan mamih kurus, kulitnya kusam dan ramput lepek. Apa kakek dan Omanya tidak memberikan uang lebih untuk perawatan mamihnya. Seperti itu kira-kira keheranan mamihnya.
Dengan kebingunan di wajahnya, Darya akhirnya mau mengikuti Lucas yang saat ini tengah menuntun mamihnya, setelah semua dokter, maupun perawat tidak bisa membujuk Darya untuk ikut dengan mereka. Ternyata hanya Lucas yang berhasil membujuk mamihnya agar mengikutinya pindah kepanti asuhan, tetapi itu juga bukan atas nama Lucas, atas nama Erlan, baru Darya mau mengikuti Lucas.
"Siapa sebenarnya Erlan kenapa dia begitu berpengaruh pada mamih," batin Lucas.
Dengan langkah yang pelan, dan tertatih, seolah kakinya lemas apabila berjalan. Darya terus mengikuti Lucas meninggalkan kamarnya dan menuju halaman belakang rumah yang luas, di mana mobil di palkir di halaman belakang rumah mewah itu.
Lucas memperhatikan mamihnya dengan sangat serius, di mana mamihnya nampak seperti kebingungan. Mamihnya seperti orang yang tidak pernah melihat dunia luar. "Seberapa lama mamih mengalami depresi yang sangat berat seperti ini," batin Lucas dengan bingung. Saking tidak pedulinya dia dengan mamihnya hingga laki-laki itu tidak tahu sejak kapan mamaihnya depresi seperti ini.
__ADS_1
Yah, Lucas tidak pernah tahu dengan kondisi mamihnya, bahkan dia tahu mamihnya mengalami depresi itu sejak dia lulus SMA tetapi karena kegiatan sekolah diluar negri dan pergaulan dia yang cukup menguras waktu sehingga Lucas tidak terlalu peduli dengan kondisi mamihnya. Lucas sibuk dengan dunianya. Sibuk dengan semua yang dia lakukan hingga dia lupa bahwa dia masih punya mamihnya yang tengah mengalami depresi.
"Mamih, apa mamih suka kita bisa jalan-jalan?" tanya Lucas dengan memegang tangan mamihnya di mana saat ini Lucas duduk di samping mamihnya.
Darya menatap Lucas dengan penuh keheranan. Lalu wanita itu mengangguk dengan lemah sebagai tanda bahwa ia bahagia, tetapi tentu tidak tahu bahwa bahagia itu apa. Yang jelas Darya hanya menjawab dengan anggukan.
"Mamih, pengin apa? Coba bilang sama Lucas, nanti pasti anak mamih belikan apapun yang mamih inginkan," ujar Lucas, mencoba berkomunikasi dengan wanita yang bahkan tanganya masih di ikat karena takut membahayakan yang lain dan takut menyakiti tubuh mamih sendiri.
Darya hanya menatap Lucas dengan bingung, sepertinya orang yang masih berfikir dengan apa yang mamihnya pikirkan. Setelah itu Lucas diam tidak melanjutkan pertanyaan yang lain, bahkan sekedar bertanya dengan dokter atau sopir yang berada satu mobil dengan Lucas tidak terjadi sama sekali mereka membiarkan Darya mengamati pemandangan yang tidak pernah ia lihat. Sementara Lucas larut dengan memperhatikan mamihnya.
"Pa, kita putar-putar kota dulu yah. Sepertinya Mamih sangat suka dengan berjalan-jalan seperti ini." Lucas berbicara dengan sopir agar berkeliling-keliling dulu kalau perlu sampai sore mereka keliling kota. Asalkan mamihnya senang, Lucas juga akan senang. Seperti itu pikiran Lucas, karena dia baru merasakan bahagia seperti ini. Bahagia yang belum pernah ia rasakan.
__ADS_1
"Baik Tuan,"
Sementara dokter Diki, tidak keberatan mungkin dengan ini Darya akan sembuh. (Dokter Diki, dokter yang bertugas menangani Darya selama ini)