
"Ada apa Dok, kayaknya ada yang penting banget sampai minta saya datang ke sini," lirih Jiara.
"Iya nih ada yang penting, tapi aku juga bingung mau bicara dari mana dulu yah," balas Arya yang dari wajah dan gayanya saja memang menujukan kalau ada sesuatu yang penting.
"Kabar gembira atau sebaliknya Dok, kenapa hati ini jadi tidak tenang yah, apa ini semua ada sangkut pautnya dengan keadaan Zakia?" Jiara pun jadi terbawa suasana menjadi ikut tegang.
"Bukan kabar kesehatan Zakia, kalau kondisi Zakia sudah dari awal kalau dia akan sembuah dan itu semua tinggal menunggu hari itu terjadi." Arya selalu memberikan keyakinan untuk Jiara.
"Kalau gitu kabar apa lagi. Apa ini soal Lucas?" tebak Jiara, pikiranya hanya ada dua kalau bukan kabar mengenai putrinya berati tinggal kabar mengenai suaminya, dan benar saja Arya mengangguk dengan tebakan Jiara.
"Katakanlah Dok, aku sudah siap dengan kabar-kabar yang akan terjadi pada laki-laki itu," balas Jiara, dengan pasrah. Sepasrah itu ia pada Lucas.
"Lucas sekarang sedang di penjara," lirih Arya, dan saking lirih suaranya sampai-sampai Jiara seperti tidak mendengarnya.
"Apa Dok, Lucas di penjara?" tanya Jiara memastikan kalau yang ia dengar memang kenyataan. Arya membalasnya dengan anggukan samar. Tangan Jiara nampak memegan dadanya. Syok itu pasti yang dirasakan oleh Jiara.
"Apa dalam kehidupan laki-laki itu tidak ada nilai positifnya? Kenapa ia membuat masalah tidak ada hentinya?" racau Jiara, mungkin kalau ada Lucas ia ingian mengumpatnya habis-habisan. Arya pun yang ada di sampingnya jadi merasa ia yang sedang dimarahi oleh Jiara juga.
"Tapi yang aku tahu ini hanya salah paham," sahut Arya.
"Udah lah Dok, jangan dibela lagi, jangan di cari kebenaranya, apapun dia lakukan tidak akan ada salah paham. Seseorang bisa masuk tahanan berati dia sudah salah," gumam Jiara. Yang wanita itu tebak Arya hanya sedang membela sepupunya.
__ADS_1
Namun, itu tidak seperti yang Jiara tebak, Arya hanya ingin mengatkan apa yang Lucas ragukan, bahwa ia di jebak, bagaimanapun Jiara juga harus tahu, yang mungkin saja nyawa dia juga tengah menjadi sasaranya para pelaku itu. Dan itu sebabnya Arya memilih memberi tahu akan kondisi Lucas dulu dari pada Eric dan Philip.
"Aku mengatakan ini pada kamu, bukan untuk membuat kamu membenci Lucas, tetapi memang ini ada pesan dari Lucas, dia menitipkan kamu dan keluarganya pada aku, dan aku merasa kalau aku mengawasi kamu secara langsung tidak sanggup karena memang mata aku hanya ada dua, dan yang harus aku awasi banyak. Jadi tujuan aku mengatakan ini pada kamu itu agar kamu hati-hati dan waspada jadi bisa ngurangi kerjaan aku. Kamu waspada dengan orang yang asing. Kenapa aku berbicara seperti ini? Karena memang aku tau sebenarnya dunia Lucas seperti apa. Sebenarnya bisa banget Lucas bebas, tetapi resikonya kalau dia bebas. Keluarganya akan semakin terancam."
Entah penjelasanya yang panjang kali lebar ini bisa di mengerti atau tidak oleh Jiara. tetapi inilah yang terjadi.
"Maksudnya apa Dok, kasus apa yang membuat Lucas di penjara?" cecar Jiara semakin penasaran tentunya.
"Pembunuhan."
Jiar nampak menghirup nafas dalam dan membuangnya perlahan. Sesak yang dia rasakan, dan Arya pun sama pertama mendengar merasakan hal yang sama. Marah, kecewa pasti itu yang ia alami.
"Pembunuhan Tamara, di mana Tamara adalah Oma tirinya, istri dari Philip alias kakeknya. Bukti-bukti memang mengarah ke dia, tetapi dia sendiri tidak penah merasakan kalau dia melakukan itu semua, dan bukti yang telah Lucas selidiki secara pribadi justru sebenarnya bukan Tamara target utamanya. Makanya Lucas memilih tetap berada di dalam penjara, untuk memancing pelaku utamanya, agar tetap nyaman bergerak. Apa kamu tidak bertanya kenapa mesti Lucas yang dia jadikan fitnah, padahal bisa saja pelaku mengfitnah orang lain?" Arya memancing Jiara yang sedang serius mendengarkan ucapan Arya itu.
"Itu semua karena memang Lucas yang sangat berbahaya untuk mereka, Lucas bisa membaca pergerakan mereka, sehingga mereka berpikir kalau Lucas lebih baik di dalam penjara agar mereka tidak terancam," jawab Arya, dan laki-laki itu sangat berharap kalau penjelasanya itu bisa dimengerti oleh Jiara.
"Lalu apa ada yang bisa aku bantu untuk melindungi keluargaku?" lirih Jiara, pastinya dalam hatinya sudah ada perasaan yang tidak karuhan.
"Kamu tidak usah melakukan apa-apa cukup waspada dengan orang-orang yang asing. Jujur aku pun tidak bisa mengawasi kalian satu persatu karena, makanya aku ceritakan ini agar kamu bisa waspada, dan setidaknya kamu bisa menjaga diri kamu sendiri dan setidaknya sama Zakia. Tetapi kamu tenang saja, aku akan tetap mengawasi kalian kok, tetapi dengan cara aku sendiri,"
"Papah Eric dan Mamih gimana, lalu Elin apa mereka akan diberitahukan?" tanya Jiara, yang justru semakin cemas dengan mereka.
__ADS_1
"Saya akan ceritakan pada Om Eric, tidak dengan Elin dan Tante Ely, setidaknya ada Om Eric yang bisa menjaga mereka. Aku juga sudah memberitahu pada Philip sebelum aku datang ke sini, dan setidaknya kalian bisa waspada," lirih Arya.
"Apa aku boleh bertemu dengan Lucas?" tanya Jiara.
"Aku akan mengantarkan kamu, tetapi tidak saat ini. Kamu tidak usah khawatir dengan Lucas, orang-orangnya sedang bekerja dengan sangat baik, jadi aku pun yakin kalau khasus ini tidak akan lama."
"Baiklah aku akan tunggu sampai semua aman, Dokter pasti yang lebih tahu, dan aku hanya ingin berdoa agar masalah ini tidak berlarut-larut. Terlebih ini masalahnya dengan nyawa rasanya sangat horor," sela Jiara.
"Nah itulah yang aku alami, sebelum aku datang ke sini lebih dulu kepalaku hampir pecah, dan setelah minum obat dan istirahat sejenak, sekarang bisa berpikir sedikit jernih," kekeh Arya, ingin mengumpat pada Lucas yang tidak ada habisnya dia membuat masalah, dan ujungnya orang lain yang menyelesaikan masalah-masalahnya.
Jiara pun terkekeh samar mendengar ucapan Arya. "Ternyata Dokter bisa sakit juga?"
"Nah itu dia aku juga heran. Aku pikir kalau pekerjaanya Dokter tidak akan sakit, tetapi ternyata salah. Dokter juga manusia," kelakar Arya, dan mereka pun terlihat obrolan yang hangat.
Yang membuat Arya lega, setidaknya Jiara tidak terlalu menyalahkan Lucas.
*******
Sementara itu Lexi yang sudah melakukan perjalanan udara hingga belasan jam pun turun dengan tangan terus memegangi perutnya yang makin terasa berdenyut. Bahkan laki-laki itu tidak bisa istirahat di dalam pesawat sepanjang perjalanan, karena memang tubuh dan perutnya yang tidak bisa diajak kompromi.
Lexi langsung menaiki taxi yang sudah ia pesan dengan menggunakan aplikasi online. "Langsung ke alamat itu yah Pak. Sudah sesuai aplikasi," lirih Lexi, ia tidak ingin membuang waktu. Laki-laki itu ingin langsung mendengar apa yang akan Lucas jelaskan. Agar Lexi bisa langsung mengerjakan pekerjaanya.
__ADS_1
" Liat saja kalian bisa membuat masalah maka nyawa juga akan jadi barang tidak berguna lagi."