Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 137


__ADS_3

"Maaf." lirih Lucas, ketika matanya menangkap Jiara yang sesekali mengusap pipinya di tengah-tengah permainan ular tangga yang Zakia inginkan. Meskipun bibir Jiara tersenyum dan terlihat senang melihat tawa renyah putrinya, tapi tidak bisa di pungkiri air matanya tetap sesekali keluar dari sudut mata wanita itu.


Sekalipun Jiara menuduk untuk menutupi matanya yang memerah dan gerakan tangan yang seolah disamarkan  agar tidak terlihat kalau ia sedang mengusap air matanya, tetapi Lucas bisa mengetahuinya, bahwa Jiara tengah menangis, tidak bahagia dengan kebersamaan denganya dan putri mereka.


"Ternyata berpura-pura baik-baik saja dan bahagian dengan pasangan di depan anak, agar anaknya tidak tahu kalau orang tuanya sedang terlibat masalah itu sakit banget ya Allah. Hati ini sakit," jerit Jiara di dalam batinya. Meskipun bibirnya berceloteh, menanggapi pertanyaan dan ocehan anaknya, tetapi isi hatinya berbanding terbalik dengan kenyataanya.


"Kia, ini sudah jam sembilan kan, kata Kia tadi mainya hanya setengah jam. Sekarang minum obat dan buru-buru bobo yah," lirih Jiara, dengan sengaja mengalihkan ucapan Lucas. Ia tidak ingin terpancing dengan ucapan laki-laki yang ada di sampingnya.


"Yah... padahal lagi selu Bun," tolak Zakia, yang merasa malam ini ia sangat bahagia karena bisa main dengan papah dan bundanya. Namun justru harus buru-buru istirahat. Kalau boleh protes, mungkin anak itu ingin tetap terjaga untuk bermain bersama dengan kedua orang tuanya. Hal yang tidak pernah ia rasanya. Baru kali ini Zakia merasakannya bermain bersama keluarga.


"Jangan gitu ah, Kia dengarkan apa kata dokter, Kia harus jaga kesehatan, jaga makan dan juga istirahat, kalau main terus malah nanti tidak sembuh-sembuh. Kia lama lagi pulangnya," ucap Jiara sembari buru-buru beranjak dari duduknya dan kembali mengambil obat untuk putrinya.


"Kia, untuk malam ini mainya sudah sampai disini saja yah. Kan Zakia juga harus istirahat nanti malah sakit lagi kalau tidak istirahat, Kia mau liat gajah dan lumba-lumba kan? Kalau mau, sekarang cepat sembuh biar nanti lihat banyak binatang," bisik Lucas, dan benar saja anak kecil itu langsung antusias mau untuk istirahat dan minum obat sesuai dengan yang Jiara katakan.


"Kia mau istilahat, Kia juga mau minum obat, tapi Papah bobo sama Kia yah," oceh anak kecil itu.


Sementara Jiara yang mendengarnya semakin tidak bisa mengontrol perasaanya. Malam ini benar-benar putri kecilnya menguji kesabarannya.


 Baru bersama dalam satu ruangan dengan Lucas belum satu jam saja persaanya sudah panas dan dalam hatinya sudah gondok apalagi kalau sampai menginap di ruangan yang sama. Jiara memejamkan matanya dan menghirup nafas dalam-dalam. Mencoba mengurangi persaan yang berkecamuk di dalam hatinya.


"Pah, Papah mau kan bobo dengan Kia?" tanya ulang Zakia, ketika menatap sang papah hanya diam mematung, dan juga bundanya yang diam saja, sangat berbeda dengan dulu yang bundanya banyak terlibat komunikasi dengan papahnya.

__ADS_1


"Bun, Papah boleh kan bobo sini baleng sama Kia?" Kali ini Zakia meminta izin dengan Jiara, seolah anak kecil itu lagi dan lagi tahu kalau bundanya sedang tidak menginginkan sang suami ada di ruangan ini.


Jiara membalik badan dengan sebelah tangan membawa piring kecil berisi  obat-obatan Zakia dan satu tangan lagi membawa gelas yang berisi air putih. Sekilas ekor mata Jiara menatap Lucas yang nampak diam, dan bingung dengan posisiny.


"Kia, tanya lah pada Papah, beliau mau tidur dengan Kia atau tidak?" balas Jiara dengan suara yang datar.


Zakia pun yang awalnya terlihat tegang dan sedikit murung, kini nampak terlihat bahagia. "Holeh... Papah mau kan bobo sama Kia?" tanya Zakia dengan semangat pada laki-laki yang ada di sampingnya.


Lucas pun menarik bibirnya menandakan kalau dia senang juga dan di lanjutkan dengan anggukan kepala.


"Holeh, telima kasih Papah. Bunda telima kasih udah izinkan Papah untuk bobo di sini," balas Zakia dengan memegang tangan bundanya dan menciumnya. Lalu gadis kecil itu meminum obat dengan pintar.


"Terima kasih," ucap Lucas meskipun laki-laki itu tahu kalau Jiara tidak akan  meresponya, tetapi tidak ada salahnya dia yang mengalah untuk  memperbaiki hubungan mereka setidaknya demi buah hatinya itu.


Benar saja Jiar tidak merespon ucapan Lucas. "Kia, ayo bobo kan udah minum obat. Biar cepat sembuh dan kita cepat pulang." Jiara lagi-lagi mengalihkan obrolan agar tidak membalas ucapan Lucas.


"Kia bobo sama Papah yah Bunda?" Tangan Zakia terus menggenggam tangan papahnya seolah anak itu tahu kalau laki-laki yang ia panggil papah akan pergi di malam hari nanti.


Jiara hanya membalas dengan anggukan dan senyum, sebagai tanda kalau wanita itu mengizinkan Zakia tidur dengan papahnya.


"Holehhh... telima kasih Bunda," pekik Zakia dan ia langsung mengajak papahnya naik ke ranjangnya di mana, di ranjang itu biasanya Jiara dan Zakia akan tidur. Namun malam ini Zakia akan tidur bersama Lucas, dan Zakia akan tidur di sova yang biasanya Eric tidur di sana.

__ADS_1


Sementara Arya yang bertugas mengganti posisi Lucas untuk menjaga Philip, sesuai dengan pesan yang Lucas katakan kalau ia malam ini akan tidur bersama dengan putrinya.


Tidak lama Zakia sudah tertidur dan Jiara pun menyusulnya tidur di sova.


"Jia, Kia sudah tidur biar aku kembali ke kamar Kakek, kamu tidurlah di sini," ucap Lucas yang tahu betul kalau Jiara belum benar-benar tidur.


Hening tidak ada jawaban dari Jiara. Memang Jiara belum tidur, tetapi dia sudah memutuskan untuk mengizinkan Lucas tidur dengan putrinya. Jadi apa lagi yang akan dikhawatirkan.


"Jangan Papah, Papah bobo sini aja," rengek Zakia, ternyata anak itu tidak benar-benar tidur, buktinya ketika Lucas berusaha menggeser tubuhnya ia bisa  merasakanya, dan langsung memeluk tubuh papahnya.


"Sudah lah Tuan, Anda tidak usah memikirkan perasaan saya. Kia anak Anda tidurlah denganya malam ini. Jangan hancurkan bahagianya." Jiara akhirnya membuka suaranya.


Namun justru ucapan Jiara semakin membuat hati Lucas sakit, ketika hubunganya  mereka suami istri, tapi justru Jiara menganggapnya adalah tetap bosnya. Dan hubungan suami dan istri hanya di atas kertas. Lucas pun berusaha bersikap biasa saja, dan memejamkan matanya mengikuti putrinya yang sudah lebih dulu  menyusuri mimpi. Akhirnya istirahat yang nyenyak bisa Lucas rasakan tanpa obat-obatan penenang. Dan semuanya terjadi karena putrinya. Wangi tubuh buah hatinya sangat menenagkan pikiranya.


Cup... Mata Lucas terbuka dengan sempurna ketika bibir kecil mencium pipinya. Namun buru-buru Lucas memejamkan  kembali matanya. Agar Zakia kembali memberikan kecupan yang mesra.


Cup... Benar saja, ide Lucas memang cemerlang, bibir mungil itu kembali mendarat di pipi Lucas. "Papah bangun, udah pagi," celoteh Zakia, tanganya yang kecil mengusap-usap wajah Lucas yang di tumbuhi dengan bulu-bulu halus.


Lucas pun akhirnya membuka matanya yang sejak tadi pura-pura tertidur. "Selamat pagi Sayang," lirih Lucas dengan suara berat dan serak, khas bangun tidur.


Bibir yang sangat mirip dengan Jiara melengkung dengan sempurna. "Selamat pagi My Hero."

__ADS_1


__ADS_2