Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 243


__ADS_3

Di saat Elin, Lucas, dan Arya berserta pasanganya masing-masing, mereka sedang berbahagia karena sedang menikmati kebahagiaan atas pernikahan mereka. Para orang tua pun tidak kalah tengah bahagia karena putra-putri mereka yang sedang menikmati hari bahagianya.


Setelah acara mereka selesai, dan membiarkan anak-anak untuk malam ini menjadikan malam bahagia buat mereka semua. Orang tua Elin dan Lucas memang pulang lebih dulu. Sebelumnya tentu Philip sudah pulang lebih dulu juga, itu semua karena kesehatan laki-laki tua itu yang masih butuh istirahat penuh.


Philip datang untuk menghadiri acara cucu-cucu mereka, setelah itu makan laki-laki itu kembali ke rumah untuk istirahat.


Aryo dan juga keluraganya juga pulang ke rumah mereka, tentunya setelah Arya dan Marni masuk ke kamar hotelnya.


"Pih, emang yang tadi Papih katakan itu benar. Marni sedang datang bulan?" tanya Dinda, wajar sebenarnya kalau memang wanita datang bulan, tapi Dinda merasa kasihan tentunya dengan putranya yang tidak bisa nunu nana padahal pasti ini adalah momen yang ditunggu-tunggu.


Aryo pun tertawa dengan renyah. Hingga sebuah pukulan mendara di pundak laki-laki yang tidak lagi muda.


Brukkk!!! Dinda yang sudah terbiasa lihat kejahilan sang suami pun tahu apa arti dari tawa suaminya itu.


"Papih itu kebangetan banget ngerjainnya. Pasti Arya ngiranya benaran," sungut Dinda dengan menatap tajam pada Aryo.


"Tidak mungkin Mih. Papih sudah bekerjasama dengan menantu kita dia tetap kasih bonus kok," balas Aryo tanpa dosa. Hingga Dinda tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


Sementara Aryo dan Dinda tengah bahagia, tidak kalah juga Eric dan Darya.


Kini Darya dan Eric baru saja ke luar dari hotel mewah di mana pesta untuk anak-anak mereka diadakan, dengan Zakia di gendongan Eric dan juga Eril dalam gendongan Darya.


Untuk sesaat Eric dan Darya memejamkan matanya, seolah dua pasangan yang tidak lagi muda, tengah mengabarkan pada semesta bahwa dirinya sedang berbahagia. Dia sedang mengabarkan pada semesta bahwa dirinya saat ini sedang menikmati anugrah Tuhan yang sangat luar biasa istimewa.


"Pah, mamah tidak menyangka kalau akhir dari perjalanan kita adalah sampai di tahap kebagaiaan seperti ini. Allah memang sungguh memiliki garis rahasia yang sangat luar biasa. Tuhan memberikan ujian pada kita yang bahkan maha  Dahsya. Namun, ternyata Tuhan sedang merencanakan kita dengan kebahagiaan yang luar biasa," ucap Darya ketika pasangan suami istri itu sudah berada di dalam mobil dengan cucu masing-masing dalam pelukanya. Kedua cucu mereka tengah tertidur dengan pulas karena terlalu lelah.


"Papah juga tidak pernah menyangka Mah, kalau bisa menghadapi ujian Tuhan ini. Bahkan tidak jarang Papah juga marah dengan Tuhan akan semua takdir-takdirnya yang benar-benar di luar batas pikiran papah. Namun pantaskan sekarang papah menarik semua kemarahan papah dan mengganti dengan mengucapkan syukur dan terima kasih atas ujian yang pernah Tuhan berikan. Papah benar-benar bersyukur karena dari ujian-ujian yang seolah tidak ada habisnya. Kita bisa kembali berkumpul lagi, dan dalam kondisi yang lebih bahagia." Eric pun menarik Darya agar bersandar ke dadanya yang hangat.


Dua pasangan yang sudah tidak lagi muda itu pun tidak mau kalah dengan putra-putri mereka Eric dan Darya ingin menghabiskan malam panjang ini untuk mengulang kisah cinta mereka. Meskipun malam ini bukan malam spesial untuk mereka, tetapi Darya dan Eric pun ingin menikmati malam indah ini ala anak muda dengan ditemani kedua cucunya yang tampan dan juga cantik.


"Papah dulu pernah bertanya pada Tuhan, kenapa kita dipertemukan lagi tidak saat kita masih muda, sehingga kita bisa memberikan adik untuk Elin dan Lucas, biar rumah kain ramai. Tetapi sekarang papah sudah tahu jawabanya kenapa Tuhan tidak mempertemukan kita saat masih muda dan masih produktif," ucap Eric dengan tangan sebelah mengusap rambut sang istri. Membiarkan istrinya bersandar di dadanya dan merasakan kebersamaan yang romantis.


"Eh... kira-kira apa tuh jawabanya kenapa mamah tidak tahu jawabanya?" tanya Darya dengan wajah yang nampak bingung.


"Coba Mamah lihat, sekarang saja kita cukup repot dengan cucu dua, di saat anak-anak kita ingin menikmati waktunya untuk bersenang-senang, dan mereka mepercayakan anak-anaknya pada kita, kalau kita punya anak banyak Mamah bisa bayangkan bagaimana repotnya kita," ucap Eric setengah terkekeh menatap dua cucunya yang sedang terlelap itu. Memiliki anak sepasang laki-laki dan perempuan. Dan kini memiliki cucu juga sama rasanya luar biasa bahagia.


Darya pun terkekeh dengan jawaban suaminya. Meskipun tidak setuju yah ketika anak-anak sudah besar pasti akan membantu kerepotan orang tua juga. Namun Darya pun mencoba sepemikiran dengan suaminya.


Yah, malam ini pasangan suami istri itu pun kebagian menjaga dua cucunya. sebenarnya bisa saja mereka meminta pengasuh untuk menjaga cucu-cucu mereka, tetapi mereka tidak ingin melakukanya. Karena mereka ingin lebih dekat dengan cucunya benar saja seperti Zakia dia juga cukup dekat dengan kakek dan neneknya. Bocah kecil itu tetap menganggap kalau kakek dan nenek. mereka adalah malaikat penyelamat nyawa.


Di saat orang tua mereka sedang menikmati kebahagiaan karena bisa menjaga cucu-cucu mereka, Lexi dan Elin pun tengah menikmati kebahagiaan luar biasa. Entah berapa kali Lexi mengucapkan rasa terima kasihnya karena Elin pada akhirnya mau menerima dirinya sebagai suaminya.


Di kamar hotel yang bertabur dengan kelompok mawar khas pengantin baru dan harum dari aroma terapi membuat Elin dalam beberapa saat menikmati aroma itu. Bahkan Elin untuk sesaat tercengang. Wanita itu tidak pernah membayangkan kalau kamar untuk pengantin baru memang seperti itu. Kalau untuk melihat di Tv tentu sudah pernah, tetapi kalau untuk melihat secara langsung tidak pernah.


"Kenapa diam saja?" tanya Lexi dengan berdiri di belakang Elin. Laki-laki itu ingin memeluk tubuh Elin, tetapi ia tahu Elin masih belum begitu menerima dirinya. Sebelumnya Elin bahkan sudah berkata bahwa apa yang terjadi di antara mereka nanti, landasan pertamaya adalah demi Eril. Sehingga untuk meluluhkan hati Elin, Lexi benar-benar harus bersabar. Yah, seperti malam ini dia harus sabar kalau sepertinya dia akan sangat sulit untuk langsung meminta haknya. Yang ditakutkan pasti traumanya akan kembali lagi. Lexi harus menerima resiko ini. Karena yang dia rasakan saat ini tidak ada sebanding dengan yang Elin rasakan.


Elin menggelengkan pelan kepalanya. "Tidak aku hanya bingung, kalau melihat ranjang yang sangat romantis, apa itu artinya malam ini kita akan mengulang kejadian malau dulu?" tanya Elin dengan pandangan mata yang  masih menatap ke arah ranjang pasien yang indah dan lilin-lilin yang membuat suasana kamar mereka menjadi sangat romantis.


Lexi menghirup nafas dalam, dan menghembuskanya dengan perlahan. "Kamu tidak usah takut, aku tidak akan memaksa kamu untuk melakukan itu semua malam ini. Kamu pasti masih teringat akan kejadian malam yang kelam itu. Aku ingin kalau kita melakukanya karena kesadaran kita masing-masing dalam arti, kamu juga menikmatinya bukan aku saja," jawab Lexi dengan suara yang sangat tenang.

__ADS_1


Elin membalas dengan senyum terbaiknya. "Terima kasih sudah berusaha selalu mau mengertiin aku. Aku bukan tidak mau melayani kamu, tetapi aku butuh waktu," balas Elin, wanita itu semakin yakin kalau Lexi memang sudah berubah.


"Iya kamu santai saja aku tahu kok, lagi pula tujuan kita menikah adalah untuk memperbaiki hubungan yang sudah semakin rumit. Jadi kamu jangan merasa tidak enak, karena aku sudah mengerti akan ini dari awal."


"Kalau gitu aku bersih-bersih dulu yah, nanti baru setelah itu kamu yang bersih-bersih." Tanpa menunggu balasan dari Lexi wanita itu langsung meninggalkan laki-laki yang baru mereka nikahi.


Lexi sendiri memilih memainkan ponselnya dengan merebahkan tubuhnya, dengan mengirim pesan dengan mertuanya untuk melihat kondisi putra mereka. Namun baru juga Lexi membuka ponselnya panggilan dari orang tuanya masuk.


Dada Lexi semakin bergemuruh. Laki-laki itu sudah menduga kalau orang tuanya pasti akan marah pada dirinya yang telah menikah dengan meninggalkan masalah yang banyak.  Ini adalah panggilan pertama dari orang tuanya setelah dirinya meninggalkan negara tempat orang tuanya tinggal.


Selama beberapa bukan baik Lexi maupun kedua orang tuanya tidak ada yang terlibat obrolan yang menari. Dengan tangan yang bergetar, Lexi pun mengangkat panggilan dari mamihnya. Yang, melakukan panggilan memang sang mamih, tetapi Lexi tahu di belakang mamihnya pasti ada sang papih yang terus menguping dan memaksa papih berbicara seperti yang ia mau.


[Halloh Mih, apa kabar?] tanya Lexi begitu sambungan telepon tersambung. Ah, bodoh sekali dia malah berbicara dengan lembut, padahal biasanya begitu sambungan telepon terhubung maka Lexi akan menggunkan bahasa yang kurang sopan.


[Jelaskan foto itu!] Sesuai dugaan Lexi kalau dibalik panggilan dari sang mamih, ada papihnya yang sudah siap marah dengan segala kejadian yang sudah Lexi perbuat.


[Dia istri Lexi,] jawab laki-laki itu dengan suara yang sangat lembut dan menunduk seolah dia benar-benar sudah menyesali dengan apa yang terjadi dalam dirinya.


[Gila kamu Lexi. Kamu bilang istri, tapi kamu tidak meminta restu dari kami, apa kamu pikir kamu sudah tidak punya orang tua?" bentak laki-laki itu dengan pandangan yang nyalang. Mungkin kalau hal itu terjadi diharapanya. Lexi sudah mendapatkan tamparan yang sangat hebat.


[Bukan seperti itu Pih, tapi Lexi hanya tidak ingin kalau hubungan kita bersitegang lagi.. Sudah cukup kita terus-terusan berbeda pendapat. Lexi juga berencana untuk memperkenakan istri dan anak Lexi pada kalian, tetapi kalau hubungan kita sudah membaik, karena Lexi tidak ingin anak istri Lexi akan merasa keluarga Lexi tidak merestuinya.] Lexi menjelaskan cara berpikirnya memang Lexi akui salah tetapi dia tidak ada pilihan.


[Anak? Jadi kamu sudah punya anak? Itu anak kamu atau anak dari laki-laki lain?] tanya sang papih.


[Anak Lexi lah Pih, masa anak orang lain. Panjang ceritanya hingga Lexi bisa punya anak dari wanita yang saat ini Lexi nikahi,] jawab Lexi, dia sudah berjanji tidak ada rahasia lagi sehingga dia sudah siap mengerjakan semuanya.


[Dia laki-laki atau perempuan?] tanya laki-laki yang ada dari balik telepon.


[Kirimkan foto anak itu, Papih ingin memastikan dia benar anak kamu atau bukan!]


Lexi pun tanpa bertanya yang macam-macam langsung menuruti apa yang papahnya katakan. Laki-laki itu mengirimkan foto-foto Eril dan juga beberapa vidio yang Lexi ambil pada saat bermain dengan Eril.


"Siapa Lex?" tanya Elin dengan pakaian yang cukup membuat Lexi langsung menegng.


Glekk!! Lexi menelan salivanya dengan kasar.


"Papih, orang tuaku sudah tahu kalau aku sudah menikah," jawab Lexi memberitahukan Elin, kali ini ia harus benar-benar jujur tidak ada lagi sandiwara dan lain sebagainya.


Wajah Elin memang langsung berubah tegang. "Terus gimana kata Papih kamu? Pasti mereka marah yah?" tanya Elin yang sedikit cemas.


'Yah, seharusnya seperti itu tetapi pada kenyataanya. aku melihat justru kedua orang tuaku seolah mengizinkan pernikahan kita." Sontak saja Elin mengerutkan keningnya.


"Kamu serius? Bukanya kamu yang bilang kalau mereka itu agak sulit soal izin mengizinkan," tanya Elin dengan cukup heran.


"Itu, aku pun awalnya berpikir seperti itu. Tetapi pada kenyataanya Papih malah meminta foto Eril," jawab Lexi dengan santai.


Lagi, Elin tampak terkejut. "Terus, kamu kasih?" tanya Elin dengan kaget dan wajah yang cemas. Lexi dengan wajah yang bingung pun mengangguk.


"Ih kenapa kamu kasih, kalau mereka marah pada Eril bagaimana? Aku takut kalau mereka akan berbuat tidak-tidak pada Eril." Elin napak kecewa dan ketakutan.

__ADS_1


"Itu tidak mungkin Elin, orang tuaku tidak seperti itu. Orang tuaku pasti bisa meneri Eril," balas Lexi dengan santai.


"Kalau ternyata apa yang kamu katakan justru kebalikanya bagaimana?" tanya Elin memastikan lagi dengan bibir mencebik sempurna.


"Aku yang akan maju, aku yang akan tanggung jawab." Lexi berusaha menenangkan Elin agar tidak terpikirkan lagi.


"Ok baiklah kalau gitu aku lebih percaya pada kamu. Udah mandi kih. Emang nggak mau istirahat," dengus Elin dengan mencoba percaya dengan ucapan suaminya itu.


"Mandi lah, bau gini, nanti kamu nggak mau  tidur bareng sama aku," kelakar Lexi sembari beranjak dari ranjangnya.


"Nah itu tahu. Jangan lama-lama yah mandinya nanti aku ke buru ngantuk," ucap Elin sebelum Lexi benar-benar masuk ke dalam kamar mandi.


Dalam hitungan detik laki-laki itu pun berhenti bergeming sejenak dan langsung membalikan badanya.


"Kamu serius?" tanya Lexi, dan di balas anggukan dan senyum terbaik oleh Elin.


"Yesss... tunggu aku pasti akan cepat-cepat mandinya." Lexi langsung melesat ke dalam kamar mandi, mandi yang bersih yang wangi, dia tidak menyangka kalau Elin akan melayaninya malam ini. Pantas saja dia memakai pakaian yang menggoda ternyata sudah siap.


Pikiran laki-laki itu sudah terbang ke kejadian malam itu di mana permainan Elin sungguh luar biasa hebat.


Lexi ke luar dari kamar mandi dengan tubuh yang terbalut handuk sebawah pinggang dan rambut yang setengah basah.


Glek!!! Kini gantian Elin yang tidak bisa berpikir normal. dia wanita yang sudah dewasa ketika melihat pemandangan yang sangat menggoda iman maka dia juga tidak bisa berbuat banyak.


Lexi mendekati ke tempat Elin duduk dengan bersandar di dashboard ranjang dengan selimut menutup bagian bawahnya.


Apa kamu yakin mau melakukan malam ini dengan aku? Apa kamu sudah siap?" tanya Lexi sekalian lagi dia tidak mau nanti Elin menyesalinya.


"Bukannya kamu sudah jadi suami aku? Lalu kenapa aku harus ragu. Ap kamu sudah siap?" Tanya Elin dia tadi selama Lexi di kamar mandi menyempatkan diri untuk melihat internet bagaimana mengoda suami. Dia yang belum berpengalaman harus belajar dari yang berpengalaman.


Lexi pun tersenyum penuh kemenangan. "Aku harus bilang apa untuk mengungkapkan rasa terima kasih ini?" tanya Lexi dengan berhati-hati.


"Kamu cukup buktikan kalau yang kamu ungkapkan selama ini adalah sebuah kenyataan bukan janji-janji semata." Elin pun mulai mendekati pada Lexi.


"Pasti, pasti aku akan tepati janji-janji aku demi kamu dan anak kita." Lexi pun memeluk Elin dengan kuat.


"arkkhhhh... kamu nakal yah!"


"Nakal tapi suka?"


"Suka banget!!!"


"Mau nambah?"


"Boleh deh, abis enak banget."


"Itu karena kamu yang pintar."


"Ah kamu, aku jadi malu."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2