
"Berati bos dari Jiara yang dokter maksud adalah Lucas?" tebak Elin, meskipun Arya tidak mengatakannya secara langsung, tetapi bisa di simpulkan bahwa Lucas adalah pasien yang ada di samping ruangannya.
Laki-laki berpakaian kemeja pendek yang sedang duduk di sebelah Elin pun tidak bisa mengelak lagi. Arya mengangguk, sebagai jawaban iya atas pertanyaan Elin.
"Kamu tenang saja Lucas tidak tahu kalau kamu di rawat di rumah sakit ini, dan Lucas juga percaya bahwa kamu dan papah kamu sudah meninggal," terang Arya sembari tanganya mengelus punggung Elin. Seolah ia berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Bibirnya tersungging masam. "Reaksi Lucas gimana? Pasti senangkan ketika mendengar kabar kalau aku meninggal? Dia pasti senang tujuanya tercapai. Apa sebegitu bencinya dia sama kami, padahal kami tidak pernah melakukan apa-apa dan alasan dendam dia belum terbukti kebenaranya, tetapi dia sudah membenci kami sebegitu besarnya," lirih Elin. senyum kecut, menggambarkan betapa kecewanya wanita itu pada laki-laki yang mengaku sodara tiri.
"Aku tidak bisa mengatakan gimana reaksi aslinya, tetapi untuk saat ini sepertinya dia bahagia, tetapi tidak tahu dengan isi hatinya sesungguhnya. Rencana aku dan Jiara yaitu menutup identitas kamu di mana nanti juga wajah kamu akan berubah dan bukanya Lucas juga belum begitu mengenali wajah papah kamu jadi sekalipun kalian ketemu dia tidak akan mengenali kamu, karena dalam sepengetahuan dia kamu dan Om Eric sudah tidak tidak ada di dunia ini." Arya menjelaskan lebih detail untuk rencana dia.
"Tapi apa aku akan bisa bersikap biasa saja apabila ketemu dengan dia, sedangkan baru mendengar namanya saja aku sudah merasa takut," ungkap Elin, mungkin bagi sebagian orang yang belum merasakan langsung gimana dia ketakutanya akan menganggap gampang, dan akan menasihatinya dengan cara seperti ini dan seperti itu untuk bisa lepas dari rasa trauma ini, tetapi bagi Elin yang mana ia merasakan langsung ketakutan itu akan sulit untuk menghilangkan rasa trauma atas kejadian penculikan, dan pemerkosaan. Meskipun Lucas sudah tidak mengenalinya sekalipun. Pasti alam bawah sadarnya akan tetap merasakan ketakutan apabila bertemu dengan Lucas dan Lexi.
"Pelan-pelan saja yah, aku tidak tahu gimana perasaan takut kamu dengan Lucas, tetapi kalau di lakukan pelan-pelan mudah-mudahan kamu akan bisa bersikap biasa saja."
Sama seperti Elin, Arya pun bingung ketika mau memberi nasihat, karena tingkat ketakutan dan kecemasan orang berbeda-beda sehingga Arya hanya bisa memberikan dorongan dan keyakinan bahwa Elin pasti bisa melakukan semuanya. Memang semua hal butuh waktu tidak bisa sekaligus berhasil.
"Elin akan coba, tetapi bukan berati Elin akan memaafkan kesalahan dua laki laki baji-ngan itu, tetap sampai mati pun rasanya kata maaf tidak akan pernah Elin lakukan, karena mereka itu monster yang tidak akan bisa Elin maafkan," decak Elin, wajahnya memerah menandakan bahwa dia memang benar-benar menahan emosinya.
__ADS_1
"Memaaf kan siapa Ndok? Kenapa tidak di maafkan kalau ada orang yang datang meminta maaf," tanya Eric, ketika ia masuk keruangan putrinya seperti biasa dua tanganya membawa tas makanan, yang tetangga berikan untuk Elin. Yah, para tetangga tempat Elin tinggal masih sering menitipkan makanan untuk Elin dan Eric ketika Eric pulang untuk masak, makanan yang putrinya mau, sudah lebih dari satu minggu Elin di rawat di rumah sakit menyebabkan Elin bosan terutama dengan menu makanan, sehingga tanpa di sadari tubuhnya semakin kurus.
Elin dan Arya menatap kearah pintu, "Itu Pah, sama orang-orang jahat yang sudah buat Elin seperti ini. Tadi dokter Arya bertanya gimana kalau orang-orang itu datang menemui Elin dan meminta maaf? Dan Elin bilang sama dokter Arya kalau Elin tidak akan memaafkan orang itu, sampai mati sekalipun," terang Elin.
Eric pun sepertinya setuju dengan rencana Elin yang tidak mau memaafkan para penjahat itu. Laki-laki paruh baya itu tidak memberikan respon apa-apa hanya membalas dengan seulas senyum tanpa arti. Mungkin laki-laki paruh baya itu juga setuju dengan apa yang Elin katakan. Sampai kapan pun ia tidak akan pernah memaafkan para penjahat yang sudah mencelakai putrinya.
"Udah makan dulu aja yuk, jangan pikirin orang-orang itu. Papah yakin Tuhan tidak pernah tidur, dan Tuhan juga pasti membalas apa yang orang itu lakukan pada kamu, dan semoga saja mereka merasakan lebih dari yang kamu rasakan, semoga mereka terhukum penyesalan yang tidak bertepi. Sampai hidup mereka merasa tidak berarti di dunia ini." Eric menyiapkan makanan di atas meja, dan tidak lupa laki-laki paruh itu juga memisahkan sebagian masakan untuk Jiara yang tadi sempat berkunjung untuk berkenalan dengan Elin.
"Buat siapa Pah?" tanya Elin, tetapi gadis itu sudah menebak bahwa papahnya pasti memisahkan makanan untuk petugas di depan, tetapi kok ada dua tempat?
"Yang satu Papah ingin kasih buat petugas yang selalu Papah repotn untuk jaga kamu, dan yang satu buat teman dokter Arya yang tadi ke sini, biar mereka merasakan juga makanan masakan papah," balas Eric sembari bersiap untuk pergi mengantarkan makanan hasil olahanya.
Eric berlalu membawa dua tempat yang satu untuk petugas jaga di depan kamar Elin dan yang satu untuk tetangga yang berada di sebelah kamar putrinya di mana dia adalah putranya juga.
Eric mengetuk dan mengucapkan salam sebelum masuk ke ruangan sebelah.
"Saya akan membukakan pintu dulu." Jiara yang sedang terlibat obrolan serius dengan Lucas pun pamit untuk membuka pintu di mana tadi ada yang mengetuknya dan mengucapkan salam.
__ADS_1
Kedua mata Jiara terbelalak ketika tahu siapa yang mengetuk pintu ruangan bosnya. Wanita berhijab itu takut kalau Lucas mengenali laki-laki yang sedang berdiri di depan pintu itu.
"Maaf kalau Om ngeganggu, ini tadi Om sengaja masak banyak, kalau berkenan Mba Jiara mau mencicipi masakan Om." Erik menyodorkan tempat makanan yang berisi masakan yang dia olah dengan tanganya sendiri, berharap bisa disukai oleh Jiara maupun bosnya itu.
"Siapa Ji, kenapa tidak di suruh masuk?" tanya Lucas yang mendengar suara yang sangat familiar, dan suaranya bisa menenagkan kobaran kekesalan di dalam dadanya.
"Ah, ini Mas tetangga pasien sebelah, kasih makanan buat kita," jawab Jiara masih berada di depan pintu dengan Eric juga. Sama seperti perasaan Lucas, Eric juga merasakan seperti familiar dengan suara Lucas.
"Suruh masuk ajah Ji," balas Lucas dari dalam sana.
"Tidak usah Nak, Om mau kembali ke kamar anak Om, soalnya takut butuh sesuatu. Semoga Anda cepat sembu Nak," balas Eric, dengan halus menolak tawaran Lucas agar Ia masuk kedalam sana.
"Terima kasih untuk doanya dan juga untuk makananya, semoga anak Anda juga cepat sembuh," balas Lucas lagi. Jiara hanya bisa diam di mana ada anak dan papah tidak saling kenal, dan anehnya mereka saling mendoakan. "Apakan kalau kamu tahu bahwa yang sudah kalian saling doakan adalah orang yang saling bermusuhan," batin Jiara wajahnya masih menunduk, dan Eric pun kembali ke ruangan Elin.
"Gimana Pah sudah di beriakan?" tanya Elin, sejak tadi Elin tidak makan, karena takut kalau Lucas menolak makanan yang papahnya berikan.
"Sudah..Ada salam.dari pasien sebelah, katanya semoga cepas sembuh." Eric menyampaikan salam dari Lucas di mana laki-laki itu adalah musuh dari putrinya dan juga anak dari papahnya.
__ADS_1
Elin tidak menjawab salam dari Lucas, tetapi gadis itu justru lebih fokus dengan makananya. Eric pun memakluminya mungkin putrinya sudah terlalu kelaparan sehingga tidak sempat membalas salam dari pasien sebelah.