
"Terima kasih," ucap Lucas sembari menatap penuh damba pada Jiara yang bisa dia lihat dari wajahnya kalau wanita yang berstatus istrinya itu sangat sedih. Kedua mata yang merah menandakan kalau dia telah menangis dengan sangat sedih.
Jiara hanya tersipu malu, senang campur haru, karena doa-doanya Tuhan kembalikan beserta jawaban yang indah.
"Zakia sangat rindu dengan papahnya," ucap Jiara untuk mengurangi kegugupanya.
"Terus, apa bundanya tidak kangen," ledek Lucas dengan suara yang ditahan, agar putrinya tidak temburu. Lagi, Jiara hanya menunduk untuk mengurangi rasa geroginya, malu dan juga campur bahagia.
"Papah, kok Papah ngoblol telus dengan Bunda?" protes Zakia dengan menujukan kecewanya. Sehingga Jiara yang sudah bersiap untuk menjawab ucapan Lucas pun menelan kembali kata-katanya, kemudian Jiara dan Lucas terkekeh, mereka seperti muda mudi yang tengah kasmaran dan ketahuan oleh orang tua mereka.
"Tidak Sayang, Bunda dan Papah tidak bertanya macam-macam kok," jawab Jiara dengan mengusap rambut putrinya.
Zakia kembali terfokus pada papahnya. "Papah, emang yang sakit yang mana?" tanya Zakia dengan tangan memegang wajah papahnya yang banyak bulu-bulu halusnya. "Ih geli Papah, ini sangat geli." Zakia mengusap-usap dagu papahnya dengan tangan yang menunjukan geli, tetapi sesaat kemudian dilakukan lagi seolah membuat candu kegiatan itu. Hal itu sangat menggemaskan untuk dilihat.
Jiara dan Lucas pun kembali di buat tertawa dengan tingkah Zakia yang sangat menggemaskan.
"Coba Mas tunjukan bekas operasi kamu pada anak kita, biar dia tahu kalau papahnya sakitnya memang bukan bohongan," ucap Jiara sembari membuka pakaian Lucas untuk menujukan luka operasi Lucas yang tentunya sudah jauh membaik. Dan karena luka itu Jiara ketakutan setengah mati kalau suaminya tidak akan sembuh.
"Ih... kenapa sangat selam, apa ini sakit Papah." Kembali Zakia menusuk-nusuk perban yang menutupi luka di perut Lucas dengan telunjuknya.
"Auww... Auww itu sangat menyakitkan Sayang, kamu sangat menyakitkan papah." Lucas tentu berpura-pura melakukanya, karena ingin tahu sebagaimana perhatian Zakia.
"Papah, Kia minta maaf. Kia tidak sengaja," ucap Zakia dengan wajah yang sangat terlihat kalau dia sangat menyesal karena telah menekan luka papahnya dan membuat sang papah kesakitan. "Papah, apa yang halus Kia lakukan agal Papah tidak malah?" tanya Zakia dengan wajah yang sangat menggemaskan, sehingga membuat Lucas sangat gemas dengan bocah kecil itu ingin rasanya menggigitnya.
__ADS_1
Bagaimana tidak ingin menggigit Zakia melakukan permohonan maaf itu dengan tingkah yang sangat gemasw, sorot mata mengiba dan dapat bibir bergerak-gerak.
"Ternyata benar yah apa kata orang-orang bahwa anak adalah obat dari segala obat. Melihat tawanya saja rasa sakit yang aku rasakan seketika hilang," batin Lucas dengan menatap penuh sayang pada sang putri.
"Kia mau obatin Papah?" tanya Lucas, kali ini dengan menujukan wajah bahagianya bukan lagi rasa yang kesakitan. Bocah kecil itu pun mengangguk dengan wajah yang masih menunjukkan rasa bersalah.
"Baiklah kalau Kia mau obati papah. Kia tiup luka papah itu dan cium papah lalu peluk papah," ucap Lucas dengan telunjuknya yang menujuk, perut, dan pipi serta kode meneluknya.
"Ok, Kia akan lakukan untuk papah." Zakia pun kembali tersenyum dengan bahagia.
"Huff... Hufff... Hufff." Zakia dengan semangat meniup luka Lucas hingga tanpa sadar terjadi hujan badai dari bibir bocah kecil itu yang monyok-monyong. Lucas dan Jiara pun terkekeh dengan sempurna.
"Udah-udah sekarang Kia cium papah, baju papah basah sama hujan dari mulut Kia." Jiara pun menujuk pipi Lucas dan Kia pun lagi-lagi akan menyelakukanya dengan semangat.
#Aduh Bang malam-malam mau ngapain sih?
"Kamu masih sakit Mas, jangan macam-macam," balas Jiara tidak kalah berbisik, apalagi di dalam ruangan itu ada Rini, tidak enak kalau pengasuh dari anaknya mendengar obrolan mereka yang sedikit sensitif itu.
"Loh, aku kan hanya minta cium. Aku sudah sembuh dan sehat kok, apalagi sekedar cium." Lucas semakin senang untuk menggoda Jiara sedangkan Zakia bukanya mencium pipi papahnya seperti yang seharusnya malah diam mematung dengan bingung. Sementara Jiara, lagi dan lagi dibuat malu oleh Lucas yang selalu menjahilinya.
"Papah, apa Kia halus cium pipi Papah?" tanya Zakia dengan suara yang terdengar bingung.
"Loh, iya dong Sayang, emang kenapa kalau papah minta cium?" tanya Lucas yang lupa bahwa bulu halus di bagian dagunya membuat Zakia geli.
__ADS_1
"Ini geli," ucap Zakia dengan menujuk bulu-bulu halus yang menempel di wajah sang papah. Kembali Jiara dan Lucas terkekeh dengan melakukan anaknya itu.
"Ya udah kalau geli Kia peluk ajah," balas Lucas dengan merentangkan tanganya dengan lebar.
Namun, Zakia kembali seolah enggan melakukanya bocah kecil itu justru kembali mematung dengan menatap bingung pada Lucas.
"Loh, kenapa Kia tidak mau peluk Papah? Nanti Papah sedih loh, kia kan obat untuk Papah," ucap Jiara agar Zakia memeluk papahnya.
Bocah kecil itu mengangkat wajahnya dan memberikan tatapan haru pada sang bunda dan bergantian pada papahnya. "Bunda, Kia takut nanti buat Papah sakit lagi," jawab Zakia dengan suara yang lemah. Jiara pun kembali mengusap pucuk kepala Zakia.
"Kia, luka Papah sudah sembuh kok, jadi Kia sudah boleh memeluknya," ucap Jiara dengan suara yang lemah lembut, hal itu kembali membuat Lucas merasa sangat beruntung, karena dari kejadian buruknya dulu setidaknya ia menemukan sosok bidadari yang nyata di dunia ini.
Zakia pun menujukan wajah bahagianya. "Jadi, Kia boleh peluk Papah, Bun?"
Jiara mengangguk dengan memberikan senyuman yang menyakinkan.
"Holeh.... " Zakia pun dengan di bantu oleh Jiara meluk dengan hati-hati tubuh papahnya. Namun sesaat kemudian bocah kecil itu terisak dengan pilu. Lucas tahu bahwa buah hatinya tengah merasakan bahagia yang teramat sehingga tanganya mengusap rambut Zakia dengan lembut.
"Kia, kenapa Kia malah menangis bukanya Kia seharusnya senang karena Papah sudah sembuh," ucap Lucas dengan suara yang teduh, dan tangan yang terus mengusap punggung putrinya.
"Kia, senang Papah, tapi Kia juga sedih dan takut, kalau Papah tidak bangun lagi. Kia juga sedih karena Bunda yang tiap malam sedih dan menangis untuk mendoakan papah," adu bocah kecil itu, dan sontak saja Jiara lagi-lagi malu dan hal itu karena buah hatinya.
Sementara Lucas menatap kembali dengan Jiara. "Terima kasih berkat doa kalian Papah bisa melewati masa yang berat," ucap Lucas dengan menatap penuh bahagia pada Jiara. Kini adalah kesempatan yang Tuhan berikan pada Lucas untuk memperbaiki semua kesalahannya.
__ADS_1
"Aku akan berjanji bahwa aku akan membahagiakan kalian selalu."