
Jiara rasanya ingin menjerit dengan hebat, ketika tiba-tiba Zakia yang terus meracau dalam alam bawah sadarnya memanggil sang papah. "Papah... Kia tidak mau sendili. Kia mau ikut dengan Papah...Papah Kia mau ikut."
Air mata Jiara pun luluh ketika kembali terdengar celoteh bocah kecil itu rasanya sangat sakit dan juga sangat menyakitkan ketika buah hatinya terlalu rindu dengan papahnya sedangkan sang papah tengah berjuang untuk kesembuhan.
"Mas.. apa kamu merasakan kalau putri kita sangat rindu dengan kamu. Sayang, kamu harus tahu bahwa setiap malam dan hampir setiap saat Zakia, dan aku selalu mendoakan untuk kesehatan kamu. Mas, cepatlah sadar kami sangat merindukan kamu." Jiara pun kembali bergumam yang mungkin saja sang suami di tempat yang berbeda mendengar apa yang Jiara katakan. Hanya doa yang bisa Jiara langitkan untuk kesembuhan sang suami.
Jiara pun akhirnya menahan dirinya untuk tidak meninggalkan Zakia yang seolah tidak ingin bundanya tinggalkan.
Sementara di rumah sakit dokter berlarian menghampiri ruangan Lucas, ketika kesehatan laki-laki itu menurun. Eric yang baru pulang kerja pun kaget ketika dokter berlarian ke ruangan sang putra.
Dengan langkah yang panjang Eric mencoba menghampiri putranya.
"Dok, ada apa dengan anak saya?" tanya Eric dengan mata yang berkaca-kaca. Pikiranya sudah pendek, hari kemarin sang mertua berhasil membuat dia ketakutan karena sempat mengalami henti jantung meskipun saat ini kondisinya masih kritis, tetapi setidaknya ada harapan untuk kembali sembuh dan berkumpul dengan anak cucunya. Namun Lucas, ada apa yang terjadi pada laki-laki itu?
"Maaf Tuan, kondisi putra Anda menurun dratis, dan mohon berdoa untuk kesembuhanya." Dokter Handoko dan juga dokter Eka sebelum masuk menepuk punggung Eric yang begeming masih tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh dokter barusan.
"Apa yang dikatakan oleh dokter itu benar? Kalau Lucas kembali kritis? Bukanya kemarin dokter bilang kalau putraku sudah semakin mengalami banyak kemajuanya, sehingga dia bisa dipindahkan ke ruang rawat, meskipun masih dalam pengawasan yang intensif." Eric kembali mengingat-ingat apa yang dokter katakan, dan apa yang membuat Lucas bisa kembali kritis.
"Lucas, kamu pasti kuat. Kamu belum sepat duduk bersama papah dan minum kopi bersama sembari bercerita dengan kisah perkalanan kamu sampai detik ini. Papah juga ingin cerita bagaimana kita dulu pernah hidup di desa. Papah juga ingin cerita bagaimana papah dan mamah kamu jatuh cinta. Lucas, kamu pasti bisa bangun dan berjuang, bagaimana anak kamu nanti kalau kamu pergi lalu istri kamu pasti mereka akan sangat kehilangan kamu.Elin bagaimana kalau Elin tahu kamu pergi tanpa meminta maaf dulu pada dia pasti dia akan marah, marah sekali sama kamu. Papah mohon bertahanlah Nak, Papah sangat sayang sama kamu, Nak."
Eric di luar ruangan terus berdoa untuk kebaikan putranya dia tidak menyangka sama sekali kalau Lucas akan separah ini kondisinya.
[Pah, apa kondisi Mas Lucas baik-baik saja? Hari ini Zakia sangat rewel, dan juga Kia mengiggo panggil-panggil papahnya. Jia takut terjadi sesuatu dengan papahnya Zakia.] Itu adalah pesan yang sedang Eric baca dan pesan itu datangnya dari Jiara.
__ADS_1
Tubuh Eric semakin bergetar ketika ia membaca pesan yang Jiara tuliskan. Perasan kembali tidak enak ketika ia membayangkan bahwa hal buruk akan terjadi pada putranya. Bahkan saking laki-laki itu merasa takut kalau hal buruk akan terjadi pada Lucas, tanganya mau mengetik balasan untuk Jiara pun rasanya tidak bisa. Jari-jarinya bergetar dengan hebat.
"Lucas baik-baik saja Ji, dan untuk Zakia mungkin karena dia yang terlalu rindu dengan papahnya, jadi dia ngigo begitu. Suami kamu pasti akan sehat kembali.] Itu pesan yang dikirim oleh Eric, melalui pesan suara, ia tidak bisa mengetik, jari-jarinya bergetar dengan hebat.
Di ruangan Elin.
Sama halnya dengan Jiara. Zakian dan Eric, ia pun merasakan bahwa akan terjadi sesuatu hal yang buruk, tiba-tiba saja jantungnya berdetak lebih kencang.
"Lex, kenapa aku merasakan tidak enak yah. Coba tolong telpon pada suster Silvi untuk tanya kondisi Eril, aku merasakan tidak tenang," ucap Elin, dengan wajah yang menegang.
Lexi pun tidak pakai lama langsung menghubungi suster yang menjaga putranya.
"Suster bilang baik-baik saja." Lexi menyodorkan ponselnya, agar Elin semakin yakin, Lexi sangat percaya bahwa seratus persen Elin tidak akan percaya dengan ucapanya, kalau dia sendiri belum berbicara dengan Eril.
"Suster Silvi bilang kalau Eril baik-baik saja, tapi kenapa perasaan aku tiba-tiba merasakan tidak enak sekali yah." Elin mengusap-usap dadanya dengan membaca sholawat dan doa-doa pendek agar dia mendapatkan ketenangan.
"Mungkin itu hanya perasaan kamu saja," balas Lexi, meskipun setiap ada yang berkata perasaanya tidak tenang, maka Lexi pun akan berpikir hal yang buruk pada Lucas, maupun tuan Philip.
"Mungkin juga, entah kenapa perasaan aku masih terbayang laki-laki yang aku temui tadi, sangat memprihatinkan, dan hati ini seperti mengenali laki-laki tadi," ucap Elin, dan Lexi hanya bisa membalas dengan senyum getir, dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Memang yang namanya ikatan batin, sekuat apapun mereka berbohong Elin akan mengenalinya. Itu yang ada dalam pikiran Lexi.
Di ruangan lain, Darya pun yang tiba-tiba merasakan tidak enak langsung menitipkan papahnya pada perawat kepercayaan, sedangkan wanita paruh baya itu akan mengecek kondisi putra dan putrinya, untuk memastikan bahwa semuanya baik-baik saja.
Pandangan mata Darya menatap pada Eric yang sedang duduk dengan lesu di depan ruangan putranya. Kaki wanita itu pun mengayun semakin kencang, Darya menangkap sesuatu hal buruk terjadi pada Lucas, itu yang ia bisa tangkap dari pandangan mata suaminya.
__ADS_1
"Papah, ada apa dengan Lucas?" tanya Darya dengan suara yang tersengal dan nafas yang ngos-ngosan.
Eric pun langsung menatap Darya dan matanya berkaca-kaca. "Kondisi Lucas memburuk, papah hanya takut kalau hal buruk akan terjadi pada dirinya. Padahal papah sudah banyak membayangkan kegiatan yang akan di lakukan dengan anak kita."
Darya pun ketika mendengar ucapan suaminya langsung menangis, sama halnya dengan Eric yang memiliki banyak impian akan melakukan kegiatan bersama Lucas, menebus dua puluh delapan tahun dirinya yang tidak merawat Lucas. Darya pun sama ingin merasakan berkumpul bersama dengan orang-orang yang paling dia sayang.
Kini wanita paruh baya itu sudah terisak di dalam pelukan sang suami saling menguatkan satu sama lain, dan berdoa agar Lucas kembali bisa melewati masa kritisnya. Yah, memang bukan kali ini saja Lucas berada dalam situasi yang seperti ini, tetapi dua di antaranya ia bisa melewatinya. Tentu untuk yang ketiga kalinya Eric dan Darya kembali diberikan keyakinan bahwa putra mereka pun akan bisa untuk melewati ini semua.
"Sayang, Mamah yakin kalau kamu pasti bisa melewati ini semua," gumam Darya dalam batinnya.
Cukup lama dokter melakukan penanganan, mungkin dari situasi sebelumnya kali ini adalah situasi yang paling menegangkan, karena dokter di dalam sana cukup lama, dan hal itu yang membuat perasaan Eric dan Darya semakin tidak menentu.
Ketika suara pintu di buka, Eric dan Darya langsung bangun dan menatap dokter Handoko yang wajahnya tanpak masam dan juga, wajah yang berkeringat, menandakan bahwa laki-laki paruh baya itu sudah berjuang dengan sangat kuat.
"Dok, apa yang terjadi dengan putra saya, apakah dia baik-baik saja kondisinya?" cecar Eric dengan tatapan yang mengiba, hal yang sama pun Darya lakukan.
Namun justru dokter Handoko hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Oh ya Tuhan, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Eric, masih berusaha kuat. Sedangkan hal sebaliknya terlihat pada Darya yang sudah menangis sedih.
"Maafkan kami Tuan, Nyonya kali ini saya dan tim yang lain tidak bisa memberi pertolongan yang terbaik untuk Tuan Lucas. Beliau sudah menyerah berjuang. Putra Anda sudah sembuh untuk selamanya."
Jedueer... tubuh Eric dan Darya lemas, tidak yakin atas semua yang dokter katakan.
__ADS_1