
Jiara membuka pintu kamar putrinya. Lucas dan Zakia pun langsung memalingkan pandanganya kearah pintu yang dibuka itu.
"Hai cantik, udah bangun yah," ucap Jiara dengan wajah yang ceria, setelah bercerita dengan Arya suasana hatinya kembali bahagia setidaknya dia bisa berpura-pura bahagia dan tersenyum dengan lebar, meskipun dalam hatinya masih ada rasa sakit yang sangat dalam.
"Bunda dali mana? Kia cali-cali. Papah tidak bisa belsihin badan Kia, payah," adu anak kecil itu, ketika papahnya tidak bisa membersihkan badan putrinya. Lucas hanya tersenyum kecut, dia takut kalau bakal menyakiti Zakia karena selang infus yang menghalanginya. Dia juga tidak tahu bagaimana cara melepaskan pakaian putrinya, karena adanya selang infus yang menghalangi.
"Bunda habis cari sarapan untuk Papah dan untuk Bunda juga." Jiara mengakat hasil buruanya pagi ini. Jiara nampak memberikan senyum yang manis pada Lucas dan juga putrinya.
"Kia, mau makan dulu atau dibersihkan dulu badanya?" tanya Jiara sembari meletakan makanan di atas meja, untuk makan Lucas dan dirinya. Sedangkan Zakia makan dari rumah sakit yang sudah datang di pagi ini.
"Makan dulu Bunda lapel, tapi baleng Bunda dan Papah yah," balas Zakia dengan menyunggingkan senyum pepsodenya.
Jiara pun membalas dengan senyum terbaiknya juga. "Boleh, ayok kita makan, Mas," lirih Jiara merubah pangilan Tuan ke Mas lagi. Kalau orang lain di luar sana saja bisa berdamai dengan hatinya, menutupi luka hatinya demi anak, lalu kenapa Jiara tidak bisa. Ia akan berusaha menjadi ibu yang baik menebus kesalahanya di tempo dulu yang membenci Zakia, padahal gadis kecil itu tentu tidak salah dan tidak tahu bagaimana caranya dia di buat dan terlahir ke dunia ini.
Lucas cukup tercengang kaget dengan perlakuan Jiara yang sangat beda ini. Namun Lucas bukanya suka dan senang laki-laki itu justru semakin dibuat bingung dan merasa bersalah. Yah, tentu Lucas tahu kalau Jiara melakukanya karena sebuah sandiwara belaka. Ia tahu di dalam hati Jiara sangat terpukul dan sakit melakukan ini semua.
Sama dengan Jiara kalau dia saja bisa berpura-pura untuk bahagia dan baik-baik saja. Maka Lucas juga sama harus kuat dan bertahan agar semuanya baik-baik saja. Laki-laki itu membalas senyum Jiara dan Zakia.
"Kalau gitu Papah gendong Kia yah kita duduk di sova sana," ucap Lucas tubuh putrinya sudah digendong oleh dirinya. Duduk di sova bersama. Terlihat sangat manis dan hangat. Siapa pun yang melihatnya tidak akan menyangka kalau kehangatan yang saat ini terlihat hanya sebuah sandiwara belaka agar putri mereka bahagia.
__ADS_1
"Kia milih disuapin oleh Bunda atau Papah?" tanya Lucas dengan menatap putrinya yang sangat terlihat kebahagiaan di wajah pucatnya. Zakia nampak berpikir dengan serius.
"Sama Papah deh, tapi Papah bisa suapin Kia tidak?" tanya Gadis kecil itu. Lucas pun terkekeh dengan renyah.
"Wah, gadis kecil ini meremenkan Papah nih. Kamu tidak tahu kalau Papah itu adalah good Dady," kekeh Lucas, sembari mengambil jatah makanan Zakia yang sudah Jiara siapkan. Zakia pun terlihat sangat lahap makan di pagi ini. Padahal biasanya anak kecil itu akan banyak protes ketika diminta makan dengan menu rumah sakit. Zakia akan semakin makan kalau opanya yang masak.
Namun untuk beberapa hari ini Eric dan Elin sudah izin dengan Jiara, dan Zakia kalau mereka tidak akan datang dulu mereka akan mengurus pernikahan Eric dan Darya, dan setelah urusanya beres mereka baru akan membantu menjaga Zakia di rumah sakit sekaligus mengenalkan Darya pada Zakia. Kalau Jiara tentu sudah kebih kenal dengan mamih mertuanya.
"Enak sayang?" tanya Lucas yang mana Zakia terlihat sangat lahap makanya.
"Enak banget Papah, Apa Papah tidak makan?" tanya Zakia dengan suara lirih dan kedua mata yang menangkap bundanya menikmati sarapan mereka dengan sesekali menunduk.
"Nanti saja Papah makanya kalau Kia sudah selesai," jawab Lucas. Lagian laki-laki itu sangat menikmati peranya sebagai seorang papah, baru kali ini dia merasakan menyuapi putrinya, dan itu sangat mengasikkan. Bahkan ia rela melakukan setiap hari dan setiap saat. Namun, kembali ia mengingat kenyataan tidak segampang itu.
Jiara menatap wajah Zakia yang napak memelas itu. "Apa Kia ingin Bunda menyuapi Papah?" tanya Zakia, suara lembut dan masih tenang.
Zakia mengembangkan senyumnya dan mengangguk. "Apa Bunda tidak malah?" tanya bocah kecil itu lagi.
Sakit hati Jiara dengarnya, tetapi dia sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau dia akan mencoba bersikap manis pada Zakia. "Ok, baiklah Bunda akan suapi Papah," balas Jiara, suaranya terlihat bahagia. Begitupun dengan Zakia kedua matanya langsung berbinar sangat terlihat bahagia di wajah pucatnya.
__ADS_1
"Holeh... Bunda telima kasih," ocehnya seolah anak itu tahu betul gimana peraasaan ibunya yang setengah terpaksa melakukanya. Jiara mencium kening putrinya sebagai jawaban kalau dia juga senang melakukan ini semua.
"Papah Aaaa...." Jiara memberi kode pada laki-laki yang saat ini sedang menyuapi dirinya agar mulutnya dibuka untuk mangap. Lucas pun mengikuti apa yang dikatakan oleh putrinya mangap dan Jiara pun menyuapinya dengan tangan.
Zakia nampak sangat bahagia. "Enak Papah?" ocehnya lagi, dia tidak tahu kalau dua orang tuanya dalam dadanya ingin meledak, gerogi dan juga perasaan yang aneh, marah dan bersalah menjadi satu.
"Hemmmzzz... enak sekali Sayang. Terima kasih yah Bunda," ucap Lucas dengan mata yang menatap pada Jiara yang lebih banyak menunduk itu.
Jiara pun mengangkat wajahnya dan menarik bibirnya dengan manis. "Sama-sama." Mereka pun makan bersama pagi ini dengan sangat hangat.
"Bunda, Papah, nanti kita foto baleng yah, buat kenang-kenangan," ucap Zakia masih dengan senyum yang mengembang, tetapi tidak untuk Jiara dan Lucas. Ada rasa takut kalau nanti malah Zakia benar-benar pergi dan foto itu adalah kenag-kenangan kebersamaan mereka. Kelopak mata Jiara memanas ketakutanya selama ini yang mengahmpirinya datang lagi dan dengan rasa yang lebih besar.
Tidak berbeda dengan Jiara Lucas juga merasakan ketakutan, kalau ucapan Zakia adalah pertanda bahwa gadis kecil itu akan pergi meninggalkan kenangan manis yang sementara. Lucas menarik tubuh kecil Zakia dan mencium pucuk kepalanya.
"Kita akan foto bersama dan jalan-jalan ketaman bersama, Kia mau?" lirih Lucas dengan hati yang sudah menagis untuk membayangkan hal itu terjadi saja hatinya sudah sakit dan lemah. Lucas rela menggantikan tubuhnya dan semua yang dimilikinya agar putrinya sembuh.
"Mau Pah," balas si kecil dengan sangat antusias.
"Kalau gitu, badan Kia dibersihkan dulu yah, nanti kita jalan-jalan dan foto bersama sudah cantik," ucap Jiara, suaranya yang berat menandakan kalau dia sangat sedih dengan permintaan Zakia itu. Ketakutanya sangat tinggi, takut Kia tidak bisa melawan sakitnya.
__ADS_1
"Ok Bunda." Zakia pun langsung tahu posisi badanya untuk dibersihkan bahkan biasa anak itu akan meringis ketika pakaianya dibuka dan menyenggol selang infusnya. Dengan perlahan Zakia membuka pakaian Zakia yang terdapat selang infus dibagian tangan kiri agar tidak menyenggol dan membuat sakit di pergelangan tanganya.
Lucas memperhatikan dengan detail dan sesekali membantu apa yang Jia butuhkan, kerja sama yang sangat kompak. Yah, mereka tanpa sadar bekerja sama membersihkan tubuh putrinya dan mengerjakanya tanpa ada hati yang canggung, mengalir begitu saja seperti air mengalir, dan Zakia pun tersenyum dengan teduh ketika melihat papah dan budanya sangat kompak itu.