
Tangis haru mewarnai kepulangan Elin, Eric yang melihat putrinya keluar dari mobil mematung tdak bisa melakukan apa-apa selain bersyukur kalau ia bisa memeluk tubuh putrinya lagi. Cukup lama Eric mengamati wajah putrinya yang baru. "Cantik," lirih Eric.
"Nduk Papah kangen," lirih Eric dengan memeluk tubuh putrinya yang hanya sebatas pundaknya.
"Elin juga kangen banget sama Papah, malah Elin sering mimpiin Papah datang nemuin Elin dengan bawa rantang masakan. Mungkin karena Elin terlalu ingin makan masakan Papah kali yah," kelakar Elin, ia semenjak di dalam mobil sudah berjanji bahwa ia tidak ingin membuat bersedih, sehingga sekarang Elin mencoba mencairkan suasana.
"Ya udah ayok makan, Papah sudah masak makanan sepesial buat kamu, kesukaan kamu." Eric meminta Elin untuk masuk ke rumah, dan ia sendiri akan menemui Arya dan Marni.
"Dokter Arya, Dokter Marni terima kasih sudah membantu semua sampai sekarang Elin sudah kembali lagi dengan wajah yang baru. Om tidak tahu mau ngucapin terima kasih dengan cara apa. Silahkan dokter Arya dan dokter Marni katakan saja kira-kira apa yang ingin saya lakukan untuk membalas budi kalian, pasti Om akan lakukan," ucap Eric dengan menyalami tangan dua dokter itu yang sangat berjasa pada dirinya, terutama Elin.
Tidak tahu jadi apa putrinya apabila tidak ada dua orang dokter itu, yang dengan suka rela mau membantu mendamping putrinya hingga seperti sekarang ini. Padahal Eric bukan orang yang berkecukupan.
"Tidak perlu melakukan apa-apa Om karena ini sudah jadi kewajiban kami sebagai seorang dokter." Marni yang mengambil alih menjawab ucapan Eric, dan pastinya jawaban Arya juga sudah pasti sama.
"Ya udah sebagai tanda terima kasih yuk makan bareng-bareng, pasti laper capek dan Om sudah masak banyak yuk makan, Elin udah siapin pasti di dalam."
Marni dan Arya pun yang memang lapar tidak bisa menolak, terlebih Marni belum pernah menikmati masakan Eric yang Arya dan Elin selalu memujinya sehingga Marni ingin merasakan juga gimana masakan yang dua orang itu selalu katakan kalau rasanya juara.
"Dok, ayo sih ini Elin sudah siapkan untuk makan bersama," ucap Elin, tanganya di gerakan seolah tengah mengajak mendekat.
__ADS_1
"Elin ingat kata dokter kamu jangan kecapean dulu, wajah kamu juga masih bengkak, jadi kamu harus hati-hati dan kalau bisa jangan terlalu banyak bergerak yang menimbulkan keluar keringat, dan hindari panas seperti sinar matahari langsung, setidaknya selama satu bulan ini." Marni mengingatkan kembali apa yang dokter katakan.
Elin yang memang sudah terbiasa dengan pekerjaan pun menyengir memamerkan gigi-giginya yang putih dan bersih.
"Hehehe lupa Dok, abisan udah biasa ngerjain apa-apa suka kebawa dan lupa masih masa penyembuhan," jawab Elin.
"Biar Dok, nanti kalau bandel Om yang akan jewer, pokoknya sekarang Om mau jadi Papah yang galak." Eric pasang badan untuk mengawasi anaknya yang memang sering ceroboh itu.
"Iya tolong yah Om diawasi soalnya memang resiko kalau nanti Elin ceroboh akan cukup fatal, terlebih nanti harus balik lagi ke dokter yang sama, dengan kata lain harus ke negara K lagi, kan cape. Semuanya demi kebaikan bersama Elin jadi kamu jangan bandel yah." Mari meminta Elin duduk di sampingnya. Tentu agar ia tidak canggung duduk bersebelahan dengan Arya. Jantungnya tidak akan baik-baik saja apabila dirinya duduk bersebelahan dengan Arya. Karena pasti akan berkerja lebih cepat untuk memompa darahnya.
Mereka pun menikmati makan bersama yang tentu di masak oleh Eric khusus untuk menyambut kepulangan Elin. Bahagia, itu yang Eric rasakan dan dia akan lebih fokus untuk menjaga buah hatinya. Agar hal seperti kemarin tidak lagi terjadi untuk kedua kalinya.
*****
Sudah satu bulan lebih Jiara menjadi sekretaris Lucas, dan makin hari selain semakin dekat, Jiara juga semakin bisa diandalkan semua kerjaannya, tidak lagi sering merepotkan Alvi, meskipun Alvi akan dengan senang hati membantu Jiara.
Sejak satu bulan ini juga Jiara selalu pulang dan berangkat kerja sendiri, terlebih apartemen Lucas yang di tempati oleh Jiara tidak terlalu jauh dari tempat kerjanya. dan juga itu tandanya hampir satu bulan ini Jiara tidak mengunjungi papahnya, karena kesibukannya yang makin menambah.
Sedangkan Lucas setiap pagi masih mengunjungi mamihnya dan juga apabila pulang kerja, dan badan dia tidak terlalu cape makan Lucas akan kembali mengunjungi Darya. Sebenarnya tidak ada yang dilakukan dengan Darya selain mendengarkan ocehan-ocehan Darya yang kadang Lucas sendiri bingung dengan apa yang diomongkan oleh Mamihnya.
__ADS_1
Namun etah perasaan apa setiap Arya mendengarkan ocehan itu Arya merasakan bahagia yang teramat. Seolah beban, cape dan juga, tekanan pikiranya bisa hilang setelah bertemu dengan Mamihnya.
"Tuan, nanti sehabis jam makan siang kita ada meeting di mall 'Taman Melati', dan ini materi yang akan di bahas dalam meeting tersebut." Jiara memberikan map berisi materi meeting.
"Hemz, nanti kamu apa Alvi yang akan menemani aku meeting?" tanya Lucas sembari meperhatikan Jiara yang menunduk dan dari raut wajahnya sepertinya sekretarisnya itu sedang banyak masalah.
"Alvi, Tuan."
"Kenapa?" tanya Lucas, matanya seolah enggan untuk beranjak dari wajah Jiara, yang Lucas yakin kalau wanita itu sedang ada masalah.
"Karena Alvi yang sudah memegang laporan itu sejak awal, dan apabila saya yang ikut meeting, akan bingung untuk presesntasinya, ditakutkan malah saya akan tersebak dengan pertanyaan klien yang tidak bisa saya jawab dan jabarkan dengan baik.
Lucas menghirup nafas dalam.
"Maksudnya kamu kenapa kelihatanya muka kamu sedih sekali." Lucas menjabarkan pertanyaanya, yang sepertinya Jiara menangkap pertanyaanya dengan pertanyaan yang lain. Kalau Lucas mau Alvi ataupun Jiara yang menemaninya meeting tentu tidak masalah selagi mereka masih bisa diandalkan.
"Oh, maaf Tuan, saya kira pertanyaan Anda tadi menyangkut soal materimeeting yang tadi saya berikan," ucap Jiara buru-buru meminta maaf.
"Hemz... jadi kenapa kamu bisa murung wajahnya, ada masalah dengan kerja, Alvi, karyawan lain atau mungkin dengan Papah kamu?" tanya Lucas, wajahnya sangat penasaran.
__ADS_1
Jiar bingung apakah ia harus bercerita mengenai masalahnya, tetapi Jiara tidak enak karena takut nanti dikira mengemis. Sedangkan yang jadi masalah adalah soal materi, tabungannya sudah habis untuk pengobatan papahnya, tetapi kondisi papahnya masih belum setabi, dan masih memerlukan uang yang banyak agar papahnya bisa mendapatkan perawatan yang baik.