
Lucas duduk dengan menatap laki-laki tua yang saat ini tubuhnya lemah terpejam di atas bed pasien. Di dadanya dan tangan terdapat alat-alat medis yang banyak untuk membantu memberikan kehidupan untuk sang lelaki itu. Dihidung dan mulutnya terdapat selang oksigen yang membantu untuk bernafas.
Tangan Philip bergerak-gerak menandakan kalau ia sudah sadar. Lucas yang duduk lemas dengan cemas memikirkan nasibnya apabila tidak ada Kakeknya akan seperti apa. Ia langsung tersenyum sangat bahagia ketika melihat sang kakek sudah sadar.
"Kek, apa Kakek sudah sadar?" tanya Lucas yang melihat kelopak mata kakeknya juga bergerak-gerak seolah laki-laki tua itu sedang berusaha untuk bangun.
"Dokter..." Lucas segera memanggil dokter dengan menekan tombol emergency, tidak lama pun dokter datang dengan seorang perawat.
"Dok, Kakek saya sudah bangun apa ada sesuatu yang berbahaya?" tanya Lucas dengan menunjuk sang kakek yang matanya sudah terbuka sempurna seolah ia sedang mengamati ruangan yang bagi dia sedikit asing.
"Saya periksa dulu yah Tuan," jawab sang Dokter. Lucas memperhatikan kakeknya yang sepertinya ingin berbicara.
"Dok, Kakek sepertinya ingin berbicara," lirih Lucas tangannya kembali menuju sang Kakek yang nampak seperti akan mengucapkan sesuatu.
Dokter pun membuka selang oksigen yang menutup di mulut Philip. "Lucas, tolong panggil pengacara keluarga," lirih Philip, bahkan untuk mendengar suara itu Lucas harus menempelkan daun telinganya dengan dan memfokuskan pendengarannya dengan sempurna.
"Baik Kek." Lucas tidak menunggu waktu lama langsung menghubungi pengacara keluarganya, yang sering dipanggil bang Sandi. Hati Lucas merasakan tidak tenang dengan ucapan kakeknya ia takut sang kakek akan pergi untuk selama lamanya.
Lucas pun langsung menghubungi pengacara keluarga, Sandy adalah pengacara yang ditunjuk untuk memegang surat-surat penting dan hartanya. Sandy adalah orang yang sangat di percaya oleh Philip. Dan laki-laki yang usianya hampir sama dengan Philip pun langsung menuju rumah sakit begitu menerima info dari Lucas menghubunginya.
"Kakek, apa yang Kakek rasakan? Kakek harus kuat dan harus sehat dan kita akan pulang ke rumah lagi," lirih Lucas dengan suara lembutnya. Ini mungkin obrolan paling lembut antara Lucas dan Philip, setelah beberapa kali Lucas dan sang kakek terlibat ketegangan.
Philip hanya membalas ucapan Lucas dengan gerakan matanya. Kedipan dari Philip beberapa kali menandakan bahwa laki-laki itu akan sembuh dan pulang kerumahnya seperti yang Lucas katakan. Ruangan itu pun sangat sepi ketika dokter dan perawat sudah pergi hanya terdengar mesin kontrol jantung, dan alat-alat medis.
Dokter yang memeriksa Philip mengatakan kalau kondisi Philip sudah mulai stabil, tetapi kondisinya tidak sekuat seperti kemarin sebelum laki-laki tua itu mengalami serangan jantung dadakan yang mengakibatkan tubuhnya lemah dan jatuh pingsan.
Tidak lama setelah menunggu, Sandy pun datang dan dengan hormat memberi salam pada Philip. "Anda memanggil saya Tuan?" tanya Sandy dengan sopan, sedangkan Lucas mendengarkannya dengan seksama sebagai saksi dari obrolan itu.
__ADS_1
"Aku mau, kamu urus surat cerai aku dan Tamara," lirih Philip dan hal itu membuat Lucas kaget sekaligus bahagia, karena kakeknya cepat memberikan respon dan tidak bertele-tele. Sehingga Lucas tidak perlu cape-cape mengawasi Tamara lagi. Ia kan terbebas dari tugas-tugas yang menyebalkan itu.
Sandy tampak terkejut dengan apa yang Philip katakan. "Ada serius Tuan?" tanya Sandy, sebab dari yang Sandy ketahui Philip sangat mencintai Tamara, tetapi kenapa Philip tiba-tiba memiliki pemikiran untuk bercerai dengan istri mudanya itu, itu yang ada dalam pikiran Sandy.
"Udah Om Sandy, ikuti apa kata Kakek," imbuh Lucas yang duduk di belakang Sandy.
"Apa ada lagi yang ingin Anda sampaikan Tuan?" tanya Sandy.
"Jangan beri Tamra harta apapun," imbuh Philip, dan dari ucapan Philip, Sandy sudah tahu kalau pasti ada yang tidak beres dengan Tamara.
Setelah semua yang penting disampaikan pada Sandy, sang pengacara pun pergi meninggalkan Lucas dan Philip dalam ruangan yang sepi itu.
"Lucas," panggil Philip, dan sang cucu pun mendekat kearah kakeknya. "Minta penjaga rumah untuk mengusir Tamara," lirih Philip.
"Baik Kek," balas Lucas, laki-laki itu langsung menjalankan apa yang diperintahkan sang Kakek. Meminta security di rumahnya mengusir Tamara.
*******
Masih di rumah sakit yang sama hanya dibedakan oleh ruangan.
"Lucas ingin bertemu dengan Zakia, apa kamu mengizinkan?" tanya Arya pada Jiara dengan lirih.
Sebenarnya Jiara sudah tidak perlu kaget lagi dengan ucapan Arya, karena memang Lucas adalah ayah biologis dari putrinya. Zakia bagaimanapun adalah anak dari Lucas, sebenci apapun Jiara pada Lucas, tetap laki-laki itu adalah ayah atas putrinya. Dan putrinya sangat membutuhkan kasih sayang dari Lucas.
Cukup lama Jiara diam, ia berpikir ulang atas apa yang Arya katakan.
"Jiara, aku tahu kamu pasti masih marah dan juga masih belum memaafkan perbuatan Lucas, tapi apa salahnya kamu memberikan kesempatan Lucas untuk perbaiki kesalahannya. Mungkin dia adalah laki-laki yang jahat dan kejam yang pernah kamu temuai, tapi bukanya dia adalah ayah yang baik untuk Zakia," lirih Arya. "Maaf kalau aku jadi ikut campur dengan urusan pribadi kalian. Aku hanya kasihan dengan Lucas dan Zakia.
__ADS_1
"Datanglah, kapanpun dia mau, datanglah!" balas Jiara dengan suara beratnya. Wanita itu sedang berusaha damai dengan keadaan.
"Kamu serius, gimana kalau dia datang saat ini apa kamu mengizinkannya?" tanya Arya ulang, laki-laki itu juga merasakan bahagia ketika Jiara akhirnya mau mengizinkan Lucas untuk mengunjungi putrinya.
"Apa laki-laki itu ada di sini, saat ini?" tanya Jiara balik.
"Iya, Kakeknya tadi jatuh pingsan, dan saat ini sedang dirawat di rumah sakit ini juga," balas Arya, dan di jawab oleh Jiara dengan hanya O saja, sebagai tanda bahwa ia tahu dengan apa yang dikatakan oleh Arya.
"Kalau begitu aku akan panggil Arya dan aku akan berjaga sebagai ganti," ucap menjaga Kakeknya," ujar Arya dan laki-laki yang menyandang sebagai dokter itu pun bangun.
"Dokter Arya, apa itu tandanya aku hanya akan berdua dengan Lucas. Ah, maksud saya bertiga dengan Kia dan Lucas?" tanya Jiara dengan hati yang bergemuruh hebat.
Arya menatap heran pada Jiara yang nampak seperti ketakutan, "Apa itu tandanya kamu meminta aku untuk tetap di sini?" lirih Arya.
"Aku hanya takut aku tidak bisa mengontrol emosiku pada Lucas di depan Zakia," balas Jiara dengan tatapan yang menunduk.
"Baiklah aku akan telpon Lucas kalau gitu, mungkin Philip akan di jaga oleh perawat untuk sementara waktu Lucas kesini." Arya mengambil ponselnya dan menghubungi sepupunya itu.
[Jiara mengizinkan kamu bertemu dengan Zakia, cepatlah datang sebelum Jiara berubah pikiran,] pesan yang dikirimkan Arya pada Lucas.
[Aku tidak bisa menggantikan kamu untuk menjaga Philip, karena Jiara tidak mengizinkannya. Istri kamu takut kalau dia tidak bisa menjaga emosinya pada kamu.] Pesan kedua yang dikirimkan oleh Arya pada Lucas.
Dan Lucas di ruangan berbeda yang membaca pesan singkat itu pun langsung tersenyum dengan sempurna. Kedua matanya menatap pada kakeknya yang sudah terpejam.
"Kek, Lucas ada urusan sebentar dengan Arya, untuk sementara waktu kakek yang akan jaga perawat, apa kakek keberatan?" tanya Lucas dengan suara lirih, dan Philip yang belum benar-benar tertidur pun membuka matanya.
"Pergilah, Kakek tidak apa-apa," balas Philip dengan suara lemahnya dan gerakan kepala yang mengangguk.
__ADS_1