
Lexi berjalan dengan lemas setelah menemui dua dokter, hatinya semakin tidak karuan. Perasaanya yang awalnya akan bahagia karena telah bertemu dengan calon buah hatinya, nyatanya Lexi justru semakin di hantui oleh perasaan bersalah. Dia tidak bisa melanjutkan langkah kakinya untuk berjalan. Kursi yang ada di pojok menjadi tempatnya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lemas.
Rasanya, seolah jiwanya setengah pergi, sesak karena digerogoti oleh perasaan bersalah. Penyesalan yang tidak tahu gimana cara untuk menembusnya. Tubuhnya bergetar hebat, setiap membayangkan bagaimana sakit yang diderita Elin. Dokter Eki sudah menjelaskan semuanya. Bagaimana gambaran sakit yang Elin rasakan selama ini.
"Aku harus datang dan mengakui kesalahku semuanya dan meminta pengampunan pada Elin dan keluarganya. Diterima atau tidak itu urusan belakangan yang terpenting saat ini aku harus tunjukan kalau aku menyesal. Apabila hanya diam saja aku yakin Elin tidak akan tahu kalau aku menyesal atas perbuatanku." Lexi menguatkan hatinya.
Setelah ia merasa yakin dan kuat, kini laki-laki itu kembali lagi mengayunkan kaki dengan setengah tertatih, tetapi sebelum mengunjungi Elin, lebih dulu Lexi ingin menemui Lucas. Ada banyak yang ingin Lexi ceritakan tetang keluarganya terutama tentang Elin.
******
"Papah, Mamah mau ke mana?" tanya Elin yang melihat kedua orang tuanya rapih dan membawa rantang, seolah mereka akan menjenguk keruaga yang sedang sakit. Eric dan Darya saling lirik, mereka bingung mau menjawab apa. Namun tiba-tiba Elin tersenyum dengan manis.
"Kalau begitu kalian hati-hati di jalan," imbun Elin, wanita dengan perut buncit itu seolah paham betul kalau kedua orang tuanya akan menemui sodara kembarnya.
"Elin tidak apa-apa. Bukankan dia juga anak kalian. Elin tidak akan marah," lirih Elin ketika melihat kedua orang tuanya seolah merasa bersalah.
"Kalau begitu kami pergi yah," balas Darya, dengan suara yang terdengar kurang bersemangat. Jiara yang ada di samping Elin hanya bisa memberikan kekuatan dengan menggenggam taangan Elin, dan wanita hamil itu pun memberikan senyuman pada kakak iparnya.
"Elin tidak apa-apa. Kakak tenanglah. Mungkin sudah saatnya Elin membuka pintu maaf," lirih Elin, sontak saja Jiara langsung menatap Elin dengan tatapan yang heran. Perasaan Jiara justru tidak tenang ketika tiba-tiba Elin pasrah sekali dengan takdir ini. Dan dengan hati yang terbuka ingin memaafkan sodara kembarnya.
__ADS_1
"Elin, apa kamu sakit? Kenapa kamu ngomongnya seperti itu, Kakak merasa lain dengan kamu," lirih Jiara sembari mengelus tangan Elin. "Kamu tidak lagi sakit kan, atau kamu menyembunyikan sesuatu. Selama ini kamu sering bilang nyidam ternyata ada sesuatu sakit yang kamu rahasiakan?" cecar Jiara yang sejak beberapa waktu terakhir ia melihat kalau Elin sangat berbeda.
Seperti yang sudah-sudah Elin tersenyum dengan tenang. "Kakak itu ngomong apa sih. Elin sehat-sehat saja. Soal ngidam dan sakit perut itu memang murni ngidam tidak ada yang Elin tutup-tutupi. Perihal memaafkan Lucas. Elin hanya teringat apa kata Papah. Sejauh apapun Elin bersembunyi pada ujungnya dan kenyataanya kita tetap sodara. Kita tetap akan bertemu suatu saat nanti. Hanya waktu yang menentukan akan cepat atau lambat. Elin memang bisa bersembunyi dan Elin juga bisa berlari, tetapi itu hanya akan membuang tenaga Elin saja. Pada kenyatanya usaha Elin akan sia-sia. Kita pasti bertemu."
Jiara terus menatap Elin dengan tenang dan tidak sedikit pun Jiara melihat Elin yang sedih. "Kakak ikut senang kalau pada akhirnya kamu memaafkan Lucas. Jujur Kakak juga marah dengan dia, tetapi kembali lagi. Manusia hanya menjalankan sekenario yang Allah berikan. Pahit, manis harus kita telan, beginilah roda kehidupan tidak ada yang mulus." Jiara menghentikan ucapanya. Kelopak matanya menghangat, dan ketika dia harus mengingat lagi kejadia-kejadian kelam menimpanya.
Elin pun tahu kesedihan Jiara, dan ia pun hanya diam menyimak kakak iparnya bercerita. Mereka memang selama ini dekat, tetapi tidak pernah saling bercerita, terutama masalah kesusahan mereka. Perlu Elin ketahui Jiara pun tidak mudah sampai bisa menerima Lucas tetap menjadi suaminya setelah dia tahu bahwa Lucas lah orang yang telah memperkosanya. Ia ingin Lucas menghilang darinya, tetapi dia juga tidak bisa egois anaknya butuh papah kandungnya. Serta, Jiara selalu berperinsif bahwa lebih baik orang jahat yang bertaubat dari pada orang baik yang tidak tulus.
"Sebagai sama-sama korban pelecehan aku juga tahu apa yang kamu rasakan. Meskipun nasibku mungkin bisa dikatakan aku lebih baik dari kamu, karena aku tidak menjadi korban kekerasan juga seperti yang kamu rasakan, tetapi nasib kita tidak jauh berbeda Elin. Kamu mungkin lebih beruntung ketika kamu terjatuh kamu masih ada orang tua, Papah kamu benar-benar ada untuk kamu hingga Tuhan ganti kesedihan kamu dan kesabaran kamu dengan keluarga yang sangat sayang pada kamu. Sedangkan aku? Aku harus tertatih mencari tempat untuk berteduh dengan kondisi hamil. Tidak gila saja aku bersyukur. Papahku sejak ibuku meninggal depresi aku pun sama, tetapi saat aku mencari kebahagiaan aku dijebaak hingga aku dilecehkan oleh Lucas dan hamil Zakia. Terlaunta-lunta di jalanan. Kalau Tuhan tidak sayang denganku mungkin aku sudah mati. Entah berapa kali aku mencoba bunuh diri, tetapi Tuhan selalu menyelamatkan aku. Tidak hanya itu Zakia pun entah berapa kali aku mencoba menggugurkan dia, tetapi Tuhan lagi-lagi juga memberikan pertolongan hingga sampai detik ini. Aku tidak bisa melupakan semua perjalananku. Hari demi hari aku masih sangat ingat bagaimana perjalan hidupku yang penuh perjuangan. Kakak yakin kamu juga pasti akan memikirkan hal yang sama denganku. Lebih baik memaafkan dari pada memelihara dendam. Hati kita yang sakit."
Jiara menitikan air matanya ketika dia mengingat lagi kebodohanya waktu itu. Bukan hanya Jiara yang menangis Elin pun menangis ketika mendengar cerita Jiara yang Elin tidak menyangka bahwa perjalanaya pun sangat berat.
"Elin pikir hanya kisah Elin yang paling sedih ternyata Kakak juga tidak kalah sedih." Elin memeluk Jiara dengan hangat.
Senyum tenang terlihat dari wajah cantik Jiara. Elin sejak tadi terus menyimak apa yang Jiara katakan. Kagum, itu yang ada dalam pikiran Elin.
"Elin ingin seperti Kak Jiara yang bisa menerima dengan takdir ini begitu ikhlas. Benar yang dikatakan Kakak. Ketika kita tidak bisa memaafkan hati juga tidak tenang. Kak... Ajarin Elin untuk ikhlas seperti Kakak. Elin juga ingin tenang hidup seperti orang normal, bukan pendendam, tetapi kadang hati masih belum ikhlas. Ketika sakit yang kita rasakan begitu hebat, tetapi kita hanya membalasnya dengan maaf. Elin masih belum ikhlas," isak Elin.
Jiar mengusap punggung Elin dengan lembut. "Kakak tahu apa yang kamu rasakan. Tapi percayalah, kita memang memaafkan tanpa memberikan hukuman, tetapi mereka sudah merasakan terhukum. Mereka saat ini sedang merasakan hukuman dari Tuhan. Dan ketika kita memaafkan mereka juga sedang merasakan hukuman. Tuhan sangat tahu gimana caranya menegur hambanya."
__ADS_1
"Terima kasih sudah memberikan Elin nasihat yang sangat berharga ini. Elin akan mencoba pasrah seperti Kakak, dan ikhlas atas apa yang seharusnya Elin jalani." Mereka pun berpelukan untuk saling menguatkan.
*********
Lucas duduk dengan sangat Lesu, tubuhnya sangat berbeda jauh dari sebelumnya. Berat badanya berkurang banyak. Rambut yang gondrong dan wajah yang kusam sudah menujukan bahwa dia di dalam sana laki-laki itu sudah tersiksa.
"Sampai kapan loe akan seperti ini? Apa belum cukup empat bulan hidup di dalam penjara? Apa loe tidak kasihan dengan anak dan istri loe?" Lexi yang awalnya akan curhat dengan masalahnya justru malah menasihati Lucas yang semakin memprihatinkan kondisinya.
Lexi masih terpikirkan apa ucapan Arya dan juga Philip yang takut kalau Lucas malah jadi depresi dan jatuhnya kejadian seperti Darya terulang lagi. Karena ia yang terus-terusan merasa bersalah.
"Kabar keluarga gue gimana?" lirih Lucas pada Lexi.
"Kenapa tidak loe saja yang datang keluar dari tempat ini dan melihat kondisi keluarga loe," lirih Arya Lexi.
"Gue belum siap," balas Lucas dengan enteng.
"Siapnya sampai kapan? Apa loe pikir gue siap dengan kejutan ini semua? Sama gue juga tidak siap. Tapi setidaknya gue bukan pengecut yang bersembunyi di balik penjara tanpa mau meperjuangkan sebuah maaf, tanpa mau memperbaiki keadaan."
"Gue bingung harus memulai dari mana Lex. Gue tidak tahu harus memulai dari mana semuanya memusuhui gue. Semuanya membenci gue," lirih Lucas, dengan nada yang pasrah.
__ADS_1
"Siapa yang bilang seperti itu?" Suara yang tiba-tiba datang membuat Lucas san Lexi mengaangkap wajahnya secara serentak.
Suara siapa kura-kura?