Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 237


__ADS_3

"Udah ah, jangan nangis terus, aku tidak suka kalau bermelow-melowan. Lebih baik kamu istirahat kih, aku juga mau istirahat," ucap Elin yang mengusir lebih dulu agar Lucas istirahat, dan wanita itu pun mulai beranjak dari duduknya. Apalagi dia juga masih dalam tahap penyembuhan sehingga dia harus benar-benar menjaga kesehatanya.


"Ok, baiklah selamat istirahat siang yah," balas Lucas. Elin pun hanya membalas dengan anggukan samar, dan bersiap untuk kembali ke kamarnya lebih dulu. Namun, baru juga beberapa langkah. Lucas sudah menahanya lagi.


"Lin, aku dengar kamu sebentar lagi akan menikah dengan Lexi, selamat yah," ujar Lucas dengan memberikan senyum terbaiknya. Sembari berjalan mengimbangi Elin.


"Yah, gara-gara kamu, dan kejadian malam itu aku harus menikah dengan teman kamu," balas Elin dengan santai, setengah berkelakar.


"Tapi kamu suka kan? Atau hanya terpaksa, kalau terpaksa lebih baik jangan, takutnya kamu tidak bahagia." Lucas hanya terlalu takut kalau Elin akan kembali menderita.


"Kalau soal itu, coba kamu tanyakan pada Kak Jiara, apakan dia bahagia memilih tetap bertahan dengan kamu? Bukankah kesalahan kamu dan Lexi hampir sama, dan juga nasib aku dan Kak Jiara sama, apakah dia bahagia? Kalau dia bahagia aku pun sama bahagia, kalau dia tidak bahagia, maka kamu juga tinggalkan Kak Jiara." Elin tertawa dengan sinis, ketika tahu kalau Lucas tidak bisa menjawabnya.


Pertimbanganya menikah dengan Lexi, bukan hanya semata bahagia atau tidak, banyak yang Elin pertimbangkan tentunya soal kebahagiaanya, yang Elin yakini Lexi tidak akan melakukan kesalahan untuk kesekian kalinya dan membuat Elin kecewa, dan untuk Eril yang butuh dukungan dari orang tuanya, termasuk papahnya.


Kini Lucas pun duduk seorang diri di taman belakang, merenungi perkataan Elin. Cukup lama dia berdiam untuk kembali mengingat-ingat cerita Jiara yang sangat berat untuk menghadapi masalah hidupnya karena ulahnya dulu. Setelah cukup untuk mengngat-ingat kesalahanya. Kini Lucas berjalan dengan setengah berlari menuju kamar pribadinya.


"Brakkk... Lucas mendorong pintu cukup keras di mana Jiara baru saja selesai melakukan ibadahnya.

__ADS_1


"Mas, kamu apa-apaan sih, nanti kalau Zakia bangun bagaimana?" dengus Jiara dengan menatap Zakia yang terusik karena suara benturan pintu yang cukup keras. Namun Lucas bukanya mendengarkan apa yang Jiara katakan justru langsung menghambur dan memeluk Jiara dengan kuat.


"Mas, kamu kenapa sih? Kenapa kamu sepertinya sangat aneh sekali," ucap Jiara, tetapi wanita itu tetap membiarkan Lucas memeluknya.


"Maafkan aku... aku sangat bersalah dengan kamu," racau Lucas dengan terus memeluk tubuh sang istri, hingga wanita itu tidak bisa berapihkan alat ibadahnya.


"Iya, aku akan maafkan, tapi maaf yang mana dulu?" tanya Jiara sembari berjalan dan duduk di sofa, tentunya dia seperti kebiasaan sebelumnya setelah beribadah selalu membaca buku-buku yang membuat ia makin mendekatkan diri dengan Penciptanya.


Meskipun Lucas menempel terus menerus, tetapi Jiara tidak terganggu dengan itu, dan wanita itu tetap fokus dengan buku yang ada di atas tanganya.


"Aku minta maaf soal malam kelam kamu saat itu, dan juga aku  minta maaf atas semua  kesusahan kamu yang telah aku perbuat, aku yang membuat kamu menderita selama ini," ucap Lucas dengan suara yang bergetar dengan hebat seolah laki-laki itu menunjukan penyesalan yang teramat dalam.


Namun, Zakia saja bisa memaafkan aku dan tentu juga dia pasti bisa memaafkan kamu," ucap Jiara dengan mengusap rambut Lucas yang masih memeluknya.


"Mari kita bersama-sama kita melangkah untuk belajar bersama kesalahan kita dan juga kita belajar agar kita saling memperbaiki keluarga kecil kita," ucap Jiara. Lucas pun menggenggam tangan sang istri.


"Aku berjanji akan berusaha menjadi orang yang baik dan bertanggung jawab, dan menebus semua kesalahan yang pernah aku perbuat." ucap Lucas dengan sangat yakin, dan dibalas dengan senyum teduhkan dari sang istri.

__ADS_1


"Aku senang mendengarnya, kamu yang sekarang sangat jauh dengan kamu yang dulu. Kamu yang sekarang mau memperbaiki kesalahan. Semoga kamu tidak pernah merasa puas yah. Ingat aku akan sangat marah kalau apa yang kamu katakan kali ini adalah isapan jempol semata." Jiara memberikan tatapan yang tajam, sebagai tanda bahwa Lucas jangan sampai macam-macam lagi.


"Apa kalau kamu sekarang sudah siap? Aku ingin..." bisik Lucas dengan mermanja-manja di atas pangkuan sang istri.


"Harus sekarang yah? Ingat kamu saja baru sembuh dari sakit. Bukan aku tidak mau melayani kamu, tapi kamu takutnya sakit lagi," balas Jiara dengan menunjukan wajah cemasnya.


"Pelan-pelan saja Sayang, kita bisa coba dari gaya yang ringan," balas Lucas dengan tatapan yang memohon.


"Tapi nanti kalau kamu sakit lagi bagaimana?" Jiara hanya memastikan saja.


"Kalau aku merasakan sakit maka aku akan menghentikanya, dan kita di lanjut lain waktu kalau aku sudah benar-benar sembuh."


Cukup lama Jiara mencoba untuk berpikir mengambil keputusanya. "Bagaimana kalau di tahan dulu. Sekali lagi bukan karena aku yang tidak mau melayani kamu tetapi ini terlalu beresiko. Aku taku kamu kenapa-kenapa. Aku sudah sayang banget sama kamu. Aku takut kamu kenapa-kenapa bagaimana kalau ditahan dua hari lagi acara kita menikah biar lebih terkesan jadi penganti baru benara," tajar Jiara.Meskipun dia juga ingin dan wanita itu juga tidak tega dengan menolak keinginan suaminya.


Kali ini Lucas yang diam cukup lama. "Ok kalau gitu aku akan sabaar demi malam pertama," balas Lucas, tetapi mencuri ciuman dari bibi ranum sang istri siapa sih yang kuat dengan suguhan yang sangat menggoda itu.


"Hist.. kamu itu nakal yah. Nanti anak kamu lihat," kelakar Jiara sembari mengusap bibirnya yang semakin merah karena kejahilan suaminya.

__ADS_1


"Zakia akan diam dan memaklumi apa yang terjadi pada Bunda dan Papahnya." Lucas pun menggunakan kesempatan untuk bercerita dengan hangat bersama sang istri. Hingga rasa lelah yang membawa dirinya tertidur bersama dengan Zakia dan Jiara.


"Kalau aku berbuat salah tegur aku. Hingga aku bisa kembali berjalan di jalur yang benar," ucap Lucas tidak


__ADS_2