
Laki-laki yang saat ini umurnya sekitar tujuh puluh tahun itu mematung, kedua matanya masih menatap lebar pada layar monitornya yang sedang menunjukan bukti-bukti perselingkuhan istrinya, dan bukti-bukti itu Lucas kumpulkan mulai dari rekaman CCTV dan juga ada mata-mata yang sengaja Lucas bayar untuk mengamati setiap kegiatan yang Tamara lakukan.
Sudah jelas Philip terkejut dengan semua yang ia lihat. Tamara yang laki-laki itu kenal, baik, sabar dan tentunya setia, pandai memuaskan dirinya. Ternyata tidak ada bedanya dengan seorang wanita kupu-kupu malam. Eh salah bukan kupu-kupu malam saja, tetapi juga lintah darat yang menjelma sebagai seorang ratu dalam hatinya.
"Kek, apa Kakek baik-baik saja?" tanya Lucas, ketika ia tidak melihat reaksi apa-apa dari Philip. Laki-laki yang matanya masih menatap layar ponsel justru seperti terkejut yang sangat parah, sehingga tidak bisa memberikan reaksi lain selain diam dan menonton setiap adegan dari layar ponselnya.
Lucas, menepuk pundak Philip, bahkan mungkin Lucas harus menepuk pundak Philip hinga lima kali baru laki-laki itu sadar, dan begitu tersadar pun Philip masih terlihat kebingungan dan seperti tanpa ekspresi.
"Kakek, apa ada yang salah dari yang Lucas berikan bukti-bukti itu, kalau memang ada yang Kakek kurang, Lucas masih ada bukti yang lain dan Lucas yakin kalau Kakek pasti akan penasaran dengan apa yang terjadi dengan Tama." Lucas, terus memancing agar Philip memberikan respon pada yang terjadi pada Tamara.
Brugggg... Philip pingsan, padahal Lucas tidak melihat tanda-tanda kalau Philip itu sedang sakit. "Kek..." pekik Lucas, dan laki-laki yang bertubuh kekar itu langsung membawa tubuh Philip yang ternyata sudah pingsan, dan tubuhnya juga seketika dingin.
Dalam pikiran Lucas dihantui rasa ketakutan, gimana kalau kakeknya tidak sadar juga, atau malah tidak akan sadar, nanti pasti Tamara akan menekan Lucas, untuk bisa membagi harta mereka. Dan it tandanya rencana mereka berhasil
"Ya Tuhan, layaklah aku berdoa?" lirih Lucas dalam batinnya. Ia terlalu merasa hina dihadapan Tuhan. "Tuhan, aku ingin Engkau memberikan kesempatan Kakek untuk tetap menjalani hidupnya setidaknya agar Kakek bisa menyelesaikan masalah mereka nantinya. Dan Kakek tahu kalau wanita yang selama ini mendampinginya adalah wanita yang tidak layak untuk diperjuangkan olehnya," batin Lucas. Ia langsung melajukan kendaraanya menuju rumah sakit tempat Arya bekerja.
Di lain tempat Arya justru semakin di buat pusing dengan telepon yang barusan ia terima.
__ADS_1
"Kenapa harus Lucas membawa Philip ke rumah sakit ini? Bukankah rumah sakit banyak, kenapa coba meski rumh sakit ini," batin Arya dengan mengacak-acak rambutnya. Baru saja ia akan membawa Darya untuk bertemu dengan Eric, tetapi rencananya akan gagal dengan datangnya Lucas ke rumah sakit ini.
"Kamu kenapa?" tanya Marni yang melihat wajah kekasihnya berbeda.
Arya mengangkat wajahnya, ketika di ambang pintu ruangannya ada Marni. "Lucas, dia akan datang ke sini, Philip jatuh pingsan dan sepertinya aku tidak akan ikut bersama kalian untuk menemui Tante Darya," lirih Arya dengan tidak bersemangat.
"O... tidak apa lah kita berangkat sendiri, bukanya sudah biasa kamu urus saja Lucas, karena kalau kamu pergi malah dia akan curiga," balas Marni, di mana wanita itu sudah biasa dengan tugas semacam ini. Justru hubungan Marni dengan keluarga Elin dan Jiara sudah sangat dekat. Dan janji Arya adalah setelah masalahnya selesai maka ia akan datang kekeluarga Marni untuk menikahi wanita itu. Ia layak dijadikan ratu, karena kesabarannya ia pantas untuk dibahagiakan oleh Arya.
Arya membalas dengan senyum bangga. "Kalau begitu terima kasih dan salam untuk Tante Darya yah," lirih Arya dan laki-laki itu akan menunggu Lucas di ruang IGD.
"Akan aku sampaikan, dan semoga semua kerja keras kita berjalan dengan lancar yah." Marni pun sama meninggalkan Arya untuk ke rumah Eric dan selanjutnya menyusul Elin di rumah sakit jiwa, tempat mamahnya di rawat. Namun, seperti biasa Marni akan mampir di ruangan Zakia dulu, untuk sekedar menyapa anak kecil yang menggemaskan itu.
Pertemuan ini bukan hanya rencana Arya tanpa pertimbangan yang matang, tetapi ini sudah atas saran dari Diki selaku dokter penanggung jawab Darya.
Diki sudah melihat kalau Darya memang sudah bisa mengontrol emosinya dan dia tidak akan melukai dirinya ataupun orang lain.
Sehingga dihari ini ia sudah sangat yakin kalau Darya bisa dipertemukan dengan Eric, mantan suaminya yang sangat dicintainya.
__ADS_1
******
Lucas langsung berjalan dengan cepat membopong tubuh sang kakek yang sudah semakin lemah, dan Arya pun langsung menyambut kedatangan Lucas dengan team medis yang sudah mempersiapkannya dengan sangat baik. Arya dan team dokter yang lain langsung melakukan tugasnya. Sedangkan Lucas sendiri mengurus segala keperluan kakeknya dari kamar adminitrasi dan lain sebagainya. Setelah semuanya beres Lucas pun duduk termenung.
Laki-laki itu masih syok, menyesal juga takut ada apa-apa dengan kakeknya. ia tidak memikirkan bahwa semuanya akan berakhir seperti ini. Yah, inilah kecerobohan Lucas selalu melakukan apa-apa tanpa mempertimbangkan akibatnya. Dan lagi, semuanya terulang kembali. Bagaimana kalau memang kakeknya meninggalkan dia, itu yang sejak tadi ada dalam pikiran Lucas.
Lucas termenung rasanya ia benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa tanpa sang kakek, padahal selama kebersamaanya dengan kakeknya selama ini, Lucas tidak banyak melakukan kegiatan yang berati, justru Lucas dan Philip seperti orang yang tidak saling kenal. Berbicara seperlunya saja.
Entah berapa jam Philip masih mendapatkan perawatan, Lucas hanya bisa diam sembari terus berpikir, sembarikakinya terus digoyangkan seolah ia sedang mengurangi kegugupannya.
"Kek, bertahanlah!! Kakek pasti bisa melewati ini semua Lucas berjanji ini adalah kali terakhir Lucas membuat gara-gara," batin Lucas di dalam hatinya.
"Udah, jangan terlalu cemas Kakek Philip sudah dalam keadaan stabil dan beliau sebentar lagi akan dipindahkan keruangan rawat inap. Memang ada apa kenapa bisa Philip seperti ini?" tanya Arya dengan meletakan bokongnya di samping Lucas.
Lucas mengangkat wajahnya dan memberikan senyum yang terpaksa. "Apa semuanya akan baik-baik saja?" tanya Lucas dengan perasaan yang masih terlihat dengan jelas kecemasannya.
Arya mengangguk. Dia terkena serangan jantung ringan, dan tidak sampai mengakibatkan hal yang berarti. Hanya kaget, tetapi semuanya masih aman. Apa yang terjadi, kenapa Philip bisa sampai seperti itu?" tanya ulang Arya, pertanyaan yang belum dijawab oleh Lucas.
__ADS_1
"Soal Tamara," lirih Lucas, dadanya bergemuruh ingin rasanya membuat perhitungan dengan siluman itu.