Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 231


__ADS_3

Pagi hari menyapa, sinar mentari pun memancarkan cahayanya dengan sinar yang cerah dan hangatnya pagi berhasil mengusik seorang laki-laki yang hari ini akan melangsungkan lamaran. Yah, dia adalah dokter Arya.


Di rumah mewahnya, dengan tubuh setengah telanjang, Arya memicingkan sebelah matanya menatap sinar matahari yang masuk ke dalam kamarnya, sehingga membuat tubuhnya terasa hangat.


"Pantas saja, berasa berjemur ternyata gordeng sudah di buka dengan lebar," gerundel Arya, lantas saja cahaya mentari membuat tubuhnya hangat. Apalagi pendingin  ruangan ternyata sudah dimatikan Ah, siapa lagi pelakunya kalau bukan  kanjeng mamih.


Arya melihat jam di ponselnya."Ya Tuhan pantas tubuhnku terasa dibakar sinar matahari ternyata sudah pukul sepuluh," gumam Arya di mana laki-laki itu langsung loncat dari tempat tidurnya dan membersihkan diri dan bersiap. Ah, bahkan Arya sudah menyiapkan kupingnya, di mana pasti kanjeng mamih bakal berpidato panjang kali lebar.


Kini Arya baru ingat yang ternyata dirinya dari tadi pagi dibangunkan tetapi memang dasarnya dia adalah laki-laki yang sayang dengan tempat tidur sehingga matanya terasa berat belum juga semalam dia berteleponan dengan calon istrinya membuat Arya tidur telat.


"Mih, maaf aku telat," pekik Arya dengan berjalan setengah berlari menyusuri anak tangga.


"Apa kamu pikir kami tidak ada kerjaan Arya, sampai kamu selalu seperti ini?" Aryo, sang papih pun langsung menunjukan kemarahanya. Bagaimana tidak, Aryo sudah pasti marah. Acara yang sudah mereka sepakati adalah pukul sepuluh, tetapi pukul sepuluh lebih sepuluh menit sang anak baru bangun. Dan alhasil sekarang sudah pukul sebelas mereka masih di rumah.


Selain malu mereka juga jadi membuang waktu yang berharga hanya untuk menunggu Arya.


"Iya  maaf Pih, Arya benar-benar lupa tidak menyalakan alarm," elak Arya dengan wajah yang penuh dengan penyesalan. Sontak saja Dinda selaku mamihnya yang sejak pukul delapan sudah membangunkan putranya angkat bicara.

__ADS_1


"Bukan kamu tidak menyalakan alarm, tapi memang kamu yang tidak serius dengan hubungan ini, sehingga kamu menganggap sepele. Mamih sudah lebih dari lima kali naik ke kamar kamu untuk membangunkan kamu, tapi kamu tetap tidak bangun juga. Awalnya mamih bakal siram kamu pakai air satu ember, tapi mamih ingat kalau itu hanya membuat bibi cape dengan pekerjaan baru yaitu mengeringkan kasur jadi mamih biarkan kamu bangun dengan sendirinya. Mamih hanya ingin lihat seberapa seriusnya kamu untuk melangkah kehubungan ini, dan ternyata kamu hanya menganggap ini tidak penting." Dinda langsung memberikan pelajaran untuk putranya yang dari pagi mengetes kesabaranya.


"Iya Maaf Mih. Tapi Arya serius kok dengan hubungan kita, bahkan serius sekali. Memang semalam Arya tidur telat jadi bangun kesiangan," balas Arya dengan wajah yang mengiba.


"Kamu pernah tidak memposisikan diri dikeluarga Marni, dia pasti juga malu dengan kerabat mereka yang ternyata kita datangnya telah dan juga dia pasti kecewa karena berpikir kamu hanya main-main dengan acara tunangan ini. Kamu tidak pernah mau tahu bagaimana perasaan orang lain jadi seperti ini efeknya." Dinda masih terus menasihati anaknya yaang telah membuat malu. Dan Arya pun terlihat sangat menyesali perbuatanya. Bahkan dia tidak pernah ada niat membuat Marni dan keluarganya kecewa.


"Ya udah ini mau dilanjut atau tidak? Kalau tidak Papih akan pergi kerja saja," imbuh Aryo dengan  menunjukan wajah kecewanya pada Arya.


"Lanjut dong Pih, kan ini memang yang Arya tunggu." Dengan wajah yang masih marah akhirnya Dinda dan Aryo kembali menujukan niatanya. Melanjutkan pertunangan putranya.


Sementara itu di tempat lain di sebuah rumah yang cukup sederhana. Dari pagi rumah yang biasanya sepi, tapi di pagi ini dari matahari baru mengintip bumi rumah sederhana ini sudah ramai dan  para tetangga dekat pun berdatangan untuk membantu menyiapkan acara yang tuan rumah adakan yaitu pertunangan putri mereka. Memang keluarga Marni yang terkenal ramah sehingga banyak yang  dengan senang hati membantu acara mereka.


[Sayang, kayaknya acara hari ini di undur sampai habis duhur saja yah, lihat calon suami kamu jam segini masih pulas tertidur,] Marni membaca pesan yang calon ibu mertuanya kirimkan. Jujur Marni sedikit kecewa dengan keputusan mereka, tetapi juga Marni kasihan dengan Arya yang terlihat sangat cape. Itu bisa Marni lihat dari cara Arya tidur.


[Ya udah Mih, Marni akan kasih tahu Bunda,] Itu adalah pesasan balasan yang Marni tulis untuk sang calon mamih mertua.


Yah, jadi sebelum orang tuan Arya benar-benar malu karena kelakuan anaknya yang super kebluk, mereka sudah meminta izin untuk mengundur acara sampai habis duhur, agar banyak waktu untuk Arya istirahat, tapi tentunya mereka ingin tahu juga keseriusan Arya untuk menyiapkan pernikahan.

__ADS_1


Orang tua Arya tentu sangat bahagia ketika Arya mengabarkan bahwa putranya akan menikah di mana Arya adalah anak ke dua satu kakak perempuan sudah menikah dan sudah tinggal terpisah meskipun masih sering menginap di rumah orang tua Arya, sedangkan adiknya yang bernama Lily sudah meninggal, karena kecelakaan itu yang membuat mereka terlihat sangat sedih, di hari bahagia ini tidak ada Lily.


Dan tentu dengan kabar bahagia ini, orang tua Arya kembali bersemangat terlebih Marni adalah anak yang baik dan ramah, serta sederhana.


Arya cukup kaget ketika di rumah Marni masih sepi, perasaanya semakin tidak enak. Arya berpikir kalau tamu-tamu yang akan menjadi saksi saat pertunangan nanti nyatanya sudah pada pulang.


Namun, itu hanya dugaan Arya saja tentunya, nyatanya tamu-tamu itu bukan sudah pulang melainkan belum datang.


"Kamu bisa lihat kan, rumah calon istri kamu sudah sepi dan itu tandanya dia sudah pada pulang." Rupanya Diana terlalu suka membuat sang putra tersudutkan. Benar saja wajah Arya kembali nampak muram hal itu karena dia benar-benar menyesal. Kakinya terasa berat untuk melanjutkan masuk ke dalam rumah Marni. Arya juga tidak sanggup membanyangkan kecewanya keluarga Marni nantinya.


"Udah Mih, kita masuk saja Yu. Mudah-mudahan mereka tidak marah dengan kita." Justru kali ini Aryo yang tidak tega melihat wajah putranya yang terlihat sangat menyesal itu dan istrinya justru masih terus melanjutkan dramanya.


Dengan langkah kaki yang benar-benar berat Arya pun mengikuti ucapan sang papih masuk ke dalam rumah Marni, meskipun hatinya bergemuruh dan rasanya tidak tega melihat wajah-wajah kecewa dari keluarga calon istrinya.


Namun, yang Arya lihat justru sebaliknya keluarga Marni masih menyambutnya dengan ramah dan hangat. Hingga Arya menitikan air mata karena senang ketakutanya tidak terjadi. Arya terlalu takut kalau Marni akan kecewa pada dirinya. Apalagi kini Arya sudah sangat cinta pada wanita itu, ia tidak bisa membayangkan kalau pada akhirnya Marni kecewa dengan dirinya.


"Ya Tuhan, terima kasih ternyata Marni tidak marah dengan aku," batin Arya dengan menatap bahagia pada calon istrinya. Jujur Arya sendiri masih tidak percaya bahwa jodohnya sebaik Marni bagaimana tidak dia adalah laki-laki dengan prilaku yang kurang baik tetapi justru Marni mampu membolak balikan perasaannya hingga kini tidak bisa hidup selain dengan Marni.

__ADS_1


...****************...


Udah jangan nangis masa Playboy mewek


__ADS_2