
Elin sendiri bukanya pergi ke kantin sesuai dengan yang ia katakan pada Zakia, tetapi ia memilih duduk di depan ruangan rawat keponakanya. Intinya ia tidak ingin mendengar apapun yang berhubungan dengan Lucas, rasanya semakin hari bukanya ia semakin bisa melupakan kejadian itu, dan membuka pintu maaf.
Namun, justru Elin merasakaan hal yang berlawanan, dia tidak bisa melupakan kejadian itu. Semakin ia berusaha melupakan, hantinya malah semakin tereliminasi dengan kebencian.
"Elin, kamu sedang apa?" tanya Diki, pandangan matanya menatap kesekeliling, laki-laki itu tidak melihat ada seseorang. Sementara itu Elin sendiri yang baru saja memejamkan matanya langsung membuka matanya, terlebih suara yang menegornya adalah suaranya yang sudah sangat ia kenalnya.
"Dokter Diki, lagi ngapain di sini?" tanya Elin balik, dan Diki pun hanya terkekeh.
"Aku yang lebih dulu tanya kamu, lagi ngapain di sini? Sendirian saja? Kalau aku sedang antar Mamah untuk check up," balas Diki dengan menunjuk ruang di mana mamahnya melakukan check up.
"Oh astaga, Elin saking kagetnya sampai lupa belum jawab pertanyaan Dokter Diki. Aku di sini lagi jenguk Zakia, ponakan aku. Kalau Dokter Diki, emang mamahnya sakit apa?" tanya Elin sekali lagi.
Diki pun memberikan respon yang bingung. "Ponakan kamu? Apa itu artinya anak Lucas, sodara kembar kamu? Oh kalau Mamah dia check biasa, usianya semakin berumur semakin banyak sakit yang menumpuk."
Elin membalas pertanyaan Diki dengan anggukan dan senyum getir.
"Hah... sejak kapan Lucas menikah?" tanya Diki semakin terkejut dengan kabar yang Elin bawa. Lagi, Elin membalas pertanyaan Lucas dengan senyum masam.
"Bisa tidak jangan bertanya tentang itu lagi, Elin sedang tidak ingin membahas laki-laki itu. Elin keluar, karena di dalam sana sedang membalas laki-laki itu," ucap Elin dengan suara yang bergetar.
"Maaf, aku tidak bermaksud membuat kamu sedih, tadi aku reflek saja bertanya seperti itu tapi jujur deh aku tidak ada maksud apa-apa," lirih Diki sangat merasa bersalah. Ia pikir kalau Elin sudah bisa menerima Lucas, tetapi Diki juga tahu tidak akan mudah untuk bisa melupakan ini semua.
"Gimana kalau kita ke kantin untuk beli minum mungkin, biar kamu tidak suntuk," usul Diki, mungkin saja dengan ia yang mengajak Elin untuk sekedar membeli minuman, ia bisa melupakan masalah Lucas.
"Bukanya Dokter Diki sedang mengantar Mamahnya check up? Nanti nyari-nyari lagi," ucap Elin, dia sih mau saja kalau diajak ke kantin, tapi nanti malah ada masalah dengan keluarga Diki.
"Itu urusan gampang, paling kalau Mamah lihat tidak ada aku, langsung keruangan Papah," balas Diki dengan santai. "Yuk!!!" Diki mengajak Elin untuk berdiri.
__ADS_1
"Papah Dokter Diki ada di sini juga?" tanya Elin dengan penasran. Namun, tidak heran sih, memang sudah menjadi kebiasaan ketika anaknya dokter biasanya dari orang tuanya juga dokter. Benar saja tebakan Elin Diki mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Elin.
Mereka pun sudah mulai berjalan beriringan menuju kantin, mungkin segelas kopi bisa membuat bisa berpikir jernih.
Sementara itu, Arya dan Marni berjalan beriringan ke ruangan Jiara sesuai kesepakatanya ia akan bebicara mengenai suaminya. Namun Arya cukup tercengang ketika di dalam ruangan Zakia nampak ramai.
"Kenapa?" tanya Marni yang melihat kekasihnya justru berhenti tepat di depan ruangan Zakia.
"Kayaknya Om Eric dan Tante Ely sedang ada di dalam," bisik Arya.
"Bagus dong kita sekalian bisa kasih tahu mereka dengan kondisi Lucas sekarang," balas Marni, dari pada satu-satu menjelaskanya.
"Mungkin kalau Om Eric akan bisa mengerti dan bisa diajak berkomukasi dengan semua ini, tetapi tidak dengan Tante Ely dan Elin, mereka tidak akan kuat mendengar kabar berita ini," jawab Arya, dan dibalas anggukan kepala oleh Marni sebagai tanda dia paham dengan pemikiran Arya.
Arya menekan handle pintu, dan benar saja di dalam sana sangat ramai, dengan Eric dan Darya yang sedang bermain dengan Zakia, sementara Jiara sedang duduk mengawasi mereka.
"Om pikir tandi Elin," lirih Eric yang langsung menatap ke arah pintu yang di buka oleh Arya.
"Tadi bilangnya ingin ke kantin,"
"Oh paling sebentar lagi juga balik," ucap Arya dengan ringan.
"Kalau gitu biar Marni susul deh sekalian ingin minum kopi juga, apa ada yang mau nitip?" tanya Marni, sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan ruangan Zakia.
"Aku nitip," lirih Arya.
"Nitip apa, jangan yang aneh-aneh yah," desis Marni yang tahu kalau Arya akan meledeknya.
__ADS_1
"Tidak aneh, nitip jaga cinta kita," bisik Arya, dan di balas tepukan di pundaknya oleh Marni.
"Jangan bercanda terus deh, bikin kesel ajah," sungut Marni, langsung mengayunkan kakinya pergi ketika sudah memastikan tidak ada yang menitip sesuatu.
Pandangan mata Arya menatap pemandangan yang sangat nyaman untuk di lihat, dan itu pasti karena Darya dan Eric yang sangat kompak bermain dengan Zakia. Setelah puas memperhatikan kakek dan nenek yang sedang bermain dengan cucunya. Kini Arya pun bergantian menatap Jia yang masih nampak memperhatikan anaknya bermain dengan mertuanya.
"Apa aku bicara sekarang saja yah dengan Jiara?" tanya Arya pada batinya sendiri, di mana kesempatan ini sudah sangat bagus.
"Jiara, apa kita bisa bicara sebentar?" lirih Arya.
Jiara mengerjapkan matanya beberapa kali di saat ia sadar kalau ada Arya di sampingnya.
"Dokter Arya sejak kapan datang?" tanya Jiara, nampak panik seolah ia tertangkap basah mencopet. Arya pun membalasnya dengan kaedua alis yang mengernyit sempurna.
"Kita keluar sebentar ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu," ulang Arya dengan memberikan senyuman terbaiknya.
"Aku?" tanya Jiara untuk memastikan lagi, dan Arya membalasnya dengan anggukan samar.
"Dokter Arya duluan saja. Jia akan pamit dengan mereka," balas Jiara. Arya pun meninggalkan Jiara lebih dulu keluar dari ruangan Zakia dan menunggu Jiara di kursi tunggu. Sementara itu Jiara di dalam ruangan berpamitan baik pada Eric, Darya dan Zakia.
"Bunda mau kemana?" tanya Zakia dengan celotehan keponya.
"Bunda hanya di luar, Kia bermain sama Opa dan Oma tidak apa-apa kan?" tanya Jiara memastikan lagi.
"Tidak Bunda, Kia suka belmain dengan Opa dan Oma."
Setelah mendapatkan izin baik dari putrinya maupun dari kedua orang tuanya Jiara pun keluar dan berjalan menuju kursi di mana Arya sedang duduk dengan membungkukan punggungnya dan menjadikan kedua sikunya sebagai tumpuan di atas lututnya.
__ADS_1
"Ada apa Dok kayaknya ada yang penting banget sampai minta Jia datang ke sini?" tanya Jiara duduk dengan jarak kursi satu di kosongkan, untuk memberikan jarak, dan tidak terlalu dekat.
"Iya ada yang cukup penting harus aku sampaikan, tapi jujur, aku sendiri juga bingung mau memulainya dari mana," desis Arya masih dalam posisi yang sama. Laki-laki itu bingung mau mengatakan keadaan Lucas pada Jiara terlebih dahulu atau malah mengatakan kondisi Philip dengan Eric.