Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna Bab 249


__ADS_3

"Sayang, apa ada yang ingin kamu tahu dari masa laluku?" tanya Lexi begitu Elin keluar dari kamar mandi. Yah laki-laki itu yakin sekali kalau Elin saat ini sedang dalam mode ngambek. terutama dengan nama Mily.


Elin sendiri menatap malas pada Lexi. "Seharusnya kamu yang mengatakannya, tanpa harus bertanya. Karena aku saja tidak ada rahasia di masa laluku, bukan seperti kamu yang penuh rahasia. Bahkan aku sampai bingung dengan kehidupan kamu dulu seperti apa." Elin terus mengeringkan rambutnya, tanpa ingin menatap Lexi yang hari ini membuat dia kesal, dengan kisah masa lalunya dengan wanita yang bernama Mily.


"Duduklah! Aku akan menceritakan semuanya, terutama Mily yang menjadi mantan istriku." Lexi menepuk sisi ranjangnya. Di mana saat ini Eril sudah kembali diambil oleh orang tua Lexi. Sehingga saat ini mereka kembali berdua saja.


Dengan malas Elin pun mengikuti apa yang Lexi katakan. Ia ingin tahu juga kenapa Lexi sudah menjadi duda sedangkan dalam kartu tanda penduduk dan semua dokumennya dia masih bujangan, dalam arti lain dia belum pernah menikah. Apa pernikahannya adalah pernikahan diri, atau ada yang sengaja Lexi sembunyikan?


"Mily adalah mantan istriku, kami bercerai sesaat sebelum aku pergi ke Indonesia. Pernikahan aku dan Mily hanya terjalin dua bulan saja. Aku menikah dengan Mily sendiri karena perjodohan. Papah yang menjodohkan aku dan wanita itu, tapi sejak menikah dan sampai bercerai aku tidak menyentuhnya. Aku langsung sakit di rawat bahkan sampai menjalani operasi, tapi dia jangankan merawat sebagai mana suami istri dia tidak pernah melihatku, bahkan untuk menjenguk dia jarang sekali melakukanya. Hingga aku di telepon oleh Arya untuk kembali datang ke Indonesia, dan aku  sempat mau ajak dia  untuk ikut tetapi lagi dan lagi pertengkaran di akhirnya, hingga kami memutuskan untuk bercerai. Meskipun taruhannya pasti keluarga kita saling bermusuhan karena nyatanya pernikahan kita adalah pernikahan bisnis," jelas Lexi dengan berhati-hati dan juga sejujurnya. Laki-laki itu tidak ingin ada rahasia lagi diantara dirinya dan juga Elin.


"Apa aku bisa mempercayai apa yang kamu katakan? Mengingat kamu itu sangat ahli soal kebohongan semacam ini," ucap Elin dengan pandangan mata tetap lurus ke depan, dan juga suara yang terdengar ketus dan juga dingin.


"Kamu boleh bertanya pada Mamih dan juga Papih. Bahkan aku yakin hubungan kedua orang tuaku semakin tidak sehat karena perceraian aku dan Mily." Lexi pun menjawab dengan gaya santainya.


"Lupakanlah, aku malas memikirkan sesuatu yang tidak penting itu. Elin pun kembali beranjak dari duduknya, tetapi sepersekian menit wanita itu kembali meletakan bokongnya yang sudah diangkat hendak meninggalkan Lexi.


"Apa ada yang lain lagi?" tanya Lexi dengan menatap Elin yang seolah di wajahnya masih ada pemikiran yang mengganjal.


"Yah, kalau Mily hubungannya dengan Lucas apa. Bukanya kamu tadi juga membahas soal Lucas?" tanya Elin dengan suara yang penuh dengan rasa penasaran.


Lexi nampak membuang nafasnya berkali-kali. Sepertinya pertanyaan yang diajukan oleh Elin sangat berat.


"Aku sebenarnya kalau membahas soal masa lalu Lucas kasihan takut nanti dia ada masalah dengan istrinya, sebab yang aku tahu mereka sudah bahagia," ucap Lexi dia juga tidak tega kalau harus menceritakan masa lalu Lucas yang tentunya bukan masa lalu yang baik.


"Ayolah Lex, aku yakin kalau aku juga tidak akan menceritakan sesuatu apalagi ini kisah buruk aku tahu mana yang baiknya di sampaikan pada Kak Jiara dan mana yang tidak." Elin pun semakin penasaran dibuat oleh cerita Lucas dengan Mily.


Kembali, laki-laki itu kembali menghirup nafas yang berat, bahkan terlihatnya sangat-sangat berat. "Mily itu dulu teman kencan Lucas. Bahkan mereka sudah tingga dalam satu rumah di negara kami tinggal dulu hal semacam itu sudah biasa sehingga mereka melakukanya cukup lama, dan pada akhirnya Lucas kembali ke Indonesia dan Milly tetap di negaranya," jawab Lexi dengan suara yang lirih.


Elin pun cukup terkejut dengan ucapan Lexi. "Apa separah itu pergaulan kalian dulu." Elin memegang dadanya membayangkan kalau saudara kembarnya sangat buruk prilakunya. Bukan hanya membayangkan Lucas tentunya Elin juga membayangkan Lexi. Kalau Lucas saja separah itu bagaimana dengan Lexi yang sudah tinggal di negaranya sejak kecil.


"Apa kamu juga memiliki kebiasaan sama dengan Lucas, lalu apa kalian berdua juga memiliki anak dari wanita lain di luaran sana?" tanya Elin dengan suara yang semakin bergetar. Tidak terpikirkan sama sekali kalau dirinya bisa terjebak pada laki-laki yang memiliki kebiasaan buruk itu.


"Kalau aku jawab tidak rasanya kamu juga pasti tahu kalau aku bohong, tetapi bukanya yang terpenting kami sudah berubah, dan itu salah satu alasan aku memilih bercerai dengan wanita itu, karena kalau Lucas tahu aku tidak enak, belum nanti kalau Mily dan Lucas bertemu aku takut akan terjadi kisah yang tidak semestinya lagi, mengingat Mily adalah orang yang cukup keras kalau ada yang dia inginkan pasti dia akan kejar sampai dapat." Lexi sangat tahu bagaimana hubungan Lucas dan Mily saat itu, sehingga takut kalau Mily akan menggoyang pertahanan Lucas.


"Apa mereka sangat dekat?" tanya Elin kembali.


"Setahu aku Lucas cinta pertamanya adalah Mily dia wanita yang benar-benar diperjuangkan hingga Lucas sempat beberapa kali berkelahi dengan seseorang bahan dengan geng motor dan masih banyak lagi keributan yang dia sebabkan hanya untuk membela Mily."


Kini Lexi dan juga Elin menghabiskan setengah malam mereka untuk bercerita satu sama lain. Elin pun jadi tahu bagaimana kehidupannya saudara kembarnya jaman dulu, dan tentu kehidupannya suaminya jaman dulu juga.


"Apa kamu menyesal menikah dengan aku?" tanya Lexi yang melihat raut wajah Elin yang berubah.


"Apa bisa aku menyesal? Kalau bisa aku katakan iya. Tapi apa bisa aku membatalkannya dan juga kamu kembali memperbaikinya? Tidak bukan? Semoga saja kalian benar-benar insaf karena aku orangnya tidak sabaran, kalau kamu kembali membuat aku sakit maka aku akan meninggalkan kamu," ucap Elin dengan beranjak untuk tidur.


"Terima kasih karena kamu mau menerima aku yang berlumur dosa ini. Aku janji akan membahagiakan kamu dan Eril," ucap Lexi dengan bersungguh-sungguh.


"Hemzzz... pergilah untuk bersih-bersih, dan beristirahatlah. Besok kita akan kembali pergi ke kebun binatang untuk menyenangkan Zakia," ucap Elin, ingin marah tapi tidak bisa karena Lexi sendiri sejauh ini sudah menunjukan perubahannya.


"Terima kasih karena kamu sudah memberikan kesempatan aku untuk memperbaiki diri." Sesuai dengan yang Elin katakan kalau Lexi langsung menuju kamar mandi dan membersihkan diri.

__ADS_1


Malam ini pun pasangan suami istri itu benar-benar istirahat dengan damai, tidak ada ranjang bergoyang dan juga adon mengandon mochi, cilok apalagi lemper, semuanya aman terkendali. Hingga pagi menyapa mereka bangun dengan segar, dan kembali bersiap untuk mengunjungi kebun binatang keinginan Zakia.


"Sayang, Eril di rumah saja sama Mamih dan juga Papih yah, kasihan kalau jalan-jalan ke kebun binatang, dia masih sangat kecil kebun binatang itu panas dan juga banyak virusnya karena binatang belum tentu semuanya sehat. Lagian Eril belum bisa menikmati jalan-jalan seperti itu. Nanti saja kalau dia sudah gedean kamu bisa ajak dia ke mana pun kalau sekarang masih terlalu kasihan," ucap Sifa, ya tentu selain alasan yang dia katakan barusan tentu juga Sifa merasakan sepi kalau tidak ada Eril di rumah.


Elin menatap Lexi untuk meminta persetujuan. "Ya udah Sayang, apa yang Mamih katakan itu benar, anggap saja kita masih pengantin baru ya ini waktu untuk kita berjalan-jalan kerdua, anak kita serahkan pada Mamih pasti aman kok," ucap Lexi dan Elin pun nurut saja, setelah berpamitan dengan sang putra dan juga pasa Sifa dan juga pada Rajaya kini Elin dan Lexi sedang berada di dalam mobil akan kembali berpetualang dengan ponakan kecilnya.


Di rumah mewah Philip, sejak pagi menyapa Zakia yang punya acara sudah siap dengan segala perlengkapan jalan-jalan dia bahkan sudah membawa kamera sendiri karena dia sudah ingin mengabadikan gambar binatang yang dia kunjungi.


"Eril tidak ikut Sayang?" tanya Darya yang tidak melihat cucu satunya lagi.


"Kata Mamih Sifa, Eril biar di rumah saja karena asti nanti panas dan juga takut cape, jadi di tinggal di rumah dengan mamih Sifa, dan Papih Raja," balas Elin dengan santai, lagian Eril juga sangat anteng dengan kakek dan neneknya.


"Baiklah kalau gitu, katakan pada mamih dan papih Raja, nanti selesai kami jalan-jalan kami ingin berkunjung ke rumah orang tua kalian, ingin silahturahmi, kami dengar mereka akan kembali ke Jerman." Eric pun menimpalinya.


"Iya benar Pah, makanya ini waktu mereka ingin di manfaatkan untuk bermain dengan cucu katanya."


"Yah, kami tahu bagaimana perasaan orang tua kamu, mereka juga pasti berat untuk meninggalkan cucunya, apalagi Eril adalah cucu pertama laki-laki lagi, pasti mereka sangat bahagia." Eric pun sebagai sama-sama yang sudah berpengalaman memiliki cucu tahu betul perasaanya, bahkan lebih sayang pada cucu jatuhnya dari pada pada anaknya sendiri. Ya meskipun pada anak sama-sama tetap masih sayang.


Kini rombongan pun mulai menyusuri jalan dari pagi, karena mereka akan mengunjungi taman safari yang ada di puncak bogor, biasanya kalau menuju tempat wisata satu ini akan terjebak macet. Setelah hampir dua jam menempuh perjalanan kini mereka pun mulai memasuki tempat binatang-binatang. Zakia pun tidak berhenti hentinya menjerit bahagia. Dia bisa memberikan makan rusa, kudanya, kuda zebra, kijang dan masih banyak binatang lainya. Tidak hanya memberi makan, dan melihat singa, harimau yang berkeliaran di jalan. Zakia juga naik gajah, kuda dan juga unta. Merea menikmati liburan keluarga ini. Hingga terakhir melihat pertunjukan dari binatang-binatang yang sudah di latih, dari burung kakak tua, lumba-lumba, dan  masih banyak lagi hingga siang hari mereka sangat bahagia.


"Apa Kia senang, tanya Lucas ketika bocah kecil itu menatap lumba-lumba yang sedang menunjukan kepiawaianya.


Zakia langsung menatap Lucas dan juga bergantian dengan Jiara. Yang mana wanita itu justru sejak tadi tidak baik-baik saja. Wajahnya terlihat pucat dan bahkan Zakia lebih sering bersama Elin dan Lexi atau tidak dengan kakek dan neneknya.


"Senang Papah, Kia senang sekali terima kasih yah," ucap Zakia tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada ledua orang tuanga, oma dan opa serta pada tante dan omnya.


"Sama-sama Sayang kalau Kia suka papah juga suka." Lucas kembali mencium putrinya yang lucu itu. Kini gantian Lucas memperhatikan sang istri yang kembali bersender di tubuhnya. Wanita berhijab itu bahkan tadi makan hanya sedikit dengan alasan perutnya tidak nyaman.


"Sayang kamu sakit?" tanya Lucas mulai cemas.


"Aku hanya merasa tidak enak di bagian perut antara ingin mual dan juga pusing mungkin karena sejak tadi berjalan terus Kia ingin naik wahana permainan jadi kayaknya rada mabok," ucap Jiara yang beberapa kali naik wahana permainan untuk menemani Zakia.


"Kita nanti pulang mampir dokter yah," ucap Lucas dengan memeluk Jiara. Pukul lima mereka pun mulai meinggalkan tempat wisata dan pulangnya akan kerumah besanya mereka akan kembali berkumpul bersama, tanpa terkecuali Philip yang berada di rumah menyusul ke rumah Rajaya. Tentu di rumah Raja sudah di sediakan berbagai menu makanan yang pasti mereka cape karena sudah jalan-jalan seharian.


Eric, Darya, Zakia, Elin dan juga Lexi lebih dulu meluncur ke rumah orang tua Lexi sedangkan Lucas dan Jiara diam-diam ke rumah sakit dulu untuk meriksakan Jiara yang masih pusing dan badannya meriang.


"Ngomong-ngomong Lucas di mana kok belum sampai-sampai apa mungkin dia nyasar?" tanya Lexi sudah satu jam mereka santai, bahkan perut mereka sudah terisi oleh makanan dan kini dalam posisi aman. Tapi mobil Lucas tidak juga datang.


"Coba telpon Pah, mungkin saja dia nyasar," balas Darya, meminta pada Eric agar menghubungi putranya.


Sedangkan Lucas di rumah sakit tengah bahagia tidak terkira ketika dokter mengatakan kalau Jiara sedangkan hamil usianya satu minggu.


"Alhamdulillah, Sayang akhirnya kita bisa memberikan Kia adik bayi seperti yang dia malu." Lucas tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukurnya.


Jiara sendiri sejak tadi hanya diam saja bukan karena tidak bahagia, tetapi karena kehamilanya kali ini cukup membuat dia sangat payah, tubuhnya lemas dan juga rasanya kepala dan perutnya tidak singkron.


"Kamu kenapa Sayang, kenapa aku lihat kamu kurang bahagia," ucap Lucas dengan tak henti-hentinya mencium punggung tangan sang istrinya.


"Bukan kurang atau malah tidak bahagia Sayang, hanya saja aku saat ini sedang merasakan tubuh yang benar-benar payah. Kemahmilan aku yang saat ini benar-benar sangat menyiksa, jauh sekali dengan kehamilan Zakia yang dulu. Zakia dulu hamilnya tidak terlalu repot kalau yang ini kayaknya sangat berbeda," ucap Jiara yang sejak tadi memakai masker karena mencium bau apa pun wanita itu tidak menyukainya dan perutnya terasa mual.

__ADS_1


"Mungkin itu tandanya Tuhan percaya pada aku, agar aku bisa menjaga kamu menjadi suami yang jauh lebih baik lagi." Lucas menatap Jiara yang mengembangkan senyum tipisnya.


Di saat di rumah orang-orang cemas memikirkan Lucas dan juga Jiara yang tidak kunjung pulang, justru yang di cemaskan sedang dalam mode baik-baik saja.


"Hati-hati Sayang," ucap Lucas disaat Jiara mau turun dari mobil dia benar-benar membuktikan bahwa dirinya sangat siaga dengan istrinya yang sedang hamil. Jiara pun merasa sangat diisimewakan dikehamilanya yang sekarang ini.


"Ini dia yang di cari-cari sudah datang," ucap Lexi dengan perasaan yang  lega. Baru juga dia akan menyusul dan menari Lucas karena takut nyasar.


"Loh, ada apa ini. Kok kayaknya pada cemas amat," ucap Lucas tanpa beban.


"Loe kemana aja Bambang, kita semua cemas takut loe nyasar. Ini gue mau susulin loe, takut di culik elient. Di telpon nggak ada yang mau angkat, siapa yang enggak panik juga," oceh Lexi yang saat ini sedang dalam mode ngambek.


Lucas menggaruk kepalanya yang nggak gatel. "Iya maaf kita lagi bahagia banget sampe lupa telpon nggak di tengok, lagian gue lahir di Jakarta, besar sampai kawin dan punya anak di Jakarta, masa iya nyasar. Rumah loe juga meskipun gue udah lama nggak main lagi, tapi gue masih ingat Brew." Lucas kembali menuntun Jiara untuk masuk ke dalam.


"Ngomong-ngomong Jiara kenapa Sayang? Dan kalian dari mana sih. Untung Zakia datang langsung tidur kalau nggak kita pasti makin kalang kabut karena bocah itu pasti ingin cari bundanya." Darya langsung menghampiri sang menantu yang nampak pucat itu.


"Ini Mih, habis ajak Jiara ke dokter dulu," jawab Lucas sengaja tidak langsung memberikan kabar pada keluarganya.


"Terus gimana keadaanya. Jia sakit apa?" Kini Eric semakin cemas kalau menantunya ada sakit sesuatu.


"Bukan sakit Pah, Mih, tapi Jiara sedang hamil. Zakia mau jadi kakak doa dia pun terkabul," ucap Lucas dengan tawa yang lebar, menandakan kalau dirinya sangat bahagia.


"Apah Jia hamil? Selamat yah Sayang." Darya langsung memeluk menantunya. Dan dalam seketika ruangan pun kembali riuh.


"Kamu emang sangat bisa diandalkan bibitnya Lucas, sekali tabur langsung jadi," buktinya baru tiga minggu bikin hamil sudah masuk satu bulan, Tidak ada lawan." Lexi terus memuji temanya itu.


"Bunda, ada apa?" tanya Zakia yang abru bangun dan melihat kehebohan, bahakan Eril juga seolh bayi itu tahu kalau anggota keluarganya sedang berbahagia.


"Kia, katanya Kia mau jadi kakak, dan pengin dede bayi, di dalam perut bunda sudah ada adik bayinya," ucap Jiara menjelaskan pada Zakia.


"Hah serius Bunda? Kia sangat senang kalau ada adik bayinya di dalaam perut Bunda," Zakia pun tidak henti-hentinya mencium perut sang bunda yang masih datar berbeda dengan Elin dulu yang besar.


"Bunda, kok perut Bunda kecil, nggak besar kayak Tante Elin dulu? Kapan perut Bunda besar kayak Tante dulu?" tanya Zakia yang masih polos itu.


"Nanti dong Sayang kalau sudah adik bayinya besar di dalam sana. Apa kai suka Bunda hamil, dan akan jadi kakak, apa Kia nggak akan rewel nantinya?" tanya Lucas sembari membelai putrinya yang baru bangun tidur.


"Senang dong Papah. Kia juga tidak akan nakal, kan sekarang sudah mau jadi papah.


Kebahagiaan pun menyelimuti keluarga besar yang dulunya sangat hancur dari saling menghancurkan. Kini tanpa terasa Philip sedari tadi terisak di pojokan bukan terisak sedih, tetapi saking bahagianya. Di sisa umurnya dia merasakan bahagia yang teramat dalam, dan kebahagiaan itu datangnya dari menantu yang dia sangat benci bahkan dulu dia berencana menghilangkan nyawa Eric, tetapi jalan Tuhan ternyata justru dari Eric lah sumber kebahagaiaanya datang.


Eric adalah contoh manusia yang tidak pernah membalas kebencian dengan kebencian balik, dia selalu memeluk sang pendosa, hingga hidayah datang memeluknya. Tidak ada manusia yang sempurna tanpa salah daan dosa. Semua manusia penuh salah dan juga dosa, hanya saja mereka mau atau tidak untuk bertaubat. Tuhan lebih senang pada makhluknya yang berbuat salah lalu mengakui kesalahanya dan memperbaiki prilakunya, dari pada mereka yang selalu merasa benar hingga tanpa sadar dosanya sudah menggunung, dan dia tetap congkak dengan sifat takaburnya.


TAMAT


********************************************************************************************


Terima kasih yang sudah mengikuti kisah Elin sampai sejauh ini. Mohon maaf dari othor, sebagai penulis kalau ada salah kata, dan isi cerita yang menyingung, mohon dibukakan pintu maaf, selamat menyambut bulan romadhan, dan semoga diberikan umur panjang dan kalau berkenan mampir di novel PEMBANTU SPESIAL UNTUK OM DUDA, bacaan pas di bulan ramadhan, religi islami.


...****************...

__ADS_1


Mampir juga ke karya bestie othor yuk...



__ADS_2