Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 200


__ADS_3

"Berjanjilah kamu akan berjuang buat anak kamu dan kedua orang tua kamu!"


Itu adalah pesan terakhir yang Lexi ucapkan sebelum Elin masuk ke ruang operasi. Senyum terbaik yang Elin berikan sebelum masuk ke ruangan itu, membuat Lexi sedikit merasak tenang. Meskipun rasa was-was masih saja ada.


Seperti yang dokter katakan, bahwa untuk operasi cesar ini sebenarnya bukan operasi yang besar dan lain sebagainya sehingga tidak harus dicemaskan berlebihan, tetapi perjuangan Elin akan dilanjutkan dengan operasi yang akan dilakukan dengan operasi sakit hatinya. Namun Dokter juga akan melihat lagi langkah operasi apa yang akan mereka lakukan nantinya. Apakan operasi kecil untuk membuang sumber sakitnya, ataukah harus transplantasi hati sesuai yang dokter Eka katakan.


"Tapi kalau untuk tindakan selanjutnya kita akan lihat lagi untuk penanganan selanjutnya. Kalau memang sudah terlalu parah maka lebih baik dilakukan transplantasi hati dan itu tandanya harus ada pendonor hati yang sesuai dengan hati pasien." Itu yang dokter Eka katakan.


Lexi hanya duduk termenung di depan ruang operasi memikirkan apa yang akan terjadi pada Elin setelah ini. Dan seperti yang dokter Eka katakan bahwa kondisi Elin mungkin akan lemah atau bahkan memburuk hingga di lakukan operasi lanjutan.


Laki-laki itu menjambak rambutnya dan  berusaha berpikir mencari solusinya, belum nanti pasti Eric dan yang lainya akan menyalahkan Lexi karena merahasiakan masalah sebesar ini.


"Elin, berjanjilah kamu akan kuat. Aku tidak tahu harus berbuat apa tanpa adanya kamu. Saat ini kamu adalah sumber kekuatan untuk aku, jangan buat aku lemah tanpa kamu."


*********


Di tempat yang berbeda. Sesuai yang sudah dijanjikan Lucas setelah melakukan pemeriksaan yang cukup rumit, akhirnya bisa menghirup udaha kebebasan juga. Ia sudah tidak sabar bagaimana nanti reaksi putrinya dan juga keluarga lainnya.


Terutama wanita yang sejak semalam mengganggu pikiranya, Elin. Arya yang sudah sejak tadi menunggu pun akhirnya bisa tersenyum dengan lega ketika melihat Lucas sudah keluar ruangan.


"Apa saja yang loe lakukan sampai bikin gue berakar menunggunya," sungut Arya dengan memukul pundak Lucas, dan Lucas memeluknya dengan kuat.


"Terima kasih atas semua yang telah loe lakukan," ucap Lucas dengan suara yang berat. Arya pun menepuk punggung Lucas dengan hangat.


"Sudah sepatutnya gue lakukan ini, karena loe adalah sodara gue." Arya merasakan  lega yang teramat karena perubahan Lucas yang semakin hari semakin baik. Bukan Lucas yang arogan seperti dulu, yang keras kepala dan sangat sulit untuk dinasihati.


Arya memindai penampilan Lucas yang sangat kacau. "Apa loe akan pulang dengan penampilan seperti ini?" tanya Arya dengan menunjuk kaca di sepion mobilnya dengan tujuan agar Lucas mengamati penampilan dirinya.


Laki-laki itu langsung menuju kaca sepion mobil dan mengamati penampilanya, yang berambut panjang dan wajah kusam.


"Bawa gue ke salon, dan ke mall untuk beli pakaian, dan loe harus mentraktir atas kebebasan gue," ucap Lucas dengan wajah tanpa dosa, ia masuk ke dalam mobil Arya.


Ck... Arya berdecak cukup keras. "Dia yang selama ini merpotkan aku, kenapa aku yang harus tlaktir dia. Bukanya aset dia lebih besar dari gue," sungut laki-laki yang berprofesi sebagai dokter itu. Tentu saja Lucas tidak mendengarnya, laki-laki itu sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil.


"Loe harus ganti uang yang akan gue keluarkan, karena loe tahu kan, seorang dokter gajihnya tidak seberapa," ucap Arya begitu menyusul Lucas yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobilnya.


"Astaga Arya, sejak kapan loe jadi perhitungan seperti ini?" Lucas menatap dengan malas. "Iya... iya nanti gue ganti. Mana kartu loe." Lucas yang tidak tahu diuntung menyodorkan tanganya untuk meraih kartu sakti Arya.


"Ck... kenapa jadi gue yang kena palak," balas Arya, tetapi tidak lama kemudian laki-laki itu merogoh kantong celananya dan meraih dompet, satu kartu berwarna gelap ia berikan pada sepupunya.


"Tenang, nanti kalau gue udah kaya uang-uang loe akan gue balikan." Tawa kepuasan terlepas dari bibir Lucas. Sementara Arya hanya melirik dengan ekor matanya.


"Loe dari lahir sudah merasakan jadi sultan, jadi mau nunggu kayak seperti apa lagi."


Arya dan Lucas pun sebelum pulang ke rumah, mereka lebih dulu pergi ke mall untuk membeli pakaian dan segala perlengkapan Lucas agar tetap tampil memukau ketika pulang dan bertemu keluarganya. Setelah itu tentu ke sallon untuk merapihkan rambut dan juga wajah yang dilakukan perawatan agar tidak kusam. Setelah menunggu beberapa waktu kini Lucas terlihat jauh lebih tampan dari pertama ia keluar dari penjara, beberapa jam lalu.


"Yuk, gue  sudah tidak sabar ingin bertemu dengan keluarga gue."


Lagi, Arya hanya pasrah saja di jadikan supir, "Elin sedang melakukan operasi," ucap Arya sebelum dia melanjutkan perjalananya.


Deg!! Lucas langsung memalingkan pandanganya meminta kejelasan dari ucapan Arya.

__ADS_1


"O... operasi apa?" tanya Lucas dengan terbata, bahagianya seolah di rampas paksa, ketika ia baru saja ada harapan untuk merangkai kata demi kata minta maaf, tapi ternyata malah Elin saat ini tengah melakukan operasi.


"Lexi bilang operasi cesar, dia akan segera melahirkan. Lexi juga berkata bahwa Elin ada sakit yang lain, yang membuat Lexi tidak bisa tenang." Arya sediri langsung terlihat masam setelah mendapatkan telepon dari Lexi saat Lucas melakukan perawatan barusan.


Yah, saking tidak tenangnya Lexi memikirkan nasib Elin yang sedang menjalani operasi persalinan buah hati mereka. Laki-laki itu memilih menghubungi Arya untuk meminta pendapatnya tentang sakit yang diderita Elin.


Laki-laki itu berharap setelah menelepon Arya dirinya bisa merasakan lebih tenang.


Flashback on...


[Arya, apa yang terjadi kalau ada seorang pasien yang mengalami sakit kerusakan hati yang cukup parah?] tanya Lexi begitu panggilan telepon pada Arya tersambung. Arya pun di tempat yang berbeda langsung mengernyitkan keningnya, ketika mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Lexi.


Arya tahu tidak mungkin Lexi bertanya seperti itu tanpa sebab.


[Kerusakan hati, bisa diatasi dengan pengobatan rutin, tetapi tergantung tingkat sakitnya, dan kalau memang sudah tidak memungkinkan dilakukan dengan pengobatan rutin paling dilakukan operasi potong bagian sakitnya mungkin bisa karena tumor atau penyebab yang lainnya, tetapi kalau tidak mungkin lagi bisa dilakukan cangkok hati, atau transplantasi hati. Tergantung tingkat sakitnya dan keputusan keluarga. Mengingat biaya untuk melakukan operasi hati tidaklah sedikit, tapi ngomong-ngomong siapa yang sakit?] tanya Arya masih terlihat santai.


Hal itu tentu berbeda dengan Lexi di sebrang telepon yang makin was-was, bahkan keringet sebiji jagung keluar dari wajahnya, perutnya yang langsung melilit menambah tubuhnya merasakan sakit.


[E... Elin, dokter terakhir bilang setelah melahirkan, Elin harus menjalani operasi dengan hatinya yang bermasalah,] jawab Lexi dengan lemah, sontak saja Arya langsung terkejut bahkan ponselnya sampai jatuh dari pegangan tanganya.


Sangat tidak menyangka kalau Elin mengalami sakit luar biasa seperti ini.


[Ar.. Arya..] Lexi cukup lama menunggu kesadaran Arya kembali. Laki-laki itu tahu pasti Arya terkejut dengan apa yang ia sampaikan, sama halnya ketika Lexi mendengarkan kejelasan satu demi satu dari dokter Eka, selera makanya jadi memburuk, pikiran tidak bisa tenang.


Arya meraih kembali ponselnya setelah ia sadar. [Sejak kapan Elin mengalami sakit ini? Kenapa loe diam saja tentang sakit Elin?] cecar Arya dengan nada suara yang terdengar sangat serius dan marah.


[Aku tahu ketika usia kandungan Elin masih empat bulan, dokter bilang kalau Elin masih ada kesempatan untuk sembuh asal dia melakukan pengobatan rutin, saat itu yang aku tahu Elin melakukan pengoban rutin, tetapi entah kenapa saat dilakukan pemeriksaan terakhir sebelum melakukan operasi cesar, kondisi hati bukanya membaik malah makin buruk. Aku setiap bulan mendapatkan laporan bahwa Elin melakukan pengobatan secara rutin dan tidak banyak keluhan dan lain-lain, sehingga aku berpikir dia juga minum obat secara teratur, tetapi setelah dilakukan pemeriksaan ulang Elin sepertinya tidak meminum obat-obat itu, dan itu akibatnya hatinya bukanya sembuh malah semakin parah.] jelas Lexi dengan pasrah, dan menyesal, karena tidak bisa mengawasi Elin menjalani searangkain pengobatan ini.


Arya cukup terkejut dengan penjelasan Lexi. [Jadi selama ini ia sering mengeluh sakit karena ini, dan kenapa loe tidak katakan kondisi Elin pada kamu?]


Arya sendiri hanya bisa pasrah dan menunggu hasil semuanya setelah operasi cessar Elin berhasil. Bahkan rasanya Arya sudah tidak tenang menunggu Lucas yang sedang di salon. Ingin dia buru-buru ke rumah sakit untuk melihat kondisi Elin.


Flashback off..


"Sakit, Elain sakit apa Arya? Sekarang Elin di mana? Kenapa bisa dia melakukan operasi?" cecar Lucas, bahkan ia lupa ingin bertemu dengan Zakia.


"Kita tunggu kabar selanjutnya dari Lexi dulu, loe pulang saja dulu temui Zakia dan keluarga loe yang lain. Setelah antar loe, gue akan temui Lexi," ucap Arya ia tidak mau direcokin oleh Lucas. Arya akan menemani Lexi di rumah sakit, seorang diri.


"Tapi loe janji kalau ada apa-apa dengan Elin kasih kabar gue!"


Lucas menatap Arya dengan tatapan yang sangat mengiba. Sementara Arya hanya membalasnya dengan anggukan kepala, sebagai jawaban dari permohonan Lucas.


Jantung Lucas semakin memompa darah lebih cepat, begitu mobil yang ia kendarai makin mendekat ke rumah Philip. Tubuhnya langsung menghangat seolah ia sedang sakit, dan bayangan bocah kecil menyambutnya membuat kelopak matanya sudah terasa berat, menampung air mata.


Arya yang melihat wajah sepupunya berubah dan duduk tidak tenang pun hanya tersenyum samar, ia merasa lucu dengan tingkah sepupunya. Meskipun ia sedang cemas memikirkan Elin, tetapi setidaknya ada Lucas yang membuat dia cukup menghibur tingkahnya.


"Apa yang loe rasakan?" Suara Arya berhasil mengagetkan Lucas.


Lucas sendiri membuang nafasnya kasar, berharap dengan hembusan nafas kasar itu ia bisa membuat perasaannya tidak tegang.


"Yang jelas lebih tegang, dari perasaan ketika mau menyelundupkan nar-koba," balas Lucas setengah menertawakan dirinya yang ternyata bisa memiliki rasa seperti ini.

__ADS_1


"Loe harus siap-siap kuping, karena sebentar lagi loe pasti kena marah oleh bocah kecil yang saat ini semakin bawel. Bahkan loe tidak akan diizinkan untuk memberikan pembelaan. Dia sangat menyeramkan." Arya sudah membayangkan adegan itu, gimana Zakia yang marah karena Lucas yang teralu lama pergi.


"Astaga, loe jangan menambah ketegangan gue," lirih Lucas, benar saja kini jantung Lucas semakin terasa lebih kencang berdetaaknya dari yang tadi. Arya pun cukup gemas dengan tingkah laku Lucas itu yang ternyata bisa segemas anak kecil yang ketahuan telah mencuri sebuah permen di warung.


"Arya  bagaimana penampilanku?" tanya Lucas sembari merapihkan rambutnya yang baru di potong, dan tentu masih sangat rapih dan terlihat gagah dan tampan.


"Sudah masuk sana! Lagi pula Jiara tidak ada di rumah, di jam segini dia sedang di kantor, paling kamu hadiahkan nanti malam sesuatu yang tidak akan pernah dia dapatkan selama ini." Arya terlalu senang meledek Lucas.


"Hist... loe jangan bikin gue tambah tegang," gerudel Lucas, tetapi dia tidak lama melangkahkan kakinya juga. Dengan berjalan mengendap-endap Lucas mencari keberadaan putri dan mamihnya.


"Ar, kenapa sepi. Orang-orang ke mana?" Arya hanya membalas pertanyaan Lucas dengan mengangkat kedua tanganya dan menggedikan bahunya.


"Mungkin sebenarnya mereka, tidak suka loe pulang," kelakar Arya yang justru terlalu suka melihat Lucas seperti itu wajahnya.  Laki-laki itu berdiam sejenak dan kembali mencoba mengingat kembali perkataan mamih dan papahnya.


'Rasanya tidak mungkin Mamih dan Papah yang bilang kalau orang-orang rumah menunggu aku pulang,' batin Lucas.


"Ar, apa Jiara dan Zakia tidur di kamar pribadi gue?" Lucas menatap kamar pribadinya di mana di atas sana pintu kamar tertutup dengan rapih.


"Yang gue tahu seperti itu."


Lucas langsung mengayunkan kakinya menuju kamarnya. Meskipun ragu takut kalau memang keluarganya pergi ke rumah sakit, tetapi Lucas tidak akan menyerah sebelum tahu orang-orang ke mana.


Dengan perlahan Lucas membuka pintu kamarnya, berharap ada putrinya di dalam kamar. Namun justru yang Lucas lihat hanya tempat tidur rapih tanpa ada siapa-siapa di dalam sana.


'Apa kalian tidak suka kalau papah pulang?' Lucas hendak kembali ke lantai bawah.


Surprise....


Sontak saja Lucas membalikan badanya dan tangisnya pun pecah ketika melihat putri cantiknya yang sedang membawa balon untuk menyambut sang papah yang sudah pulang.


"Sayang, maafkan papah, karena papah baru bisa pulang." Tangis Lucas pecah di dalam pelukan bocah kecil yang sedang berdiri dengan senyum terbaiknya.


"Tidak apa-apa Papah, kata Bunda Papah itu kerja. Jadi Kia tidak boleh marah sama Papah karena belum pulang. Apa Papah kerjanya jauh kenapa lama sekali pulangnya?" Tangan kecil Zakia membelai rambut papahnya yang tengah bersimpuh dihadapanya dengan memeluk tubuh kecil bocah cantik itu.


"Iya kerja papah jauh, dan papah baru bisa pulang sekarang. Terima kasih Kia sudah ngerti posisi papah." Hati Lucas seolah terasa semakin sakit ketika rambutnya di belai dengan lembut oleh bocah kecil itu. Hangat dan damai itu yang dia rasakan.


Setelah puas berpelukan dan bermanja-manja dengan Zakia. Lucas pun membopong tubuh mungil yang sangat menggemaskan itu.


Bergantian Lucas memeluk tubuh Darya yang berada tepat di belakang Zakia. "Mamih, terima kasih selalu  memberikan dukungan pada Lucas, hingga Lucas memiliki keberanian untuk pulang."


Darya memeluk tubuh putranya yang lebih tinggi dan mengusap punggungnya, rasanya teralu egois kalau Lucas berharap kehadiranya membawa kebahagiaan. Yang sudah jelas dan Lucas juga sudah sangat sadar bahwa kehadiranya hanya membawa kebahagiaan sebentar dalam keluarganya.  Lucas sangat tahu posisinya yang berlumur dosa, dan kesalahan.


"Karena kamu adalah anak mamih, sudah sepatutnya kita berkumpul dalam satu rumah." Darya mengusap punggung Lucas, dan menghujaninya dengan ciuman.


Terakhir adalah Philip, wajah tuanya yang masih tampan menatap penuh rindu pada cucu kesayanganya.


"Kek, maafkan Lucas, bahkan Lucas bingung mau memperbaiki kekacauan ini dari mana." Lucas kembali terisak dalam pelukan lelaki tua itu.


"Kakek yang seharusnya minta maaf atas kesalahan yang kakek buat tidak ada sedikit pun Kakek berpikir bahwa semuanya akan separah ini. Kakek minta kamu perbaiki semua kesalahan yang sudah kakek buat. Karena kakek tidak sanggup lagi untuk memperbaikinya." Philip pun yang sudah banyak perubahan tanpa terasa terisak dalam pelukan Lucas, hal yang selama hidupnya Lucas baru ketahui bahwa kakeknya bisa menangis.


"Tapi kalau Lucas tidak bisa memperbaikinya gimana Kek?"

__ADS_1


"Kakek yakin, kamu bisa memperbaikinya." Philip terus memberikan dukungan pada Lucas. Hanya Lucas harapanya yang bisa memperbaiki semua kekacauan yang di buat Philip.


...****************...


__ADS_2