
"Pagi Om Eric, Elin. Gimana tidurnya nyeyak? Dan Elin kondisinya gimana sekarang?" tanya Arya dengan wajah segarnya.
"Pagi juga Dok, tidur cukup nyenyak kan sekarang mah ada Papah." Elin menjawab sembari melihat ke papahnya yang sedang menyuapinya.
"Om Eric juga jangan lupa makan yah, jangan perhatiin Elin terus tapi Om Eric malah lupa tidak makan." Arya meletakan bungkusan berisi nasi di atas nakas, untuk sarapan Eric.
"Terima kasih Arya, kamu tidak usah repot-repot belikan Om makan, bahkan setiap waktu makan selalu membelikan Om makanan, nanti uang gajih kamu habis untuk membelikan Om makanan. Lebih baik kamu tabung atau kasih ke orang tua kamu." Eric menasihati Arya yang di sambut seulas senyum tipis di wajah Arya.
Wajar kalau Eric berkata begitu, karena dia belum tahu siapa Arya. Bahkan pekerjaanya yang Arya tekuni sebagai dokter hanyalan hobby yang berusaha dia tekuni karena getaran hati nuraninya. Uang dia lebih banyak dari bisnis-bisnis keluarganya yang dia juga ikut andil untuk mengolahnya. Jadi kalau untuk membelikan makanan untuk Eric dan Elin itu sangat tidak keberatan buat Arya.
Namun, biarpun Arya dia adalah anak orang kaya raya, tetapi dia tidak sombong dia juga tidak suka memamerkan harta kekayaanya sehingga siapun yang melihat Arya, tanpa mengenal asal usulnya mereka akan bersikap seperti Eric yang mengira bahwa profesi Arya sebagai dokter adalah pencaharian utuamanya.
"Om Eric tidak usah khawatir, Arya sebelum memberi keorang lain termasuk ke Om Eric, Arya juga sudah memastikan memberi pada orang tua Arya dan menyisihkan sebagian untuk tabungan Arya di masa depan. Jadi kalau Arya membelikan makanan untuk Om itu karena Arya ada uang lebih dan tidak mengganggu uang bulanan Arya," ucap Arya, agar Eric tidak merasa merepotkan Arya.
__ADS_1
"Kalau begitu Om ucapkan terima kasih Yah, Om sangat bersyukur mendapatkan rezeki dari Allah berupa teman seperti nak Arya. Sunggu rezeki yang lebih dari apapun," balas Arya akhirnya dia mau tidak mau juga menerima pemberian dari Arya.
"Ngomong-ngomong tadi dokter yang nanganin Elin ngabarin kalau Om Eric diminta untuk menemuinya nanti sehabis sarapan. Mungkin ada kabar yang ingin disampaikan oleh dokter yang menangani Elin, dan semoga itu adalah kabar baik yah Om. Biar urusan Elin, selama Om Eric menemui dokter, Arya yang jaga anak Om," tutur Arya sembari duduk di samping Elin.
"Aduh kira-kira ada apa yah, Om jadi tidak sabar mau dengar kabar dari dokter yang menanganin Elin. Semoga seperti yang kamu harapkan Arya kalau ini adalah kabar baik untuk Elin." Eric pun buru-buru bersiap kekamar mandi karena penasaran dengan apa yang ingin dokter yang mendampingi Elin katakan.
Begitu Eric ke kamar mandi Elin buru-buru memalingkan pandanganya pada Arya yang ternyata sedang menatap Elin juga. "Dokter Arya serius kalau Papah di panggil sama dokter Marni?" tanya Elin yang merasa aneh saja biasanya dokter Marni kalau ada apa-apa selalu mengabarkan lebih dulu pada Arya, hal itu karena Arya dari awal sudah tahu rekam medis Elin, tetapi kenapa sekarang dokter Marni memanggil Papahnya yang tidak tahu kronologi sebenarnya. Elin takut kalau nanti kejahatan Lucas dan Lexi terbongkar dan dua laki-laki berengs*k itu kembali marah dan murka pada Elin.
Arya menempelkan jari telunjuknya di depan bibir agar Elin tidak keras-keras untuk bertanyanya.
"Tidak ada apa-apa. Emang bener kok dokter Marni yang pengin ngobrol dengan Om Eric. Mungkin ada yang harus mendapatkan persetujuan tindakan dari papah kamu. Terutama untuk wajah kamu. Apabila harus melakukan tindakan tentu harus mendapatkan persetujuan Papah kamu, dan apabila dokter Marni berunding dengan aku paling hal sebatas kondisi kamu dan perkembanganya, tetapi apabila izin untuk tindakan penanganan kamu, tentu Papah kamu yang memiliki hak nomor satu," ujar Arya menjelaskan, tujuan dokter Marni juga memanggil Eric.
Tidak lama Eric keluar dari kamar mandi dengan wajah segarnya. Padahal tadi pagi sebelum sholat subuh sudah mandi tetapi kali ini membersihkan diri lagi.
__ADS_1
"Om Eric sarapan dulu baru nanti keruangan dokter Marni yang kemarin Arya sudah tunjukan ruangan dokter yang menangani Elin. Om masih ingat kan?" tanya Arya, takutnya lupa lagi, nanti malah putar-putar mana rumah sakit ini luas dan terdiri dari beberapa lantai kalau muter-muter malah waktunya habis untuk mencari ruangan dokter Marni.
"Masih kok Dok," jawab Eric dengan bersiap duduk dan menikmati sarapan yang Arya bawa, dan sebelumnya sudah menawarkan pada Arya sebagai basa basi. Padahal Arya sebelumnya sudah mengatakan bahwa ia sudah makan.
"Dokter Arya, Om nitip Elin dulu yah." Eric sebelum pergi menitipkan Elin terlebih dahulu, dan di balas dengan senyum mengembang oleh Arya sebagai kesiapanya menjaga Elin.
"Papah ati-ati yah," pesan Elin sebelum Eric benar-benar di telan oleh pintu ruangan yang berwarna putih. Eric juga membalas pesan putrinya dengan senyuman.
Kini tinggal Arya dan Elin di ruangan itu, di mana ini memang momen yang Arya tunggu-tunggu. "Elin sebenarnya ada yang ingin aku omongin saama kamu hanya dua pasang mata, dan ini sepertinya waktu yang tepat." Arya menjeda ucapanya, "Aku ingin kamu bilang sama papah kamu, agar kamu jangan pulang ke kampung yang kalian maksud tempat aman itu, lebih baik kalian tetap di kota ini. Saya yang akan jamin kalau kamu tidak diapa-apakan lagi oleh Lucas maupun Lexi." Arya menatap Elin dengan tatapan yang dalam, di mana saat ini Elin sedang duduk di atas ranjang.
Elin membalas tatapan Arya, "Kenapa dokter Arya seperti sangat cemas apabila saya meninggalkan kota ini, apa ada yang mengancam dokter Arya lagi?" tanya Elin. Tentu apabila Arya ingin Elin tetap di sini dia harus menjelaskan alasan yang membuat Elin yakin bahwa tempat ini adalah tempat yang aman untuk Elin dan Papahnya.
"Percayalah Elin, ketika Lucas ingin menyelakai kamu di mana pun itu, akan sangat gampang bagi Lucas maupun Lexi mencari keberadaan kamu. Jadi kalau kata Om Eric kampung adalah tempat aman untuk kalian itu salah besar, yang benar tempat teraman adalah kalian tetap di bawah pengawasanku." Arya mencoba menyakin Elin bahwa tempatnya yang paling nyaman adalah ketika Elin tetap bersama dengan Arya.
__ADS_1
Elin nunduk memainkan jari-jarinya yang lentik. "Aku juga sebenarnya lebih nyaman di sini Dok, tapi Papah pasti sulit untuk di bujuk karena Papah trauma dengan kejadian Elin kemarin. Elin juga sama masih trauma dengan perlakuan Lexi."