Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #bab 222


__ADS_3

Lexi dengan malas dan kesal datang menghampiri pintu ruangan rawat yang terus menerus di ketuk. Hampir saja Lexi marah, karena mengira yang mengetuk pintu adalah orang yang iseng. Namun, sedetik kemudian dia menahan kemarahanya, karena yang tengah mengetuk pintu adalah Jiara. "Kenapa Ji?" tanya Lexi yang melihat kalau Jiara seperti orang bingung.


Jiara menatap Lexi dengan tatapan yang terlihat masih kosong. "Lex... Lucas.... Lucas sudah meninggal." Juara langsung mengatakan apa yang terjadi dengan suara terbata.


Jeduerrr... Lexi pun langsung terkejut, dan berlari meninggalkan Elin yang masih pulas tertidur untuk menuju kamar Lucas. Sementara pandangan Jiara langsung tertuju pada Elin yang sedang tertidur.


"Elin apa kamu tahu di balik tidur pulas kamu, Lucas saat ini menunggu ma'af dari kamu?" Jiara dengan pandangan yang tertuju pada Elin berjalan dengan lemah menghampiri ranjang pasien, duduk di sofa samping Elin, di mana tempat itu adalah favorite Lexi menunggu Elin, yang bisa menatap Elin dengan puas saat Elin teridur.


Hikhikhikk... Suara tangisan Jiara yang awalnya hanya isakan samar kini tangisan itu pecah, hingga Elin yang sedang tertidur pun bangun dengan kebingungan. Terlebih ketika pertama bangun dan ia menatap Jiara yang sedang menangis di sampingnya. Dengan kebingungan Elin beranjak duduk dan kedua matanya di gosok berkali-kali dengan punggung tanganya.


"Kakak Jiara? Sedang apa di sini? Kenapa menangis?" cecar Elin masih bingung bukanya tadi Jiara sudah pamitan pada dirinya untuk pulang dan juga kenapa kali ini Jiara menangis? Itu yang membuat Elin bingung.


Jiara menatap Elin dengan tatapan yang sulit diartikan, mata yang memerah lebih terlihat seperti orang yaang tengah menahan marahnya. "Elin, bagaimana kalau Lucas datang pada kamu dan meminta maaf, apakah kamu akan memaafkanya?" tanya Jiara dengan suara yang bergetar dan terlihat berat sekali.


"Maksud Kakak apa bertanya seperti itu?" Elin pun bertanya balik, bukan dia tidak tahu arti dari ucapan Jiara hanya saja dia ingin tahu apa yang ada dalam pikiran Jiara.


"Lucas meminta aku mewakilkan untuk meminta maaf pada kamu apa kamu sudah memaafkanya?" Wanita berhijab itu pun mengulang kembali pertanyaanya.


Kali ini Elin hanya bisa diam, bukan dia tidak memaafkanya tetapi Elin juga ingin Lucas lah yang datang untuk menemui dirinya dan meminta maaaf, setidaknya sama seperti Lexi yang datang pada dirinya dan membuktikan kalau dia menyesali perbuatanya dan meminta maaf pada dirinya, dan membuktikan bahwa dia menyesali atas semua perbuatanya.

__ADS_1


"Kenapa harus  Kakak Jia yang meminta maaf pada Elin, bukan Lucas yang meminta maaf pada Elin langsung?" ucap Elin dengan pandangan menatap Jiara yang masih menunduk, dan memainkan ujung jilbabnya.


"Elin, maafkalah Lucas, dan aku mohon kamu minta Lucas untuk kembali hidup untuk kami. Zakia dan aku sangat membutuhkan kehadiran Lucas. Saat ini mungkin dia hanya ingin kamu yang memintanya untuk bertahan hidup di dunia ini. Elin, Zakia sangat ingin bekumpul dengan Lucas, begitupun aku, tapi saat ini dokter mengatakan kalau Lucas sudah menyerah untuk hidup. Elin, katakan kalau kamu sudah memaafkan Lucas, dan akan berdamai." Tangis Jiara pun pecah dengan menggenggam tangan Elin untuk sebuah permohonan.


Sama halnya dengan Lexi yang tidak percaya atas kabar yang Jiara bawa. Elin pun sama dia seperti orang yang kehilangan setengah jiwanya, mematung, kembali mencerna apa yang Jiara katakan.


"Elin, Dokter memberikan waktu enam jam untuk kami memberikan salam perpisahan dan mungkin saja Lucas akan kembali berjuang, saat ini waktu yang tersisa hanya empat jam. Elin tolong bantu kami, kamu minta Lucas agar tetap bertahan. Aku mohon sama kamu." Jiara kembali memohon pada Elin, besar harapanya kalau Elin akan mengabulkan permohonanya.


"Apa yang terjadi dengan Lucas. kenapa dia bisa sakit? Apa yang ada di rungan yang sore hari Kakak ke luar dari ruangan rawat itu adalah Lucas?" tanya Elin dengan tatapan yang tidak kalah memohon.


Jiara pun mengangguk. "Hati! Hati yang sebagian ada di dalam tubuh kamu adalah hati Lucas, dia ingin meminta maaf pada kamu dan menebus semua kesalahanya dengan mendonorkan hatinya sebagian untuk mengganti hati kamu yang rusak. Memang dia tidak ingin kamu tahu bahwa dialah yang telah mendonorkan hatinya, tetapi Lucas butuh dukungan dari kamu. Maafkan Lucas Elin, aku rasa perjuanganya sudah lebih dari cukup untuk membuktikan penyesalanya, kini saatnya kamu memaafkan Lucas. Apa kamu tidak kasihan Zakia hidup tanpa papah, dan juga aku yang sudah berusaha keras untuk memaafkanya, tetapi ketika hati ini ikhlas untuk memaafkan dia, justru Tuhan memanggilnya untuk pulang."


Tanpa menunggu lama Jiara langsung menuntun Elin ke ruangan suaminya, ada sedikit rasa lega, karena setidaknya Elin tidak syok dengan kabar yang Jiara bawa hingga menimbulkan tubuh yang drop, bahkan Elin perduli dengan Lucas dan mau menemui Lucas.


"Terima kasih Lin, karena kamu setidaknya mau membantu kesembuhan Lucas, meskipun aku tidak tahu hasilnya seperti apa nanti," ucap Jiara dengan suara yang lirih dan lembut.


Elin menatap Jiara yang terlihat bahagia sekali, bahkan sepertinya wanita berhijab panjang itu lupa akan kesalahan Lucas dia sudah memaafkan sepenuhnya.


"Lucas adalah sodara satu-satunya aku, tentu aku perduli, meskipun marah, tetapi aku juga menginginkan kita bisa kumpul bersama." Kakinya terus mengayun dengan kuat dan tidak sekalipun dia terlihat mengeluh meskipun wanita berambut ikal itu belum sepenuhnya sembuh.

__ADS_1


Pandangan Elin langsung tertuju pada kedua orang tuanya yang sedang terduduk dengan lesu di depan ruangan Lucas. Hati Elin semakin diselimuti rasa bersalah ketika melihat papah dan mamahnya sangat sedih dengan kondisi sodara kembarnya.


Langkah kaki Elin dan Jiara sedikit melambat ketika melihat kedua orang tuanya lemas tanpa daya dengan tatapan yang masing-masing kosong.


"Mamah, Papah, maafkan Elin yang sudah membuat Lucas seperti ini," isak Elin yang saat ini berdiri di samping kedua orang tuanya. Darya pun mengerjapkan matanya dan memalingkan wajahnya yang sembab untuk menatap Elin. Sedetik kemudian wanita paruh baya itu bangkit dari duduknya dan memeluk sang putri dengan erat. Untuk beberapa saat Darya menumpahkan tangisnya kembali di balik pelukan sang putri.


Kedua tangan Darya membekap wajah Elin yang terlihat masih bingung lalu wanita itu mencium pipi sang buah hati berkali-kali. "Mamah mohon, maafkan sodara kembar kamu, dia saat ini sedang burusaha untuk sembuh atau justru akan pergi untuk selamanya. Temui dia dan katakan kalau kalian akan bersama-sama kembali pada kita dan akan hidup bersama dalam bahagia."


Elin mengangguk lemah, ketika orang tuanya sangat kehilangan Lucas. Memang dia pernah melakukan kesalahan, tetapi setidaknya dari dia Elin memiliki kehidupan yang baru, itu yang Elin rasakan.


Di dalam ruangan Lexi yang bergantian masuk pun duduk dengan perasaan yang hancur di samping Lucas. "Hay Bro, gue sangat tidak menyangka kalau loe akan menyerah dengan segini gampangnya. Gue terkejut ketika Jiara mengabarkan kalau loe meninggal dunia. Bro, loe nggak seru banget sekarang. Loe tahu kan kalau loe dan gue nakal bareng dan bahkan untuk masalah loe dan Elin, kita berbuat bareng, tapi kenapa loe nyerah Bro, Elin pasti marah nanti kalau tahu gue berbohong dengan masalah loe. Bro bangun anak dan istri loe sangat sedih kalau loe pergi."


Untuk pertama kalinya Lexi menangisi kehilangan Lucas teman beratem dan bahkan dulu dia pingin sekali memusnahkan laki-laki yang saat ini terbaring tidak berdaya.


Entah apa saja yang Lexi katakan untuk Lucas  yang jelas-jelas saat ini dia sedang dalam titik kesedihanya karena kehilangan sahabatnya.


"Bro, bangun gue tidak sanggup kalau harus menebus kesalahan kita berdua. Elin butuh loe juga untuk melindunginya. Gue tidak sanggup apabila melindungi Elin seorang diri. Gue tidak sanggup dan butuh bantuan dari loe."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2