Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Bab 223


__ADS_3

Lexi cukup lama menangis menatap tubuh Lucas yang semakin pucat. "Bro, bangun gue tidak sanggup kalau harus menebus kesalahan kita berdua. Elin butuh loe juga untuk melindunginya. Gue tidak sanggup apabila melindungi Elin seorang diri. Gue tidak sanggup dan butuh bantuan dari loe."


Setelah Lexi merasakan bahwa dirinya sudah cukup untuk meluapkan segala yang mengganjal di hatinya, kini laki-laki yang berusia sebentar lagi tiga puluh lima tahun pun beranjak dari duduknya, dengan perasaan yang lemas. Sama halnya dengan Eric dan Darya, Lexi pun ke luar ruangan dengan perasaan yang semakin tidak menentu, ada rasa kesal dan marah kenapa Lucas harus menyerah sedangkan mereka melakukan kejahatan pada Elin secara bersama-sama.


"Lex, gimana keadaan Lucas?" Elin langsung bertanya pada Lexi, dan laki-laki itu pun menggeleng dengan lemah. Darya, Eric dan Jiara pun kembali lemas, terutama Jiara untuk menemui Lucas pun dia tidak berani dia benar-benar takut untuk bertemu dengan jasad suaminya.


"Kakak, apa Kakak mau masuk sekarang untuk bertemu dengan suami Kakak?" tanya Elin dengan suara yang lirih.


Dengan pandangan yang masih menunduk Jiara pun menggelengkan kepalanya, tanpa melihat pada Elin. "Lebih baik kamu dulu Lin, aku tidak berani untuk bertemu dengan papahnya Zakia." Suara yang berat dan bergetar menandakan kalau Jiara sangat sedih.


Elin menatap kedua orang tuanya yang mengangguk memberikan kekuatan agar Elin masuk ke ruangan Lucas.


"Masuklah, Lucas menunggu kamu," ucap Lexi sembari membelai rambut Elin, dan Elin pun mengikuti apa yang mereka katakan masuk ke dalam ruangan sodara kembarnya. Meskipun baik Jiara maupun yang lainya seolah sudah kehilangan harapan untuk Lucas akan kembali berjuang. Bahkan Jiara sudah berusaha mengumpulkan kata demi kata untuk memberitahukan pada Zakia atas kondisi papahnya yang tidak mungkin akan berkumpul di tengah-tengah mereka.

__ADS_1


Pandangan Elin langsung tertuju pada ranjang pasien di mana Lucas terbaring lemah tanpa daya dengan alat yang masih bekerja untuk berusaha memberikan bantuan agar Lucas tetap hidup. Air mata Elin sudah jatuh ketika pertama kali kedua kelopak matanya menatap pada Lucas.


Dengan langkah yang lemah Elin berjalan ke arah ranjang pasien dan berdiri di samping Lucas.


Elin bahkan bingung harus mulai dari mana. "Hay... ini adalah pertemuan pertama kali setelah kejadian malam yang mengerikan itu. Maaf aku tidak tahu kalau kamu sebegitu menyesalnya atas semua kejahatan yang telah kamu lakukan pada aku. Lucas, apa kamu kenal dengan suara aku? Aku Elin, sodara kembar kamu, tetapi kamu pernah mengatakan pada aku kalau aku adalah sodara tiri kamu, sebelum semuanya tahu dan terungkap, kita adalah sodara kembar."


Elin kembali terisak. Wanita itu meraih tangan Lucas dan merentangkan telapak tanganya yang besar dan banyak alat medis masih menempel dan Elin meletakan tanganya yang kecil bahkan jaraknya sangat jauh.


Elin terkekeh dengan samar. Lucas, lihatlah tangan aku dan kamu sangat jauh berbeda, aku sampai bingung kamu makan apa kenapa tubuh kamu sangat besar, apa jangan-jangan saat di dalam kandungan jatah makan aku kamu ambil semua sehingga aku tidak kebagian makanan." Elin terkekeh dengan air mata yang terus jatuh.


"Lucas, apa kamu tidak ingin bangun dan meminta maaf pada aku? Aku ingin mendengar perminta maafan dari kamu, bukan balasan seperti ini. Aku ingin kamu buktikan segala penyesalan kamu, tetapi bukan dengan kematian kamu. Lucas, aku ingin kamu bangun, dan kita duduk bersama, aku bercerita dengan masa kecilku yang bahagia dan penuh pertualangan ketika tinggal di kampung, dan bahagia meskipun hanya dengan papah, lalu kamu juga bercee


rita masa kecil kamu yang penuh kemewahan bersama Mamah." Elin mengangkat tangan Lucas dan meletakanya di pipi dan kepalanya seolah sodara kembarnya tengah membelai dirinya.

__ADS_1


"Lucas, aku mohon, mohon pada kamu, bangunlah. Zakia akan marah besar pada aku kalau kamu meninggal karena mendonorkan hati kamu untuk kesembuhan aku. Lucas tolong jangan buat aku semakin sulit. Aku bingung mau berkata apa dengan gadis kecil yang pintar itu."


Elin terus mengusap-usap tangan Lucas yang besar sedangkan telapak tanganyaa sangat kecil. Cukup lama Elin terus mengajak Lucas bercerita. Sisa waktu yang dokter berikan hanya tinggal dua setengah jam, kini Elin terus bercerita dengan Lucas. Mungkin kalau memang ia tidak diizinkan untuk kembali berjuang Elin akan sedikit merasakan lega karena telah mengeluarkan semua yang menjasi bebanya.


Elin benar-benar tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia terus bercerita, dengan tersenyum dan sesekali kembali terisak. "Oh iya, Lucas aku dulu saat sekolah SMP sangat iri dengan teman sekolah aku. Di mana dia punya sodara laki-laki yang sangat menyayanginya. Setiap aku bermain ke rumahnya mereka selalu tengah bermain dan tidak jarang mereka juga berantem, tetapi setelah itu mereka akan baikan dan bermain dan bermanja-manjaan, hingga aku sangat iri dan memimpikan aku punya sodara laki-laki dan akan aku bayar semua keirian aku pada teman aku itu."


Elin melihat waktu kesempatan alat-alat medis itu berkerja tinggal satu jam lagi, dan itu tandanya dalam satu jam Lucas akan benar-benar meninggal.


"Apa kamu mau tahu kelanjutanya apa yang aku lakukan pada papah?" tanya Elin, dan kedua matanya menatap Lucas, yang mungkin saja di akan mengaggukkan kepalanya dan tersenyum memberikan tebakan. Ah hayalanya terlalu tinggi. Elin membuang nafas kasar. Meskipun wanita itu sangat paham kalau dirinya tidak akan mengalami hal itu. Harapanya untuk kesembuhan Lucas benar-benar kecil. Ia tidak  berani lagi mengharapan yang lebih, dengan perlahan Elin pun hanya bisa mencoba mengiklaskan apa yang Tuhan takdirkan.


"Aku saat itu juga pulang ke rumah, dan marah pada Papah karena tidak memberikan aku sodara laki-laki aku marah sama Papah entah sampai berapa hari, sampai Papah datang ke kamar aku dan berjanji akan memberikan aku sodara laki-laki. Awalnya aku mengira apa yang Papah lakukan dulu hanya kebohongan dan ternyata aku baru tahu sekarang-sekarang bahwa yang Papah katakan pada saat itu adalah sebuah kebenaran. Aku punya sodara laki-laki. Aku ingin kembali menujudkan impian aku saat dulu di mana kamu menggendong aku dan bermain bersama seperti sodara pada umumnya. Lucas, bangunlah dan berikan kesempatkan itu walaupun sesaat. Aku ingin bermain degan kamu, sodara kembar aku." Elin terisak seiring waktu yang makin mengecil dokter berikan. Elin meletakan kepalanya di dada Lucas.


"Aku ingin kamu bangun dan kita akan bermain bersama kamu gendong aku, dan kamu lindungi aku, aku adalah adik kamu, kamu lihat tubuh aku kecil kamu harus lindungi aku. Lucas bangunlah." Elin yang semakin  putus asa pun memukul-mukul dada Lucas.

__ADS_1


"Kamu jahat Lucas, kamu jahat, aku benci sama kamu, kamu tidak pernah mau tahu bagaimana sakitnya hati ini ketika kamu buat aku hina, dan menderita, kamu bahkan hancurkan masa depan aku. Kamu bukan sodara aku. Aku benci kamu, aku benci." tangis Elin semakin pecah dan ambruk di tubuh sodara kembarnya.


"Kamu jahat Lucas! Kamu orang paling jahat yang pernah aku kenal!"


__ADS_2