Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna Bab 179


__ADS_3

"Maaf Mba, apa boleh saya berbicara dengan Lucas, ini mengenai kasus sahabat saya." Lexi yang baru datang dan melihat ada ketegangan pun langsung  mengalihkan obrolan mereka. Lexi tahu kalau Jiara tidak berani berkata jujur. Setelah Lexi bercerita dengan Arya di depan sana, ia benar-benar baru tahu ternyata hanya Lucas seorang diri yang belum tahu kebenaran akan Elin.


Sementara Jiara menghela nafas, lega. 'Ya Tuhan, terima kasih sudah diberikan bantuan untuk lepas dari pertanyaan mengerikan ini,' batin Jiara. Wanita berhijab itu pun langsung beranjak dari duduknya dengan menunduk.


"Saya pamit dulu Mas. Ada salam dari Kia. Dia ingin Papahnya cepat pulang," ucap Jiara sebelum benar-benar meninggalkan ruangan itu. Sementara Lucas tidak bisa menahan sangat istri terlebih informasi yang Lexi bawa nampaknya juga penting untuk menentukan kebebasanya.


Lexi sendiri semakin penasaran dengan Lucas. Terlebih melihat wanita berhijab panjang yang sudah jelas Lexi bisa tebak kalau wanita itu adalah orang yang Arya maksud, istri dari Lucas. Tidak Lexi tolak, bahwa wanita yang bersama Lucas cantik dan juga pasti prilakunya baik.


"Kabar apa yang akan loe bawa?" tanya Lucas, ketika melihat Lexi tidak berkedip ketika melihat Jiara. Buru-buru Lexi mengalihkan pandanganya, sebelum yang punya mengamuk.


"Loe hutang penjelasan sama gue. Gimana loe bisa punya istri semacam itu dan sudah punya anak juga. Sementara gue sama loe nggak bertemu baru empat bulan. Gimana dalam waktu yang singkat loe bisa merubah dunia loe," cecar Lexi semakin bingung dengan kehidupan Lucas. Laki-laki itu justru lupa dengan masalah hidupnya, terlalu serius dengan masalah Lucas yang sangat misterius hidupnya.


#Awas Lexi nanti kamu kaya Arya pusing dengan masalah Lucas....


Lucas sendiri tidak kaget ketika Lexi bertanya seperti itu, dia sendiri antara percaya dan tidak kenapa hidupnya seperti roller coaster, berputar-putar hingga ia sendiri tidak tahu kapan akan berhenti.


"Panjang ceritanya, hingga gue pun bingung ini mimpikah atau kenyataan." Lucas menghela nafas panjang. Menetralkan perasaanya yang masih ada sisa gugup di pertemuanya tadi dengan Jiara.


"Gue lihat loe banyak banget perubahan selama empat bulan ini. Apa ini ada hubunganya dengan wanita itu?" Lexi tidak akan memaksa kalau memang  Lucas belum mau menceritakan kenapa iya bisa tiba-tiba punya istri dan anak. Namun, Lexi lebih tertarik dengan perubahan Lucas.


"Gue juga perhatikan loe pun banyak perubahannya. Lalu apa yang membuat loe berubah?" tanya Lucas balik. Yah, sejak dulu memang Lucas kurang suka apabila ada yang terlalu ikut campur dengan masalah pribadinya, kecuali dia yang meminta bantuan, kalau tidak maka Lucas akan marah.


"Jujur gue memang banyak berubah, dan sebabnya adalah Elin."


Lexi bisa melihat perubahan wajah Lucas. Yah Lexi bisa simpulkan kalau Lucas pun ada penyesalan di hatinya. Sehingga secara tidak langsung sebenarnya laki-laki itu sudah memiliki ikatan batin dengan Elin, dan ada penyesalan dari semua yang ia lakukan beberapa bulan kebelakang.

__ADS_1


"Alasan gue keluar dari bisnis yang kita bangun mungkin ada hubunganya dengan wanita itu. alasan gue meninggalkan negar ini juga ada hubunganya dengan wanita itu. Alasan gue malas berbicara dengan loe juga ada rasa marah, kesal dan jengkel dengan loe. Padahal loe tahu gue dari dulu tidak pernah memiliki rasa itu. Tapi  gadis itu berhasil membuat hidupku berubah. Aku tahu dia gadis yang baik. ini yang membuat hidupku selama empat bulan seperti di ikuti terus dengan rasa bersalah," oceh Lexi, sedangkan Lucas hanya diam menyimak.


"Apa loe juga merasakan hal yang sama." Lexi yang melihat reaksi Lucas diam saja pun memancing gimana perasaanya setelah melakukan kejahatan pada Elin.


"Kurang lebih sama dengan apa yang loe rasakan," lirih Lucas. "Gue tidak tahu akan perasaan itu, gue tidak menjabarkanya, tetapi setiap mendengar nama gadis itu jantungku sakit." Lucas memegang dada sebelah kirinya.


"Ada yang ingin loe sampaikan apabila Elin pada kenyataanya masih hidup," ucap Lexi. dia seperti tegar, tetapi dalam diri Lexi pun sedang bergejolak dengan perasaanya. Perasaan bersalah, kasih dan perasaan marah. Yah marah pada diri sendiri, pada Lucas, dan terutama pada Philip.


Lucas menggedikkan bahunya, dengan lemas. "Gue tidak tahu, gue juga tidak bisa mengerti apa yang sebenarnya gue rasakan."


"Mamih loe sudah sembuh, apa loe tahu kenapa Beliau bisa sembuh?" tanya Lexi wajah mereka sudah saling tegang, tidak ada wajah santai. Bahkan urat-urat Lexi sudah terlihat.


Lucas menggelengkan kepalanya dengan pelan. Bibirnya membisu. Sebenarnya ia sudah bisa menebak kalau ada yang tiadk beres dengan keluarganya, tetapi dia selalu menolak tebakan dalam pikiranya, dia berharap yang jadi ketakutanya hanyalan halusinasi yang datang untuk menghantuinya. Bukan kenyataan yang tidak ia ketahui.


"Beliau sudah bertemu dengan suaminya. Ada peran Papah loe dalam kesembuhanya."


Bahkan suara tangisan Lucas pun terdengar hingga ruangan lain. Lexi tidak bisa menahanya. Ia membiarkan Lucas menangis dan Lexi tahu dalam hatinya penyesalan sedang menggerogoti perasaanya.


Mata Lexi pun merah kala melihat Lucas begitu hanyut dalam penyesalan. Cukup lama Lexi  membiarkan Lucas menangisi penyesalan.


"Loe boleh menangis, boleh marah, boleh benci, tapi ini sudah terjadi hanya satu cara yang harus loe lakukan, meminta maaf dan perbaiki hubungan kalian," ucap Lexi. Ia sendiri kalau jadi Lucas mungkin akan melakukan hal yang lebih dari sekedar menangis.


"Apa mereka masih hidup?" tanya Lucas dengan suara parau. Lexi menatap wajah Lucas, bahkan Lexi tidak melihat laki-laki yang ada di depanya adalah Lucas sahabatnya yang beberapa tahun lalu sering melakukan kejahanya denganya. Tertawa terbahak setiap selesai berbuat jahat.


Dengan ragu Lexi mengangguk. "Arya sengaja membohongi loe, agar loe tidak mencari mereka lagi." Lexi melihat Lucas menghirup nafasnya berkali-kali untuk mengurangi rasa sesak di dadanya.

__ADS_1


"Kabar gadis itu gimana?" tanya Lucas setelah ia cukup lama diam untuk menetralkan perasaanya.


"Gue tidak bisa bilang kalau dia baik-baik saja. Perbuatan kita sudah di luar akal nurani manusia," ucap Lexi dengan suara bergetar, apalagi kalau tahu kondisi Elin saat ini.


"Dari mana gue bisa perbaiki ini semua?" cecar Lucas. Tubuhnya bergetar hebat. Lexi menggeleng pelan.


"Dia bukan hanya luka fisik. Benar kata Arya batin gadis itu yang hancur.  Gimana tidak hancur. Sodara kembarnya yang harus melindunginya justru menghancurkanya."


Lucas menggeleng kepalanya dengan pelan dan air matanya kembali menetes.


"Katakan apa yang loe katakan itu tidak benar... Loe sedang mabuk kan? Loe pasti sedang ngigo..." racau Lucas dengan terus menggelengkan kepalanya.


"Gue juga ingin berkata seperti itu, tetapi fakta memang kadang tidak tahu diri menghancurkan hati. Gue juga marah waktu tahu fakta ini. Gue kecewa kenapa gue sejahat itu. Menghancurkan masa depan wanita." Lexi pun tidak kuat menahan air matanya tenggorokanya tercekat seolah ada yang mencekiknya dengan kuat.


"Arya... Arya tidak pernah mengatakan sesuatu..." ucap Lucas, ingin Lexi mengubah informasinya. Ingin Lexi berucap bahwa ini adalah kebohongan.


"Arya tahu gimana mental Elin. Arya tidak ingin Elin hancur untuk kesekian kalinya oleh sebab itu dia merahasiakan dari loe. Elin tidak mau bertemu kita. Loe pasti bisa rasakan kalau berasa di posisi Elin. Loe pasti setelah tahu fakta ini ingin bertemu dengan dia. Itu yang tidak Arya inginkan oleh sebab itu Arya menyembunyikan kebenaran tentang Elin.


"Tinggalkan gue!!!! Jangan bebaskan gue dari penjara ini." Lucas meminta Lexi keluar.


"Kamu memang seharusnya dihukum selamanya di dalam penjara ini. Tetapi ingat kamu punya janji pada Zakia. Di ponsel itu ada vidio Zaki yang meminta loe cepat pulang, dia menunggu janji loe." Arya yang tiba-tiba masuk membuat ruangan terasa semakin dingin.


#Teman-teman sembari nunggu kisah kelanjutannya. Mampir ke karya bestie others yuk, di jamin bikin baper.


Kuy ramaikan...

__ADS_1



__ADS_2