
"Bismillahirrahmanirrahim." Eric membuka pintu ruangan Darya.
"Papah," lirih Elin dengan senyum yang mengembang sempurna, dan pandanganya dialihkan pada mamahnya yang masih mematung menatap mantan suaminya. Entah apa yang ada di dalam pikiran Darya saat ini. Pandanganya tertuju pada Eric tetapi tanpa Ekspresi yang berarti.
Hati Eric sakit, ketika melihat tubuh sang wanita yang sangat dicintainya kurus dan pucat, sangat jauh dengan Darya yang dulu bersamanya. Meskipun ia tidak bergelimangan harta, tetapi Eric pandai memberikan istrinya kebutuhan hidupnya tanpa kekurangan, perawatan pun Eric coba berikan pada tubuh Darya meskipun tidak yang mahal, tetapi berhasil tetap menjaga kecantikannya, tapi di hari ini Eric melihat Darya seperti orang yang kekurangan perhatian.
Sakit hati Eric melihat itu semua. Ia berpikir kalau Darya akan bahagia dengan keluarganya yang bergelimang harta. Nyatanya wanitanya justru mendapatkan perlakuan yang sangat tidak sebanding dengan harta yang dimiliki orang tuanya. Andai tahun akan seperti ini. Eric tidak akan membiarkan Darya kembali pada orang tuanya.
Sesusah apapun Eric akan lakukan, tetapi nasi sudah menjadi bubur. Semuanya tidak bisa dikembalikan lagi. Saat ini yang Eric harus lakukan adalah menebus kesalahannya yang telah melepaskan Darya selama dua puluh delapan tahun dengan perjuangan yang tidak mudah.
Elin menatap mamahnya yang seperti mengingat sesuatu. "Mah, apa Mamah sedih melihat Papah?" tanya Elin dengan lirih, tetapi sepertinya Darya terjebak dalam lamunannya. Di ruangan itu ada Diki dan beberapa perawat yang berjaga, karena ditakutkan Darya akan kambuh depresinya. Namun sampai detik ini Diki masih melihat reaksi yang aman dan wajar pada pasiennya.
Eric berjalan menuju wanita yang sangat dicintainya. "Rya, aku membawakan makanan untuk kamu apa kamu mau makan bersama-sama dengan anak kita juga?" ucap Eric suaranya yang bergetar menandakan betapa rindunya laki-laki itu dengan wanita yang saat ini ada di hadapannya. Dua puluh delapan tahun lebih sejak anaknya lahir, mereka dipisahkan oleh keadaan dan saat ini dia di pertemukan dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.
Namun, Eric masih bisa bersyukur, karena saat ini ia dipertemukan dengan wanita yang dicintainya dalam keadaan masih hidup. Hal yang paling ditakuti oleh Eric adalah ketika ia di pertemukan dengan mantan istri hanya dalam bentuk batu nisan itu yang selama ini paling Eric takutkan. Tetapi semua itu tidak terjadi. Hanya depresi yang Darya derita, dan Eric yakin dengan Darya, bahwa wanita itu akan sehat kembali.
Darya memberikan senyum terbaiknya setelah Elin kembali menegur mamahnya. "Kamu berhasil merawat Elin menjadi anak yang baik," lirih Darya ketika menatap putrinya. Sedangkan dirinya sangat bersedih, karena dia sendiri tidak bisa menjaga putranya. Erlan tumbuh dengan didikan orang lain bukan dengan dirinya. Sehingga wanita yang menyandang status ibunya pun tidak mengenali putranya.
__ADS_1
"Iya, itu karena Elin adalah bukti cinta kita, hanya Elin yang kamu berikan untuk menemaniku, dan kita akan menjadi satu keluarga lagi, apa kamu mau?" tanya Eric tanpa berbasa basi, tujuannya mencari wanita itu adalah untuk mengulang kisah yang selama ini ia jaga. Kisah cinta yang belum selesai dan dipaksa selesai oleh keadaan.
Namun, mulai detik ini Eric berjanji apapun halangan yang akan datang di masa depan ia tidak akan lagi melepaskan wanitanya. Dia akan terus menggenggam hingga tidak ada lagi yang bisa melepaskannya.
Darya menatap wajah putrinya seolah ia sedang meminta masukan dari sang putri, sedangkan Marni dan yang lainya masih menjadi saksi atas perjalanan cinta Eric dan Darya yang sangat unik. Dengan cinta yang mereka miliki dua anak manusia ini bisa membuktikan bahwa sekuat apapun orang lain memisahkan cinta mereka, tetapi pada ujungnya semesta mentakdirkan mereka untuk kembali lagi.
"Elin, selalu berdoa pada Allah kalau Papah akan di pertemukan dengan Mamah dan di sisa umur kalian, Mamah dan Papah bisa bahagia bersama, itu adalah cita-cita Elin," ucap Elin dengan mata yang berkaca-kaca. Ini bukan air mata kesedihan yang mengalir di pipinya, tetapi tanda kebahagiaan atas doa-doanya yang Tuhan kabulkan.
"Darya pun mengikuti apa keinginan putrinya. Kita akan menjadi suami istri lagi? Dengan kondisi aku yang seperti ini? Apa kamu tidak malu kalau nantinya aku akan kambuh karena tidak bisa mengontrol pikiran aku?" lirih Darya, sedih tentunya ketika ia memiliki mental yang lemah sehingga sangat gampang di kendalikan oleh orang lain yang memiliki sifat tidak suka pada dirinya.
"Aku akan terus bersama kamu tidak akan aku meninggalkan kamu lagi, apapun kondisi kamu dan aku tidak pernah perduli dengan orang-orang yang menilai kamu seperti apa. Kamu adalah Darya, sekarang dengan yang dulu tetap sama," balas Eric. Dua puluh delapan tahun lebih ia menjaga cintanya pada satu wanita sehingga butuh bukti apa lagi yang bisa membuat orang-orang ragu akan cinta Eric, dan tentunya Darya juga jangan lagi diragukan kesetiaannya itu.
"Alhamdulillah, Pah ini bukan mimpi kan? Ini adalah kenyataan kado Elin yang bulan depan ulang tahun," ucap Elin dengan bahagia, ini adalah kado ulang tahun yang sangat berharga, kado ulang tahun terindah sepanjang usianya.
"Astaga Sayang, kamu bulan depan ulang tahun yah. Papah sampai lupa. Apa yang ingin kamu dapatkan di ulang tahu kali ini?" tanya Eric mengalihkan suasana yang terara sedih itu, benar saja setelah membahas ulang tahun suasana menjadi lebih hangat.
"Elin tidak ingin apa-apa cukup Papah dan Mamah. Elin ingin kalian menikah lagi," balas Elin dan wanita yang bulan depan genap berusia dua puluh sembilan tahun itu tentu sudah tahu bahwa doa dan harapannya akan segera terwujud.
__ADS_1
"Itu akan segera terkabul Sayang, sebentar lagi Papah akan membawa Mamah kamu keluar dari rumah sakit ini, dan kita akan hidup dengan keluarga kecil kita, dengan anak dan cucu-cucu kita," ucap Eric, meskipun setiap membahas cucu hati Eric tercubit dua cucunya lahir tanpa adanya ikatan pernikahan. "Benar kan Dok, kalau Darya sudah bisa keluar dari rumah sakit ini. Jaminannya saya yang akan menjamin kalau kondisi Darya akan baik-baik saja," imbuh Eric sembari memberikan tatapan yang memohon pada Diki.
Semua mata pun kini tertuju pada Diki yang sejak tadi sibuk dengan gawainya mengabadikan momen indah ini. Momen yang tidak akan terulang kembali oleh pasiennya, mungkin hanya Darya yang akan memiliki momen indah ini. Bukan karena keberuntungan yang menimpa pada Darya tetapi karena Doa, dan ketulusan cinta dari mereka sehingga momen indah dan langka seperti ini yang membuat Darya melewati segala perjalanan yang panjang.
"Ah... itu" Diki segera mematikan rekaman ponselnya dan kembali fokus dengan Eric. "Tadi Om Eric bicara apa?" tanya Diki sebari terbata karena kaget terlebih orang-orang menatapnya seperti seorang yang tengah kepergok berbuat asusila.
"Kita boleh kan membawa Mamah pulang Dokter," lirih Elin mengulang pertanyaan yang sama dengan papahnya tadi lemparkan.
"Tentu dong, Nyoya Ely sudah sembuh jadi boleh ikut dengan kalian," jawab Diki dengan yakin. Tidak ada lagi alasan Diki menahan Darya di rumah sakit ini kalau Darya saja sudah bisa mengontrol sikap depresinya.
"Tapi nanti Mr L(Lucas) tidak akan mengamuk kan?" tanya Elin sembari setengah berbisik pada Diki, kebetulan Diki dan Elin mereka cukup berdekatan sehingga Elin yakin kalau Diki akan mendengarnya meskipun wanita itu berbisik.
"Itu urusan gampang, aku dan Arya yang akan mengurusnya," balas Eric dengan tidak kalah berbisik.
"Alhamdulillah deh, malas banget berhubungan dengan Mr L (Lucas) kalau perlu biarkan kami bahagia dengan tiga orang dalam satu keluarga, bilang sama dia semoga dia pergi kelaut sanah," dengus Elin dengan bersungut, dan Diki pun hanya terkekeh samar dengan kelakukan Elin.
Memang Lucas sangat menyebalkan, tetapi dia sebenarnya baik kalau tidak terjebak dalam pergaulan gelap yang di kenal serta lingkungan yang memprofokasinya.
__ADS_1
Kini Elin tinggal mencari cara agar tidak terlibat dengan Lucas, meskipun ini akan sangat sulit mengingat Lucas adalah saudara kandungnya, dan yang membuat Elin semakin jijik adalah Lucas yang ternyata saudara kembarnya, pernah tinggal dalam satu rahim yang sama. Namun justru saudara kembarnya lah yang telah menghancurkan dirinya.