Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 206


__ADS_3

"Tante..." Suara yang menggemaskan terdengar bersamaan dengan pintu yang terbuka.


Senyum mengembang dari Elin begitu keluarganya datang. Zakia  pun berlari menghampiri tantenya. "Om, Kia mau naik, Om." Tangan bocah kecil itu direntangkan dengan gemas, sembari kaki mungilnya dihentak-hentakan siapa pun yang melihat tingkah bocah tiga tahun itu pasti akan sangat bahagia terlebih dia adalah anak yang pintar sehingga sebagai bonus dari Tuhan karena kepintaranya ia diangkat dari sakit-sakitnya, yang dokter katakan bahwa sakitnya cukup berbahaya. Namun atas izin Allah semuanya bisa dilewati.


Lexi pun mengangkat Zakia dan meletakan dai samping Elin.


"Hay Sayang, gimana keadaan kamu?" Darya yang sedang menuntun Philip tentu datang lebih lama berbeda dengan Zakia yang berjalan seperti kancil tidak bisa pelan.


"Sehat Mah, Emir belum di bawa ke sini masih di ruang bayi," ucap Elin yang tahu kalau orang tuanya dan juga kakeknya datang pasti ingin bertemu dengan Eril putra nya yang baru dilahirkan beberapa jam lalu.


"Wah, Mamah baru tahu namanya Eril, nama lengkapnya Eril siapa, Sayang?" Darya terlihat sangat senang ketika mengetahui cucunya bernama Eril hampir mirip dengan nama suaminya Eric.


Elin nampak sekilas menatap pada Lexi. Laki-laki itu pun mengangguk itu artinya ia tidak melarang Elin mau memberi naman siapa. "Namanya Khoeril Istiqlal Reifansyah. Nama panggilanya Eril," ucap Elin dengan senang, sudah lama wanita itu mendambahakan nama itu, susah lama juga ia ingin mengunjungi Masjid Istiqlal dan melangitkan doa di Masjid itu, tetapi karena tidak enak dengan papahnya ia pun mengurungkanya. Padahal mereka tinggal masih dalam satu wilayah.


"Kenapa namanya ada Istiqlal-nya apakah kamu ingin ke Masjid itu?" tanya Philip tak henti-hentinya tersenyum karena rasa bahagianya yang memiliki cicit laki-laki.


Wajah Elin langsung memerah ketika Philip menanyakan hal itu, tidak dipungkiri Elin memang menginginkan mengunjungi Masjid itu hanya sekedar beribadah di dalamnya, ingin merasakan beribadah di Masjid terbesar di Asia Tenggara, dan juga terbesar di negara nomor enam yang bisa menampung hingga kurang lebih dua puluh ribu jamaah. Masjid yang terletak di Jakarta Pusat tepatnya di Jalan Taman Wijaya Kusuma, Juanda.


Sebenarnya keinginan Elin mengunjungi masjid Istiqlal itu bukan saja saat hamil, sudah sejak lama Elin memimpikanya, bahkan sejak masih tinggal di kampung persembunyianya, entah mengapa setiap melihat gambar, liputan ataupun artikel yang memuat tentang rumah ibadah bagian umat muslim yang di bangun tahun 1961, dan banyak tokoh agama yang menggagasnya dan peletakan batu pertama adalah oleh presi-den pertama kita. (Hayo jangan tanya presiden pertama siapa)

__ADS_1


"Elin hanya mengaguminya saja, banyak simbul dari Masjid Istiqlal itu, terutama artinya yang berarti 'Merdeka' Elin ingin dengan hadirnya Eril bisa memberi kemerdekaan bagi kita semua, dan juga Istiklal yang letaknya berdampingan dengan Gereja Katedral melambangkan, kerukunan umat beragama, bukanya memang kita sebagai makhluk beragama harus rukun dan Elin juga ingin dengan kehadiran Eril membawa kerukunan seperti nama yang Elin berikan."


#Ngomong-ngomong tentang kerukunan umat beragama, meskipun Othor sering menulis novel religi (Di platform F kalau di Nt belum ada novel yang religi banget, masih yang semi-semi religi, tapi tetap tokoh di jelaskan degan agamanya.) Dulu othor pertama kali merantau ke Jakarta, dan pindah-pindah dari tempat satu ke tempat lain karena pengaruh pekerjaan yang beda juga, beberapa kali juga ngontrak dengan teman yang non muslim, dan mereka itu Care banget terutama kalau soal ibadah, setiap waktu subuh belum bangun dia selalu bangunin dan ingatin buat sholat. Sepeduli itu mereka, makanya kalau Othor lihat di media sesial banyak yang selisih paham dengan agama, suku dan ras, suka sedi. Karena Othor sendiri banyak punya teman yang Non Muslim, dan beda suku juga, tetapi sejauh ini kami baik dan tidak pernah menghujat agama yang kami anut. Salam Toleransi. Jadi curhat.


Lagi-lagi ucapan Elin membuat hati yang mendengarnya sakit, sungguh pemilihan nama yang tepat untuk seorang anak, terutama Lexi kembali tersayat hatinya ketika mendengar apa yang Elin katakan. Harapan yang sungguh besar, agar kehadiran Eril memang sebagai penerang bagi semuanya. kemerdekaan dan perdamaian.


'Amin." Jawaban serentak keluar dari bibir yang ada di dalam ruangan itu. Sementara Zakia  dari tadi terus diam bingung, tetapi mau bertanya dia tidak ada kesempatan. Sejak tadi orang-orang entah membahas apa.


"Tante, Tante dede bayi yang di pelut Tante kok tidak ada lagi? Kemana Dede bayinya," celoteh bocah kecil itu.


Darya pun kembali mengusap rambut cucunya yang di kuncir dengan rapih. "Dedek bayinya kan oma tadi bilang kalau dedek bayi sudah lahiran dan sekarang udah keluar dong."


Sementara Lexi pun hanya diam ingin ia berkata. "Tenang Kia, jangaan nangis biar nanti Om bikin lagi dedek bayinya biar perut Tante kamu besar lagi." Hehe... tetapi itu tidak mungkin bisa-bisa di gantung oleh Philip dan yang lainya, lagi pula meyakinkan Elin untuk menerimanya, itu tidak mudah, diberikan maaf dan kesempatan merawat Eril saja sudah sebuah kesempatan emas.


Elin sendiri hanya tertawa dengar ucapan Zakia yang lucu itu.


"Permisi..."


Obrolan mereka pun terhenti ketika ada yang datang, dan yang bikin semua tercengan adalah seorang wanita paruh baya datang dengan membawa ranjang bayi.

__ADS_1


"Oh ya Tuhan, apa ini cucu saya,.Sus?" pekik Darya yang melihat bibit anak dan cucunya tidak ada yang gagal, masih bayi saja terlihat sangat tampan bayi Elin itu.


"Betul Nyonya, ini bayi dari Nyonyah Elin namanya Eril, dia bayi yang baik tidak rewel, dan lihat dia lebih senang tidur," ucap perawat itu dengan senyum yang ramah.


"Histt... kamu Sus, namanya anak bayi memang seperti itu tidak mungkin dia langsung merengek minta balon," seloroh Darya, tetapi setelah itu ia langsung menggendong cucunya sebagai salam perkenalan.


Sementara Zakia pun tidak kalah antusias. "Oma... Oma... Kia ingin kenalan dengan dedek bayi Oma, talo sini, Kia mau gendong juga." Zakia langsung duduk dan meminta bayi tampan itu di letakan di atas pangkuanya. Seperti boneka yang sering ia mainkan.


Karena celotehan bocah kecil itu hingga yang lain pun terkejut, mendengarnya.


"Hey Sayang adek bayi nanti nangis kalau di taro situ. Kakak Kia belum bisa gendong," ujar Darya memberitahukan kalau perbuatanya cukup bahaya untuk anak yang baru lahir.


"Oma... please, Kia mau gendong juga." Lagi, wajah memelas dan kedua tangan di katup kan membuat simbol permohonan, ia tunjukan agar sang Oma memberikan kesempatan untuk dirinya menggendong bayi itu.


Darya menatap Elin, meminta persetujuan, bagaimanapun Elin adalah ibunya.


'Tidak apa-apa Mah, mungkin hanya sekedar syarat saja bohongan diletakkan Kia pasti suka."


Benar saja Darya meletakkan bayi yang sudah mulai menggeliat ke atas pangkuan Kia.

__ADS_1


Wajah bahagia terlihat dari Kia. Seolah ia tahu bahwa bayi yang ada di atas pangkuanya adalah sodaranya.


__ADS_2