
Jiara tersentak kaget ketika pintu kamar putrinya ada yang mengetuk. Jantungnya semakin bergemuruh ketika ia takut kalau yang datang adalah Lucas suami sekaligus ayah dari anaknya. Kakinya sambil bergetar hendak melangkah kearah pintu, tetapi tangan si kecil Zakia langsung menahannya.
"Bunda jangan pelgi," lirih Zakia, dengan suara yang belum begitu jelas, memang sejak siang tadi tubuhnya melemah kembali. Jiara pun kembali melakukan bokongnya.
"Iya Bunda tidak akan pergi," balas Jiara dengan mengusap-usap punggung putrinya.
Tok... tok... tok... Pintu kembali di ketuk kali ini lebih keras.
"Jiara ini aku Arya, apa aku boleh masuk?" Suara Arya, membuat jantung Jiara lebih bisa dikondisikan lagi.
"Oh, boleh Dok, masuk tidak di kunci. Zakia sedang manja jadi tidak mau ditinggal Dok," balas Jiara, dan tidak lama Arya masuk dengan membuka pintu pelan. Jiara cukup kaget ketika Arya datang tidak sendiri melainkan ada seorang laki-laki paruh baya yang sudah ia kenalnya mengekor dibelakang dokter Arya.
"Om Eric, kok bisa tahu kalau Jiara masih ada di rumah sakit ini? Apa Elin sudah sembuh?" tanya Jiara dengan sopan dengan mengatupkan tangannya di depan dadanya.
"Tidak, kebetulan Elin sudah sembuh dan sekarang sudah pulang ke rumah serta tidak lagi sakit." Eric melihat Zakia yang sedang tertidur dengan lemah, kelopak matanya seketika memanas.
"Kia sakit apa Nak?" tanya Eric tangannya mengusap pucuk rambutnya yang sudah tidak berhijab.
"Dokter bilang leukemia Om, tapi akan di cek ulang semoga saja bukan, dan hanya dengan operasi bisa kembali sehat," jawab Jiara, itu yang dokter katakan, kalau memang bukan leukemia dan hanya ada gangguan pada sumsum tulang belakang yang masih tergolong ringan, bisa di adakan dengan penanganan operasi dan kemungkinan Zakia akan sembuh," jelas Jiara dan tentu Arya juga sudah tahu mengingat Arya juga hadir mendengarkan penjelasan dokter yang menangani sakit Zakia.
"Alhamdulillah. Papah ikut senang dengarnya," lirih Eric dengan bermain dengan Zakia yang setelah di bujuk akhirnya mau bermain dengan Eric justru gadis kecil itu saat ini sudah sedikit bersemangat tidak seperti tadi yang terlihat sangat lesu.
Jiara tersentak cukup kaget ketika Eric menyebutkan dirinya papah.
__ADS_1
"Jiara kita harus bicara, sebentar ke kantin bisa?" tanya Arya dengan sedikit berbisik.
"Tapi Kia apa nanti tidak merepotkan Om Eric tanya Jiara merasakan tidak enak apabila justru merepotkan orang lain.
"Tidak semuanya akan aman kok," balas Arya dengan yakin. Dan Jiara pun berpamitan dengan putrinya.
"Sayang Bunda mau ke kantin dulu beli minum boleh?" tanya Jiara dengan suara yang lembut.
Zakia mengangguk. "Boleh Bun, nanti Papah pulang kan Bu?" tanya anak kecil itu, dan membuat luka semakin menganga di hati Jiara sakit yang tidak berdarah ketika putrinya terus menanyakan papahnya tetapi ia sendiri belum bisa mendamaikan hatinya untuk bersama dengan papahnya.
"Iya sayang nanti Papah kalau sudah selesai pekerjaannya akan langsung pulang," jawab Jiara lagi-lagi ia harus berbohong agar Zakia tidak lagi menanyakan Lucas.
"Anak cantik dan anak baik Om pinjam Bunda bentar yah," ucap Arya dengan menoel hidungnya. dan Zakia pun mengangguk dengan sisa tawanya yang terlihat samar.
"Kia,tidak perlu sedih yah anak cantik, kan ada Opa yang akan jadi ganti Papah," ujar Eric dengan telaten mengajak main Zakia meskipun ia bermain boneka-bonekaan. Eric yang sudah biasa merawat anak pun sudah tidak heran dan harus menyesuaikan dengan hal yang baru, ketika ia harus mengajak main Zakia. Justru Eric seperti kembali ke jaman-jaman Elin masih berumur dua tahun yang, semua permainan selalu dengan dirinya.
"Senang Opa, Opa baik sama kaya Papah, tapi Papah kata Bunda sedang bekerja belum pulang. Nanti kalau Papah sudah pulang akan main lagi sama Kia," oceh anak kecil itu mengikuti apa yang dikatakan oleh Jiara.
"Iya anak baik, Papah kerja dulu cari uang yang banyak, biar bisa beli Kia mainan dan baju, serta bayar obat Kia. Sekarang Kia mainya sama Opa dulu yah," bujuk Eric, laki-laki paruh baya itu tahu kalau Zakia sangat kangen dengan papahnya, Lucas.
"Iya Opa, kan kata Papah nanti kalau Kia sembuh akan diajak jalan-jalan, makanya Papah kerja biar banyak uangnya, dan nanti kita bisa jalan-jalan," celoteh Zakia lagi dengan gaya yang sangat bersemangat.
"Iya betul Sayang." Eric menarik tubuh mungil Zakia dan memeluknya dengan erat, rasanya damai sekali seperti ia memeluk buah hatinya sendiri.
__ADS_1
Sepertinya kali ini di mana Zakia terlihat sangat antusias sekali tertawa dengan renyah ketika bermain dengan Eric. Laki-laki itu memang pandai mengambil hati anak-anak terutama anak perempuan, dan apa yang di sukai oleh Zakia hampir disukai oleh Elin. Yah, Eric melihat kesamaan dari Zakia dan Elin ketika masih seusia Zakia saat ini.
Sehingga Eric tidak kesusahan sama sekali ketika harus mengasuh Zakia, dan anak kecil itu juga terlihat sangat bahagia dengan kakeknya. Sementara di tempat lain, kita tinggalkan Zakia yang sedang bermain dengan opanya. Kita akan mengintip Jiara dan Arya.
"Ada apa Dok, sepertinya ada yang ingin Anda katakan, apa ini menyangkut kesehatan Zakia?" cecar Jiara dengan tangan yang sudah terasa semakin dingin. Hatinya setiap saat dihantui dengan mimpi buruk yang mungkin saja akan datang di saat kapan pun. Yaitu Zakia menyerah untuk berjuang, sementara Jiara seperti belum merasakan menjadi ibu yang baik untu Zakia.
"Arya menggeleng, ini soal Om Eric, Arya dan mungkin kamu. Kamu masih ingat ketika aku menceritakan kasus Arya dengan Elin?" tanya Arya, memaksa Jiara untuk memutar memori otaknya agar berputar dengan keras setidaknya sampai ia ingat hubungan Lucas dan Elin.
Jiara cukup diam untuk beberapa saat, otaknya sedang dipaksa bekerja dengan kerasa mengingat apa yang pernah Jiara dengar dari Arya.
"Aku pernah bilang ke kamu kalau ada kemungkinan Lucas dan Elin adalah salah paham dan semuanya terbukti dari kertas ini. Mereka memang bukan saudara tiri, tetapi saudara kandung bahkan mereka adalah kembar." Arya yang melihat kalau Jiara sedang kesusahan untuk mengingat semua yang pernah diucapkannya langsung mengambil alih untuk mengingatkannya.
Hah... Jiara langsung membekap mulutnya dan kedua matanya langsung melebar sempurna.
"Lu... Lucas sudah tahu hal ini?" tanya Jiara dengan suara terbata karena masih terkejut dengan apa yang dia dengar dari Arya.
Arya menggeleng lemah, memberikan jawaban kalau Lucas belum mengetahui fakta ini.
"Kenapa? Dia harus tahu, agar dia juga bisa berpikir atas semua yang telah laki-laki itu perbuat banyak menyebabkan musibah dengan orang lain, dan saat ini saudara kandungnya sendiri bahkan mereka kembar." Jiara nampak sekali geram dengan laki-laki yang telah menghamilinya.
******
Teman-teman sembari nunggu kelanjutan dari kisah Elin dan Lucas yuk mampir ke karya bestie othor di jamin suka dan bikin baper....
__ADS_1
Kuy ramaikan yah, jangan kasih kendor....