
Darya menyusuri pipi Elin dengan tangan lembut nya. "Apa kamu Erlin?" lirih Darya, dan Elin langsung menahan tangan wanita yang sangat ia rindukan bahkan dalam mimpinya ia belum sekali pun tahu bagaimana wajah wanita yang telah melahirkan dirinya. Elin memegang tangan Darya dan menciumnya dengan hangat.
Cup... cup... cup.... tangan Darya terus diciumi oleh Elin. Bahkan ia ingin kalau saat ini juga jangan pernah ada lagi dirinya dipindahkan dengan sang mamah.
"Mamah..."Suara serak dan tertahan Elin membuat air mata Darya langsung lolos dengan deras melewati pipinya yang napak masih muda, hanya saja nampak kusam dan keriput.
"Arya, dia Erlin?" tanya Darya lagi, kali ini pandangannya menatap pada Arya yang seolah ia masih tidak percaya bahwa Elin anaknya saat ini ada di hadapannya. Tanpa menunggu anggukan dari Arya Elin memeluk tubuh kurus ibu kandungnya.
"Mamah, ini Elin," Elin kembali terisak di dalam dada sang ibu, yang baru Elin rasakan kehangatan pelukannya di umur dua puluh delapan tahun. Darya terus mencium pucuk kepala Elin dengan hangat.
Dua wanita yang menyandang anak dan ibu kandung hanyut dalam kehangatan yang sebelumnya tidak pernah dirasakannya. Bahkan Arya yang melihatnya pun semakin terbawa suasana. Laki-laki itu tidak bisa membayangkan kalau Lucas tahu semua faktanya apa dia masih bisa bersikap baik-baik saja.
"Mamah, Elin membawa masakan yang mamak sukai, Mamah makan yah," lirih Elin dengan mengusap sisa air mata yang masih mengalir di pipi Elin dan juga di pipi ibunya.
"Mamah berjanji Mamah jangan menangis lagi, karena Elin sekarang akan merawat Mamah," lirih Elin dengan suara yang lembut dan tentunya sangat sabar sekali bahkan, siapapun yang mendengarnya akan tahu kalau memang Elin sangat sabar, seperti papahnya.
Darya pun mengangguk dengan sangat kuat senang sekali rasanya wanita itu dengan adanya anaknya yang selama ini ia tahu sudah meninggal.
Elin membuka bekal makan Darya, sedangkan Arya sudah keluar karena akan melanjutkan dengan pekerjaannya dan juga ia akan berbicara dengan Diki mengenai perkembangan tantenya yang sangat Arya lihat makin bagus perkembangannya.
"Mamah makan yang banyak yah." Elin menyuapkan makanan yang sejak tadi pagi ia yang memasaknya tentu bersama papahnya.
__ADS_1
Darya mengangguk dengan pandangan mata masih tertuju pada Elin, yang sangat mirip dengan dirinya.
"Eric mana?" tanya Darya dengan menatap Elin terus menerus. Sesuai dugaan Elin dan juga Arya kalau Darya pasti akan menanyakan papahnya.
"Papah ada di rumah, beliau sehat. Papah juga nitip salam untuk Mamah, kata Papah, Mamah harus sembuh nanti Papah dan Mamah akan tinggal bersama-sama lagi," lirih Elin sembari jari jempolnya mengusap sisa bumbu yang menempel di pinggiran bibir mamahnya.
Kembali Darya nampak tersenyum dengan bahagia, hal itu bisa Elin lihat dari cara mamahnya menatap Elin dengan penuh harap. Elin bisa simpulkan kalau wanita yang ada di hadapannya saat ini masih mencintai papahnya. Elin percaya kalau memang jodoh itu sudah ada yang mengatur dan cinta sejati ternyata ada.
Suapan demi suapan Elin terus menyuapi mamahnya.
"Eric di mana?" tanya Darya lagi, mungkin wanita itu sangat kangen dengan mantan suaminya. Elin menarik nafas dalam. Saat ini papahnya di rumah sedang membuat pesanan untuk ayam ungkep nya dan juga setelah semuanya selesai Eric harus menemani Jiara untuk menjaga Zakia di rumah sakit.
Darya langsung mengangguk dengan kuat, dan Elin justru semakin bingung, sebelumnya Arya memang mengatakan kalau akan ada yang datang untuk menemani Elin yaitu dokter Diki tetapi sampai pukul delapan dokter Diki belum ada yang datang. Yah, Dokter Diki belum datang sebab Arya memang sedang mencoba berkomunikasi dengan Diki.
"Kalau gitu nanti Elin akan bicara dengan dokter Diki yah. Kalau diizinin nanti Elin akan ajak Mamah bertemu dengan papah. Mamah sabar yah, Elin janji Elin akan pertemukan Mamah dengan Papah. Setiap Papah sholat pasti Papah berdoa untuk mamah, dan sekarang karena kekuatan doa Papah Allah sedang bekerja, dan sebentar lagi Mamah akan bertemu dengan Papah," lirih Elin dengan antusias, sangat bahagia dan bahkan dalam pikirannya sudah tidak sabar ingin mereka tinggal bersama-sama dengan papah dan mamahnya.
"Sholat..." lirih Darya seolah ia baru mengingat lagi kata itu, hal yang dulu selalu diingatkan oleh Eric.
Elin mengangguk dengan kuat. "Iya sholat Mah, kalau mau sesuatu harus sholat, berdoa dengan Allah nanti akan dikabulkan," balas Elin.
"Kalau gitu aku mau Sholat." Darya makin lama makin paham dengan apa yang di maksud oleh Elin dan pikirannya semakin bisa diandalkan, satu persatu pikirannya bisa mengingat ke kejadian dulu.
__ADS_1
Elin sangat senang ketika mendengar hal itu, meskipun dalam kenyataanya orang yang dalam gangguan jiwa akan tidak masalah kalau memang dia tidak menjalankan kewajibannya.
"Baiklah, nanti Elin ajarkan dan kita berdoa pada Allah yah," lirih Elin dan di balas anggukan semangat oleh Darya. ini adalah pekerjaan yang paling membahagiakan, di mana Elin menjaga ibunya sendiri. Seperti sarapan Elin mempersiapkan obat milik ibunya yang mana ada perawat pendamping yang mendampingi Elin agar tidak membuat mamahnya depresinya kambuh.
Setelah minum obat hari-hari Darya hanya untuk jalan-jalan keluar kamar, tetapi Darya sangat jarang mau melakukanya, wanita itu hanya banyak menghabiskannya di depan televisi dengan menonton film-film kesukaannya.
"Erlin, Erlan mana?" Tanya Darya disela-sela mereka nonton televisi. Elin langsung kaget dan rasanya ingin bilang pada mamahnya jangan tanyakan laki-laki jahat itu pada dirinya.
"Apa Erlan masih kerja?" tanya Darya lagi. Dengan tatapan pada Elin yang seolah memohon untuk mengatakan di mana anak laki-lakinya.
"Iya Mah, Erlan sedang bekerja," jawab Elin singkat dan terkesan malas. Memang Arya sudah menceritakan semuanya dengan apa yang terjadi dengan Erlan yang itu adalah sama dengan Lucas. Bahkan Elin juga sudah tahu naman Lucas sesungguhnya yang sangat mirip dengan dirinya seolah Elin tidak ikhlas apabila ia namanya saja dimiripkan dengan Lucas.
"Nanti datang kesini kan?" tanya Darya lagi dengan wajah yang terlihat bahagia mungkin Darya ingin memeluk kedua anaknya itu.
Elin hanya bisa membalasnya dengan seulas senyum yang terpaksa, ia sangat tidak ingin membuat dirinya berada dalam situasi yang berdekatan dengan Lucas, tetapi pasti itu sangat sulit mengingat mereka adalah saudara satu rahim yang sama dan tumbuh dalam tempat dan waktu yang sama.
Sedangkan di ruangan Diki, Arya dan Diki baru saja selesai berdiskusi dan semuanya mengenai perkembangan Darya, dan Diki akui kalau Darya itu memang perkembangannya sangat cepat dan itu semua karena adanya ide-ide yang sangat bagus dari Arya. Dari makanan yang diolah langsung oleh Eric mantan suaminya, dan sekarang Elin saudara kembarnya Lucas. Yah, Arya tentu menceritakan pada Arya tentang siapa sebenarnya Elin itu.
Diki pun sangat yakin sebentar lagi semuanya akan terungkap.
"Sebentar lagi Tante semuanya akan terungkap. Arya janji untuk Tante," batin Arya sembari menatap kebersamaan Elin dan Tantenya.
__ADS_1