
Pagi hari Eric kembali ke rumah, ia harus menyiapkan masakan untuk mamahnya Elin. Begitupun Elin dengan senang membantu papahnya memasak untuk sang mamah.
Elin tidak kalah bahagia menyambut hari ini, itu semua karena ia pagi ini akan melai bekerja merawat wanita yang telah mengandung dan melahirkan nya.
Bahagia, campur sedih itulah yang dirasakan oleh Elin. Penantiannya untuk bertemu dengan mamah akan segera terwujud. Setelah membantu papahnya Elin pun bersiap menunggu Arya dan sa'at itu juga ia akan menuju ke tempat mamahnya dirawat.
"Dokter Arya, Elin kok jadi deg-degan yah," lirih Elin begitu sudah sampai di rumah sakit jiwa yang sudah sangat ia kenal. Yah, di rumah sakit itu beberapa bulan lalu ia sempat mengais rezeki dan sudah ada beberapa yang ia kenal dari pekerjanya.
"Kamu yakin dan semangat yah, kamu bayangkan kalau Tante Ely sedang menunggu kamu, untuk menjemput kebahagiaanya," lirih Arya sembari mengusap punggung sepupunya itu.
"Tapi apa nanti Mamah akan mengenali aku, gimana kalau nanti justru Mamah tidak mengenali Elin dan marah pada Elin?" cecar Elin dengan wajah tegang dan pucat.
"Hay, kamu tidak boleh seperti itu, kamu harus semangat dan yakin kalau Tante Ely akan mengenali kamu, dia pasti akan merasakan ikatan bati dengan kamu Elin." Arya menepis pikiran Elin yang parno itu, dan memberikannya motifasi yang lebih meyakinkan.
Elin mengangkat wajahnya dan menatap kedua mata Arya seolah ia sedang mencari keyakinan di kedua mata Arya itu. "Baiklah Dok, aku akan mencoba, dan aku akan yakin bahwa Mamah pasti akan sembuh," lirih Elin dengan semangat barunya.
Arya pun membalasnya dengan senyum teduhnya setidaknya dari Elin Arya yakin kalau tantenya akan sembuh dan semuanya akan terungkap dengan jelas. Arya berjanji siapa pun yang telah merencanakan kejahatan dengan tantenya Elin akan mengakibatkan pelajaran yang jauh lebih menyakitkan dari yang tantenya ngalamin. Arya berjanji itu. Terlebih karena masalah ini semuanya kena imbasnya.
__ADS_1
Sebelum membuka pintu yang Arya katakan kalau di dalam sana tantenya berada, alias ibu kandung dari Elin. Elin lebih dulu menyiapkan mentalnya yang mana ia harus kuat dan menerimanya apabila nanti mamahnya menolak bertemu dengan Elin.
"Selama pagi Tante." Arya seperti biasanya datang dengan rantang di tangannya. Darya yang sedang menonton acar TV pun memalingkan pandanganya dan menatap Arya dengan seulas senyum yang cantik. Elin di samping Arya sangat ingin memeluk tubuh ibu yang telah melahirkannya, tetapi Elin masih mengingat apa yang Arya katakan bahwa ia harus sabar demi semuanya berjalan dengan normal. Takut kalau Elin langsung memeluk tantenya justru tantenya akan ketakutan.
"Arya," lirih Darya tetapi pandangan matanya langsung dialihkan pada wanita yang berdiri di samping Arya.
"Arya itu siapa?" tanya Darya dengan pandangan yang terus menatap tanpa kedip, benar Arya merasakan ada ikatan batin yang bisa dirasakan dari tantenya ketika melihat Elin. Arya pun memberikan kode pada Elin untuk mendekat pada wanita yang telah melahirkannya.
Elin yang merasakan kalau tubuhnya di colek pun langsung mendekat pada wanita yang ia panggil mamah. Elin duduk di hadapan mamahnya dan memegang kedua tangan Darya dan mencium punggung tangannya tanpa terasa butiran bening sudah membasahi punggung tangan yang terlihat jelas urut-uratnya.
Darya mengangkat tangannya dan mengusap rambut Elin yang berwarna coklat dan bergelombang, sangat mirip dengan dirinya di saat masih muda. Tanpa bisa di bendung Darya pun berkaca-kaca ketika merasakan punggung tangannya menghangat karena butiran bening yang membasahinya.
Arya bersimpuh dibawah kaki Darya dan kini gantian memegang punggung tangan tantenya dan Elin masih terisak dalam kebahagiaanya karena sekarang ia bisa melihat wanita yang sudah melahirkannya.
"Tante apa Tante ingat kalau dulu Tante memiliki anak kembar, laki-laki dan perempuan?" tanya Arya dengan sangat berhati-hati dan Elin hanya bisa menyimak dengan baik. Agar ia semakin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarganya. Meskipun ia tidak bisa memungkiri kalau memang hatinya sangat sakit seolah tercubit dan berdarah ketika ia memiliki kembaran dan orang itu adalah Lucas. Laki-laki yang telah menghancurkan masa depannya, dan karena Lucas saat ini di dalam rahimnya ada seorang anak yang sedang tumbuh.
Elin mengusap perutnya dengan pelan, menguatkan diri dengan anaknya yang kembali mengingat apa yang dikatakan, Arya, Marni, Papahnya dan terakhir Jiara sang ipar yang juga memberikan semangat dan kekuatan untuk Elin.
__ADS_1
Darya nampak berfikir dengan apa yang dipertanyakan oleh Arya. "Anak?" lirih Darya kembali mengamati wajah Elin dengan sangat teliti seolah wanita itu tengah mencari kebenaranya.
"Iya. Afsana Erlin Khairiyah, apa Tante kenal nama itu?" tanya Arya sangat berhati-hati menanyakannya, takut malah membuat Tantenya semakin depresi dan mengingat keburukan dan melukai tubuhnya.
Darya menatap Elin dengan dalam, terus mengamatinya hingga Elin sendiri merasakan risih ketika ditatap seperti itu.
"Erlin? Dia sudah meninggal buka Arya?" tanya Drya sembari pandanganya dialihkan pada Arya dengan meminta penjelasan pada Arya.
Jeduerrrr... seolah petir menyambar tubuh Elin dikala pagi yang cerah. Bukan hanya Elin saja yang kaget dengan kabar itu. Arya sendiri juga terkejut dengan apa yang dikatakan oleh tantenya itu.
'Kabar apa lagi ini ya Tuhan,' batin Arya, bahkan kepalanya semakin ingin meledak dan ingin mengangkat bendera putih tanda kalau dia sudah tidak sanggup lagi untuk melanjutkan penyelidikannya terhadap kasus keluarga Elin. Butiran bening kembali menyusuri pipi mulus Elin yang saat ini sudah tidak lagi cacat dan juga saat ini tidak lagi semirip dulu dengan Lucas, hanya mata Elin yang tidak bisa di dibohongi sangat mirip dengan Lucas.
"Siapa yang mengatakan itu semua Tante, Erlin masih hidup. Elin putri Tante tidak meninggal dan dia hidup dengan bahagia bersama....(Suara Arya terpotong dengan ucapan Darya yang tiba-tiba menyela)
"Di mana suami aku, apa suami aku masih hidup juga?" Kali ini tangisannya bener-bener pecah. Ini bukan mimpi ini bukan sedang berharap, tetapi Darya langsung mengingat suaminya.
Elin pun sama terisak dengan apa yang terjadi di hadapannya, secara tidak langsung wanita yang di panggil mamah itu masih mengenalinya, hanya lagi-lagi orang-orang yang tidak bertanggung jawab membuat berita-berita pasu.
__ADS_1
Pandangan Arya dan Ekin saling mengunci ketika mengetahui apa yang sedikit terjadi dalam pikiran Darya. Yah, otak Darya sudah di cemari dengan pemikiran-pemikiran yang tidak benar. Dan tentu Arya tahu, kemungkinan pikiran seperti inilah yang membuat tantenya depresi.
"Siapa pun kalian yang membuat Tante seperti ini, aku akan buktikan kalau kalian akan menyesal telah berhubungan denganku," batin Arya dengan api kemarahan berkobar di dirinya.