Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Sesak Hati Melanda


__ADS_3

"Jadi begini Pak Eric, tujuan saya memanggil Anda tentu karena ada yang ingin saya sampaikan, terutama apa yang terjadi sama Elin, putri bapak. Dan juga selain membicarakan mengenai kondisinya saya juga ingin meminta persetujuan atas tindakan yang kami akan lakukan selanjutnya. Tentunya saya berharap bahwa apapun yang kami sampaikan mengenai kondisi Elin memang sudah sepatutnya bisa Anda dan keluarga terima, tapi kalau saya melihat bagai mana Anda menyayangi Elin sih sudah pasti manerima bagaimanapun kondisi putri Anda." Dokter menjeda ucapanya dan tersungging senyum ke arah Eric yang nampak sangat tegang karena membayangkan kabar buruk yang akan dokter katakan.


"Saya akan terima apapun yang terjadi pada putri saya Dok, karena bagaimanapun  dia adalah titipan Tuhan yang wajib saya jaga," balas Eric dengan yakin agar Dokter tidak meragukan dia lagi.


Dokter Marni membuka Map hasil rekam medis Elin. "Jadi gini Anda sebagai orang tua Elin saya rasa sangat wajib tahu bagaimana kondisi pesikis maupun fisik Elin setelah kejadian penculikan yang terjadi pada putri Anda, karena bagaimanapun kalau terjadi apa-apa pada Elin bapak juga yang wajib tahun. Sebenarnya dokter Arya mewanti-wanti saya agar jangan memberitahu Anda, karena takut Anda justru kefikiran dan syok lalu sakit, tetapi saya tahu dan yakin bahwa Anda adalah orang tua yang hebat, jadi pasti bisa menerima kondisi Elin gimana pun keadaan nantinya. Yang pertama, setelah tragedi malam penculikan Elin. Ada kemungkinan nanti Elin mungkin saja akan hamil, dan kalau hamil saya mohon sama bapak terima anak itu dengan penuh kasih sayang dan beri dukungan pada Elin karena kejadian ini semua bukan keinginan Elin. Beri dukungan agar Elin tidak depresi dan menganggap apa yang menimpa dia adalah aib. Bukan ini adalah kejahatan yang menyebabkan Elin seperti itu. dan anak yang Elin kandung tidak bersalah. Yang ke dua. Mengenai kondisi wajah Elin yang entah dengan alasan apa sang penculik menyiramkan air keras kewajah putri Anda dan air keras itu meskipun dosisnya ringan dan bukan jumlah yang banyak, tetapi tetap meninggalkan bekas luka yang merusak wajah Elin, tapi tenang soal wajah Elin yang kemungkinan besar akan rusak, ada salah satu donatur yang mau membantu Elin memberikan biaya oprasi wajah, tetapi semuanya juga atas keputusan Pak Eric, apakah akan diterima tawaranya atau tidak Pak Eric bisa rundingkan dengan Elin." Perjelansan dokter yang panjan, membuat Eric seperti mau pingsan dengan kabar yang disampaikan oleh dokter.


Eric tampak syok setelah mendengar apa yang dokter marni katakan. Ini sudah jelas bukan kabar bahagia dia seperti mendapatkan sebuah pukulan yang sangat keras di tubuhnya. "Jadi Elin benar-benar di perkosa Dok?" lirih Eric suranya berat dan tertahan, mungkin apabila dia perempuan sudah jatuh dan bersungkur menangisi apa yang terjadi dengan buah hatinya. Sebenarnya dalam pikiran Eric dia juga menduga bahwa putrinya di perkosa oleh penculik itu, tetapi hatinya menolak dengan keras apa yang terjadi dia menolak kalau buah hatinya telah di perkosa. Eric tetap optimis bahwa tanda yang di lihat di leher Elin hanyalah tanda merah yang laki-laki itu lakukan karena iseng.


"Dari hasil yang kami temukan ada sobekan dan luka di area sensitifnya, itu sudah sangat meyakinkan bahwa selain di culik putri bapak juga mendapatkan pelecehan seksual," jawab dokter Marni wajahnya pun kini terlihat sangat serius.


Cukup lama Eric dan dokter Marni saling diam. "Lalu kalau oprasi wajah itu gimana Dok? Apa ada resikonya?" tanya Eric raut wajahnya terlihat sangat mendung dan pasrah.


"Untuk oprasi wajah akan kita lakukan di luar negri tentunya, karena di negara ini belum ada dokter beda pelastik, dan juga karena luka bakar Elin biarpun tidak parah, tetapi jaringan sel kulitnya banyak yang rusak sehingga harus di luar negri, dan kalau Pak Eric menerimanya nanti saya akan infokan pada orang yang menawarkan bantuan dan semua urusanya akan kami bantu," dokter Marni dengan semangat tidak mau membantu semuanya.

__ADS_1


"Kalau soal wajah boleh saya rundingkan dengan Elin Dok? Soalnya ini semua menyangkut masa depan putri saya, sudah sepatutnya saya membicarakan dengan putri saya." Eric tidak bisa menentukan semuanya sendiri harus ada Elin yang membantunya juga menentukan  keputusan untuk dirinya sendiri.


"Baik Pak Eric, lagian oprasi untuk wajah tidak bisa secepatnya harus banyak prosedur yang di urus jadi bisa runding dulu dengan putrinya.


Setelah berbasa-basi dengan dokter Marni. Eric pun pamit dan akan kembali ke kamar Elin, tetapi lebih dulu Eric singgah di masjid rumah sakit, untuk menunaikan sholat Dhuha, meminta di berikan kekuatan pada sang pemilik kehidupan, sehingga ia diberi ke kuatan untuk menghadapi ujian ini. Kali ini dadanya benar-benar sesak terasa.


*****


"Ah... Tolong... Tolong... teriak gadis yang sedang mempertahankan hijabnya karena hijab yang ia kenakan tengah menjadi sasaran orang yang menariknya. Entah apa yang membuat Lucas yang sedang berada tidak jauh dari gadis itu langsung melepaskan jasnya dan di tutupkan ke bagian kepala gadis itu ketika hijabnya berhasil ditarik oleh laki-laki paruh baya. Setelah kerudung gadis itu lepas laki-laki paruh baya itu pergi dan memakai hijab gadis itu buat ikat di kepalanya.


"Dia siapa?" tanya Lucas.


Gadis itu duduk di kursi yang tidak jauh dari tempat sang gadis mendapatkan serangan brutal tadi, kepalanya menunduk di sembunyikan di balik jas Lucas yang sangat wangi. Nafasnya memburu menandakan gadis itu terlihat kelelahan.

__ADS_1


"Terima kasih pinjaman jasnya nanti saya akan balikan," balas sang gadis yang belum di ketahui namanya siapa.


"Laki-laki itu siapa? Sepertinya sangat marah dia sama kamu?" tanya Lucas, mengulang pertanyaanya.


Terdengar hembusan nafas kasar dari balik jas yang sedang di gunakan untuk menutupi kepala lawan bicaranya bahkan Lucas tidak tahu bagaimana wajah lawan bicara Lucas cantik atau justru jelek rupanya.


"Dia Papah aku, tetapi sudah lama mengindap depresi, hal itu karena Papah dan Mamah aku berpisah, karena Papah menuduh Mamah selingkuh sedangkan kenyataanya Mamah tidak selingkuh, Mamah meningalkan Papah karena Mamah aku sakit, sampai akhirnya Mamah meninggal dunia dan Papah yang menyesal jadi depresi seperti ini," jawab gadis itu, suaranya serak dan bergetar.


Hati Lucas sesak ketika mendengar penuturan gadis yang duduk disebelahnya, tiba-tiba hatinya sesak. Ada rasa mengganjal ketika dia mengingat perlakuanya pada Elin dan Lexi dan Arya menambah kewas-wasan dia. Lucas takut salah menuduh Elin juga setelah dia membuat hidup Elin hancur.


"Mas, saya boleh minta nomor yang bisa di hubungi, milik Anda mungkin?" tanya gadis berhijab itu.


Lucas mengernyitkan dahinya, heran bertemu saja baru hitungan menit sudah minta nomor ponsel aja, buat apa? "Apa jangan-jangan gadis ini naksir sama gue?" batin Lucas dengan percaya diri. Sementara Gadis berhijab itu juga sebenarnya belum melihat lawan bicaranya sudah tua atau masih muda.

__ADS_1


__ADS_2