
Sesuai yang di minta Lucas, sang sopir memutar balik mobil yang dikemudikanya, padahal sebenarnya tinggal beberapa menit lagi sampai ke rumah sakit jiwa yang telah direkomendasikan oleh dokter Diki. Sang supir melajukan mobil mewah itu untuk berkeliling jalanan ibukota.
"Mamih senang kita keliling kota?" tanya Lucas dengan lembut, tanganya bahkan dari tadi tidak di biarkan lepas dari genggaman tangan Mamihnya.
Darya menatap wajah Lucas, tetapi tidak menjawab pertanyaan Lucas. Darya hanya menatap wajah anak laki-laki di hadapnya, tanpa ekpresi wajah, cukup lama Darya menatap wajah Lucas, setelahnya wanita itu kembali memperhatikan jalanan. Memperhatikan setiap kendaraan yang dilewati atau berpapasan dengan mobil yang ia tumpangi.
"Dokter apa selama Anda merawat mamih saya dia selalu seperti ini?" tanya Lucas yang semakin penasaran dengan sikap mamihnya selama ini.
Laki-laki berpakaian jas putih membalikan tubuhnya menghadap Lucas, yang saat ini duduk di kursi penumpang bagian belakang. "Saya adalah dokter pertama yang merawat nyoyah Ely. (Darya kalau di panggil dalam keluarganya Ely. Sedangkan yang Eric kenal namanya Darya atau Rya) Tepatnya sepuluh tahun lalu saya mengambil tanggung jawab penuh atas nyonya Ely yang ditugaskan langsung oleh tuan Philips. Dan menurut tuan Philip, nyonya Ely sebelumnya hidup dengan suaminya di luar negri dan setelah cukup lama tinggal dengan suaminya ternyata suaminya mengabarkan bahwa Ely mengalami depresi, untuk sebab terjadinya depresi saya tidak tahu, tetapi sepertinya ada trauma dengan suaminya. Entah benar atau tidak menurut rancauan nyonya Ely suami dan anaknya meninggal, tetapi saya pernah bertanya pada tuan philip. Menurut beliau suami dan anak yang sering ia sebut hanya khayalanya saja. Sedangkan mantan suami yang berada di luar negri masih hidup, tetapi Mamih Anda tidak memiliki anak yang sering ia sebut-sebut." Dokter Diki menceritakan apa yang dia tahu menurut penuturan tuan Philip.
Namun, Lucas justru semakin penasaran dengan cerita kakeknya, dan Lucas kali ini kembali teringat ucapan Arya. "Apa memang benar ada yang dirahasiakan diantara kakek, tetapi apa kira-kira. Lalu tujuan merahasikan untuk apa? Sedangkan gunanya untuk dia apa?" gumam Lucas, tetapi lagi-lagi ucapan Arya terngiang, agar dia jangan gegabah mengambil keputusan sebelum menyelidiki kebenarannya atau paling tidak setelah mamihnya bercerita dengan apa yang Darya alami sendiri. Bukan cerita dari kakeknya maupun omanya.
__ADS_1
"Kalau begitu aku akan pura-pura tidak mencurigai apa-apa, dan aku akan fokus dengan kesembuhan mamih saja dan menunggu mamih yang bercerita apa yang sebenarnya terjadi," batin Lucas sembari kembali menatap mamihnya yang ternyata saat ini kepalanya menyender ke kaca jendela, dan matanya terpejam. Lucas membenarkan posisi mamihnya yang tertidur. Kepalanya di letakan di atas pangkuanya. Tanganya membelai rambut yang sedikit lepek. Ingin Lucas membawa ke salon tetapi apa mamihnya mau, dan tidak mengamuk nantinya ketika ada orang yang tidak di kenal memegang-megang tubuhnya.
"Pak, nanti di lestoran depan berhenti yah. Ini sudah memasauki jadwal makan siang, perut harus segera diisi," titah Lucas pada sopir pribadinya.
"Tuan mau turun atau gimana?" tanya sopir setelah mobil terpalkir sempurna di halaman palkir lestoran yang terkenal.
"Tidak, tolong belikan makanan dengan menu terenak dan bungkus buat aku dan Mamih, serta dokter Diki dan bapak juga mau beli dengan menu apa terserah." Lucas menyodorkan beberapa lembar uang berwarna merah. Sementara dia masih di dalam mobil, hal itu karena Mamihnya masih tidur dan Lucas tidak tega untuk membangungkanya. Sejak tadi Lucas menatap wajah Mamihnya, yang ia akui wajanya masih terlihat sangat mudah, dan yang membuat Lucas terhipnotis enggan memalingkan wajah dari mamihnya adalah wajahnya sekilas mirip dengan adik tirinya, Elin.
"Mamih kenapa?" tanya Lucas dengan suara lembut dan tangan hendak memegang tangan mamihnya yang tengah di silangkan dihadapan dadanya yang tidak begitu menonjol, bahkan dari tubuh mamihnya sangat mirip dengan Elin, kurus dan dada yang tidak menonjol alias rata. Lagi-lagi Lucas teringat dengan wanita yang sudah ia hancurkan hidupnya.
"Jangan," lirih Darya tatapanya sangat tajam, seolah dia lupa bahwa laki-laki yang dihadapanya ini adalah anaknya sendiri, darah dagingnya yang selama sembilan bulan berada di dalam rahimnya.
__ADS_1
"Mamih ini Lucas anak Mamih," balas Lucas suaranya yang lembut sangat berbeda jauh dengan Lucas yang selama ini, hampir sepuluh tahun merajai dunia gelap bersembunyi dalam bisnis yang legal.
"Tidak. Kamu jahat. Kamu jahat," pekik Darya dengan histeris, tanganya lagi-lagi ingin melukai tubuhnya, untung tanganya masih di ikat. Dan beberapa menit yang lalu Lucas berencana meminta dokter Diki melepas ikatan tali pada pergelangan tanganya, karena kasihan melihat mamihnya di perlakukan sangat jahat. Tangan diikat, seperti tahanan.
Namun, kali ini Lucas tahu alasan Diki mengikat tangan maminya, hal itu dia lakukan untuk melindungi mamihnya dari tanganya sendiri yang apabila marah dan kembali kambuh depresinya, sasaranya bukan orang lain, tetapi tubuhnya sendiri yang ingin dilukainya. Sehingga tubuhnya banyak luka cakar dan luka-luka gores entah dari benda apa saja yang dia temui bisa Darya gunakan untuk melukai tubuhnya.
Diki yang dari tadi ada di depan mobil langsung merangsak masuk ke dalam mobil dan mengecek Darya, untuk memastikan semua baik-baik saja.
"Nyonya kenapa, Tuan?" tanya Diki, wajahnya terlihat panik.
Lucas menatap tajam pada Diki. "Apa Mamih sering seperti ini. Dia takut dengan laki-laki? Apa kamu tahu kira-kira apa yang terjadi dengan Mamih aku apabila dilihat dari ciri-ciri ketakutanya?" tanya Lucas dengan tatapan yang tajam agar Diki menceritakan apa yang dia tahu, tanpa ada yang ditutupinya lagi.
__ADS_1
Diki menghirup nafas lega akhirnya ada satu anggota yang perduli dengan nasib pasienya. Sudah lama Diki ingin merundingkan masalah ini tetapi lagi-lagi kendalanya adalah keluarga pasien yang cuek dan masa bodo dengan perkembangan mental Dayra. Sehingga sekeras apapun Diki berusaha untuk mengobati Darya, apabila keluarganya cuek dan tidak perhatian tentu pasien juga ikatan emosinya kuat dan akan sulit juga untuk sembuh. Diki berharap dengan kepedulian Lucas makan Darya bisa sembuh.