Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 205


__ADS_3

Lucas dan Lexi berjalan dengan tergesa, tubuh Lucas seperti melayang layang ketik ia membayangkan hal buruk terjadi pada sodara kembarnya. Dirinya terlalu takut apabila terjadi sesuatu pada Elin nanti, terlebih dia belum sempat meminta maaf, belum sempat menebus pada Elin atas kesalahanya. Lucas ingin diberikan setidaknya satu kali kesempatan agar dia bisa menebus kesalahanya pada sodara kembarnya.


Lexi berhenti tepat di depan pintu ruangan Elin, begitupun Lucas dia menghentikan langkah kakinya tepat di belakang sahabatnya.


"Apa loe mau ikut masuk ke dalam?"


Untung Lexi langsung sadar bahwa Lucas itu masih dibenci oleh Elin, ditakutkan malah kondisi Elin akan makin memburuk setelah melihat orang yang belum dirinya maafkan.


Lucas menatap Lexi dengan mengiba setelahnya ia pun menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Gue akan tunggu di luar saja," lirih Lucas dengan bersembunyi ke samping agar Elin tidak melihat keberadaanya, tetapi dirinya masih bisa melihat bagaimana reaksi Elin atas dirinya.


"Maaf, mungkin sementara ini adalah cara yang paling baik untuk kebaikan Elin dan kamu," imbuh Lexi sebelum dirinya benar-benar masuk ke dalam ruangan Elin.


Lucas pun mengangguk dengan kuat. "Kamu tenang saja aku masih bisa atasi, yang aku rasakan saat ini tidak ada bandinganya dengan yang Elin rasakan. Elin merasakan lebih dari yang aku rasakan saat ini. "Kamu masuklah." Lucas menepuk pundak Lexi, dan laki-laki itu pun perlahan menekan gagang pegangan pintu.


Seolah di berikan aba-aba, Eric dan Elin pun secara bersamaan menoleh ke arah pintu, laki-laki itu berjalan dengan senyum merekah menghiasi wajahnya yang terlihat sangat bahagia. Lexi memberikan kode pada Eric bahwa di depan sana ada Lucas. Yah, selain agar Eric bertemu putranya Lexi juga ingin ngobrol dengan Elin berdua saja.


"Ndok, berhubung sudah ada Lexi, papah izin ke luar dulu yah sebentar," ucap Eric, tanpa menunggu jawaban dari Elin, Eric pun beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Pah, mau ke mana?" tanya Elin, dengan suara yang mengiba, dan Eric pun hanya mengusap pinggung tangan putrinya.


"Papah mau jemput Zakia, dan Mamih mereka ada di luar sebentar lagi sampai sini." Eric bisa melihat kalau Elin pasti kurang nyaman ketika bersama dengan Lexi, tetapi laki-laki paruh baya itu juga tidak mau egois ia ingin memberikan kesempatan pada Lexi untuk memperbaiki kesalahanya, tidak ingin Eric terkesan egois, terutama menghakimi para pendosa.


Setelah Eric menggunakan alasan mamih dan Kia, Elin pun akhirnya membiarkan papahnya pergi.


Pandangan Lexi tertuju pada Elin setelah ia melihat bahwa Eric itu sudah benar-benar keluar dalam ruangan ini.


"Gimana rasanya? Apa ada yang kamu rasakan? Sakit, pegal atau pusing mungkin?" tanya Lexi, membangun suasana agar tidak tegang. Terutama Lexi tahu betul bahwa Elin pasti kurang nyaman hanya berdua saja.


"Mungkin sama dengan wanita pasa lahiran yang lainya, hanya ada sedikit rasa tidak nyaman di bagian perut bagian bawah, tetapi kata dokter Eki itu wajar karena pengaruh obat, dan perut yang di sayat paksa, jadi wajar saja," balas Elin dengan santai.


"Sudah jadi tugasnya memang seorang ibu harus tetap bertahan untuk buah hatinya. Elin dan Lexi pun terus mencoba membangun komunikasi yang hangat. Sementara Di luar ruangan. Rasa bahagia campur sedih Eric rasakan. Ketika begitu keluar laki-laki paruh baya itu melihat Lucas yang sedang mengintip Elin di dalam sana.


"Sejauh ini Elin baik-baik saja." Suara Eric berhasil mengagetkan Lucas yang sedang serius mengintip Elin dan Lexi di dalam sana yang tengah mengobrol santai.


"Papah, maafkan Lucas." Laki-laki itu pun menghambur ke dalam pelukan sang papah, rasa takut cemas dan lain sebagainya seolah hilang saat berada di dalam pelukan laki-laki yang dipanggilnya papah.

__ADS_1


Eric mengusap punggung putranya dengan hangat. "Sejak kapan kamu bebas?"


"Tadi pagi pukul sepuluh ke luar dari rumah tahanan, tetapi langsung pulang ke rumah dan baru tahu kalau Elin sedang sakit baru tadi, dan itu pun Lexi yang memberitahukanya."


Eric menuntun Lucas agar duduk di sebuah kursi yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kamar putrinya. Laki-laki paru baya itu menghela nafasnya, menandakan bahwa dirinya merasakan kelegaan sekaligus merasakan cemas, karena mungkin saja ini adalah puncak dari masalah yang berlarut-larut dari sembilan bulan ke belakang.


"Papah pun baru tahu hari ini, tepatnya paska adik kamu selesai operasi, tidak nyangka pasti, apalagi Elin selama ini, papah lihat sangat sehat, tetapi pas dokter Eka yang menjelaskan akan sakitnya, papah sangat kaget dan juga tidak menyangka bahwa selama ini Elin sangat pandai menyenbunyikan sakitnya."


"Lucas, akan lakukan apapun itu demi kebaikan Elin, tidak akan Lucas biarkan Elin menderita lagi, kini akan Lucas buktikan, bahwa Lucas sangat menyesali atas semua perbuatan yang dulu."Lucas hanya menatap lurus ke depan menatap lalu lalang orang-orang yang sedang berjalan di koridor rumah sakit.


Eric menatap dengan serius pada putranya. "Apa yang kamu katakan itu serius? Resikonya cukup besar Nak. Papah takut terjadi sesuatu di atantara kalian ataupun kalian semua? Apa tidak lebih baik dari anggota luar keluarga saja," usul Eric sembari menatap putranya, tidak ikhlas rasanya apabila ia harus kehilangaan salah satu di antara mereka ataupun malah gagal di keduanya, dan apabila beruntung makan kedua nya akan baik-baik saja dan bisa berkumpul bersama sama, tetapi apabila ada yang gagal salah satu atau justru keduanya akan ni gagal? Eric sebagai orang tua akan sangat merasakan kehilangan.


"Lucas memegang tangan papahnya. "Papah jangan cemas, Lucas tidak akan kenapa-kenapa karena Lucas masih punya banyak salah, pada putri Papah dan juga pada Jiara dan Zakia, Lucas masih memiliki hutang janji. Bukanya Dokter justru menyarankan dari sodara agar jaringanya kemungkinan besar sama dan pembentukan organ hati yang baru akan cepat terjadi dan kemungkinan berhasil akan lebih besar,"  uajar Lucas yang sudah di beritahukan alasanya sama Lexi sehingga bisa di gunakan untuk meyakinkan papahnya.


"Tapi gimana dengan hati kamu nanti bukanya tinggal separuh, apa kamu akan tetap bisa bertahan hidup?"


Lucas terkekeh. "Donor hati dari pasien yang masih hidup dapat dilakukan karena organ hati manusia masih bisa tumbuh kembali, setelah operasi pengangkatan sebagian organ. Berbeda apabila donor jantung harus dari orang yang sudah meninggal, atau orang yang sudah tidak mau hidup.sehingga memilih mendonorkan jantungnya. Cangkok hati, ginjal masih bisa bertahan untuk kami para pendonor Pah, jadi Papah jangan khawatir, selagi Lucas mentaati peraturan hati Lucas akan kembali memperbaiki organ yang rusak."

__ADS_1


Yah, tentu Lucas juga tahu resikonya, sebab dia pernah merajai bisnis gelap dan ada yang melakukan jual beli organ manusia yang pernah ia melakukanya.


__ADS_2