Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
PWT #Episode 87


__ADS_3

Setelah menghabiskan waktu hampir lima jam perjalanan, Jiara sampai juga di tempat persembunyianya dulu, sekaligus tempat dia menenangkan diri. Setelah membayar taxi, wanita berkerudung itu turun dari dalam taxi dan melangkah dengan perasaan tidak menentu.


"Setelah sampai di lingkungan pondok kenapa aku ingin kembali ke Jakarta." Dalam batinny ia tidak tahu dengan perasaan dia sendiri. Jiara bahkan tidak memiliki alasan kenapa dia bisa ingin menemui anak itu, anak dari laki-laki jahat.


"Kak Jia..." Para santriwati yang kenal dengan Jiara menyambut kedatangan Jiara yang sempat termenung sebelum lebih jauh melangkah ke dalam lingkungan pondok pesantren yang berada di perdesaan yang tidak terlalu ramai, tetapi para santri dan santriwati datang dari berbagai daerah.


Jiara melanjutkan langkahnya untuk menghampir santriwati yang menyapanya. Bibirnya di paksa tersenyum dan menyapa mereka satu persatu. Meskipun Jiara dulu datang ketempat itu dengan kondisi hamil dan berlumur dosa, tetapi tidak dari mereka mengucilkan Jiara, mereka justru  bersikap baik dan menghormati Jiara, terlebih setelah mereka tahu bahwa Jiara adalah korban pemerkosaan dan juga agama Jiara yang sebelumnya non muslim, mereka membimbing Jiara dengan sangat baik, dan sangat sabar. Sebenarnya Jiara sangat betah berada di tempat ini, hanya saja ia juga ingin merawat papahnya yang sakit.


"Kak Jia apa kabar, kita di sini semua kangen banget sama Kakak?" tanya salah satu santriwati yang cukup dekat dengan Jiara.


"Alhamdulillah Kakak baik, dan Kakak datang kesini ingin bertemu Ambu, sekarang Ambu ada kan?" tanya Jiara sembari membalas pelukan dari para santri. Yang makin banyak menyambut kedatangan Jiara.


"Ambu? Ambu belum pulang dari rumah sakit sudah hampir satu bulan ini, Zakia (Nama anak Jiara) sakit, dan di rawat di rumah sakit di kota sebelah, dan Ambu yang menjaganya, dan kadang bergantian dengan  Ambu Nori (Adik Pemilik Pesantren).


Bak di sambar petir di siang bolong. Jiara tiba-tiba hampir terjatuh karena lemas mendengar kabar ini. Untung ada para santri yang siap membantu Jiara untuk menahan tubuhnya sehingga Jiara tidak jatuh tersungkur di halaman pesantren.


"Apa yang kamu katakan benar?" tanya Jiara dengan mata yang memanas dan selaput bening air mata seolah akan pecah dan mengalir, membasahi pipinya.


"Kakak bisa tanya Abah, saat ini Abah ada di rumah atau sama Umi juga sedang ada di rumah Ambu," balas salah satu santri.


Dengan tubuh yang lemas, Jiara berusaha bangkit dan akan mengunjungi rumah pemilik pesantren, ingin menayakan kabar yang sebelumnya santriwati sempat katakan, bahwa Zakia, putrinya sakit sudah hampir satu bulan di rawat di rumah sakit.

__ADS_1


"Kira-kira Kia sakit apa? Kenapa bisa lama sekali Kia tidak sembuh-sembuh. Apa jangan-jangan hati nurani saya ingin menemui anak itu, karena ini adalah pertanda bahwa anak itu ingin di jenguk oleh wanita yang telah melahirkanya, tetapi tidak mengakuinya." Jiara terus bergumam tiba-tiba kepikiran putrinya.


"Assalamualikum." Jiara entah berapa kali mengetuk pintu rumah yang tidak mewah, tetapi cukup nyaman untuk di tinggali, bahkan rumah pemilik pesantren masih di buat dari anyaman bambu, tetapi selalu bersih dan nyaman untuk mereka tinggal.


"Jia, cari siapa?" tanya Ambu Nori yang memang rumah mereka berdekatan.


Jiara menoleh pada sumber suara. "Abah, Jia cari Abah tapi kayaknya rumah kosong yah Ambu?" tanya balik Jiara sembari berjalan menghampiri Ambu Nori dan bersalaman dengan Tazim.


"Abah sedang ada urusan di luar, mungkin pulangnya sore atau bahkan malam. Ada perlu apa kalau Ambu boleh tahu?"


Jiara hanya menunduk. "Ambu, Jia dengar apa Zakia saat ini sedang sakit?" tanya Jiara dengan menunduk.


"Apakah aku masih pantas untuk mencemaskan Kia?" batin Jiara, ia merasa sangat tidak pantas kalau harus mencemaskan Zakia. Putrinya yang selama ini ia benci.


Lagi, tubuh Jiara seperti tersambar petir disiang bolong, kali ini Jiara sampai terkulai duduk di atas lantai rumah Ambu Nori. Ini bukan kabar baik, tetapi ini kabar buruk. "Kenapa aku merasakan sangat sakit ketika mengetahui kalau Zakia sakit parah seperti ini. Apa salah aku Tuhan hingga Engkau hukum aku secara terus menerus. Kenapa aku seolah di beri hukuman tiada hentinya dengan semua yang terjadi menimpa aku," racau Jiara memaki tadir hidupnya yang kejam itu.


"Terus saat ini kondisi Zakia gimana Ambu?" tanya Jiara dengan suara yang sangat lirih. Wanita itu sadar keinginanya datang ke sini adalah anaknya yang kangen dengan dirinya, dan seolah mengambarkan bahwa ia saat ini sedang butuh dukungan dari wanita yang sudah memberikan kehidupan padanya.


"Zakia kondisinya masih sama seperti pertama kali di rawat, belum banyak mengalami perubahan. Jia kamu coba datangi Kia, dia butuh kamu sebagai ibunya, mungkin dengan kehadiran kamu Zakia akan sembuh. Dia anak yang baik, padahal dia sakit dan pasti merasakan tidak nyaman, tetapi Zakia tidak rewel dia anak yang baik. Cobalah kamu mulai saat ini menerima anak itu. Zakia pasti sedih kalau ibu yang melahirkanya tidak mau mengakui dia sebagai anaknya. Jia, tidak ada anak yang terlahir karena kesalahan dan anak haram. Kia bukan anak haram dan dia anak yang suci, jangan sampai kamu menyesal setelah semuanya tidak ada," lirih Ambu Nori berusaha menasihati Jiara agar ia bisa menerima Kia dan bersama-sama merawatnya.


Mungkin ini bukan nasihat pertama kali yang beliau berikan, sejak dulu banyak yang menasehati Jiara, tetapi Jiara tidak bisa menerima Zakia karena matanya. Yang menurut Jiara sama dengan penjahat itu.

__ADS_1


Maka dari itu dari pada Jiara melukai anaknya, sehingga ambu mengambil pengasuhan nya.


Memang semua tahu bagaimana Jiara tidak menginginkan anak itu, hal itu karena kehamilan Jiara karena korban pemerkosaan.


Ambu Nori sedikit lega terlihat dari tangis Jiara yang sepertinya dia menyadari kesalahanya, dan mungkin akan mendengrkan nasihat dia di mana akan menerima Kia, dan seterusnya Kia sendiri akan semangat untuk berjuang sembuh dari sakitnya.


"Zakia di rawat di rumah sakit apa Ambu, biar Jia menyusul Zakia," lirih Jiara tidak ada gunanya lagi kalau ia harus membenci terus-terusan anaknya. Jiara akan menemui anaknya dan akan mememinta maaf karena sempat membenci dan berencana membunuhnya.


Setelah mengantongi alamat rumah sakit yang merawat Zakia, Jiara setelah berpamitan, langsung pergi menyusuri kembali jalanan dan mulai saat ini ia berjanji akan menyempatkan waktu untuk mengunjungi papahnya dan juga Zakia, putri kecilnya, yang sangat cantik.


"Apa aku terima saja pernawaran Lucas, aku bisa gunakan uang itu untuk pengobatan Papah dan juga Zakia," lirih Jiara.


Cukup lama Jiara berada di dalam angkutan umum untuk sampai di rumah sakit yang Ambu Nori sebutkan. Mungkin ini adalah angkutan umum ke tiga kali yang ia taiki untuk menuju rumah sakit yang merawat Zakia. Perasaan Jiara semakin tidak menentu ketika ia sudah melihat bacaan yang menunjukan bahwa Jiara sebentar lagi akan sampai di rumah sakit itu.


Setelah bertanya pada resepsionis dan mendapatkan izin untuk mengunjungi pasien, dengan memberitahukan bahwa ia adalah ibu kandungnya, Jiara kembali melangkahkan kakinya untuk menemui purinya, yang ia sendiri tidak tahu gimana saat ini kondisi Zakia.


Kamar yang di tunjukan oleh resepsionis saat ini sudah berada di hadapan Jiara, tetapi wanita itu seolah tidak kuat untuk masuk ke dalam sana. Kamar itu tiba-tiba menjadi sangat horor. Tangan Jiara mengetuk pintu yang berwarna putih.


Tok... tok... tok...


Setelah mengucapkan salam dan Jiara pun mendengar sahutan dari dalam sana, tanganya menekan pegangan pintu dan mendorongnya secara perlahan. Pandangan mata Jiara pertama kali adalah melihat sosok gadis kecil dengan selang di tanganya serta kondisi tubuh yang kurus dan sangat memprihatinkan.

__ADS_1


"Zakia."


__ADS_2