
Arya dengan sengaja duduk di samping Lucas. "Memang kenapa bisa Om Philip seperti ini?" tanya Arya. Sebagai orang yang cukup dekat dengan keluarga Lucas Philip adalah orang yang sangat jarang sakit. Namun kali ini justru tiba-tiba hampir saja terkena serangan jantung yang fatal, tidak akan mungkin hanya kebetulan pasti ada penyebabnya.
Lucas menghirup nafas kasar dan membuangnya dengan perlahan. "Tamara, semuanya karena wanita siluman itu sehingga Kakek seperti ini," jawab Lucas dengan penuh emosi.
"Om Philip sudah tahu kebusukan Tamara? dan Tamara sendiri sekarang nasibnya gimana?" tanya Arya semakin penasaran. Sebab Arya yakin kalau kasus Tamara sudah terpecahkan semuanya akan makin terbuka dengan jelas, apalagi Darya sudah bisa dibilang sembuh. Tinggal gimana caranya Arya memberitahukan hubungan Elin dengan Lucas sendiri. Itu adalah rencana yang paling berat mengingat Lucas masih menganggap Elin, dan Eric sudah meninggal dan juga Lucas pikirannya masih terjebak di Elin yang adik tirinya. Anak dari pelakor.
"Kakek baru aku kasih tahu tentang perselingkuhan itu, tapi malah langsung syok dan juga langsung pingsan, dan Tamara masih berpesta dengan laki-laki benalu itu," balas Lucas. sebenarnya sangat malas membahas Tamara, tetapi tidak bisa dipungkiri permasalahannya semua bersumber dari wanita itu.
Cukup lama dua laki-laki yang memiliki ikutan persaudaraan itu terlibat saling diam. Lucas sibuk dengan pikirannya dan Arya pun sama, hanya Arya terjebak dalam pikiran Eric dan Darya yang akan bertemu. Ini adalah momen yang sudah ditunggu dengan lama tapi malah Arya harus melewatkan momen itu.
Arya ingin menyaksikan secara langsung pertemuan kisah cinta sejati seperti Romeo dan Juliette versi dunia nyata. Namun, harapannya masih abu-abu.
"Arya, kondisi Zakia gimana? Apa aku boleh mengunjunginya sebentar?" tanya Lucas, kini kondisi kakeknya sudah bisa dibilang aman, dan itu Lucas rasa meninggalkannya sebentar untuk melihat kondisi anaknya tidak akan ada salahnya.
Terlebih Zakia dan dirinya sudah tidak bertemu satu minggu, mungkin malah gadis kecil itu sudah lupa lagi dengan dirinya, di mana dia sendiri saja baru bertemu dua hari dan di pisahkan lagi satu minggu. Lucas sudah yakin banget kalau putrinya akan melupakan dirinya.
Arya yang mendengar ucapan Lucas iba, tetapi juga dia tidak ada kuasa untuk mengizinkan apa yang Lucas inginkan, karena yang berhak memberi izin adalah Jiara. "Aku akan coba berbicara dulu pada Jiara, aku tidka mau nanti bundanya Zakia malah mengira aku kurang sopan dan kurang menghargai dirinya yang mana ini adalah bukan kuasa aku untuk mengizinkan atau justru menolak keinginan kamu. Tapi Jiara lah yang berhak memutuskannya. Aku harap kamu sabar, nanti begitu aku ada kabar aku akan langsung hubungi kamu," lirih Arya sembari menepuk-nepuk punggung Lucas dengan pelan.
Lucas pun menghirup nafas dalam, tetapi ia juga berusaha mengerti apa yang Arya maksud. Memang sangat benar bahwa Jiara lah yang memiliki kuasa ini semuanya. Arya tidak memiliki kuasa apa-apa. Mengingat masih ada ibunya yang menjaganya, dan Arya hanya sepupu dari ayahnya.
"Baiklah, tapi aku sangat berharap banget kalau aku diizinkan untuk bertemu dengan Zakia, Ya. Biarlah hanya satu jam aku akan berterima kasih sekali," imbuh Lucas, dan Arya pun berjanji kalau dia akan mencoba berusaha untuk membujuk Jiara agar mau memberikan kesempatan pada Lucas untuk menjenguk putrinya.
__ADS_1
Kini Arya dan Lucas pun berpisah, Arya yang tadinya akan menyusul untuk menemui tantenya Darya yang malam ini akan bertemu dengan Eric dan Erlin. Arya sangat ingin menyaksikan momen langka itu, tetapi karena Lucas, Arya lagi-lagi mengalah dan memilih menemani Zakia, dan membujuk Jiara untuk mengizinkan Lucas menemuinya meskipun hanya sebentar.
Terlebih di malam ini Eric tidak datang, dan mungkin dari sekian hari yang sudah di lewati Zakia dan Jiara, malam ini adalah malam pertama Eric tidak menginap di rumah sakit ini. Hal itu karena mereka ada urusan tersendiri.
Tokk... Tokkk... Tokkk... Arya mengetuk pintu ruangan Zakia sebelum masuk, sedangkan Lucas dari arah yang cukup jauh masih mengamati apa yang Arya lakukan.
"Aku tidak perlu khawatir dengan Arya, bukanya dia sudah bilang kalau saat ini dia ada kekasih, dan dalam waktu dekat akan menikah, jadi rasanya tidak mungkin kalau Arya akan menikung Jiara," gumam Lucas, kakinya kembali diayunkan, kali ini ia akan keruangan kakeknya, dan akan menjelaskan sedetail-detailnya dengan apa yang ia ketahui mengenai Oma tirinya itu.
Pintu berwarna putih di dorong oleh Arya dengan pelan, setelah laki-laki itu mendengar ada sahutan dari dalam sana, dan terlihat Zakia masih bermain dengan bundanya. Jiara nampak menyambut kedatangan Arya dengan seulas senyum yang manis sedangkan Arya sendiri membalasnya tidak kalah memberikan senyum terbaiknya.
"Om, apa Opa dan Tante Elin nanti tidak akan menginap di sini?" tanya Zakia begitu Arya duduk di samping anak kecil yang tengah bermain dengan sebelah tangan, dan sebelah tangannya sendiri masih di hubungkan dengan selang infus.
"Kia, Opa dan Tante Eli sedang ada kerjaan, jadi malam ini tidak bisa nginap di rumah sakit temani Zakia. Apa Zakia rindu dengan Opa dan Tante?" tanya Arya, dengan suara lembutnya.
Bocah kecil itu mengangguk dengan kuat, dan dari wajahnya sudah bisa dimengerti kalau dia memang sangat kangen dengan anak kakek dan tantenya.
"Kalau gitu gimana kalau nanti gantian Zakia yang cepat sembuh dan pulang ke rumah Opa dan Tante Eli biar setiap saat bareng-bareng terus," saran Arya, dengan pancingan yang seperti ini Arya yakin kalau Zakia pasti akan semangat untuk terus berjuang hingga sembuh.
"Kia mau Om, Kia mau sembuh dan nanti pulang ke rumah ada Opa dan tante Eli yah?" celoteh si kecil dengan suara girang dan sangat antusias.
"Nanti akan ada Oma juga loh," bisik Arya menambah Zakia ingin sembuh.
__ADS_1
"Wah, Kia mau ketemu Oma juga."
Sementara Jiara hanya bisa mendengarkan obrolan antara Zakia dan juga Arya. Senang sudah pasti meskipun Zakia dipisahkan dengan Lucas tety ia tidak kekurangan kasih dan sayang.
"Jia, kita boleh bicara?" lirih Arya dengan wajah yang serius masih membiarkan Zakia bermain sendiri.
Jiara pun sudah menebak pasti obrolan yang Arya maksud adalah obrolan dengan suaminya, sekaligus ayah dari putrinya.
Meskipun Jiara sebenarnya malas untuk mengobrolnya. tetapi ia tetap mengangguk, bukanya tidak baik terus-terusan menghindar juga. Cepat atau lambat dia harus bisa membuka pintu damai dengan Lucas. Elin saja bisa membuka pintu damai dengan Lucas dan Lexi meskipun dalam hati kecilnya tidak bisa meminta membuka pintu maafnya tetapi setidaknya Elin tidak akan menghindar kalau harus bertemu dua laki-laki itu.
JUstru yang Jiara tahu dari ucapan Elin ia sangat bersemangat menunjukkan dirinya yang baik-baik saja dan juga Elin bersemangat ingin membuat dua orang menyesal karena telah membuatnya hancur, tetapi Elin akan tunjukan kalau dia baik-baik jad dengan perlakuan yang pernah dia lakukan.
"Boleh silahkan Dok," balas Jiara menyodorkan tangannya agar Arya duduk di sofa seberangnya.
Arya sebelum berbicara lebih dulu mencari momen yang pas. "Aku tadi bertemu dengan Lucas."
Jiara yang sudah menduga pun tidak kaget dengan yang dia dengar, dan dia masih terlihat tenang.
"Lucas, ingin bertemu dengan Zakia. Apa kamu mengizinkannya?" lirih Arya yang melihat kalau Jiara terlihat kurang suka dengan topik obrolannya.
Namun juga Arya tidak tega melihat Lucas yang sangat rindu dengan putrinya.
__ADS_1