Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Dosa Yang Muncul Menghantui


__ADS_3

"Apa aku juga harus hubungi Lexi untuk mencari tahu di mana tempat tinggal wanita itu," gumam Lucas, ini bahkan sudah lewat dari dini hari tetapi dia tidak juga merasakan ngantuk, meskipun tubuh bertambah lelah dan kepalanya seolah berdenyut dengan kuat, tetapi Lucas masih selalu berpikir keras untuk mencari tahu di mana makam Elin dan Eric itu. Ia ingin melakukan tes DnA untuk memastikan bahwa apa yang dikatakan ya benar adanya.


Lucas kembali menatap ponselnya dan kali ini nama Lexi ia hubungi, meskipun Lucas tahu bahwa temanya itu sedang marah sama dia. Lucas tahu bahwa Lexi juga di negaranya sana sedang di hukum dengan perbuatanya, hingga Lucas bingung siapa sebenarnya Elin itu, kenapa yang berurusan dengan dia dibikin seperti terhukum dengan ketakutan dan dosa. "Apa dia adalah wanita dengan titisan malaikat?" gerutu Lucas, ini adalah bukan kalimat pujian tetapi kalimat ejekan, karena ia sudah sangat kesal dengan kelakuan Elin, yang berhasil membuatnya ketakutan luar biasa.


"Apa Lexi juga masih marah sama gue sampai laki-laki itu tidak mau lagi mengangkat telpon gue," batin Lucas dan kini laki-laki itu mengangkat tubuhnya untuk bersandar di samping tempat tidur.


Sementara di negara Lexi tinggal, benar sesuai dugaan Lucas, bahwa temannya itu masih memendam kekesalan pada Lucas. Entah ini marah atau kekecewaan yang teramat.


Saking kesalnya Lexi sampai tidak ingin mengangkat telepon dari Lucas. Hatinya selalu dibuat marah dan dongkol ketika berbicara dengan Lucas.


Seperti sekarang ini bukan Lexi tidak tahu bahwa Lucas telepon dirinya, tetapi sesuai yang Lucas pikir bahwa ia masih kesal, sehingga enggan untuk mengangkat panggilan telepon dari sahabatnya itu.


Lexi lelah, capek dan ingin fokus dengan hidupnya, kehidupannya jauh dari kata tenang. Lexi selalu gelisah dan seolah ada yang mengikutinya terus, semenjak ia membuat perhitungan pada Elin sesuai permintaan Lucas.


"Maaf Bro gue enggak bisa angkat telpon dari loe hal ini karena hati gue masih marah," batin Lexi dengan meletakan kembali telepon genggamnya, ketika Lucas berhenti menghubunginya.

__ADS_1


"Kenapa aku sulit menghubungi Lexi, seolah Lexi sibuk sekali padahal aku hanya ingin mencari tahu siapa Elin dan Papahnya sebenarnya, apakah nanti apabila aku sudah mengetahui faktanya aku akan kuat untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi? Gimana kalau memang yang Arya, dan Elin pikirkan benar. Kami bukan sodara tiri, tetapi kami sodara kandung, sodara satu ayah dan satu ibu," gumam Lucas, tetapi sedetik kemudian ketakutanya di tepis oleh Lucas sendiri.


"Tidak!!! Tidak mungkin aku dan Elin, bukan sidara tiri, tidak mungkin kami berdua adalah sodara kandung, udah lebih baik dan paling benar dia adalah sodara tiri dari aku, dan dia lahir dari rahim pelakor, bukan dari rahim mamih aku." Suara serat keluar dari bibir Lucas meracau, menolak pikiranya, matanya merah, menahan marah tetapi Lucas tidak tahu harus marah dengan siapa.


Kembali saat ini tubuhnya di terlentangkan lagi di atas kasurnya. Ini adalah pertama kalinya Lucas merasakan sesuatu yang paling mengganggu pikiranya. Ini pertama kalinya Lucas tidak bisa konsentrasi dalam masalah apapun, hanya kerena memikirkan gadis yang kemarin-kemarin ingin ia bunuh, tetapi ketika kabar kematinya justru ia merasa bersalah dan dihantui ketakutan yang luar biasa.


Sebelumnya Lucas bahkan pernah menembak orang dengan tanganya sendiri, hingga orang itu tersungkur tidak bernyawa lagi, tetapi perasaanya dulu tetap sama tidak merasakan menyesal ataupun apa, tetapi dengan Elin, di mana wanita itu sebelumnya adalah musuh terbesarnya tetapi malah Lucas di hantui persaan bersalah.


Laki-laki itu melupakan pesan dokter, Jiara dan bahkan belum satu jam yang lalu, di mana kakeknya juga mengingatkan dia untuk menjaga kesehatanya. Namun Lucas lupa nasihat dari orang-orang itu semua.


(Datang ke rumah gue, berikan obat penenang dan obat tidur gue ingin istirahat) pesan yang dikirimkan Lucas untuk Arya, dokter kepercayaanya, dokter keluarga dan juga sepupunya. Arya yang bahkan baru mau berniat untuk tidur pun kembali membuka ponselnya ketika mendengar ada pesan masuk. Sebagai dokter tentu sudah menjadi tugas Arya untuk menghidupkan ponselnya dua puluh empat jam. Seperti saat ini ia membaca pesan dari sepupunya.


"Ini baru pemula Lucas, gimana andai tebakan aku itu benar adanya, Elin bukanlah anak pelakor, tetapi sodara satu rahim dengan kamu, apakah jantung kamu akan tetap baik-baik saja mendengar berita kebenaran ini. Lagian aku heran kenapa kamu jadi orang selalu saja gerasa gerusu tidak lebih dulu mencari faktanya," gerundel Arya, tetapi tak bisa menolah, laki-laki itu pun kembali mengenakan kaosnya dan menyambar konci mobil dan membawa obat yang di minta oleh Lucas.


Sebenarnya Arya masih kesal dengan Lucas, kesalnya keras kepala yang sepupunya miliki sehingga Lucas ingin selalu benar, Lucas tidak pernah mau mendengar nasihat orang lain hinga kejadian seperti ini justru merusak kesehatanya. 

__ADS_1


Jalanan ibukota yang sepi Arya terobos demi pasienya yang sedang dalam kondisi cemas membutuhkan bantuanya. Setelah diizinkan masuk karena security dan asisten rumah tangga di rumah Philip, mereka tentu sudah kenal dengan Arya. Langkah kaki Arya langsung menuju ke kamar sepupunya, hal itu karena ia sudah sangat hafal betul di mana kamar Lucas, sebab ketika mereka masih kecil Lucas dan Arya sering bermain bersama, dan setelah Lucas beranjak besar Philip mengirimnya ke luar negri untuk mengenyam pendidikan.


Arya sih maklum ketika Philip meminta Lucas sekolah dan kuliah di luar negri selain agar Lucas mandiri, di luar negri juga pendidikanya sudah jangan diragukan lagi, kata orang lebih baik dari di dalam negri, tapi itu kata sebagian orang. Kenyataannya kuliah atau sekolah di dalam negeri juga tak kalah bagus. Semuanya tergantung sama orang-orangnya niat tidak mereka sekolah.


Keputusan Philip mungkin sudah yang paling baik, meskipun resikonya banyak sekali, terlebihdi mana negara yang Philip pilih untuk Lucas sekolah adalah negara dengan penganut pergaulan bebas, hasil yang di dapat yaitu salah satunya Lucas menjadi pemimpin dunia gelap, bisnis-bisnis gelap Lucas ikuti, yang awalnya  hanya ikut-ikutan bukan materi yang di tuju, tetapi lambat laun niatnya berubah haluan Lucas terlalu menikmati bisnisnya dan uaangnya hingga sampai saat ini Lucaas masih tetap bertengger di pemimpin utama, meskipun semua organisasi yang Lucas pimpin itu digerakan oleh Rosi asisten dan tangan kanan kepercayaannya. Sedang kan Lucas sendiri hanya memantau dan tetap mendapatkan kan sejumlah uang yang tidak sedikit.


Tanpa mengetuk pintu Arya masuk ke dalam kamar Lucas dan melihat sepupunya tengah terlentang dengan pandangan kosong ke langit-langit kamarnya. Bahkan Lucas tahu bahwa Arya pasti sudah datang dan sekarang sudah masuk kekamarnya, tetapi laki-laki itu tidak menoleh untuk memastikan yang datang Arya atau bukan, dokter yang ia minta untuk membawakan obat penenang agar ia bisa istirahat dan tidak lagi memikirkan Elin dan papahnya yang sudah meninggal itu.


"Kenapa kamu jadi seperti ini? Mana Lucas yang keras kepala, Lucas yang  arogan dan Lucas yang selalu benar dan tidak pernah ada salah?" Arya duduk di samping ranjang Lucas.


"Mana obatnya, gue butuh obat  bukan ceramah dan nasihat tidak berguna dari loe." Tangan Lucas menjulur ke arah Arya agar laki-laki yang duduk di sampingnya segera memberikan obat untuk dia, kepalanya sudah pening dan dia ingin buru-buru istirahat dan tidak ada lagi mimpi buruk dari hantunya Elin.


"Kapan sih Lucas loe mulai tobat? Kapan sih Lucas loe bisa mendengarkan nasihat dari orang lain, gue nasihatin loe itu karena gue peduli sama loe selain loe pasien gue, loe juga sepupu gue, makanya gue mau cape-cape dan enggak ada bosanya nasihatin loe, tapi apa yang loe terima dan loe buat, Loe itu justru semakin membuat gue malas buat peduli dan nasihatin loe lagi, karena pada ujungnya loe hanya marah-marah dan marah terus." Arya tetap mengabaikan permintaan Lucas yang segera ingin ia memberikan obat yang dia minta. Justru Arya kembali menasihati Lucas, dan hal itu tentu memancing kobaran api kemarahan Lucas.


"Bawel loe yah, mana obatnya," bentak Lucas semakin terpancing dengan ocehan Arya yang justru semakin membuat otak dia mendidih.

__ADS_1


"Gue enggak bawa obat itu, karena yang loe butuhkan sebenarnya bukan obat semacam itu. Apa loe yakin setelah minum obat itu masalah di hati loe akan selesai dan akan berhasil tenang untuk selamanya? Tidak, obat itu justru akan menambah masalah baru karena kamu selalu lari dari masalah, cobalah menjadi laki-laki sejati bukan laki-laki lemah yang hanya selalu mengandalkan kekerasan. Masalahnya sebenarnya ada di diri loe, kalau hati loe tenang, loe tidak harus minum obat-obatan itu, hidup loe akan baik-baik saja."


"Berisik!! Mana obat itu!! Lucas justru semakin menjadi tubuhnya bahkan sekarang sudah menarik kerah baju Arya, berbeda dengan Lucas yang selalu menanggapi semuanya dengan api kemarahan. Arya justru tetap diam, dan tetap santai.


__ADS_2