
Arya begitu keluar dari ruangan Lucas tidak langsung pergi menuju ruangannya untuk melanjutkan pekerjaannya. Laki-laki berpakaian putih itu menyenderkan tubuh tegapnya di dinding, ada rasa senang karena sepertinya sepupunya itu akan segera menemukan pawangnya. Bukan hanya sikap saja tetapi sekarang Lucas tidak lagi selalu berkata ketus terlebih pada Jia, dari pandangan matanya pun terlihat kalau Lucas itu sedang tertarik pada wanita yang bernama Jia.
"Semoga dengan adanya Jia, hidup kamu menjadi lebih baik lagi Lucas, dan kamu juga bisa membedakan mana orang-orang yang tulus sayang dan peduli sama kamu dan bisa membedakan orang yang hanya memanfaatkan kamu saja," lirih Arya. Kini langkah kaki Arya menuju ke ruangan sebelah di mana ruangan sebelah adalah ruangan Elin, tetapi sepertinya Lucas tidak tahu bahwa mereka kini tinggal dalam rumah sakit yang sama, bahkan mereka sekarang hanya di pisahkan oleh sekat tembok saja.
"Apakah kalau Lucas tahu bahwa adik tirinya juga tinggal di rumah sakit yang sama, dia akan kembali membuat celaka Elin," batin Lucas, cemas karena pikiran Lucas tidak bisa ditebak.
Pintu di buka dengan perlahan, pandangan mata Arya langsung melihat kearah Elin yang sedang duduk di samping jendela, seperti biasa termenung memandangi alam dari dalam kamarnya, hanya itu yang bisa Elin lakukan. Entah sampai kapan ia akan terus di dalam kamar ini sedangkan dia merasa bahwa tubuhnya sudah membaik, luka di wajahnya juga sepertinya sudah mengering, itu bisa ia rasakan ketika dokter Marni dan perawat mengganti perban tidak terasa sakit lagi. Elin memang belum di izinkan untuk melihat lukanya yang terkena luka bakar karena air keras, hanya dokter dan perawat yang boleh melihatnya, bahkan untuk Eric sendiri juga belum di izinkan untuk melihatnya, karena di takutkan akan syok. Sehingga setiap dokter Marni membersihkan luka Elin hanya perawat dan dokter yang ada di ruangan Elin.
"Ehem... melamun aja Neng" sapa Arya langsung duduk di samping Elin. Sembari menoel pundak Elin.
"Tadi kenapa Dok, kayaknya penting banget? Sampai makanan tidak dihabisin, jadi makanannya sama Papah di buang deh, abisan kalau mau di makan lagi juga sudah tidak enak pastinya," tanya Elin penasaran, tidak biasanya Arya langsung pergi begitu saja ketika akan mengangkat teleponnya. Biasanya juga apabila ada telepon masuk laki-laki itu akan mengangkatnya di hadapan Elin maupun papahnya.
__ADS_1
"Oh tadi itu teman kerja aku, dia pingsan, karena tiba-tiba sakit perut, tapi sekarang sudah sadar dan sudah balik lagi di rumah sakit ini, malah sekarang dia lagi istirahat di kamar sebelah," jawab Arya, laki-laki itu tidak mungkin mengatakan bahwa yang sakit perut dan pingsan adalah Lucas, kakak tirinya. Arya berharap bahwa Lucas tidak tahu bahwa Elin juga di rawat di rumah sakit yang sama bahkan kamar mereka bersebelahan, yang di takutkan adalah Lucas membuat kegaduhan lagi pada Elin.
"Kok bisa, pingsan di mana Dok?" Elin terlihat cemas, padahal dia tidak tahu bahwa yang pingsan adalah kakak tirinya, tetapi hatinya seolah tahu bahwa yang pingsan adalah laki-laki yang membuat kondisinya jadi seperti ini sekarang.
"Di restoran, mana tempatnya cukup jauh dari rumah sakit ini lagi, jadi deh lama. Tapi tadi udah makan lagi kok, abisan baru makan sedikit otomatis perut demo lagi deh. Kamu kayaknya lagi murung kenapa?" tanya Arya sembari melihat kearah Elin yang akhir-akhir ini sering melamun di balik jendela besar itu.
"Bosen Dok, pengin jalan-jalan keluar," jawab Elin dengan menunjukan wajah bosannya.
"Takut Dok, takut ada dua laki-laki itu, rasanya sekarang buat Elin tidak bebas lagi deh mau kemana-mana juga, karena dua laki-laki yang sudah buat Elin jadi begini. Oh iya Dok lusa perban di wajah Elin sudah boleh di buka, dan kata dokter Marni, kalau Elin sudah siap untuk melakukan operasi wajah, secepatnya dokter Marni akan urus. Nah mungkin kalau Elin sudah ganti wajah Elin akan berani untuk keluar rumah dan bekerja kembali," papar Elin mengungkapkan kecemasannya dengan ancaman Lucas dan Lexi. Meskipun kejadian itu sudah berlalu beberapa hari, tetapi setiap kata yang terlontar dari mulut Lexi maupun Lucas masih terekam jelas oleh ingatan Elin.
"Kalau begitu kamu cepet-cepet pergi operasi wajah, setidaknya Lucas dan Lexi lupa dan tidak mengenali dengan wajah kamu," balas Arya. "Tapi ngomong-ngomong aku tidak pernah lihat Lexi lagi, dia masih di negara ini atau tidak yah?" gumam Arya memang benar ia baru sadar bahwa ia lupa Lexi masih di negara ini atau tidak.
__ADS_1
"Emang dia bukan orang Indonesia Dok, tapi bahasa Indonesia mereka berdua lancar?" tanya Elin, yah jelas kalau orang bule biasanya akan sulit untuk berinteraksi menggunakan bahasa Indonesia, tetapi Lexi ataupun Lucas tetap lancar bahasa Indonesianya.
"Setahu aku orang tuanya tinggal di luar negri, mungkin dia dalam keluarganya selalu berbahasa Indonesia sehingga dia lancar dengan bahasa Indonesia. Biasanya bahasa orang tua memang lancar sama dengan bahasa mereka di sana." Arya yang tidak begitu tahu silsilah Lexi pun jawab sebisanya. Yah, Lexi dan Arya kenal saja baru setelah Arya menjadi dokter keluarga Rajaya dan Philip.
Elin hanya mengangguk-anggukan kepalanya sebagai tanda bahwa ia paham dengan apa yang di jelaskan oleh Arya. "Elin juga berharap kalau Elin tidak akan bertemu lagi dengan laki-laki itu, biarkan hidup Elin tenang dengan papah Elin, dan mereka tenang kehidupan mereka."
"Tapi kamu kira-kira kalau diketemukan lagi dengan mereka bakal gimana Lin? Akan marah atau memaafkan?" tanya Arya, dengan wajah yang serius.
Elin tampak berpikir dengan jawaban dokter Arya. "Kalau marah sudah pasti, dan memaafkan tidak akan. Mungkin lebih baik tidak saling kenal yah, hidup Elin pasti akan lebih tenang tanpa kenal sama mereka lagi. Elin tidak mau berhubungan dengan mereka lagi Dok."
"Tapi apa kamu tidak penasaran dengan apa yang terjadi antara kamu dan Lucas, sampai dia marah dan dendam sekali dengan kamu?" tanya Arya semakin ingin tahu dengan perasaan Elin pada Lucas.
__ADS_1
"Kalau di bilang pengin tahu, tentu pengin, tetapi kalau tahu hanya untuk menambah beban pikiran mending tidak pernah tahu sekalian, biarkan Elin bahagia hanya dengan Papah, itu sudah cukup dari pada membuat Papah sedih dengan Lucas yang terus memusuhi Elin. Pasti Papah sedih karena beliau tahu anaknya saling bermusuhan meskipun kami dilahirkan dari rahim yang berbeda tetapi, Papah kita sama."