
Ehemz... Suara deheman berhasil menghentikan langkah kaki Lucas yang baru memasuki kediaman mewah Tuan Philip. Seharian ini Lucas gunakan untuk menrmani mamihnya, dari jalan-jalan, hingga pemeriksaan dan menemani mamihnya untuk tidur. Setelah mamihnya tidur Lucas baru beranjak pulang.
"Dari mana saja kamu Lucas?" tanya Philips dengan suara yang tegas dan sepertinya laki-laki itu sedang menahan kemarahanya.
Langkah kakinya langsung terhenti begitu mendengar suara kakeknya. Mata Luas juga dialihkan pada laki-laki yang sudah tua itu.
"Sejak kapan kakek ingin tahu urusan aku?" tanya Lucas dengan pandangan tajam setajam Elang yang sedang memindai mangsanya.
"Apa seperti ini cara kamu berbicara pada orang yang sudah memberikan hidup pada kamu dengan layak, dan cara kamu membalas budi pada aku yang sudah merawat kamu dengan penuh kasih?" Nada bicara Philip sudah semakin meninggi setelah mendengar jawaban dari Lucas, dua laki-laki yang memiliki sifat sama keras sedang beradu kekeras kepalaanya.
"Aku tidak pernah meminta dibesarkan oleh kakek, dan aku tidak pernah ingin di beri kehidupan yang palsu seperti ini, jadi tida perlu aku berlaga sopan lagi. Sudah cukup selama dua puluh delapan tahun aku mengikuti kemauan kakek, dan saat ini aku sudah saatnya mengambil jalan hidupku sendiri," ucap Lucas dengan suara yang tidak kalah lantang dari philips.
Tangan Philips diangkat dan akan memberikan bonus di pipi cucunya yang selama ini menjadi cucu kembangganya. Cucu yang selalu dianggung-anggungkan, dan juga cucu yang selalu di pamerkan pada rekan bisnisnya. Selama ini tidak sekali pun Lucas berani membantah apa yang Philip perintahkan, Lucas juga tidak pernah membuat Philip kecewa, baru kali ini, mulutnya kurang ajar pada laki-laki yang dipanggil kakek itu.
__ADS_1
Lucas yang sudah siaga dan tahu akan ada serangan tiba-tiba dari kakekya langsung menangkis tangan philip. Di cengkramnya tangan kakeknya dengan kuat. Tamara yang sejak tadi berusaha meredam kemarahan suaminya langsung melerai perkelahian itu. "Lucas, sudah cukup! Kamu jangan bikin suasana semakin menegang. Sayang kamu juga jangan bikin Lucas marah dong sayang, benar kok yang di katakan oleh Lucas dia sudah besar sudah bisa memilih jalan hidupnya." Tamara dengan suara mendayu-dayu mencoba melerai laki-laki beda generasi itu.
Genggaman tangan Lucas hempaskan pergelangan tangan Philip dengan kasar. Tatapanya semakin tajam melihat Philip, begitupun kakeknya tidak gentar dengan tatapan cucunya.
"Kamu bawa kemana Ely?" tanya Philip dengan suara bergetar bukan menahan tangis tetapi menahan luapa emosi.
Hahaha... Lucas tertawa dengan renyah, "Jadi ini alasan Kakek tiba-tiba peduli dan kepo aku pergi kemana? Jadi Anda sudah terima laporan dari anak buah kakek kalau aku membawa pergi mamihku dari rumah kakek itu. Up... itu bukan rumah buat Mamih, tetapi penjara buat wanita yang sudah melahirkan aku. Pantas saja Mamih tidak pernah sembuh hal itu karena Kakek sengaja mengurung Mamih agar semakin depresi, tapi tenang sekarang Mamih berada di tangan yang tepat dan dengan orang-orang yang benar-benar peduli dengan kesembuhan Mamih, bukan seperti Anda yang justru menginginkan Mamih tidak pernah sembuh. Bukan begitu Tuan Philip." Lucas mendekat kearah kakeknya dan tersenyum mengejek.
"Aku semakin curiga, sebenarnya ada yang sengaja kamu sembunyikan dari aku. Apa itu soal suami Mamih?" Bibir Lucas terangkat sebelah seolah mengejek kakeknya yang sudah berhasil dia buat semakin tidak bisa berkutik lagi. Lucas semakin yakin bahwa yang di katakan Arya ada benarnya, bisa saja Philip memang menyembunyikan sesuatu dan itu semua yang menyebabkan Philip selama ini melarang Lucas untuk sering-sering mengunjungi Mamihnya, dan juga Philip membuat kegiatan Lucas yang sibuk, lalu kuliah dan sekolah di luar negri. Jadi ini alasan Philip melakukan semua ini. Lucas kali ini akan lebih berhati-hati dengan ucapan kakeknya, karena belum tentu semuanya adalah kebenaran.
"Kurang ajar kamu, berani kamu melawan aku. Apa pengin aku usir kamu dari sini," ujar Philip wajahnya merah padam, karena dia yang sudah terlalu marah dengan cucunya.
Lucas kembali tersenyum mengejek. "Bahkan sekalipun kamu usir aku dari rumah ini dan kamu mencoret aku dari warisan kekayaanmu, aku tidak akan pernah gentar. Aku tidak takut hal itu Tuan Philip. Mungkin Anda lupa sekali pun aku tidak dapat uang dari kekayaan Anda aku masih bisa tetap menjadi orang kaya raya. Bisnis gelap aku masih menyumbang kekayaan ku nomor satu. Malah kalau di bandingkan pemasukan dari kekayaan Anda itu hanya receh yang aku dapat dari bekerja dengan Anda. Tapi kalau suatu saat aku tertangkap yang malu dan hancur pasti juga keluarga dan bisnis milik Anda, jadi lebih baik pikir ualng sebelum Anda mengusir aku. Karena siapa pun yang berurusan dengan Lucas pasti akan hancur, sekali pun itu Anda, Kakek saya sendiri," ujar Lucas dengan nada mengancam.
__ADS_1
Yah seharusnya philip tahu arti ucapan Lucas karena memang dia sekali membuat perhitungan dan mengerahkan anak buahnya, bisnis raksasa seperti milik Philip justru akan sangat mudah untuk di robohkan.
Laki-laki tua yang di sebelahnya ada wanita muda yang masih terlihat cantik dan menggoda, terdiri dengan tegak dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tetapi bukan berati Philip diam tidak mencari akal, diotaknya sedang mencari akal bagai mana agar Lucas kembali seperti dulu tidak mencurigainya.
Lucas meninggalkan Philip yang sedang mematung tidak bisa membalas perkataan Lucas lagi. Kakeknyaa tentu tahu bahwa cucunya yang dia banggakan dan selalu di pamerkan pada rekan bisnisnya juga melakukan bisnis gelap, tetapi laki-laki itu tidak bisa berbuat banyak, karena kekuatan bisnis gelap yang Lucas pimpin termasuk bisnis besar dan terlibat dengan para mafia besar.
"Oh, Iya Anda lebih baik urus pekerjaan Anda Tuan Philip. Jangan sekali pun Anda mengikut campuri urusan hidupku, terlebih Mamihku. Sekali Anda membuat aku kecewa, nyawa kamu ada di tangan cucumu sendiri." Lucas membalikan bahdanya ketika sudah menaiki beberapa anak tangga.
Senyum terkembang di bibir Lucas yang seksi, berbanding terbalik dengan reaksi Philip yang nampak kesal dengan kelakuan cucunya.
"Udah sayang, Lucas sedang marah biarkan dia menenangkan pikiranya karena, nanti juga cucu kita kembali kesifatnya yang dulu, jangan di lawan nanti makin keras anak itu," ucap Tamara sembari memainkan jari telunjuknya di dada suaminya.
Wanita itu sangat tahu kelemahan Philip yaitu di beri yang enak-enak pasti akan hilang kemarahanya.
__ADS_1