Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Fisik Yang Cacat


__ADS_3

"Pah, Elin takut sendiri Pah, ketika nanti mau melihat waja Elin, apa Elin nanti kalau oprasi wajah bisa kembali ke wajah yang dulu Pah?" tanya Elin sembari menggenggam tangan Papahnya. Yah hari ini adalah  jadwal Elin buka perban, dan dokter Marni juga sedang mengatur semua urusan Elin untuk melakukan operasi plastik, dan apabila semuanya sudah selesai makan secepatnya Elin akan pergi ke negara yang sudah di tunjuk oleh sang donatur, untuk melakukan oprasi di wajah Elin yang sudah jelas cacat itu.


Untuk keberangkatanya hanya di temanin oleh dokter Marni dan Elin saja, semuanya di serahkan pada dokter Marni karena selain dokter Marni yang bisa berbicara  dengan bahasa korea. Dokter Marni juga penanggung jawab atas semua sakit yang Elin alami, sehingga nanti di negara sana dokter Marni akan tahu apa saja prosedur yang Elin jalani untuk mendapatkan perbaikan di wajahnya dengan sempurna, tanpa ada yang terlewat.


"Kamu yang sabar yah sayang kamu adalah anak yang baik dan juga anak yang kuat sehingga kamu pasti bisa menghadapi ini semua. Kamu adalah anak papah yang selalu bisa papah banggakan. Soal wajah Papah yakin kamu pasti akan kembali menjadi anak cantik Papah, dan apabila memang kamu selamanya akan seperti itu wajahnya, Papah juga tidak akan marah, Papah akan tetap menyayangi kamu kok," ucap Eric terus memberikan dukungan pada putrinya. Entah dukungan apa saja yang jelas Elin merasa sangat beruntung karena dia di titip oleh Tuhan pada laki-laki yang bertanggung jawab dan terbaik di dunia ini.


"Selamat pagi," ucap dokter Marni dan team medis yang mendampinginya, tidak ketinggalan ada dokter Arya yang langsung berjalan menuju ke samping Elin. Perasaan Elin tidak menentu ketika kedua pasang matanya melihat banyak team medis dan di tambah dengan dokter Arya.


"Dok, wajah Elin pasti jelek dan ngeri banget yah?" lirih Elin pada Arya yang sedang berdiri di sampinya. Kelopak matanya sudah memanas, karena air mata yang ingin segera keluar.


Arya pun mendekat dan memeluk Elin serta mengusap rambutnya yang indah, "Kamu tentu tahu, kalau dunia medis itu sudah sangat canggih. Bahkan di negara maju, ilmuwan berlomba-lomba menghidupkan kembali nyawa yang sudah dinyatakan meninggal. Lalu soal wajah kamu, pasti bisa di lakukan operasi perbaikan wajah. Sekarang tugas kamu, hanya tinggal mempersiapkan semuanya dan dokter Marni yang akan membantu semua urusan kamu, kamu tidak usah berkecil hati dengan apa yang menimpa kamu, karena Tuhan itu adil dan baik buktinya kamu mendapatkan donatur yang baik, dan itu tandanya wajah kamu tidak akan cacat lagi." Arya dengan sabar memberikan penjelasan pada Elin, lagi-lagi Elin merasakan tenang setelah di nasihati oleh Arya.


"Terima kasih Dok sudah memberikan motifasi pada Elin, Elin berjanji tidak akan pernah mau memaafkan dua laki-laki itu, sekali pun dia datang dan bersujud di kaki Elin," isak Elin, dengan pikiran kembali terbang ke malam kejadian na'as itu.


"Itu adalah hak kamu. Biarkan mereka sendiri terhukum dosa yang pernah mereka perbuat, mungkin mereka akan lolos dari hukum dunia, tetapi Tuhan tidak pernah tidur, dan semoga mereka juga merasakan apa yang sudah kamu rasakan. Berapa pun kekayaan mereka apabila Tuhan sudah bertindak maka banyaknya harta dunia tidak akan pernah bisa untuk menyelamatkanya." Meskipun Lucas dan Lexi adalah sahabat dan juga soaudara Arya, tetapi dokter itu juga kesal dan mengutuk perbuatan dua laki-laki itu.

__ADS_1


"Gimana Elin, udah siap?" tanya dokter Marni, dan itu tandanya Elin harus menerima nasibnya, meskipun mungkin nanti wajahnya akan bisa di perbaiki, tetapi Elin merasa sedih dan deg-degan dengan wajahnya yang sekarang, yang dokter katakan cacat karena luka bakar yang terkena air keras yang Lucas siramkan. Elin masih bersyukur karena masih di beri kesempatan untuk hidup, meskipun wajahnya menjadi cacat.


"Siap Dok," jawab Elin dengan nada yang yakin dan tegas, walaupun diucapkanya dengan suara yang lirih.


"Kamu memang wanita yang hebat, pantas sajah Papah kamu sangat sayang sama putrinya, itu semua karena kamu yang sangat luar biasa kuat dan tangguh. Aku yakin mereka yang sudah membuat kamu menjadi seperti ini akan menyesali perbuatanya," ujar dokter Marni.


Tidak menunggu lama dokter pun melakukan tugasnya membuka luka perban Elin yang sudah semakin mengering dan mulai saat ini tidak ada perban yang menghalangi wajah Elin karena luka itu kini akan di biarkan terbuka. Eric yang berada di samping Elin pun memegang tangan putrinya dengan kuat dan memberikan kekuatan pada Elin agar Elin merasakan bahwa Papahnya selalu berada di samping dia bagaimanapun kondisi dia.


Wanita yang memiliki rambut gelombang itu terisak sedih, ketika melihat wajahnya yang sekarang, di dalam pelukan papahnya Elin menumpahkan kesedihanya.


"Lucas, mungkin kamu tidak tahu, sekarang gadis yang kamu buat cacat fisiknya sedang menangisi kondisi wajahnya. Apakan kamu tidak merasakan kesedihan sedikit pun," lirih Arya bahkan matanya pun merah, dia membayangkan apabila ia yang saat ini berada di posisi Elin adalah adiknya sendiri pasti marah kesal dan ingin membuat perhitungan pada laki-laki itu, dan itu yang Arya tangkap dari sorot mata Eric.


Laki-laki yang terkenal pernyabar pun terlihat dari sorot matanya yang nampak kesal dan seolah ingin marah dengan penjahat yang telah membuat putrinya hancur. Lalu gimana perasaan Eric apabila tahu bahwa yang menyalakan putri kesayanganya adalah anaknya sendiri, dari wanita lain?


"Dokter Arya, kenapa ada di sini?" tanya Jiara yang kebetulan akan ke kantin dan melihat Arya sedang mematung bersandar di dinding samping pintu kamar Lucas. "Dokter Arya ada masalah?" tanya Jiara ulang, yang melihat bahwa wajah Arya memang seperti tidak baik-baik saja.

__ADS_1


"Lucas gimana kabarnya?" tanya Arya mengalihkan pertanyaan Jiara yang hanya akan menambah kekesalanya pada Lucas.


"Dia semakin membaik, malah rencananya kalau hasil lebih terakhirnya baik, sore ini bos sudah di perbolehkan pulang," jawab Jiara, tetapi  pandangan matanya masih menatap kewajah Arya yang terlihat sangat sedih itu.


Setelahnya pandangan Jiara beralih ke dalam kamar sebelah yang mana pintunya terbuka sedikit, tetapi Jiara tahu bahwa penghuni di dalam sana sedang bersedih juga seperti Arya.


"Apa dokter Arya sedang sedih karena kondisi pasien yang di dalam sana. Memang pasien yang di dalam sana sedang sakit apa sih? Sepertinya sangat parah," batin Jira yang menangkap bahwa pasien yang sedang duduk di atas tempat tidur juga sedang terisak sedih di dalam pelukan laki-laki paruh baya.


Meskipun Jiara sangat penasaran tetapi wanita berhijab itu pun tidak berani untuk menanyakanya pada Arya tentang kondisi pasien yang ada di dalam sana.


"Dokter Arya, saya tinggal dulu yah. Mau ke kantin dulu," ucap Jiara yang berhasil mengagetkan Arya dari lamunanya, bahkan laki-laki itu sempat terlonjak kaget, karena mengira Jia sudah pergi.


"Ah... iya hati-hati, maaf aku sedang ada yang di pikirkan jadi tidak fokus, aku pikir malah Anda sudah pergi," balas Arya, yang tidak enak karena tidak memperdulikan Jiara yang ada di hadapanya.


"Tidak masalah Dok, semoga masalah Anda cepat selesai." Jiara tanpa menunggu jawaban dari Arya pun pergi meninggalkan Arya sendiri.

__ADS_1


"Amin," balas Arya dan laki-laki itu kembali masuk ke dalam kamar rawat Elin.


__ADS_2